Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Ode to Sorrow (3)


__ADS_3

— 35 — 


Sinar biru melesat persis di depanku, menembus lebatnya hutan yang membelut gedung-gedung tua. Ledakan pun menghempaskan tubuhku, namun untungnya dengan gercap Nuwa melingkupi kami bertiga dengan gelembung air dan membawa kami mendarat di tanah dengan selamat.


N-ngeri banget! Padahal kami sudah lari sejauh ini berkat kabut ilusi yang dipanggil Putri Nuwa, tapi Asmodeus masih dapat menyerang kami dengan akurasi yang menakutkan. Nuwa pun menunjuk mesin mata yang terbang di atas kepala Asmodeus dan berkata,


“AI Providence Eye, relik masa lalu yang dapat melacak musuh dimana pun dia berada. Selama Asmodeus masih memiliki benda itu, kita tidak dapat kabur,” kata Nuwa tetapi tiba-tiba Asmodeus muncul dari balik dinding gedung dan menghantam kami dengan tangan robot raksasanya.


Saber segera menangkis serangan demi serangan Penyihir itu, membeli waktu bagi kami. Nuwa mengatur nafasnya yang terengah-tengah, keringat dingin mengucur di wajahnya yang pucat. Kenapa aku kesini sih? Jelas aku dapat melihat raut muka Nuwa berkata demikian… Sebab aku pun bertanya hal yang sama.


“Kalian berdua ngapakan monster itu sih? Asmodeus, The Seventh Lector nggak bakal menyerang manusia, kecuali kalau merasa terancam! Aegis Neptunes!” kata Nuwa kesal dengan tangan sibuk mendirikan sihir pelindung bagi Saber.


“N-Nggak ada kok, k-kami cuma numpang lewat,” jawabku berbohong. Kucabut Twin Princess dari pinggangku dan memanah kedua belas roket yang mengincar kami. Tetapi sama seperti Ragnarok, busur panahku sama sekali tidak bekerja!


“Sword Rain!” teriak Nuwa melesatkan dua belas pedang yang menghancurkan roket-roket itu.


“Mau boong? Dia jelas-jelas mengincarmu Chrysant. Atlantis Anguish!” kata Nuwa yang mendirikan tirai air yang melingkari Asmodeus. Monster itu berusaha menembusnya, tetapi deras air mengalahkan kekuatannya. Namun, Nuwa tampak kewalahan  mempertahankan. Bersama itu Saber melompat mundur dan otomatis menyalurkan sihirnya untuk membantu Nuwa.


Tak ingin gabut, aku juga memanggil perisai cahaya yang melingkupi tubuh Asmodeus dan berteriak, “Celestial Pyramid!”


Tapi gempa hebat menghantam tanganku saat mencoba menjaga integritas perisai itu, sesaat Asmodeus menembakkan laser birunya yang sangat kuat. Retakan muncul dalam perisaiku, jelas.. aku tak mampu mempertahankannya juga dalam waktu lama.


“Dengar Chrysant, Asmodeus bukanlah Penyihir biasa. Dia adalah Homunculus sejati yang mengalami mutasi dalam programnya. Menolak diinjeksi dengan Sel Warden dan melalui proses Malifikasi, Asmodeus mengamuk dan menghancurkan sebagian Junon sebelum keenam Lector mengurungnya.


Dengan Quartz Bulan di sebagai Jantungnya dan kemampuan mengendalikan seluruh Automachina dalam 1 kilometer, Asmodeus adalah senjata mutakhir White Order untuk menghancurkan kemanusiaan!”

__ADS_1


S-Serius? A-Aku kira Asmodeus cuma musuh kroco yang bisa dengan mudah dikalahkan. Habisnya aku melihatnya babak belur dihajar Khanza tanpa mengucurkan keringat. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, Khanza memang sejenis monster sih…


Kemampuan mengendalikan Automachina, hmm, pantas saja Twin Princess dan Ragnarok sama sekali tidak berguna. Kedua senjata sihir itu bekerja dengan prinsip yang sama dengan Automachina. Tentu dengan mudah, Asmodeus dapat menetralkan fungsinya dan membuatnya menjadi belati dan pedang biasa.


K-Kalau begitu… Jangan bilang, aku baru saja membangunkan seekor naga yang buas?


“M-Maaf,” gumamku bersalah.


