Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Nameless Troubles (End)


__ADS_3

—10—


Dingin tangan wanita itu saat menggapai tanganku dan Mentari. Wanita yang dahulu penuh dengan kehidupan, selalu ceria dan penuh semangat, kini berbaring lemah di kasur yang ternodai oleh darah.


“Mentari, Bulan… maafkan Mama. Sepertinya… Mama tak dapat lagi melindungi kalian.”


Sirkuit sihir wanita itu berpendar merah, terus menerus mengeluarkan darah dan nanah. Tubuhnya kurus seperti tulang dibalut oleh kulit. Hanyalah keinginan kuat yang mendorongnya bertarung hidup dan mati dengan wabah Nyght.


“… Tapi… Selama anak-anak Mama terus bersama… Mama yakin…. kalian akan baik-baik saja…”


“Dokter Oe! T-Tolong anakku, dok!” teriak seorang ibu yang berlari menarik jubah sang dokter.


Suara paniknya menyadarkanku dari kenangan yang beresonansi dari kalung di leherku. Kugengggam erat kalung itu dan memperhatikan drama itu sembari bersembunyi bersama Arthur.


“Kenapa Bu?”


“G-Gideon kejang-kejang!”


Terbuka lebar mata Lumina dan segera mengangguk, “Sejak kapan?” katanya yang berlari bersama sang Ibu. Mereka berdua pun menghilang setelah memasuki sebuah gang.


“Sepertinya sekarang bukan saatnya untuk mengganggu Lumina,” kata Arthur yang diam-diam ingin kabur. Tetapi segera kutarik kerahnya dan berkata,


“Bukan, ini justru kesempatan!”


“Kesempatan?”


Aku pun mengangguk, “Bila obat-obatku bisa menolong pasien darurat, tentu saja, dokter itu akan tergiur untuk menjalin kontrak denganku. Kesempatan emas ini tidak mungkin kulewatkan!”


“Tunggu dulu, bukannya tujuan utama kita kesini—“


“Ayo Arthur, sebelum mereka hilang,” kataku yang menyeret bocah itu bersamaku.


Mengikuti aroma parfum Lumina yang khas, kami pun sampai di depan gubuk reok yang hampir tumbang. Disana ramai orang sudah mengerumuninya, khawatir atau sekedar ingin tahu apa yang terjadi.


“Tunggu dulu, Auntie… Aku mau bernapas dulu,” keluh Arthur yang terengah-engah.


“Astaga, seorang Ksatria kok cepet banget ngos-ngosan? Di jamanku dulu, setiap hari, kami harus bisa mengitari istana dua puluh kali loh,” tegurku.

__ADS_1


“Aku… bukan… Ksatria beneran… tapi… Ksatria honoris causa. Kerjaanku sebenarnya cuma nge-lab aja…” kata bocah laki-laki itu yang pun menyerah dan duduk di kursi kayu rumah orang, “Lagipula, luka-lukaku.. belum sembuh semua,” lanjutnya.


Oh iya, aku sempat lupa. Kemarin malam, Arthur baru melewati masa kritis. Hebat juga dia bisa berlari begitu. Iba, aku pun membuka topi penyihirku dan memberikannya sebuah ramuan obat pereda nyeri.


“Ini minum,” kataku melempar botol itu ke Arthur.


Tergopoh-gopoh Arthur menangkapnya, lalu meminumnya tanpa babibu.


“Ini… Jamu yang Mama sering buat saat aku sakit.”


Aku tersenyum dan mengenakan topi penyihirku kembali, “Tunggu bentar ya. Auntie mau cari duit dulu.”


Di antara kerumunan, aku dapat melihat dokter Oe sedang bertengkar dengan kedua orang tua. Loh, bukannya ada pasien gawat di rumah itu, tapi kenapa mereka malah sibuk bertengkar? Penasaran, aku pun menyelip di antara kerumunan itu dan mendengar perdebatan mereka.


“Sudah saya bilang Bu, saat ini saya tidak membawa obat yang lengkap untuk menolong Gideon. Tak ada cara lain, selain membawanya segera ke klinik saya,” jelas Lumina yang jelas sudah diambang kesabarannya.


Dengan panik sang Ibu memegang tangan Lumina dan menangis, “Dok, saya mohon dok, tolong, tangani dulu anak saya. Klinik dokter jauh… bisa-bisa Gideon akan—!”


“Tanpa obat-obatan itu, mau diapakan lagi?” tanya balik Lumina kesal.


Mungkin Lumina sudah capai menangani seluruh pasien di distrik ini, sehingga sulut emosinya pendek. Apalagi kedua orang tua yang panik dan kumpulan massa menyudutkannya dan membuatnya stress. Jadi penasaran aku, apa yang terjadi dengan si anak bernama Gideon itu? Diam-diam, aku menyelinap di balik jendela dan masuk ke dalam rumah.


Kasur putih kini telah terlukiskan bercak merah, melingkupi tubuh seorang anak laki-laki yang tak berdaya. Retakan-retakan muncul di kulitnya, berakar tepat di jantungnya. Seperti menggantikan peran air mata, darah menetes dari tiap retakan kulit bersama dengan eluhan Gideon.


