Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Noctis Melodia (1)


__ADS_3

Kuhela nafasku memandangi labirin buku yang menulang tinggi ke langit. Duduk sendiri di depan resepsionis di antara para penyihir yang sedang berlalu lalang dengan ramainya di langit, menikmati sumber pengetahuan tanpa batas di perpustakaan kota Pei jin.


"Haah... Kenapa semua jadi begini," gumamku bersandar di meja resepsionis yang tinggi.


Seekor peri mendatangiku, dengan gulungan emas yang tampak berat sekali dibawa oleh tubuh kecilnya. Tapi setelah memberikan gulungan itu padaku, berseri-seri senyum di wajahnya meringankan hatiku.


Aku pun membuka gulungan sihir itu menemukan namaku dalam surat itu, kini memiliki seluruh distrik Clariyastra dan segenap penduduknya. Kutekuk alisku heran dan berkata,"Nao, ini seriusan? Kamu sendiri tahu kan daripada mengurusi orang lain, aku lebih suka mengalirkan uang ke dompetku."


Nao, nama peri itu tertawa dan menepuk pundakku, "Ma Dame Clair kan juga satu dari tujuh penyihir tinggi Pei Jin. Sama seperti penyihir lainnya, Dame seharusnya memerintah suatu wilayah di kota Pei Jin dan menjaga kedamaian di negeri penuh warna ini. Itu adalah cara roda mesin kota pedagang ini berputar dan menjadikannya negeri paling makmur di seluruh benua," katanya yang kemudian menyengir jahil,


“Sudah setahun ini Ma Dame Clair pandaaai sekali menghindari tugas ini. Entah ada bisnis di Siphon Dragonica lah atau dispepsia kronis, adaaaaa-ada saja alasan Dame untuk menolak panggilan Nyonya Besar. Tapi entah kenapa, sekarang Dame Clair sendiri yang datang menemui Nyonya Besar. Kesambet apa, Dame?"


Kusentil peri ngawur itu dan menjawab, “Araraa, peri kecil ini kurang ajar banget ya? Pingin kusate, hmm??


Mengusap kepalanya dengan kesal, peri itu kemudian memukul-mukul tanganku, “Ih, kok jahat gitu sih. Gini-gini, Nao termasuk penyihir paling senior loh,” katanya yang kemudian dengan ttidak sopannnya melompat dan duduk di kepalaku, “Nao sendiri heran, kenapa sih Ma Dame Clair bersikeras menolak mengemban tugasnya? Padahal kan, dengan memiliki wilayah disini artinya seluruh sumber daya disana menjadi milikmu? Termasuk manusia-manusia itu,” lanjutnya.


“Aku… hanya merasa tak cocok saja. Seekor Daemon haus darah sepertiku, memiliki ratusan nyawa bergantung padaku. Itu adalah beban yang sangat berat,” kataku yang kemudian melihat tangan kananku yang gemetar, “Apakah kamu mengerti rasanya… ketika setiap keputusan yang kamu ambil dapat mengubah hidup seseorang?”


“Dame ngomong apa sih? Sok filosofis banget. Tapi entah mengapa Nao merasa, ada makna yang dalam dibalik kata-kata Ma Dame,” kata Nao yang melihat jam besar di menara itu, “Masih ada waktu sebelum Asisten Handal datang menemui Dame. Bagaimana jika kita minum kopi dulu sambil berbagi cerita?”


Mendengus geli aku, “Gabut amat sampe bisa minum kopi di jam kerja.”


Menepuk dadanya dengan bangga, peri itu pun berkata, “Senior gitu loh! Kan ada junior yang bisa diperbudak!”


Tertawa diriku melihat tingkah Nao. Yah, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan untuk membunuh waktu. Bersama kami pun pergi ke dapur dan membuat kopi bersama, sebelum cerita panjangku kumulai. Cerita yang sama sekali berbeda dari kebohongan yang kuberi pada Arthur.


—————- + ———————


Dua puluh tahun yang lalu.


