Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Nameless Troubles (3)


__ADS_3

—8—


“Si Playboy itu benar-benar membuatku kesal,” gumamku.


Kuhela nafasku melihat Arthur terburu-buru mengenakan mantel anti saljunya di depan gerbang. “Arthur, hoodiemu gak genah,” kataku yang segera membetulkan tudung mantel Arthur.


Arthur segera menepis tanganku dan memalingkan wajahnya, “J-Jangan sentuh-sentuh, a-aku bisa melakukannya sendiri,” katanya membetulkan tudung mantelnya sendiri, “K-Kamu juga, apakah payung itu cukup untuk melindungimu dari Salju Superadikal?”


Aku mendengus. Bocah itu tampak lucu sekali saat mencoba melawan efek ramuan cinta itu di tubuhnya. Caranya malu-malu memanggilku dengan “kamu” sungguh menggemaskan. Padahal tujuh tahun yang lalu, dia dengan imutnya memanggilku Auntie.


“Salju Superadikal hanya melukai makhluk yang hidup,” kataku yang menengadahkan tanganku dan menunjukan salju itu tak membakar kulitku sama sekali,


“Bagiku, mereka adalah pelindungku dari terik matahari.”


“Kamu… vampir?” tanya Arthur yang menyusulku.


“Yup. Dan makanan favoritku adalah darah bocah yang banyak tanya,” candaku menyengir memamerkan taringku. Arthur pun segera bergidik ngeri dan mengambil jarak denganku.


Hmph, dengan jarak segini, akan lebih mudah baginya menahan racun itu. Tapi siapakah orang yang memasang ramuan cinta itu di kasir? Apa mungkin sosok gelap yang kutemui semalam?


Apa yang pengelana dunia itu rencanakan untuk menghentikanku? Aku tidak punya pilihan selain mengikuti alur permainan sosok gelap itu.


Gemilang Distrik Chandrayastra menutupi bayangan yang menghantui tiap jengkal Kota Pei Jin. Berada di luar dinding tebal kota itu, tumbuh bagaikan jamur, sebuah pemukiman kumuh yang saling berdempetan mengelilingi cabang kecil sungai Arisia. Pemukiman itu adalah Distrik tanpa nama yang Ma Dame Fan berikan bagi para pengungsi manusia enam bulan lalu.


Entah apa alasan Nenek tua itu tapi keputusannya tidak menyelesaikan masalah. Berada di luar dinding kota Pei Jin artinya berada diluar perlindungan Pohon Yggdrasil. Dengan kata lain, selain merasakan diskriminasi yang kental di kota Daemon ini, para manusia pengungsi ini masih harus menghadapi badai Salju Superadikal yang beracun.


Hatiku miris melihat kayu-kayu yang mereka gunakan pada pemukiman itu hanyalah sisa-sisa dari bangunan yang dibongkar ataupun bekas perisai perang dengan cat yang masih menempel padanya. Atap-atap rumah mereka hanyalah kumpulan dahan kelapa yang mengering, disulam seadanya dan masih memiliki sisi yang bolong. Bila-bila api merembak, maka semua bangunan di distrik menyedihkan ini... akan lenyap dalam hitungan menit.


Tatapan sinis dan putus asa mewarnai sepanjang perjalananku. Orang tua duduk meratapi tanah dengan botol bir di tangan mereka, mencoba menumpulkan derita kehidupan dengan setetes alkohol. Anak-anak menatapku dengan mata cowong mereka dan perutnya yang membuncit, dengan rambut yang memerah dan tipis, sedih namun tak menangis, senang namun tak tersenyum.


Kalau saja dokter manusia itu tidak tinggal di distrik ini, mana mau aku meninjakan kaki di tempat menyedihkan ini. Tapi sialnya, Ma Dame Fan menunjukku sebagai gubernur distrik ini lagi. Araraa.


Tiba-tiba kumpulan preman menghalangi jalanku. Seorang botak dengan bekas luka cakar di matanya, menatapku dengan garang.


“Cukup sampai disitu.”


Arthur ingin mencabut pedangnya, tetapi segera kucegah. Dengan berhati-hati, aku pun mendekati kumpulan preman itu dan bertanya.


“Selamat pagi tuan-tuan semua, saya Clair, seorang pedagang dari Pei Jin yang ingin menemui dokter Oe untuk menyembuhkan keponakan saya. Apakah boleh saya tahu dimana saya bisa menemukan dokter?” tanyaku.


Bila mereka tidak kurus kerempeng dan kelaparan, preman-preman itu akan tampak menakutkan. Tapi, sekarang aku bingung harus memilih antara iba atau miris melihat kondisi mereka.


