
“Kamu tak memiliki bakat sebagai seorang penyihir.”
Kata-kata yang terucap dari bibir Mutter seolah menjadi silet yang menyayat mimpiku. Gambaran hari dimana tanganku dapat menyentu tangan Mutter, semakin menjauh. Aku terus menerus berlari pada tangga, tetapi tak mampu mengejar Eclair dan Mutter. Hingga akhirnya masingmasing anak tangga pun menghilang dan menarik ke dalam kegelapan.
“…tidak!” kataku yang terbangun setelah kereta kencana kami berhenti mendadak.
Eclair yang duduk di depan segera tertawa terbahak-bahak dan menggodaku, “Gugup sekali adikku satu ini. Sampai-sampai bermimpi buruk dalam perjalanannya ke sekolah. Hayo! Cepat hapus ilermu itu, kita udah sampai di akademi loh.”
Merah wajahku yang langsung mengomel, “K-Kok Kakak tidak bangunin aku dari tadi sih?!”
“Liat kamu panik membuat hariku makin cerah!”
“S-Sialan!” kataku yang melempar bantal ke Kakakku yang ngawur itu, lantas segera membuka cermin riasku dan bersiap-siap.
Satu tahun telah berlalu semenjak Mutter menunjukan bakat sihir kami. Kini sama seperti anak keluarga bangsawan umumnya, di usia 14 tahun kami dikirim ke Akademi Odinhall di ibukota. Tempat terbaik di dunia bagi mereka yang ingin mendalami berbagai ilmu termasuk Sihir. Mekipun di pintu gerbang, kami berdua berjalan bersama… pada persimpangan pertama langkah kaki kami pun berhenti.
Eclair dengan percaya dirinya mengangkat tas di pundak dan berkata, “Boleh gak ya, kamu kuculik ke kelasku saja?”
Kutendang kaki kakaku itu, “Sembarangan! Kakak lupa kah dengan pesan Mutter. Belajar yang baik, jangan cari-cari masalah lagi. Semester lalu Kakak sudah dapat peringatan loh dari Kepala Akademi, kalau Kakak bolos kelas lagi nanti liburan musim panas Kakak harus menggantinya lho,” tegurku.
“Habisnya kelas ngebosenin banget. Kamu kan tahu aku lebih suka action daripada belajar. Buka buku aja, alam mimpi langsung menjemput!”
“Itu karena kamu malas aja tahu,” tegurku.
“Iiih, galak amat sih, siswi teladan satu ini. Iyadeh, iyadeh, hari ini aku akan belajar lebih serius. Ehem, 10% lebih serius!” katanya yang pun menjulurkan lidah padaku sebelum melangkah setengah melompat ke kelasnya. Astaga, santai sekali sih si Eclair.
Berbeda denganku, Eclair adalah satu dari tujuh Royal Pupil, murid khusus yang diseleksi oleh seorang Magistrat sihir untuk belajar di bawah sayapnya. Menjadi seorang Royal Pupil adalah kehormatan besar yang tentu akan menata masa depanmu menjadi lebih cerah. Itulah sebabnya, mutter menaruh harapan tinggi pada Eclair… tetapi Putri Pertama Kerajaan itu, tiap hari selalu saja mencari gara-gara.
Entah vandalisme, nyolong jajanan kantin kejujuran atau kabur dari pelajaran, Eclair telah menjadi buah bibir bagi para Professor di akademi. mereka tampak begitu khawatir melihat calon Ratu mereka adalah sosok berandalah yang suka mencari masalah. Tetapi ada dua hal yang membuat mereka tak bisa melakukan apa-apa pada putri itu. Satu karena ia adalah seorang Noctis dan terakhir karena Eclair adalah murid peringkat nomor satu di akademi ini.
Hmm, apakah mungkin nakal adalah satu karakteristik seorang jenius?
“Hey, bukankah dia tuh si kutil Noctis?”
Ah… Mulai lagi.
Erat kugenggam tasku, melewati puluhan mata yang memandangku dengan geli. Lebih tajam dari belati lidah mereka, membicarakan diriku. Diselingi tawa yang mengejarku seperti tangan-tangan kegelapan… yang menangkapku dalam perangkap kenyataan.
“Eh, dengar-dengar, si kutil itu remed 4 mata pelajaran loh. Padahal Kakaknya pemegang ranking satu di sekolah ini, tapi dia justru hanya membawa malu ke keluarganya.”
__ADS_1
“Tahu gak sih, masa ya, memanggil sihir sepele seperti Fireball saja, dia gak bisa? Memang beda, seharusnya Daemon sepertinya tak pantas masuk di akademi ini.”
“Yah, maklum lah. Kalau saja dia bukan anak haram Noctis, mana mungkin bisa sekolah disini. Dasar parasit.”
“Iih, salah tahu, parasit itu bisa berbahaya, tapi dia mah cuma bawa malu aja. Lebih tepatnya, sebuah Kutil.”
