
—58—
“Kamu tiada akhirnya,” teriak Amelia yang mengayunkan tongkat sihirnya, membelah ratusan tubuhku menjadi potongan kecil. Tapi akar hitam kembali menyatukan mereka dan siap untuk bertarung.
Sedang diriku memperhatikan kekuatan Amelia dengan seksama. Artemisia, pedang terkuat yang diciptakan dari fossil La Puella Dragonica dan meteorit, dapat patah dengan mudah. Tidak ada hentakan maupun kekuatan yang melawan tebasanku. Artemisia patah seolah ada terpisah dan bagian yang patah tertinggal dalam waktu yang berbeda.
Dewi Ruang dan Waktu… Hmm, aku agak curiga.
Aku pun mengambil beberapa Magicite dari topi penyihirku, lantas penasaran pecahkan batu itu dan menembakan puluhan peluru api yang melesat ke Amelia. Bola api itu pun terhenti sebelum menyentuhnya dan dengan mudah Amelia memindahkan bola itu kembali padaku, dengan kecepatan yang sangat tinggi.
“Apakah kamu seputusasa itu hingga menggunakan sihir lemah ini untuk menyerangku?” tanya Amelia yang memanggil 3 bola kegelapan di belakang punggungnya.
“Tidak, aku hanya memperhatikanmu, seperti pemburu memperhatikan mangsanya,” kataku yang tersenyum meringis, “Amelia, kekuatanmu adalah memperlambat dan mempercepat berjalannya waktu, bukan? Dikombinasikan dengan manipulasi ruang, kamu mampu membuat tiga hingga empat zona waktu yang berbeda.
Bagian tubuh yang terjebak dalam zona waktu yang melamban akan terpisah dair tubuh yang terjebak dari zona waktu yang cepat. Seperti… pedang tak terlihat yang dapat memotong segala sesuatu.”
Amelia tertawa, “Hanya empat? Clairysviel, kamu meremehkan diriku,” kata sang Dewa yang kemudian melepas tongkat sihirnya dan menepuk tangannya keras. Matanya pun bersinar merah saat dahinya terbuka lebar, menunjukan mata iblis ketiganya.
Disaat yang sama ketiga bola kegelapannya pun melesat di tengah-tengah ratusan tubuhku. Mereka menghisap tubuhku dengan ganas, memaksa mereka melewati berbagai zona waktu yang berbeda… mengkoyak-koayak tubuh mereka tanpa ampun.
Tapi disaat yang sama aku menyadari, Amelia tidak menggunakan boneka dewi ksatria itu. Malah, dia menjauhkannya dari jangkauan serangannya.
… Darahku berdesir kencang melihat kekuatan Amelia. Wajahku tak mampu menutupi sneyumanku yang semakin lebar. Mataku tak dapat berkedip melihat kekuatan absolut di depanku. Inikah kekuatan sesungguhnya dari Dewa yang mampu menghancurkan dunia ini dengan mudah?
“Kenapa kamu tersenyum? Apa mungkin kamu sudah gila?” tanya Amelia yang melipat tangannya.
Akar-akar kegelapan merayap di sekujur tubuhku. Dia meliuk-liuk melapisi kulitku dan menjadi tulang yang tajam dan keras. Akar-akar itu pun menutupi wajahku, membentuk tulang naga denan taring-taring yang tajam. Bunga-bunga mawar hutam pun mekar di kepalaku, menjadi dua pasang mata baru yang menambah akut penglihatanku. Bersamaan itu sayap kegelapan pun menyeruak dari punggungku, menyerupai tulang belulang jemari yang mengerikan.
Melihat transformasiku, senyuman Amelia pun menghilang. Mungkin karena, dia merasakan… betapa aku tak sabar ingin menghabisinya.
“Untuk menghilangkan badai salju superadikal, hah, sepertinya itu hanya bualanmu semata. Sejak awal kamu datang kemari, tujuanmu hanya satu. Balas dendam. Seekor monster, tetaplah monster. Seberapapun kamu menutupinya dengan kata-kata manis,” kata Amelia menatapku dengan tajam.
Amelia pun terbang di atasnya dan menengadahkan tangannya, memanggil ketiga bola kegelapan itu dan menyatukannya menajdi bola energi yang sangat dahsyat. Bahkan kekuatan bola itu mengoyakkan kulitnya saat dia melesatkan bola itu padaku dan berkata,
“Matilah, tak ada tempat bagimu di dunia ini. Supernova!”
Sinar terang pun muncul melahap tubuhku. Saat tubuhku teruai menjadi debu, nostalgia pun menghampiriku.
Mengapa sulit bagiku menemukan tempat di dunia ini?
“Esmeralda, berapa kali aku harus mengatakanmu, dia bukan anakmu. Dia hanyalah monster yang akan menghancurkan keluarga Noctis. Kenapa kamu bersikeras melindunginya?”
Benar juga… awalnya, ada tempat yang selalu menerimaku. Meskipun tahu aku hanyalah Anima yang lahir dari keinginan Putrinya, Mama menerimaku sebagai anaknya. Meskipun berat, Mama menyayangiku sama seperti ia menyayangi Mentari.
