
Di dalam ruang perjamuan Benteng Villenburg, di antara berderet meja yang sudah dikesampingkan, banyak prajurit yang berbaring di atas alas. Mereka semua jatuh sakit dan batuk keras selama berhari-hari, terjebak dalam benteng yang pengab dan lembab itu… yang semakin membuat kondisi mereka memburuk. Disana, aku pun memeriksa satu persatu prajurit untuk memastikan penyakit mereka.
“P-P-Putri, apa yang kamu lakukan?!”
“Ssst, jangan ngomong,” kataku yang menaruh telingaku di dada seorang prajurit. Kututup mataku untuk mendengar suara kasar, tempat udara meliuk di setiap saluran nafasnya. Lantas kuraba leher prajurit itu dan menemukan semua kelenjar getah beningnya membengkak.
“Ini… Wabah Tibi. Penyakit paru-paru yang merebak di pemukiman kumuh Heimskarr. Umumnya wabah ini tidak mematikan bagi mereka yang memiliki sistem imun yang baik. Dengan obat pereda gejaal dan peningkat imunitas, tiga sampai tujuh hari lagi, kalian semua akan baik-baik saja,” gumamku.
“B-Benarkah, Putri?” tanya prajurit muda itu, diikuti semua prajurit lainnya yang terbangun.
Tanpa berkata lebih lanjut, aku pun membuka koper kulitku dan meramu obat darinya. Kutumbuk dedaunan Thymerine berpadu dengan jamur Vancouver, yang meningkatkan potensi efek anti peradangan dan demam dari daunan Thymerine. Sembari itu aku pun menyiapkan sirup anti batuk yang kuracik dengan merebus akar Belroot muda. Setelah kedua obat itu siap, aku pun memberikannya pada sang prajurit.
“U-U-ueek,” kata prajurit muda itu, tak tahan akan pahitnya obat racikanku.
“Ayolah, kamu cowok kan? Harusnya lebih tahan pahit daripada ini. Atau haruskah aku meracikan manisan untuk anak-anak di obat itu? Meski menurunkan potensinya?” tanyaku.
“A-A-Aku bukan anak-anak!” kata prajurit itu yang segera meminum obatnya sekaligus, lantas menyesal.
“Hmph, baguslah kalau begitu. Sekarang tidur, dalam satu jam efek obat itu akan bekerja dan membuatmu sedikit enakan,” kataku yang kemudian melihat semua mata yang tertuju padaku, menginginkan obat itu, “Jangan khawatir, aku punya cukup untuk semua orang disini!” jawabku dengan senyum sumringah.
Hatiku sedikit lega dapat meringankan penderitaan para prajurit di benteng ini, walau sedikit. Namun apa yang akan mereka pikirkan, jika tahu ada 50% kesempatan mereka akan mati saat ini? Sebab, bahan untuk membuat Obat imunostimulan yang kumaksud bukanlah bahan endemik dataran Kinje. Dia adalah jantung dari Anima, monster sihir yang sudah ditumpas habis dari dataran Kinje tiga ratus tahun yang lalu.
“Luna, tolong pastikan sirkulasi udara yang baik di setiap benteng ini,” perintahku setelah memberikan obat untuk menenangkan para prajurit.
Luna memicingkan matanya padaku, “Kenapa kamu berlaga seperti bosku sekarang?”
“Karena aku kan Putri Mahkotamu, Luna,” kataku tersenyum kesal.
Luna mengangkat pundaknya, “Yayaya, siaaap,” katanya.
“Aku percaya padamu, Luna,” kataku yang dibalas senyum oleh Homunculus itu. Ia yang pun siap dengan peralatan pelayannya, membersihkan seluruh benteng itu dengan cepat.
Sedang aku pun melangkah mendekati jendela, krentangkan tangan kananku keluar dan memanggil seekor burung gagak. Dia pun hinggan di tanganku dan menatapku dengan matanya yang kelam,
“Tolong sampaikan ke Danius, aku butuh dua kilogram jantung Anima sekarang,” pesanku pada burung itu sebelum melepaskannya di udara. Kuhela nafasku dan mengenakan sarum tangan hitamku.
__ADS_1
“Sekarang saatnya mencari ‘benda’ itu,” gumamku.