Istana Glasglow, Maret 1627

__ADS_1


Paduan suara serangga bernyanyi di hutan, mengiringi peluh yang jatuh dari kening seorang gadis dengan senapan di tangannya. Bersembunyi dalam semak belukar, gadis itu membidik seekor babi hutan yang sedang nikmat menyantap jejamur yang tumbuh pada kulit pohon tua yang telah mati. Tubuhnya yang besar menakutkan membuat gadis itu merinding sendiri.


Gadis itu adalah Eclair Cadenza noctis, ketika berusia 13 tahun.


Saat itu, Eclair tak seorang diri. Disampingnya, seorang wanita berambut hitam keunguan turut bersembunyi. Dia adalah Esmeralda Vivacia Noctis, wanita yang aku dan Eclair sebut sebagai Mutter atau dengan kata lain Ibu. Wanita itu tak menyadari betapa bingung anak kesayangannya, entah angin ribut mana, disuruh berburu babi hutan di tengah terik matahari begini.


"Atur nafasmu dan tenangkan detak jantungmu. Bunyinya berisik, seperti kereta api saja," terdengar bisikan Mutter.


Kebal terhadap komentar Mutter, Eclair membalas, "Kenapa aku harus melakukan ini, Mutter? Aku kan seorang Putri keluarga Noctis yang terhormat. Masa Putri cantik sepertiku harus mengotori diri dengan tanah hutan?”


"Justru karena kamu seorang Noctis, kamu harus bisa berburu, Mentari. Sekarang fokus. Kamu sudah tahu kan mantranya?”


Dengan enggan Eclair mengangguk dan menarik nafas dalam, "Lock on," bisiknya kemudian. Mengikuti sang Putri, aku pun mengaktifkan sihir tersebut pada kedua mataku.


Dalam sekejap pandang mataku semakin tajam melihat babi hutan itu. Kini aku dapat melihat bulu-bulu hitamnya yang kasar seperti duri-duri. Rakus suara babi itu melahap jamur hingga liurnya menetes ke tanah, terdengar jelas di telinga. Aku dapat melihat wajah pucat pasi Eclair yang menahan muntahnya, melihat makhluk kotor itu.


Tentu saja... Putri Eclair adalah Putri yang sempurna seperti dalam dongeng-dongeng. Seperti berlian mahal, ia menjadi pemanis mata dimanapun berada. Helai rambutnya seperti anggunnya malam yang mengalir diantara putih kulitnya yang halus dan lembut. Tutur katanya yang lembut dan tingkahnya yang lemah gemulai, membuat para ksatria ingin melindungi dirinya. Putri Eclair juga sangat cerdas dan menawan, meskipun belum debut di lingkungan sosial sudah banyak bangsawan yang ingin mengenalnya lebih lanjut. Tentu saja, Putri sempurna seperti itu akan sangat membenci pekerjaan kotor seperti ini.


Bayangan bila peluru diletuskan melesat menembus kepala sang induk membuat Eclair mual. Apalagi melihat anak-anak babi itu menangis membangunkan induknya yang telah ia bunuh. Rasa iba segera menguasai hatinya, tidak tega merebut kebahagiaan kecil di depan mata sang Putri.


"Mutter, aku... tidak bisa," kata Eclair melepaskan senapannya itu dan merelakan buruannya pergi.


Mutter menghela nafasnya panjang, "Bulan," perintahnya.


Menuruti permintaan Mutter, aku membidik senapan sihirku dan segera menembak sang induk. Tepat di kepala, sebelum ia bahkan dapat berteriak histeris. Semua demi memastikan saraf simpatis babi itu tidak aktif dan membuat dagingnya keras dan amis.


Desir nadiku segera meningkat dan kakiku langsung meloncat mendekati buruanku, dengan belati yang sudah siap untuk mengulitinya. Disana, pemandangan yang Eclair takutkan terjadi. Para anak babi hutan itu mengendus induknya dengan mengi penuh kesedihan, melakukan usaha percuma untuk membangunkan sang induk.


