Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Ilusi Bermata Dua (2)


__ADS_3

—12—


Malam menyelimuti kota yang terlelap, tapi bagi dunia yang telah lupa akan terangnya Mentari dan sendunya Bulan, malam dan siang tidaklah berbeda. Terang pohon Yggdrasil yang mulai meredup, digantikan tiang-tiang Bunga Lentera yang menyala adalah transisi yang dikenal semua orang sebagai waktu. Namun, terangnya sama sekali tak dapat mengganti Sang Mentari.


Bergabung dalam ratusan jiwa insomnia lainnya, diriku pun masih terbangun menatap redup pohon Yggdrasil dibalik jendela tokoku. Hanya ditemani oleh sebuah teh Chamomile dan harapan sia-sia bahwa mata ini akan mengantuk, aku menyelam diantara dokumen-dokumen distrik tanpa nama.


“Mereka bilang nama distrik mencerminkan kehidupan di distrik itu. Pariyastra, tempat persinggahan yang nyaman, Makinayastra, pusat industri, Chandrayastra, pasar yang ramai….” gumamku memutar-mutar peda bingung, “Hmm, apa nama yang paling bagus untuk distrikku ya?”


Tapi pertanyaannya adalah apa “kehidupan” yang tumbuh dan berkembang di distrik itu?


“Wabayastra? Hihihi,” gumamku bercanda. Yang kutahu tentang distrik itu adalah nasibnya yang akan diobrak-abrik oleh Wabah Nyght.


DUK DUK!


Jam menunjukan dua malam dan aku kedatangan tamu. Apa mungkin para Matrovska? Hah, siapapun itu, mereka harus belajar tata krama tentang jam berkunjung ke rumah orang lain. Emangnya toko Bunga lentera-ku ini unit gawat darurat, bisa didatangi 24 jam?


DUK DUK!


“Putri Noctis… Ijin, saya Lumina.”


Eh? Lumina, si dokter dari Distrik tanpa nama? Bukankah dia sedang sibuk menangani pasien gawat di kliniknya?


Bingung dan curiga, aku pun membuka pintu toko-ku dan menemukan sosok bertudung hitam menantiku. Saat sosok itu membuka tudung jubahnya, rambut coklatnya pun terurai hingga hampir menyentuh tanah. Dan diriku, masih terpana melihat jingga menyala matanya yang indah. Astaga, Arthur membuat matanya dari permata apa? Berlian? Topaz?


“U-Uh, apakah saya boleh masuk?” tanya Lumina memecahkan lamunanku.


“O-Oh! B-Boleh dok, silahkan,” kataku yang pun mempersilahkan Lumina masuk dan memintanya duduk di depan kursi kasir.


Kebetulan, aku baru menyeduh teh Chamomile yang terlalu banyak, jadi bisa kusuguhkan kepada tamuku yang baru itu. Berbeda dengan sifatnya yang terburu-buru semalam, kali ini dengan kalem dan anggun, gadis itu meminum teh itu dan tersenyum tipis.


“Ini.. air hangat,” gumam Lumina.

__ADS_1


Tersentak kaget diriku,” A-Araraaa, maafkan aku. S-Sepertinya, aku terlalu mengantuk hingga memberimu teh yang harusnya untukku,” kataku yang dengan terburu-buru mengambil beberapa bunga kering dan melarutkannya di poci,


“Maklum ya, dok. Aku… punya lidah yang terlalu sensitif. Jadi hanya dengan sedikit bumbu, aku sudah bisa merasakannya. Ini adalah teh bunga Phantasia yang bagus sekali untuk merilekskan otot-otot yang tegang.”


Lumina pun meminum teh barunya dan tersenyum lagi, “Ini… Teh Melati,” katanya.


“A-Ahhh, maaf-maaf. Aduh, kok aku ceroboh banget ya hari ini?” kataku menggaruk-garuk kepala canggung.


Lumina tertawa geli, “Sudah kukira, kamu… bukanlah Putri Noctis. Sang Mentari yang sempurna itu tidak mungkin membuat kesalahan lugu seperti ini,” kata sang dokter yang berpangku dagu menatapku,


“Mengapa Master Arthur memanggilmu, Auntie? Mengapa… kamu mirip sekali dengan Putri Noctis yang kulihat di foto? Ma Dame, sebenarnya anda siapa?” tanya Lumina.


“.. Hanya seorang pedagang sederhana bernama Clair,” jawabku yang meminum tehku dengan tenang, “Mungkin aku dan Arthur bertemu saat masih berkelana, tapi, sama seperti banyak pertemuan lain, aku tak dapat mengingat jelas dimana aku bertemu dengannya.”


“… Dan dengan mudahnya, kamu membolehkan seorang asing menginap di rumahmu. Antara terlalu percaya atau bodoh, Lumina tidak mengertimu, Ma Dame,” kata Homunculus itu yang kembali dengan sifatnya yang  nge-gas,


“Caramu menangani Gideon, bukan sesuatu yang dilakukan seorang amatir. Jangan bilang, itu juga kemampuan yang kamu pelajari dalam perjalananmu, Ma Dame?”


“W-Waduh, kenapa jadi sesi interogasi gini ya?” jawabku tertawa canggung.


