Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Celestial Finale (3)


__ADS_3

—61—


Berdiri di puncak pohon Yggdrasil yang terbalik, aku melihat ke arah pecahan Obsidian Theater, memperhatikan tangan-tangan kegelapan yang mencoba menyatukan retakan yang dibuat oleh akar-akar pohonku. Sebentar lagi, setelah penantian yang lama, akhirnya aku bisa menghancurkan musuh dunia yang sesungguhnya. Langit Keputusasaan.


“Aku tak pernah mengerti dirimu, Bulan,” tanya Quina yang berdiri disisiku, memegang sebuah alat komunikasi yang menentukan takdir dunia.


Di ujung takduk dunia, sang Ratu yang menguasai dunia ini menemui diriku terakhir kalinya. Hanya dengan satu kata, gadis itu dapat memulai operasi penghancuran jantung Obsidian Theater, tetapi sepertinya… dia masih belum percaya denganku.


“Sejak awal, kamu memiliki kekuatan yang sangat besar… Tapi kenapa, baru sekarang kamu menggunakannya untuk menolong orang lain?”


Aku mendengus dan menunjuk sang Langit hitam, “Bila kamu tak melihatnya, tidak mungkin kamu percaya dengan perkataanku, bukan?”


Quina menarik kerah bajuku dengan geram, “Sejak kapan kamu tahu?”


“Pentingkah aku menjawabnya?”


“Tentu saja!” kata gadis itu mendorongku dan mengacak rambutnya dengan frustasi, “Bila kamu berniat menyelamatkan dunia ini, tujuh tahun lalu kamu dapat menghentikan agresiku dan menyelamatkan Kerajaan Kinje. Tapi kamu justru membantu menghancurkan negri yang dibangun oleh Kakakmu sendiri.


Kenapa… kamu tak menghentikanku?”


Tanpa dandanan yang tebal, aku baru menyadari betapa pucat kulit Quina dan betapa tebal kantung amtanya. Setelah melepas sarung tangan sihirnya, aku pun dapat melihat jemari gadis rubah itu penuh luka karena digigit. Kenapa? Padahal dia telah mendapatkan mimpinya dengan menyatukan bangsa Daemon dan mengalahkan bangsa manusia yang menjajah mereka… tapi mengapa dia terlihat gelisah?


“Apakah kamu menyesal mewujudkan mimpimu? Apakah harga mewujudkan mimpimu itu… kini menghantuimu, Quina? Atau kamu… hanya ingin mencari kambing hitam untuk menyembunyikan bagaimana kamu telah menjadi monster yang mengerikan saat ini?” tanyaku yang mendesak gadis itu.


Quina memanggil tombak petirnya dan ingin menebas leherku, tetapi tepat saat menyentuh kulitku, dia berhenti. Kekuatannya sebagai La Puella Dragonica membuatnya masih dapat menggunakan sihir. Meskipun begitu, tombaknya lebih tumpul… Keraguan sepertinya telah menaklukan hati sang Ratu.


“Kamu takkan mengerti… M-Mereka, semua orang yang kukalahkan, selalu muncul dalam mimpiku dan menyiksaku. Setiap hari, pertanyaan selalu mencekikku.. Apakah aku telah membuat dunia ini lebih baik? Ataukah.. aku hanya menjalankan egoku saja dan justru menghancurkan hal yang kucintai dengam ambisi ini… Aku sangat takut untuk mengetahui jawabannya,” kata Quina yang menarik tombaknya dariku,


“Hey, Bulan. Sebagai seorang monster… apakah di matamu aku juga sama sepertimu?” tanya gadis itu.


Aku menghela nafasku dan menjawab dengan jujur, “Rambutmu coklat dan milikku perak, aku cantik mempesona dna kamu biasa aja. Setiap lekuk tubuhku menunjukan keanggunan yang manis di mata, sedangkan kamu tepos dan tak menarik.

__ADS_1


Dari pandang mata saja, mana letak kesamaan kita, Quina?”


Quina menepuk dahinya dan menatapku kecewa, “Rasa percaya dirimu itu benar-benar sesuatu. Maksud pertanyaanku itu—“


“Pilih, kamu mau jadi monster gila sepertiku atau sang pahlawan yang membebaskan kaum Daemon dan memulai era solidaritas Daemon dan Manusia?” tanyaku.


“Memilih, kamu sudah gila? Bagaimana bisa aku menentukan bagaimana dunia melihatku?”


“Emang pandangan dunia tentangmu penting? Hanya kamu sendirilah yang menentukan bagaimana kamu memandang dirimu,” tanyaku yang menyentil dahi ratuku yang bodoh itu, “Hidup ini adalah sebuah cerita dan kamu adalah sang penulis. Apakah kamu akan menulis cerita tragedi tentang hidupmu ataukah cerita penuh kebahagiaan. Semua ada di dalam tanganmu seorang.”


Heh, siapa aku berhak berkata bijak seperti itu? Nasihat dari seorang pembunuh sepertiku tidak untuk dipercayai. Tetapi, wajah yang ditunjukan Quina menjadi cerminan diriku di masa lalu— Sesaat setelah kematian Kakak. Kata-kata manis tanpa dasar itu secara misterius membawa kehangatan di dalam hatiku. Hingga aku pun tersadar… Ah, kata-kata itu kuucapkan untuk diriku sendiri.


“Lalu… Cerita apakah yang kamu tulis, Bulan?” tanya Quina.


Aku meandang kekacauan yang telah kuperbuat. Tanah dan gunung terjungkirbalik oleh akar-akar pohonku. Semua orang bersujud dan berdoa, meratapi akhir dunia dengan sedih. Dan yang paling buruk, sang Langit Hitam masih melingkupi dunia dengan kuat. Dengan kata lain… Pemandangan yang mengerikan.