Tibi seharusnya bukan penyakit yang bisa merebak menjadi wabah seperti ini. Dia butuh proses bertahun-tahun, memanfaatkan kondisi tubuh inangnya yang perlahan melemah oleh usia… sebelum menerkamnya dengan puluhan gejala yang menyakitkan. Bila secara natural, ya, harusnya begitu. Tapi tidak… jika penyakit ini di induksi oleh sihir yang kompleks.
Aroma udara di betneng ini.. semua berbau residu sihir. Kemungkinan, sihir yang digunakan untuk menginduksi wabah Tibi.
Sama seperti pengalamanku di Heimskarr, aku curiga wabah ini disebabkan oleh seorang Penyihir yang sangat kuat. Asalkan aku bisa melacak lokasi penyihir itu dan membunuhnya, aku bisa menghentikan penyakit itu menyebar. Sekarang, aku tinggal mencari Ankara, atau jangkar yang digunakan penyihir itu untuk memanipulasi udara di benteng ini dari jarak jauh.
“Kapten Roger, boleh kamu ceritakan apa yang terjadi selama satu bulan di benteng ini? Terutama, siapa saja orang mencurigakan yang lewat disini… dan benda apa saja yang mereka tinggalkan,” kataku yang bersandar di dinding, menatap Kapten Roger yang berada disampingku.
Roger mendelikkan matanya, “A-Anu, Putri, masalahnya ada ratusan orang yang melewati benteng ini tiap harinya. S-Saya rasa Putri tak punya waktu yang cukup untuk memeriksanya satu persatu.”
“Aku punya waktu yang sangat luang,” jawabku yang kemudian memicingkan amtaku, “Dan katamu… seratus pengunjung sehari? Lantas kenapa tak satupun lewat hari ini? Sejak awal, mengapa kamu tidak melaporkan kondisi benteng ini ke pusat? Oi, Roger, apa yang kamu sembunyikan hmm?” tanyaku curiga.
“B-B-Bukan begitu Putri, hanya saja—“
"Hanya saja?!”
Ah, ini membuang waktuku saja. Segera kugigit jariku dan mengoleskan darah di hidungku. Sekejap seluruh indera penciumanku pun terbangun, meningkatkan kepekaannya berkali-kali lipat. Aku pun mengendus seluruh aroma di benteng itu, mengikuti dan mengenali satu persatu barang di dalamnya.
“Aether?” gumamku yang pun mengikuti aroma itu dan pergi ke ruang tahanan. Roger segera mengejarku dan mencegatku dengan panik, sebelum aku dapat memasuki ruangan itu.
“Kamu… benar-benar cari mati ya. Mengapa, benteng yang berada di perbatasan antara Kinje dan Freimadchen Cattleya, menyimpan Aether yang ‘terlalu banyak’ untuk kebutuhan benteng ini?” kataku mendorong paman botak itu ke dinding, “Jangan bilang, seluruh prajurit disini bersekongkol untuk menyelundupkan Aether ke negeri musuh?”
Aether adalah bahan dasar dalam membuat formula sihir. Dengan senyawa sihir itu kamu dapat mengaktifkan berbagai peralatan sihir, mulai dari lampu hingga benda berbahaya seperti… Senapan sihir. Senyawa sihir itu telah menjadi rahasia kesuksesan Kinje karena hanya negara itulah yang mampu memproduksi senyawa sihir itu secara massal.
Kuhantam gembok besi yang mengunci gudang dan membuka pintu. Tetapi, apa yang kutemukan di dalam gudang itu lebih parah dari yang kubayangkan. Tidak hanya satu ton Aether tersimpan disana, melainkan berbagai senjata sihir. Mulai dari puluhan pedang yang dapat menembus dinding paling tebal sekalipun hingga lusinan senapan sihir model terbaru, yang dapat menembakan peluru secara otomatis.
Dan di tengah gudang itu adalah benda yang kucari, sebuah lampu sihir yang menyala di tengah lingkar sihir berpendar. Jangkar yang digunakan penyihir untuk mengutuk seluruh prajurit disini dengan Wabah Tibi.
“Terlalu banyak senjata untuk seratus personnil yang menjaga benteng ini,” gumamku yang membunyikan jariku, “Betapa banyak uang yang kalian hasilkan dengan menyelundupkan barang ini ke negeri musuh, hmm?” kataku yang kemudian meninjak lampu sihir itu hingga hancur tak tersisa.
