Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Noctis Labyrinthus (1)


__ADS_3

18 tahun yang lalu…


Junon, ibukota Kerajaan Kinje, Desember 1629


Riuh mewarnai dapur kerajaan. Tak ada tangan yang berdiam diri, semua dengan cepat menyajikan piring demi piring jamuan. Teriakan terdengar dimana-mana, keitka para dayang hadir untuk mengantarkan jamuan pesta. Bunga-bunga anggrek biru menjadi kontras dari seragam hitam yang para dayang gunakan. Terlalu indah untuk ditutupi dengan cara berjalan mereka yang menunduk, tak berani menatap terang rembulan malam itu.


“Uuuuh, cape sekali. Lutut dan tanganku rasanya mau copot semua!” keluh seorang dayang yang dengan hati-hati membawa tiga tatakan meja berisi jamuan untuk tamu kerajaan. Dia kemudian menatapku dengan heran,


“Kok kamu bisa sih kerja rodi ini tanpa setitik keringat pun?” tanya dayang itu, heran melihatku membawa lebih banyak makanan dari dayang biasa.


“Aku seekor Daemon,” jawabku singkat.


Dayang itu memicingkan matanya memeriksaku lantas tertawa kecil, “Alah, bercanda aja kamu. Tampang manusia seperti itu ngaku-ngaku Daemon. Heh, mana mungkin ada seekor Daemon diterima kerja di Istana Ishtarin?”


Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis.


“Tapi, kalau sampai ada seekor Daemon berhasil masuk di Istana Ishtarin, bisakah kamu membayangkan betapa heboh beritanya nanti? Hihihihi,” timpal Dayang itu iseng.


“Aku duluan, Kak,” kataku yang kemudian mempercepat langkah kakiku, meninggalkan Kakak Dayang yang ceriwis itu.


Melewati gerbang emas Raksasa, kami para dayang pun disambut oleh meriah orkestra indah nan megah. Aula utama Istana Ishtarin sangat luas, dengan sembilan tiang raksasa menyanggahnya, dilingkari oleh ornamen naga emas yang indah. Lantainya terbuat dari marmer langka, dihiasi oleh permata indah dari tujuh benua… satu-satunya keindahan yang dapat dilihat oleh para dayang. Sebab kami harus selalu menunduk dan tak boleh melihat para Putri, Pangeran dan bangsawan yang memenuhi aula itu, lengkap dengan pakaian mewah mereka.


Tetapi setelah mengisi ulang jamuan malam di meja prasmanan, kusempatkan diri melihat ke arah tangga megah di ujung aula… Saat semua hadirin menghentikan cengkrama mereka dan terpesona melihat seorang Dewi turun dari tangga itu.


“Sambutlah, Ratu Agung, Esmeralda Vivacia Noctis dan Putri Pertama, Eclair Cadenza Noctis!” teriak seorang Duke.


Kami para Dayang dan pelayan lainnya, segera bersujud di hadapan sang Penguasa Kinje. Sedangkan para Bangsawan berdiri mematung, terpesona oleh kecantikan dua malaikat di hadapan mereka. Diam-diam aku pun mencuri pandang ke dua malaikat itu dan menemukan Eclair, kini sudah tumbuh menjadi Putri dewasa… melangkah dengan anggunnya menuruni tangga itu.


Eclair mengenakan putih merah berhiaskan emas yang indah, berpadu dengan rambutnya yang diikat dengan elegan dan tiara dua belas berlian yang sangat mahal. Tapi di antara keindahan yang melukiskan tubuhnya itu, senyuman yang ditunjukan dari wajahnya yang sangat cantik itu… entah mengapa terasa palsu bagiku. Apalagi tatapan matanya yang memandang hadirin, tampak mati tanpa sedikit pun antusiasme yang dimiliki gadis itu saat muda.


Padahal malam ini adalah Debudante Putri Pertama Kinje. Momen dimana ia secara resmi beranjak dewasa dan memasuki dunia sebagai Putri Mahkota.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar bisikan dari seorang bangsawan, “Bahkan di malam debut Putri semata wayangnya, Raja George tidak hadir. Apa mungkin rumor itu benar? Bahwa bukannya sedang berlibur, sesungguhnya Raja George sedang sekarat?”