Tapi, kata-kata Mentari masih beresonansi di dalam hatiku. Setelah gelap maka terbitlah terang. Dengan hadirnya langit biru bagi dunia ini… apakah pemandangan yang disuguhkan dunia bagiku? Aku masih takut bila semua ini akan berakhir sia-sia. Dunia akan terus menolakku, meskipun aku telah mengubah takdirnya dan menjadi dewi. Aku akan mengarungi hidup abadi ini hanya dengan penolakan dan pengkhianatan, hingga hatiku terlalu tumpul untuk merasa. Masa depan itu menjadi jangkar keraguan di hatiku.


Pada akhirnya aku menjawab Quina, “Menjadi penulis itu melelahkan dan duitnya sedikit, jadi, sejak lama aku sudah menyerah menulisnya.”


“… Astaga, kamu ini benar-benar orang yang payah dan menyebalkan,” kata Quina yang menghela nafasnya panjang, “Tapi melihatmu berkali-kali menantang takdirmu, aku jadi malu pada diriku. bila orang sepayah dirimu bisa menjadi Dewi dan mengalahkan takdirnya, maka, bila aku menulis hidupku dengan corak bpenuh kemenangan, apa mungkin aku akan jadi Dewi yang lebih kuat darimu?” lanjut Quina yang tersenyum tipis.


“Heh, jangan bermimpi. Di dunia yang baru, semua orang masih membutuhkanmu memimpin mereka, Ratuku,” kataku yang kemudian meregangkan tanganku,


“Tapi, sebelum mengurus hal merepotkan itu, apakah aku boleh meminta bantuanmu?”


“Sang Dewi butuh bantuan dari Daemon tak menarik sepertiku?” tanya Quina setengah mengejek.


“Setelah 6 bom kalian menciptakan retakan dalam kalung Mentari, jantung Obsidian Theater akan muncul dari kalung itu… tetapi juga kekuatan luar biasa dari Anima itu,” kataku yang menatap langit dengan kosong,


“Bila aku gagal menghancurkan jantung Obsidian Theater, aku akan menyegelnya dalam tubuhku dan menguburnya dalam inti Mars.

__ADS_1


Saat itu terjadi, apakah aku boleh meminta tolong kamu dan penerusmu menjadi pelindung segel itu?”


“Kamu pasti berhasil,” kata Quina menepuk pundakku keras, “Karena itu, mohon maaf, aku harus menolak permintaanmu, Bulan,” lanjutnya berlagak keren.


Astaga, dia kira kata-katanya yang keren itu akan membuatku terinspirasi? Tidak. Dia justru melemparkan beban yang luar biasa di pundakku. Bila Amelia, sang Dewa yang sangat kuat itu saja tak mampu mengalahkan Obsidian Theater, apalagi aku? Membayangkan pertemuanku dengan kekuatan sesungguhnya dari Anima itu saja sudah membuatku merinding.


“Lagipula, sekarang kamu tak sendiri. Aku akan membantumu. Tentu dengan bantuan Daemon paling kuat sepanjang masa sepertiku, kita takkan kalah bukan?” kata Quina.


“Araraa, bukannya kamu cuma jadi bebanku aja?”


Quina menjitak kepalaku dengan keras, “Enak aja!”


“Adududuuh, aku habis mengalah Nyghtingale yang mahakuasa, dan bentar lagi akan melawan makhluk mengerikan… janganlah aku dibully,” pintaku yang mengelus kepalaku yang sakit, “Lagipula, kenapa kamu ingin membantuku?”


Quina tersenyum meringis, “Bukankah dulu kita membuat sebuah kontrak, oh Bulanku yang pelupa?”


“Kontrak apa ya?”


Saking banyaknya kontrak yang kubuat, aku sampai lupa. Apakah aku melakukan sesuatu di masa lalu hingga membuat gadis itu berutang budi padaku? Uhh… Aku tak bisa mengingatnya. Tunggu dulu, bukankah aku... memiliki ingatan fotografis yang luar biasa?


Ah… begitu rupanya. Kulihat tanganku dan menyadari… harga yang kubayarkan akan kekuatan besarku ini. Aku pun teringat bagaimana Nyghtingale dan kedua Dewi lainnya berakhir menjadi boneka yang dikendalikan Amelia. Sebagai ganti kekuatan dan keabadian yang mereka miliki, mereka membayarnya dengan ingatan mereka.


Harga yang harus mereka bayarkan dari waktu ke waktu hinggga mereka kehilangan jati diri mereka. Hidup dalam keabadian tanpa sebuah jiwa, itulah wujud kematian dari seorang Dewi. Takdir yang kelak akan menghampiriku juga.


“Yah, jika kamu bersikeras membantuku, mau gimana lagi?” kataku yang kemudian mengulurkan tanganku pada Quina, “Tapi jangan menyesal loh ya? monster yang akan kita hadapi jauh lebih kuat dari imajiasiku dan dirimu. Kemungkinan besar kamu akan mati. Meski begitu, apakah kamu masih akan mengikutiku, Quina?”


Quina menjabat tanganku dengan mantab, “Tentu saja. Sebagai Ratu dunia ini, aku tidak akan mengingkari janjiku,” katanya yang kemudian memegang telinganya dan mengaktifkan alat telekomunikasinya.


Aku pun mengangguk saat Quina melirikku.


Menarik nafas dalam, gadis itu pun berkata, “Arthur, jalankan operasi Celestial Finale.”

__ADS_1


__ADS_2