Aku menggelengkan kepala, “Nggak apa-apa kok. kamu adalah perisai tuanmu, tentu saja kamu harus curiga dengan orang-orang disekitarnya,” kataku menikmati tehku, “Dan daripada menghabiskan malam ini sendirian, kehadiranmu sangat menghiburku. Kapan lagi aku bisa berbincang-bincang dengan Sang Daemon Bulan?”


Lumina tersenyum kecut mendengarnya. Setelah terdiam beberapa saat, gadis itu bertanya padaku, “… Ma Dame, familiar dengan Keluarga Noctis?”


“Pedagang mana yang tak tahu? Keluarga Noctis itu adalah keluarga penyihir hebat yang mendominasi dunia sihir selama berabad-abad bukan? Tak hanya itu, mereka juga sangat kaya raya dan memiliki aset dimana-mana. Tapi… kekuasaan yang terlalu besar itu mengundang kegelapan iri hati,” kataku yang pun berpangku dagu,


“Kenapa tiba-tiba membawa nama Keluarga yang sudah dibantai habis tujuh tahun yang lalu?”


“Master Arthur adalah pewaris terakhir dari dinasti itu,” kata Lumina yang memegang cangkirnya dengan erat, “Selama tujuh tahun, kami berdua melarikan diri dari pengejar kami. Namun setiap kota tempat kami bersembunyi… semua selalu mengalami malapetaka.”


“Lari dari apa?” tanyaku mengangkat alis.

__ADS_1


“Apalagi selain dari para Pemburu Penyihir, Matrovska,” kata Lumina menggenggam cangkirnya dengan erat, “Di tangan Master Arthur adalah kunci Rahasia Sihir Keluarga Noctis. Mereka berusaha menangkap Master Arthur dan memaksanya membuka rahasia itu.”


Aku pun tertawa geli, “Dengan kedatangan Sang Daemon Bulan, maka hadirlah bayangan kegelapan bersamanya. Sang Matrovska. Rumor itu ternyata benar adanya. Tapi, aku tak habis pikir. Bila mereka hanya mengincar Rahasia Noctis, kenapa mereka meninggalkan malapetaka?” tanyaku yang pun meraih wajah gadis itu,


“Dokter Lumina, apa yang kamu sembunyikan dariku?”


Aku pun berdiri dan menyentuh koleksi tanaman sihirku. Tiap sentuhan tanganku menyalakan terang di dalam sihir itu, menghadirkan festival kecil yang meriah di toko sederhanaku. Sembari menikmati manis mata itu, aku pun berkata,


“Angin mengabariku bahwa Sang Daemon Bulan berhasil menemukan obat yang dapat menaklukan segala jenis penyakit.


Mutterbeweisen.


Tapi, kenyataan yang kutemukan, penyembuh yang dirumorkan itu… justru hampir membiarkan pasiennya meninggal,” kataku yang pun mengambil toples berisi Bunga Olivia yang baru saja kubudidayakan dan melanjutkan,


“Dan kebetulan, perkataanmu sore tadi membuatku penasaran. Apa mungkin, dokter hanyalah penyihir yang meminjam nama dari Sang Daemon Bulan? Bila begitu… mengapa, para Matrovska yang sangat terkoneksi itu tetap datang ke Kota ini?


Apa mungkin yang mereka incar bukanlah rahasia sihir Noctis melainkan rahasia yang kamu miliki, Lumina?”


Lumina menghela anfas panjang, “Ma Dame sungguh hebat. Hanya dengan sedikit informasi bisa mengambil kesimpulan tajam seperti itu. Tapi sejak awal aku datang kemari, Lumina tidak bermaksud untuk merahasiakan apapun darimu,” kata gadis itu yang pun menyusulku.


“Sesungguhnya… Lumina iri pada Ma Dame. Di malam saat Matrovska menyerang kami, ada seorang pedagang yang kebetulan lewat disana,” kata Lumina menggenggam lengannya dengan erat,


“Daripada memilih partnernya selama tujuh tahun, Master… lebih memilih untuk melindungi pedagang asing itu. Meskipun Ma Dame berusaha menutupinya… Kamu adalah orang yang sangat berharga bagi Arthur, bukan?”


Hmm, jadi malam pertemuanku degnan Arthur, yang sebenarnya terjadi adalah aku terseret dalam konfrontasi antara Matrovska dan Lumina? Komedi dewa-dewi lucu juga. Bila aku tak mengejar Arthur saat itu, apakah takdir kami akan bertemu seperti saat ini?


Namun melihat tatapan Lumina, aku dapat memahami betapa sakit yang dirasakan hatinya. Mungkin perasaan yang dimiliki Lumina… lebih dari penghormataan seorang Homunculus pada tuannya.


“Bila aku memberitahu rahasiaku, apakah kamu akan memberitahu milikmu?” tanyaku.


Lumina mengangguk.

__ADS_1


Aku pun memeluk Bunga Olivia itu dan tersenyum hampa, “Clairysviel Adeola Noctis…. Apakah kamu familiar dengan nama itu, Lumina?” kataku yang kemudian melirik Lumina yang terkejut,


“Aku adalah Putri Bulan… Adik sang Putri Mentari yang meninggal tujuh tahun lalu.”


__ADS_2