Meskipun kau ingin menyangkal perkataan mereka, namun kebenaran memaksaku menutup mulut. Seberapapun aku menghabiskan malam dengan belajar, tak ada satu pun materi melekat di kepalaku. Sekuat apapun aku berlatih sihir, hanyalah sihir sehari-hari yang dapat kugunakan. Mungkin… benar kata mereka, seekor Daemon sepertiku dapat masuk ke sekolah prestigius seperti ini semua berkat kemurahatian Mutter. Mungkin benar bahwa aku… sama sekali tak memiliki bakat menjadi seorang Penyihir.
Tapi… tetap saja, sesering apapun aku mendengar hinaan itu, hatiku masih sakit sekali.
“Putri Bulan, ada apa?”
Terdengar suara lembut di depanku. Saat kubuka mata, tersadar diriku hampir menabrak orang di depanku. Dia adalah seorang laki-laki dengan sorot mata yang tajam, menatapku dengan khawatir. Jubah hitam yang ia kenakan memiliki relief sihir yang rumit, berpadu elegan dengan kemeja putih dan dasi birunya yang bergaris-garis. Dibalik jabrik rambut cokelatnya yang berkobar seperti api kontras dengan suara yang lembut dan menenangkan hati.
Dia adalah Professor Oedellia, guru matematika sekaligus wali kelasku.
“Ma-Maaf, Professor… S-Saya terlalu terburu-buru hingga-“
“Lu dibully lagi ye,” kata laki-laki itu menghela nafasnya panjang. Melihat jam tangannya laki-laki itu kemudian menepuk pundakku dan melangkah pergi, “Ikut gue.”
“A-Anu, m-maaf, tapi kelas kan sudah mau mulai, Prof?” tanyaku bingung.
U-Ugh… A-Aku tak bisa melawan kata-katanya. Seperti tahanan penjara, aku menurut dan mengikuti sipirku. Meskipun memiliki perawakan yang menenangkan hati, Prof. Oe memliki mulut yang sangat ceplas-ceplos. Sifatnya yang supel membuat banyak murid membuka hati padanya. Tak jarang ada murid perempuan yang menaruh hati pada professor jomblo itu, hanya untuk ditolak dengan seribu satu alasan.
Tapi sungguh… apa sih yang mereka lihat dari guru ini? Udah pemaksa, tak punya tata krama, bicaranya ngawur, dan senyumannya yang terlalu percaya diri itu! Sejak pertama kali ketemu dengannya saja, aku sudah sebal sendiri. Usia kami pun tak berpaut terlalu jauh, tapi sok ngaturnya itu loh, kebangetan. Nyebelin pokoknya.
Melewati gerbang sekolah, Prof Oe menutupi rambutku dengan mantelnya. Bersama kami melewati lintas kota menuju dermaga internasional yang sangat ramai. Diantara teriakan para pelaut yang baru saja berlabuh dan para pedagang yang saling tawar menawar, Prof Oe mengantarku ke sebuah gudang yang penuh dengan kontainerr. Duduk dengan anehnya, sebuah bis besar berwarna biru yang penuh karat menanti kami disana. Prof Oe pun membuka pintunya dan bersamaan itu… semerbak aroma rempah-rempah dan senyawa sihir menyambutku.
Terpukau mataku melihat peralatan lab yang sangat modern, terpasang ringkas di bis itu. Tanpa ijin Professor, aku segera melompat ke dalamnya dan mengotak-atik segala penjuru lab, menemukan berbagai perlatan aneh yang tak pernah kulihat sebelumnya di kediaman Noctis. K-Keren sekali…! Seolah-olah aku berada dalam lab yang bisa pergi mengilingi seluruh dunia!
“Keren bukan? Bis ini gua beli dengan tabunganku sepuluh tahun. Berbeda dengan lab lainnya, besi dan kaca dari peradaban yang lalu dapat memerangkap sihir dengan efektif. Belum lagi ada teknologi air conditioner yang mampu menghisap racun dan mengeluarkannya dari bis ini. Mau bikin ledakan sebesar apapun, api takkan merebak dari bis ini. Hmph! Tak ada lab paling sempurna daripada bis ini!” kata Professor Oe dengan bangga.
Bis adalah sebuah artifak dari peradaban sebelum Progenitor Amelia. Layaknya dongeng, dahulu mereka mengatakan umat manusia dapat mengarungi tujuh angkasa dengan sebuah piring terbang, menaklukan bintang demi bintang dan menyerap energinya yang tanpa batas. Tiada kasta, tiada Daemon ataupun Manusia, semua orang adalah sepadan. Dan lebih anehnya lagi… Tak ada seorang pun yang dapat menggunakan sihir, namun mereka bisa melakukan seluruh keajaiban itu dengan mudah.
Sungguh peradaban yang sangat luar biasa! Namun sayangnya, hanya dalam satu malam, mereka semua menghilang tanpa jejak, hanya meninggalkan puing-puing peradaban yang tiada satupun dapat menggunakannya.
“A-Astaga, i-inikah yang mereka sebut mikropipet? Alat yang bisa mencampurkan reagen hingga ketepatan 1 mikrometer?” tanyaku terpesona dengan sebuah pipet di tanganku.