__ADS_1
Namun sama seperti segala hal di dunia ini, rasa sayang itu tidaklah abadi.
“Setelah semua yang kuberikan padamu… Mengapa Bulan? Mengapa kamu justru melukai Mentari? … Pergilah, periglah kau jauh dari pandanganku! Monster!”
DOR DOR DOR!!
Darah yang pertama kali mengalir di tanganku… adalah darahku sendiri. Di malam saat peluru itu menembus jantungku, begitu pula hancurlah rumah pertamaku. Saat aku tenggelam dalam sungai keputusasaan, segala konsep cinta yang dia ajarkan padaku kini terdengar seperti kebohongan yang menyesakkan.
“Nona Bulan, kamu telah menyelamatkan hidupku. Kini ijinkanlah aku untuk melindungimu.”
Tapi seperti burung Phoenix yang lahir dari abu kehancuran, perasaan itu lahir kembali. Memiliki akar yang rapuh dan tangkai yang lemah, dia berusaha tumbuh di tanah yang tandus. Berusaha mencari persinggahan yang baru… tapi hanya untuk menemukan kekecewaan.
“… Maafkan aku Bulan… aku tak dapat melindungi Mentari dan juga… dirimu.”
Dan segala kekecewaan itu berakhir dengan tangan ini menyipratkan darah dari orang yang kusayangi. Tapi selalu, berapa kali pun ia hancur, cahaya akan kembali datang. Relung cahaya itu memberikan harapan dan kehangatan bagi diriku yang haus.
“Hey, Ma Dame… Apakah boleh, aku memanggilmu… Mama?”
“Astaga, Auntie! Kenapa sukanya gangguin aku mulu sih, nyebelin!”
“Tuan Putri, jangan suka memandang diri rendah begitu. Tuan Putri adalah penyihir terhebat yang pernah kutemui.”
Aku tersenyum mencoba meraih cahaya itu. Namun semakin aku mencoba menggapainya, semakin cahaya itu menjauh dariku. Pada akhirnya aku pun tenggelam kembali dalam dinginnya kegelapan yang terasa familiar bagiku. Lantas terbesitlah dipikiranku…
Kalungku pun bersinar dan bersamanya, suara Mentari pun berbisik di telingaku,
“Kalau tak ada tempat yang mau menerimamu, kenapa kamu tidak membuatnya sendiri, Bulan? Aku percaya... bila kamu melakukannya, kamu akhirnya akan megnerti, apa arti dari cinta.”
Pelukan familiar kurasakan, bersama dengan manis suaranya berbisik lagi,
“Bukankah, seorang pedagang tidak pernah melanggar janjinya? Jangan menyerah Bulan, Langit biru menanti kita.”
Dari debu aku menyusun kembali tubuhku diam-diam, tepat di belakang Amelia. Di tanganku adalah kekuatan yang kupinjam dari seluruh harapan makhluk hidup di dunia ini, dari manusia pertama hingga anak yang terakhir. Cinta, harapan, mimpi, kekinginan, keputusasaan, kesedihan, penderitaan, kekecewaan seluruh kekuatan itu kukumpulkan dalam kepalan tanganku. Semua tertuju pada Dewa busuk yang mengurung kami dalam takdir pahit ini!
“Hey, Amelia, lihat!” panggilku yang segera menghantam Dewa itu jatuh di tanah. Sekejap bola cahaya itu pun menghilang bersama dengan diriku mendarat dan mengambil kerah baju Dewa itu.
“B-Bagaimana bisa? S-Seharusnya, kamu tak dapat menyentuhku!” teriak Amelia panik.
Aku tertawa kecil, “Araraa, sepertinya, sang Dewa tidak pernah belajar Alkimia sihir yah? Coba liat sekitarmu, sadarkah kamu apa yang terjadi?”
Dewa itu pun menatap ke sektiarnya dan tak percaya, “A-Aether?”
“Yup, benar sekali. Kamu kira, seluruh tubuhku yang kamu koyak-koyakkan itu hanya menumpahkan darah biasa? Tidak, mereka hanya boneka penuh Aether cair. Sihir Supernova-mu menguapkan darah-darah itu menjadi gas menyeruak di ruangan tertutup ini,” kataku yang mengangkat dewa itu dan menghajarnya dengan tiga tubuhku yang lain,
__ADS_1
“Dengan sifatnya yang mendisrupsi energi sihir, serbuk sederhana Aether adalah senjata yang efektif untuk melawan Penyihir. Bahkan dewa pun tanpa sihir hanyalah manusia biasa bukan?” lanjutku yang kemudian menikam jantung Amelia dengan tanganku dan menghancurkan jantungnya.
Tapi, seperti yang kuduga, Dewa itu memindahkan jiwanya ke Boneka dewi Ksatria yang dia simpan jauh-jauh. Aktif dan mengganas, boneka itu pun melesat mendekatiku dengan pedangnya.