“Ssshh! Jangan ngomong sembarang, istriku. Bila Yang Mulia mendengarnya, bisa-bisa kita kehilangan leher kita,” tegur suami si pembisik.


Sang bangsawan membuka kipasnya dan menutupi mulutnya, berbisik pada suaminya,“… Hah, aku merindukan hari dimana kita bisa hidup tanpa rasa takut. Perang tanpa akhir dan masa depan yang tak pasti ini. Daripada menggantungkan hidup pada Ratu yang tak jelas asal usulnya itu, aku lebih suka Raja George hadir di tengah kita meski sakit. Lagipula, bila Raja sakit, harusnya Ratu memanggil dukun hebat itu kemari.”


“Dukun hebat?”


Sang Istri mengangguk, “Kamu pasti mendengarnya kan, suamiku? Tentu saja, si Penyihir Putih, Daemon Bulan.  kata angin terdengar bahwa dia sendirian berhasil menghentikan berbagai wabah di penjuru negeri ini dengan obatnya. Mutterbeweisen,” katanya yang kemudian mengedipkan mata,


“Kebetulan aku punya kontak yang bisa berhubungan dengan dukun hebat itu. Hey, suamiku, mengapa tidak kita coba memanggil dukun itu untuk menyembuhkan Raja George? Kita bisa saja mendapatkan hadiah besar!”


Sang suami tampak kesulitan, “jangan… Ada rumor juga yang mengatakan bahwa justru Ratu lah yang emracuni Baginda Raja. Ratu Noctis itu.. entah apa yang bisa dia lakukan pada kita. Jadi jangan bertindak gegabah.”


“Hah, dasar pria membosankan. Mending kita cerai aja deh.”


“Jangan ngambek gitulah, sayangku. Nanti, habisi ni, aku beliin anting-anting berlian paling indah deh.”


"Jangan lupa kalungnya, Hmph!"


Kedua bangsawan itu pun terdiam, ketika Ratu Noctis dengan suaranya yang lantang membuka pesta Debudante itu. Melihat sendiri absennya Raja George memberikanku jawaban yang kuinginkan. Sepertinya sudah cukup waktuku bermain peran sebagai dayang. Disaat semua perhatian terpusat pada sang Ratu, aku pun menyelinap keluar.


Berselimutkan kegelapan lorong istana, aku pun melepaskan konde rambutku dan menguraikan rambut pendekku. Kujentikan jari, memanggil api kegelapan yang menggantikan wujudku sebagai seorang Penjaga istana dan melangkah masuk ke jantung Istana. Di depan pintu kamar Raja, aku pun memberi hormat pada kedua penjaga disana dan berkata,


“Rekrut baru, Bulan, melapor untuk shift pagi!”


“O-oh, akhirnya shift malam panjang ini berakhir sudah. Aneh juga, apadahal rasanya aku baru berjaga satu jam, tapi pagi sudah tiba,” kata seorang Penjaga yang kemudian menepuk pundakku. Gelap matanya telah dipengaruhi oleh sihir ilusi yang kuselipkan di antara kegelapan, menyerang kedua penjaga itu dari belakang.


“Kami titip ya, Bulan,” kata penjaga lainnya. Kedua penjaga itu pun meninggalkan pos mereka dan dengan mudah, aku pun menerobos masuk ke kamar laki-laki paling berkuasa di Kerajaan kinje.


Raja George, sang penakluk yang berhasil menguasai setengah dunia dalam panji Kinje. Sesungguhnya, orang itu bukanlah pewaris takhta Kinje yang sesungguhnya. Awalnya Raja George adalah petani biasa yang direkrut menjadi prajurit dalam perang seratus tahun. Tetapi kecerdasan dan kemampuan berpedangnya yang luar biasa, memungkinkan George untuk menaiki tangga promosi yang mudah. Hingga menjadi tangan kanan Raja terdahulu.