"Ke-Kenapa...? Apakah kamu tidak punya hati, Bulan?" tanya Eclair kepadaku.


"Bila aku tak membunuhnya, lantas makan apa kita nanti malam, Mentari?" jawabku yang mengarahkan belatiku pada anak-anak babi itu.

__ADS_1


Tetapi Eclair segera menghadangku dan berkata, "C-Cukup. J-Jangan mereka juga.”


Bingung aku pun bertanya, "Bukankah lebih baik aku mengakhiri hidup mereka sekarang, daripada mereka hidup menderita tanpa induk?”


"T-Tapi, tetap saja, menurutku, ini terlalu kejam!" bantah Eclair.


Kulipat tanganku dengan heran, "Seorang Noctis harus membuang perasaannya dan hanya memikirkan keuntungan diri. Seorang Noctis harus membuang rasa percayanya selain pada diri sendiri. Seorang Noctis tidak boleh melupakan esensi dirinya sebagai seorang Noctis. Apakah kamu melupakan tujuan perburuan ini, Mentari?”


"Bulan!" teriak Mutter yang kemudian menamparku dengan sangat keras, hingga tubuh kecilku pun terjatuh di tanah. Begitu besar amarahnya itu, menatapku dengan tajam. Persis seperti seekor induk yang melindungi anaknya dari monster yang menyeramkan.


"Kamu lupa posisimu?" bentak Mutter.


Nyeri pada pipiku tak sebanding dari dalam hatiku. Kutundukan kepala, begitu malu untuk menatap wajah Mutter. Panas di pipiku menyadarkan aku. Arara… Siapakah aku ini berhak menasehati seorang Noctis tentang darahnya sendiri?


Aku hanyalah Daemon rendahan yang dipelihara oleh Keluarga Noctis, anak haram yang lahir atas perselingkuhan Raja Axel dengan wanita Daemon yang sudah mati. Adalah komedi dewa-dewi yang memberikanku kutukan ini... paras yang hampir serupa dengan Putri Eclair.


Hidup ini... hanyalah untuk Putri Eclair dan Mutter, aku tak boleh melupakannya.


"Ampuni saya, Mutter. Saya... perlu belajar lebih lagi, agar bisa menjadi alat yang sempurna untuk Keluarga Noctis," kataku memohon pengampunan Mutter.


"Bereskan kekacauan ini," jawab Mutter dingin yang kemudian mengelus lembut rambut Eclair dan menenangkan sang putri. Dengan suara manis, Mutter pun berbisik pada Eclair,


"Besok Mutter... akan pergi dalam waktu lama. Karenanya aku ingin menyiapkan makan malam yang enak untukmu sehingga melakukan ini. Maafkan Mutter menakutimu lagi ya,”


"J-jangan ngomong seperti itu. Mutter seolah berkata ini pertemuan terakhir kita," kata Eclair menolak tangan Mutter, menyembunyikan kekesalannya.


Mutter tak membalas kata-kata Eclair. Dia hanya tersenyum lembut merangkul anak semata wayangnya yang sangat ia sayangi itu. Memunggungiku yang diam-diam membunuh seluruh anak babi sebelum mereka menjadi masalah bagi keluarga Noctis.


Putri Bulan adalah sebutan yang orang-orang berikan padaku. Bayangan gelap yang menjadi pelindung bagi keluarga Noctis dan pedang bagi mereka. Berbeda dengan Eclair yang diasuh dengan penuh kasih sayang seorang ibu, sejak kecil aku hanya menemui ringkihnya emosi dari Mutter. Mutter mendidikku dengan sangat tegas untuk menjadi tangan kanan Eclair yang sempurna, dari mataku terbuka hingga tertutup kembali.


Ini adalah kisah Clairysviel Adeola Noctis. Anak haram yang merebut posisi Putri Mahkota Kinje dari Kakaknya... demi ego dam ambisinya yang bodoh.

__ADS_1


__ADS_2