“Kamu bilang, kamu mengawasiku sejak menjadi Ratu Iblis. Heh, harusnya, dari awal kamu melihatku, Amelia,” kataku yang menangkap tebasan Dewi Ksatria itu, mematangkan lengannya dan merebut pedang pusaka itu darinya,
“Aku bukanlah Penyihir, melainkan seorang Ksatria terhebat sepanjang masa,” lanjutku yang kemudian seolah menghentikan waktu dan menebas leher, jantung, paru dan organ vital lainnya dalam satu tebasan.
Dawn Eagle, jurus pamungkas yang kudapatkan setelah berlatih mati-matian bersama Kai untuk menjadi ksatria hebat dan membanggakan Mama dan Keluarga Noctis. Meskipun teknik berpedang ini pada akhirnya justru membuat mereka semakin takkut dan membenciku.
Dewi Ksatria itu pun tumbang dan bersamaan dengan itu cahaya muncul dari tubuhnya, melesat merasuki Boneka terakhir di singgasana. Permata safir di mata boneka itu pun mendapat kembali cahaya hidupnya bersama dengan tawa sombong dari sang Dewa.
“Kamu benar-benar Dewi yang sangat kuat, Clairysivel Adeola Noctis. Awalnya aku ingin mengajakmu menguasai takdir dunia ini bersama,” kata Amelia yang bangkit berdiri.
Sayap cahaya pun mekar dari punggung sang Dewa, menghempaskan kejut gelombang yang meretakkan seluruh dinding dan tanah.. Gravitasi yang sangat luar biasa menghantam tubuhku, memaksaku untuk berlutut di hadapan sang Dewa.
“Tapi sepertinya… aku harus menghabisimu sebelum kamu menggangguku lebih jauh,” lanjut sang Dewa.
Kulepas segala pelindung tubuhku dan mengambil topi penyihirku. Dari dalamnya, aku pun mempersembahkan Ideal White yang kusegel dengan akar kegelapanku, kepada sang Dewa. melihatnya, Amelia menatapku heran.
“Melihat kekuatan sebesar ini, sudah jelas, aku tidak mungkin mengalahkanmu, Amelia. Setidaknya, sebelum nyawaku dicabut, aku ingin mempertahankan harga diriku sebagai seorang Pedagang,” kataku.
Amelia tertawa terbahak-bahak, “Kamu… sungguh makhluk yang sangat menarik. Bahkan disaat genting seperti ini, bisa-bisanya kamu melakukan sesuatu yang unik,” katanya yang kemudian mengambil cahaya pertama itu dariku,
“Bila saja kamu terlahir di masa para dewa-dewi, kita pasti akan menjadi teman yang sangat akrab. Tapi… Semua itu hanyalah pengandaian saja sekarang,” lanjutnya.
Sang Dewa pun terbang di langit dan mengaktifkan seluruh kristal merah disana. Dia dengan mudah melepaskan segelku pada Ideal White dan emngaktifkan sihir itu. Kristal putih itu terbuka dan menunjukan api putih yang membara. Sinarnya yang begitu terah bahkan membuat cahaya lain redup menjadi kegelapan.
Amelia tersenyum, “Dengan ini… akhirnya, aku dapat mengendalikan takdir…. Dengan kekuatan absolut ini, aku bisa menghentikan iblis itu sebelum dia menghancurkan duniaku!” kata sang Dewa yang menggapai api suci itu dan melanjutkan,
“Oh, sinar pertama yang agung, aku, Amelia Sonata Noctis, Dewa Penguasa Ruang dan Waktu, memanggilmu. Berikanlah padaku kekuatan absolut untuk—!”
Tiba-tiba dewa itu berhenti berkata-kata, ketika darah keluar dari mulutnya. Sirkuit sihir di seluruh tubuhnya pun menyala, mengekspulsi darah yang banyak. Dengan mata Melotot dia pun melihatku melambai-lambaikan syringe kosong di tanganku… sebelum jatuh kembali ke dasar.
Inilah kartu Ace-ku, senjata terkuat yang kumiliki. Wabah Nyght.
“Mengalahkan Dewi Nyghtingale dengan Wabah Nyght… seperti yang kamu bilang, aku punya selera humor yang luar biasa bukan?” kataku yang kemudian mencabut pedangku, "Bagaimana rasanya, Sang Akar dari segala sihir, dikalahkan oleh seekor Monster yang tak dapat menggunakan sihir?"
"Kamu... Tak tah apa yang kamu perbuat.. Jika kamu membunuhku era sihir akan berakhir. Apakah dunia yang selama ini bergantung pada sihir dapat hidup tanpanya?" teriak Amelia.
Aku tertawa sumbang, "Dunia? Sejak kapan aku mempedulikan dunia yang menolakku?" kataku yang pun menikam jantung sang dewa dengan senyuman sinis,
"Apapun yang tejadi. Tujuan kami, Black Company, tetaplah sama. Kami akan mencapai langit biru... dan mewujudkan dunia baru yang menerima kami!"
__ADS_1