Si botak mendekatiku dan membusungkan dadanya, “Selama aku hidup, takkan kubiarkan kamu melangkah masuk ke pemukiman kami, Putri Mentari,” katanya menatapku dengan garang,


Aroma pekat manusia tercium dari berbagai sudut gang itu. Kuhela nafasku, sepertinya aku dan Arthur sudah dikepung.

__ADS_1


Kupanggil sebuah api hitam yang berkedut-kedut di tanganku. Hanya sedetik dapat kupertahankan sihir itu sebelum sirkuit sihirku kepanasan dan api itu pun menghilang dengan menyedihkan.


“Penyihir jahat itu—Putri Mentari sudah mati. Mana mungkinkan penyihir hebat itu memiliki sirkuit sihir cacat sepertiku?” kataku yang menggulung lengan bajuku dan menunjukan sirkuit sihirku yang amburadul,


“Aku hanya seorang bibi yang ingin membawa keponakannya berobat ke dokter Oe.”


Namun orang-orang yang menonton justru memanas-manasi si botak, “Jangan percaya Roger! Karena iblis itu, kita kehilangan rumah kita!”


Penghuni lain mulai mengerumuni kami dan bersahutan, “Kalau saja Keluarga Noctis tak menyebarkan Wabah Nyght demi ketamakan mereka, semua orang disini takkan kehilangan keluarganya!”


“Habisi dia, Roger!”


Hmmm… gawat. Kecantikan Mentari tentu saja tidak akan mudah dilupakan oleh rakyat Kinje. Tapi kecantikan itu rupanya adalah kutukan bagiku. Kalau begini caranya, para wartawan koran akan segera menerbitkan headline “Seorang penyihir tinggi Pei Jin digebukin warga distrik tanpa nama.”


Bergidik ngeri diriku membayangkan betapa murkanya Ma Dame Fan jika tahu aku gagal memenuhi ekspektasinya. Selain itu, sepertinya Arthur sudah gatal ingin mencabut pedangnya.


“Jangan, Artie. Sabar.”


“T-Tapi, mereka—“


“Sudah, percaya padaku. Aku punya rencana kok.”


Sesaat setelah aku berkata demikian, seseorang memukul kepalaku dengan kayu. Begitu keras hingga kayu itu hancur dan aku terbanting di tanah.


“Apa yang kamu lakukan?! Bukankah kubilang, selama aku memimpin distrik ini, tak boleh ada darah yang tertumpah sia-sia?” teriak Roger mengambil kerah anak muda yang baru saja memukulku.


… Gawat. Aku cukup kesal untuk segera melahap mereka dengan akar-akar kegelapanku. Tapi kupendam kekesalan ini. Sebab, hal terakhir yang ingin kulakukan adalah menunjukan aspek diriku yang tidak anggun itu pada Arthur.


“A-Auntie!” teriak Arthur yang mengguncang-guncang tubuhku, “T-Tidak, tidak, jangan seperti ini—“


Aku duduk tegak tiba-tiba, “Aku belum mati kok, Artie,” kataku yang pun berdiri dengan santainya. di dalam helai rambut perakku, diam-diam akar-akar hitam menjahit luka di kepalaku, menyembuhkannya seperti semula.


“M-M-Monster, HiiiI!!”


Tapi tetap saja, pemandangan seorang wanita yang dengan santainya bangkit dari serangan maut seperti itu membuat semua preman itu takut. Ada yang lari terbirit-birit, ada yang segera bersembah sujud di depan kakiku memohon ampun, bahkan ada yang menangis histeris.


Melindungi anak muda yang memukuliku, Roger menatapku dengan penuh penyesalan, “Bila Dame tak ingin kejadian itu terulang lagi, pergilah dan jangan kembali di distrik ini.”


Tatapan matanya itu… ketakutan menguasainya. Sebab seekor Daemon yang dipukuli di distrik tanpa nama akan membawa konsekuensi yang fatal bagi mereka. Diusir dari distrik ini adalah kemungkinan terbaik. Hukum Daemon tidak mengenal ampun. Kemungkinan besar mereka akan memusnahkan para pengungsi manusia di distrik ini.


Kuperhatikan distrik tanpa nama itu dengan seksama. Tanah di sekitar distrik ini basah, tapi sesungguhnya subur sebab aliran sungai Arisia disini jauh dari cemaran pabrik-pabrik di distrik Makinayastra. Aku juga bisa menumbuhkan berbagai tanaman obat sihirku dengan mudah disini, ditambah lagi aku kan pemilik wialyah ini, dengan kata lain, semua tanah ini kudapatkan gratis!