Sesungguhnya, aku tak terlalu peduli dengan intrik yang terjadi di Kinje. Lagipula, aku kan hanya pengganti dari Putri Mahkota yang sesungguhnya. Tetapi, jika aku memainan kartuku dengan benar.. hmm, seperitnya, aku bisa mengambil semua barang berharga ini dan menjualnya di pasar gelap, bukan?
Hehehehe…!
__ADS_1
Kedubrak, BUK!!
“H-HiiiI, jangan mendekat!!” teriak Paman Roger yang mengambil sebuah senapan sihir, dan berlari tergopoh-gopoh.
“Ara… kamu pikir bisa lari dariku, pengkhianat kecil?” kataku yang dengan santai berjalan mengikuti aroma tubuh Roger yang khas, menakut-nakutinya.
“Bila kamu menyerahkan dirimu padaku. Mungkin aku akan meringankan hukuman yang diberikan padamu. Hmm, apakah kamu memiliki seorang anak? Haaa, mungkin aku hanya cukup membuatmu melihat anak itu menanggung dosa ayahnya,” kataku tertawa cekikikan.
Astaga, semenjak lomba apel pertama, aku sangat menikmati bermain peran sebagai antagonis. Namun sepertinya, aktingku terlalu efektif. Kapten pengecut itu melarikan diri ke hutan, meninggalkan jejak gopohnya untuk kuikuti.
Tetapi masuk ke dalam lebatnya hutan, aku pun menyadari sesuatu yang aneh. Hutan itu terlalu sunyi. Bahkan serangga pun tak terdengar. Seolah-olah seluruh makhluk di hutan itu melarikan diri dari sesuatu. Saking sunyinya… telingaku menjadi bingung.
“J-j-jangan bergerak!” teriak Roger menodongkan senapannya di kepalaku.
U-Ugh, karena kesunyian ini membuatku gegabah.
“M-Meskipun kamu seorang Putri, aku tidak segan-segan akan menembakmu!” ancam Roger.
“Terus? Kalau kamu menembak Putri Mahkota, apakah kamu yakin kamu dan keluarga kecilmu dapat hidup di negeri ini?” tanyaku yang mendekatkan kepalaku di moncong senapan itu.
“O-O-Orang-orang itu akan membersihkannya untukku!” kata Roger yang mengacak-acak rambutnya, “S-Sialan, h-harusnya aku tak menerima tawaran mereka. T-Tapi, aku benar-benar membutuhkan uang! Tak kusangka Pangeran dan Putri Mahkota dikirim itu menyelidiki benteng ini karena wabah bodoh itu!”
H-Huh, mereka?
“Siapa mereka yang kamu maksud? Apakah ‘mereka’ yang menyebabkan wabah Tibi itu?” tanyaku.
Namun sebelum aku mendapatkan jawaban, raut wajah Roger berubah menjadi pucat pasi. Matanya terbuka lebar dan dari cermin irisnya kau dapat melihat sosok beruang raksasa berada di belakangku. Sebelum aku dapat bereaksi, tubuhku pun dihantam begitu keras hingga aku terlempar menghantam pepohonan.
Segera kuarahkan tanganku ke Roger dan berteria, “Tiger Impact!” dan mengirimkan hentakan udara yang cukup untuk mendorong pria tua itu, menjauh dari cakaran sang monster. Namun ujung cakarnya sempat mencium wajah Roger dan melukainya.
Ketakutan, Roger pun berlari terbirit-birit meninggalkan senapannya. Tindakan yang bodoh, sebab beruang itu akan mengejarnya! Kucoba mengendalikan darahku dan melesatkan peluru ke monster itu, tetapi percuma. Sepertinya… tubuhku belum pulih sepenuhnya setelah menggunakan Judas Anguish.
Namun tidak kuduga, monster beruang itu ternyata mengalihkan perhatiannya padaku. Samar dapat kulihat benang-benang sihir mengendalikan monster itu. Tertawalah aku.
“Araraa, Kini aku mengerti kenapa Eclair ingin libur sebulan. Menjadi Putri Mahkota… sangat menyebalkan”
__ADS_1