Segera kutempelkan telingaku di dadanya, mendengar detak jantungnya yang sudah seperti derap kaki kuda.


"Stadium tiga Wabah Nyght," gumamku yang kemudian meraba dahi anak itu dan merasakan demam yang sangat tinggi padanya.


Tiba-tiba tubuh anak itu pun menjadi kaku dan matanya melihat ke atas. Busa yang banyak pun keluar dari mulutnya bersama dengan tangan dan kaki kirinya yang kelojotan. Aku pun teringat bahwa sekitar sepuluh menit yang lalu, ibu itu mengatakan anak ini juga kejang-kejang


Melihat kondisinya yang parah seperti ini, aku pun teringat akan ocehan Mentari saat mempersiapkan ujian kompetensi dokternya. Jika tak salah, kejang yang terjadi lebih dari tiga puluh menit…


“Status epileptikus,” gumamku yang pun segera membuka topi penyihirku dan membongkar obat-obatanku. Benar kata Lumina, kondisi Gideon tidak cukup diatasi dengan obat-obatan lini pertama.


Tapi setidaknya, masih ada yang bisa dilakukan untuk menstabilkan anak ini. Dituntun oleh suara kenangan Mentari, aku pun mempersiapkan peralatanku dan diriku.


Kuoleskan sebuah salep di lubang hidung Gideon lalu menjentikan jari, menciptakan bola udara yang melingkupi hidungnya. Viridescent Gale, ramuan sihirku yang dapat mengonsentrasikan udara di titik yang kuinginkan. Meskipun digunakan sebagai losion pendingin, kata Mentari, ramuan sihirku itu cukup efektif untuk meningkatkan kadar oksigen seorang yang kesulitan bernapas.

__ADS_1


Dengan darahku, aku pun menggambar diagram sihir “Acceleration” dan “Decceleration” di ruas rusuk Gideon sebelum meneteskan obat penurun panas poten yang kubuat dari akar Mandragora.


Kukecup lembut dahinya, memunculkan lingkar sihir hitam disana sembari dan berbisik, "Zennitus."


Hawa gelap segera merasuk ke dalam tubuh anak itu, menutup paksa matanya untuk tenggelam dalam tidur yang dalam. Kejang yang menguasai tubuhnya pun menghilang bersamaan nafasnya. Disaat itu aku pun mengaktifkan diagram sihir di ruas dada Gideon dan mengambil alih pernapasannya, berharap menghentikan kejang anak itu sekaligus menyelamatkan otaknya.


Dengan teknik ini kompleks ini, dahulu, Mentari menstabilkan banyak sekali korban Wabah Nyght di rumah sakit daruratnya. Kulap peluh di keningku dan menghela nafas, setidaknya sekarang Gideon stabil.


Kulihat tanganku dan tersadar, “… Apa yang kulakukan?”


Hidungku pun menangkap parfum Lumina mendekatiku. Saat aku menoleh, si dokter dan kedua orang tua Gideon membuka pintu dan terkejut melihatku disana. Kemarahan dan ketakutan tampak jelas dari wajah kedua orang tua Gideon.


"Dia cuma tertidur," kataku mencoba menenangkan mereka, “Saat kalian sibuk bertengkar, anak ini sendirian menghadapi kematian. Untung saja dia cukup kuat, bila tidak, kalian hanya akan menemukan seonggoh mayat disini,” lanjutku menampar mereka dengan realita.


“Yah, kalau tidak cepat-cepat dibawa ke Klinik atau Rumah Sakit, pasti lewat sih,” kataku yang pun berdiri dan mengacak pinggangku heran melihat ketiga orang itu terbengong-bengong,


“Hayo! Nunggu apa lagi, segera angkut anak ini,” tegurku.


“S-Siap, Putri!” teriak kedua orang tua itu.


H-Ha? Putri…? Ah, sudahlah.


Beberapa saat kemudian, tandu pun dibuat dan beberapa preman mengangkut Gideon menuju Klinik. Sebelum pergi mengikuti rombongan itu, Lumina tampak gusar. Dia menggigit bibirnya sebelum menatapku dan bertanya,


“Ma Dame… Teknik yang kamu gunakan untuk menolong Gideon, bukankah itu penemuan Putri Mentari?”


Tertawa aku mendengarnya, “Araraa, daripada berpikir yang aneh-aneh, cepet selamatkan pasien itu. Lumina Oedellia, kamu adalah satu-satunya dokter di distrik ini, bukan?”


Lumina mengepalkan tangannya lalu mengangguk. Sebuah api semangat memenuhi sorot matanya, sebelum berlari dan menjalankan tugasnya.


Disampingku, tampak asik menikmati jamunya yang manis, Arthur pun bertanya padaku,


“Katanya mau cari duit? Kok malah kamu yang jadi dokter senior sekarang?”


Kusentil hidungnya yang mancung itu, “Aku cuma seorang tiap malam mendengar seorang dokter belajar,” kataku yang pun melihat dengan penuh nostalgia, punggung Lumina.


Dahulu, aku selalu mengagumi Kakak yang berlari dengan jubahnya itu.

__ADS_1


Tiba-tiba aku pun teringat tujuanku kemari dan segera menepuk dahiku, “Astaga, aku lupa meminta dokter itu menyembuhkanmu!”


__ADS_2