“Yoyoi. Tak hanya itu, ada inkubator, sentrifus dan banyak lagi,” jawab Prof. Oe.
__ADS_1
Tiba-tiba aku pun tersadar, seorang perempuan dan laki-laki berada di ruang tertutup seperti ini… apalagi seorang Putri sepertiku, sepertinya agak-
“Oh, suamiku, kamu udah datang,” tiba-tiba terdengar suara perempuan yang membuatku melonjak kaget. Terbangun berselimutkan koran, seekor Daemon perempuan duduk memperhatikanku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dia adalah siluman rubah dengan ekor yang tampak menggemaskan dan telinga nan panjang. Cantik wajahnya… namun, tampak urakan sekali perempuan itu, membuat tanganku gemes ingin menyisir rambutnya yang kusut.
“So, ini anak berbakat yang kamu maksud? Daemon yang dapat mengurai resep rahasia bakso Abang boy hanya dengan indera penciumannya saja?” tanya perempuan itu menggaruk-garuk pusarnya.
“Dan menyempurnakannya, istriku,” tambal Prof. Oe.
T-Tunggu, s-suami istri? B-bukankah perkawinan antara Daemon dan manusia itu terlarang? B-B-Belum lagi, Professor oe kan orang tersohor di negeri ini? A-astaga, apakah ini yang mereka sebut kawin sirih?! D-Duh.. inikan, cinta terlarang berlapis???
“Yang kulihat hanyalah gadis puber dengan imajinasi berlebihan,” canda perempuan itu yang berdiri. Tinggi sekali dirinya hampir menyentuh atap dari bis itu, “Namaku Qrista Oedellia. Kamu?” katanya mengulurkan tangan.
“Clairysviel Adeola Noctis,” kataku gugup mengambil tangannya.
“Langsung to the point aja yah. Dunia sihir bukanlah tempatmu seharusnya berada, tetapi disini. Bakatmu dapat menyelamatkan jutaan orang kelak… termasuk Putriku, Quina.”
“Bakatku?” tanyaku bingung.
Prof Oe pun kemudian menimpali, “Putri Bulan, lu nyadar gak, bahwa lu sebenarnya adalah seekor Daemon Malaakh. Jelmaan malaikat langit yang memiliki indera jauh melebihi manusia ataupun ras Daemon manapun. Meski tak punya harapan di dunia sihir, indera penghidu dan pengecapmu yang luar biasa, lu ada kesempatan untuk emngubah dunia melalu seni kuno bernama Alkimia sihir.”
Bingung aku pun berdalih, “B-bukankah Alkmia sihir sudah di cap obselet dan usang? Sebab di masa ini, banyak orang bisa menggunakan sihir penyembuh yang instan.”
Krista menjawab, “Masih banyak penyakit yang tak bisa disembuhkan dengan sihir.” Wanita tinggi itu pun mengajakku ke kamar belakang bis, tempat ia menidurkan putrinya yang cantik.
Saat masuk ke ruangan itu, bau khas segera menari-nari di hidungku. Mataku pun terkejut melihat seluruh tubuh gadis ekcil itu tampak bengkak. Dia pun lemas dan tak berdaya, tertidur dengan nafas yang cepat sekali.
“… Kenapa banyak bau nanah tercium dari dalam ginjalnya? Dan bau ini.. albumin? Kenapa pekat sekali di kandung kemihnya?” gumamku tak sadar.
“Butuh tiga bulan bagiku memecahkan penyebab penyakit anakku, tapi kamu sudah tahu selangkah masuk kamar ini,” kata Krista menghela nafasnya panjang lalu membelai rambut cokelat anaknya itu, “Aku tak tahu mengapa, tapi semenjak 4 bulan yang lalu sistem imun Quina menyerang ginjalnya sendiri. Hal itu menyebabkan seluruh protein dalam darahnya keluar melalui kencing.”
“Tanpa tekanan onkotik yang mumpuni, seluruh cairan dalam darahnya pun merembes dan memenyebabkan Quina menderita seperti ini,” lanjut Krista.
S-Sistem imun? Darah? Tekanan onkotik? A-Astaga, apakah kami berbicara dalam satu bahasa yang sama?
“Aku telah mencari dari ujung dunia dan akhirnya menemukan obat untuk sejenak menyembuhkan Quina di pasar gelap. Tetapi…,” kata Krista yang kemudian membuka laci dan memberikan ampul kaca dengan tutup yang patah padaku, “Nama obat itu adalah Metilprednisolon… Obat dari peradaban lalu, yang kini tak ada satu pun tahu cara membuatnya. Tanpa obat itu, Quina akan terus seperti ini.”
“J-Jadi… Maksud Prof membawaku kemari… untuk memecahkan resep obat ini?” tanyaku. Tetapi kemudian amtaku terkejut melihat kedua orang tua itu bersujud dihadapanku dan berkata,
“Putri Bulan… tolong selamatkan anak kami.”
__ADS_1