Manusia merupakan penyihir natural yang dapat mengendalikan sihir dengan baik. Bila dilatih dengan baik, mereka dapat membantuku menciptakan berbagai senyawa sihir yang dapat kujual. Dan jika mereka adalah milikku sekarang, bukankah itu artinya aku bisa mendapatkan tenaga gratis?


Astaga, kenapa tak terpikir olehku dari tadi? Aku bisa membuat sebuah pabrik kimia sihir disini! Tanpa kusadari ilerku mengeces, membayangkan banjir uang yang sebentar lagi akan menghampiriku.

__ADS_1


T-Tidak, tidak, tidak, Bulan, tenanglah. Jangan biarkan ketamakan membuatmu gegabah. Jangan lupa, kamu punya sesuatu yang para manusia ini inginkan.


Aku pun berdehem dan mengambil sebuah toples berisi biji cahaya dari tasku.


“I-Itukan biji Pohon Yggdrasil?” kata Roger ternganga.


“Betul sekali, Paman. Hmm awalnya aku ingin menawarkan biji Yggdrasil ini pada kalian. Tapi setelah perlakuan yang kuterima, sepertinya, aku harus mengurungkan niatku,” kataku  yang memasukkan toples itu kembali ke tas.


“Tunggu sebentar!” kata pemuda yang memukuliku, segera menyantukkan kepalanya di tanah dan memohon padaku,


“A-A-Aku mohon, Ma Dame, tolong ampuni semua manusia disini. Akulah yang bertanggung jawab sepenuhnya atas kesalahanku itu!”


“Hidupmu tak seberapa dibanding bibit ini anak muda. Apakah kamu tahu Raja-Raja dari berbagai tempat menawar harga bibit ini hingga satu juta keping emas?” kataku.


Tiba-tiba Roger menyeletuk, “Penyihir dengan bibit Yggdrasil… Kamu, jangan-jangan—“


Aku pun tersenyum, “Benar sekali, aku adalah Sang Penyihir Putih, gubernur baru dari Distrik tanpa nama ini.”


Menyadari posisiku, semua orang segera bertekuk lutut dihadapanku. Penyesalan yang sangat segera membungkam mulut mereka. Tetapi entah dapat keberanian darimana, Roger memohon padaku,


“Ma Dame Agung, saya mohon, tolong ampuni kesalahan ini.”


Aku melipat tanganku menatap mereka dengan geli, “Berbeda dengan Ma Dame Fan yang baik hati, aku adalah Penyihir yang adil. Setiap darah yang tertumpah di tanahku akan dibayar dengan darah,” jawabku yang kemudian mengangkat kepala pemuda yang memukuliku.


“Kamu sudah siap menanggung konsekuensinya?”


Pemuda itu menutup matanya saat aku menajamkan kuku. Tak rela menghadap kematian, tapi masih mempertahankan harga dirinya, laki-laki itu mengetatkan rahangnya. Siap menerima pembalasan dariku.


“K-Kamu tak perlu melakukannya,” kata Arthur mencegahku.


Aku hanya tertawa kecil, “Kamu terlalu naif, Artie. Bila berhadapan dengan babu, kamu tak boleh setengah-setengah.”


Disaat semua jantung rasanya ingin berhenti, aku pun memberikan hukumanku pada laki-laki itu. Sebuah jitakan keras dengan tinjuku, cukup keras hingga dia mencium tanah.


“Sudah, kesalahanmu terbayarkan,” kataku mengangkat wajah anak muda itu dan membersihkannya, “Berikutnya, berhati-hatilah sebelum bertindak, mengerti?”


“Ma Dame… tidak membunuhku?”


Aku menekuk kepalaku heran, “Kenapa aku harus membunuh assetku yang berharga?”


“Asset?” tanya pemuda itu.


Aku pun berdiri dan memanggil sebuah kontrak emas raksasa. Dengan lantang aku berteriak, “Bila kalian menginginkan Bibit Yggdrasil, bekerjalah hingga kalian memenuhi nilai yang pantas untuk mendapatkannya. Kontrak ini akan mengikat kalian dan seluruh keturunan berikutnya hingga hutang itu terlunasi.”


“K-Kamu ingin kami menjual jiwa kami dan keturunan kami kepadamu?” tanya Roger.

__ADS_1


“Tepat sekali Roger. Sudah kuduga kamu akan segera mengerti,” kataku yang kemudian menyodorkan kontrak itu padanya sebagai orang yang pertama kali akan menandatangani kontrak itu,


“Antara hidup sengsara sebagai seorang budak atau mati  mengenaskan sebagai orang bebas, mana yang kalian akan pilih, hai Manusia?”


__ADS_2