__ADS_1


Tetapi oleh lipatan nasib, George pun memimpin kudeta berdarah dan mengambil alih takhta Kinje… demi ambisinya untuk menguasai dunia. Namun semenjak pernikahannya dengan Ratu Noctis, tujuh belas tahun yang lalu, sang Raja yang ambisius itu secara misterius… perlahan menghilang dari mata rakyat. Hingga 2 tahun yang lalu, secara de facto, Ratu Noctis lah yang menggenggam kendali atas Kerajaan raksasa yang dimiliki George.


Rumornya… Ratu Noctis telah meracuni Raja George demi ambisinya. Tetapi, tak ada seorang pun yang berani membuktikan tuduhan itu.


Tak ada lampu yang menerangi kamar Raja George. Seluruh tirainya tertutup, menutupi cahaya rembulan yang ingin mendekatinya. Namun, suara nafas masih dapat kudengar jelas… Berat dan panjang. mirip seperti suara nafas seseorang yang berada di ujung kematiannya.


“Aura sihir ini… Tidak mungkin… Esmeralda?” kata Raja George dibalik tirai yang menutupi tempat tidurnya.


Aku pun membuka tirai itu dengan paksa dan menemukan seorang laki-laki kurus menatapku tak percaya. Tubuhnya hanya bagaikan tulang yang terbungkus oleh kulit, keriput mengkhianti usianya yang harusnya baru meninjak empat puluh tahun. Rambutnya pun kusam dengan uban. Namun saat memandang sirkuit sihirnya yang menebal dan memakan tubuhnya dari dalam, aku pun mengerti.


Raja George terkena Kanker Sikruit sihir. Penyakit yang hanya diderita oleh seorang penyihir yang secara kronis terpapar intoksikasi Mala.


“… Kamu berhasil,” kata Raja George yang tertawa tak percaya, “Kamu… melepaskan diri dari kutukan takdirmu… Kamu telah mengalahkan Nyghtingale!”


Ha? Apa yang laki-laki tua ini bicarakan?


“Kamu salah orang. Aku bukanlah Ratu Esmeralda, tetapi seekor Daemon yang membutuhkanmu untuk tetap hidup,” kataku yang kemudian mendorong laki-laki tua itu untuk berbaring. Dari sakuku, kuambil sebuah syringe berisi cairan merah. Segera kubekap mulut laki-laki itu dan menyuntikkan cairan itu di venanya.


Langsung berkedut sedan tubuh Raja George. Reaksi obat yang luar biasa mengalir di seluruh tubuhnya. Bahkan seorang sekuat Raja George pun takkan mampu menahan sakitnya rekasi Mutterbeweisen. Namun hanya dalam rasa sakit yang sangat… hanya dengan menghancurkan tubuh yang rusak, akan bangkit tubuh sehat yang baru.


“Namun sayang, penyakitmu adalah Kanker. Obat ini hanya sementara saja emnyembuhkanmu, kelak kamu akan jatuh kembali dalam penderitaan… dan membutuhkannya lagi. Kamu akan ketagihan dan takkan dapat hidup tanpanya. Hahahahaha!” kataku yang melepas bekapan tanganku dan melihat mata sayu George perlahan tertutup, lantas tertawa cekikikan,


“Untuk pertama kalinya, sepertinya takdir berpihak padaku! Tak kusangka semudah ini aku dapat membalas Mutter!” lanjutku.


Sebelum dia tak sadarkan diri, aku pun berpesan padanya,


“Yang telah menyelamatkan hidupmu adalah aku, anak haram keluarga Noctis. Daemon Bulan. Ingatlah itu selalu, Ayahanda.”


Beberapa saat kemudian, para penjaga istana tampak panik. Mereka menyelusuri seluruh lorong istana dengan persenjataan lengkap.


“Cepat temukan penyusup itu!” teriak mereka.

__ADS_1


Aku yang duduk di atas menara jam di tengah istana, tersenyum geli memperhatikan kepanikan yang terjadi di istana. Lantas, kulihat terang bulan purnama di langit dan mencoba menggapainya seraya berkata,


“Bulan sudah kembali. Bagaimana pendapatmu akan oleh-oleh dariku, Oh Mutter? Hihihi… Hahahaha!!”


__ADS_2