Nuwa mendecakkan lidah sembari menahan tangan kanannya menghadapi kejut sihir yang dahsyat, “… Chrysant, tanpa Katalis, kamu gak guna sama sekali disini dan cuma menghalangiku bertarung.”


“U-ugh, bisa gak jangan perkataanmu di permanis dikit?” balasku, tapi emang benar sih. Tanpa Twin Princess, aku… sangat payah mengendalikan sihirku. Kuhela anfasku dan bertanya, “Kamu ada ide, Putri?”


Nuwa tersenyum kecut, “Ini kota Pei Jin, bukan? Kalau begitu kita masih punya harapan. Dahulu, sebelum Malice Pertama, Deception merupakan seorang Penyihir yang hebat. Tersembunyi di toko Bunga Lentera, mitosnya, Deception menyimpan senjata yang sangat kuat, yang mampu menaklukan ratusan ribu pasukan Homunculus dalam sekali tebas. Kamu bawa Ksatria itu untuk melacaknya,” katanya.


Aku menekuk alis mataku, “Serius? Kamu mau aku mencari mitos yang nggak pasti ada itu, di tengah kekacauan ini?”


Saber tiba-tiba menyela, “Tidak Putri. Kalau saya meninggalkan Tuan Putri, itu artinya saya telah gagal menjalankan tugas sebagai Ksatria,” katanya dengan sirkuit sihir yang mulai terbakar.


Nuwa menutup matanya kesal, “Aku gak butuh ksatria lemah disini,” katanya yang kesal.


Saber mendengus, “Meski lemah, setidaknya saya bisa mengalihkan perhatiannya untuk Anda.”


Nuwa menghela nafas kesal, “Terserah, jika itu maumu. Jangan menyesal,” katanya, tapi kemudian—


U-Ugh!!

__ADS_1


Asmodeus menghantam kedua penjaranya dengan ganas. Salah satu sisi dari piramidku pun hampur pecah, sedang tirai air nuwa semakin melemah. Sekejap dibalik air yang terburai, senyuman di topeng tengkorak Asmodeus menancamkan ketakutan di hatiku.


Nuwa tertawa masam, “Chrysant… Sepertinya aku hanya bisa memberikanmu waktu sepuluh menit.”


Kugelengkan kepalaku, “Rencanamu terlalu gila. Kalau kita melawannya bersama, ada kemungkinan bagi kita untuk menang,” kataku. Mungkin bila aku meminjam kekuatan The Warden, aku bisa menyelamatkan Nuwa dan Saber dari monster ini.


“Nggak, pokoknya nggak bisa. Aku jauh-jauh datang kemari… untuk mencegahmu menggunakan kekuatan itu. Pokoknya, kamu gak boleh menggunakan kekuatan itu,” kata Nuwa yang mengerahkan energi sihir yang lebih banyak pada sirkuit sihirnya, “Aku nggak bisa menjelaskannya sekarang, tapi sebagai Ellen Lunaris Noctis, aku memerintahmu, Ruin Hunter, percayalah padaku!”


Ombak keyakinan menyergapku. Tiap kata Nuwa memiliki beban berat yang menarikku ke dasar. Tak kuasa melawan keteguhan itu, aku pun melepas piramidku.


“Tapi, jika sepuluh menit berlalu dan aku tak bisa menemukannya,” kataku yang mengaktifkan sihir penguat pada kakiku, “Aku akan menggunakan kekuatannya untuk menyelamatkan kalian. Pegang kata-kataku, Pale Moon.”


Aku pun melompat terbang di langit, mengibarkan sayap cahayaku dan melesat lebih cepat dari suara. Sinar biru mengincarku, tetapi berkati perisai air Nuwa, dia tak menyentuhku sama sekali. Mataku pun mencari-cari tempat yang dimaksud Nuwa, tapi tertutup oleh hutan belantara dan sebagian besar kota itu telah hancur oleh waktu, pencarianku sia-sia.


Lagipula Toko Bunga Lentera, apa itu? Lentera dengan motif bunga atau bunga yang berbenutk lentera? Meskipun aku melewatinya, aku tak bisa membaca huruf-huruf kuno di reruntuhan kota itu.


“Tapi menurut legenda, Deception adalah Penyihir yang menemukan metode untuk menumbuhkan pohon kehidupan yang asli, Yggdrasil, apa mungkin…” gumamku yang pun memperhatikan pepohonan yang meliuk-liuk di kota itu dan tersadar, “Astaga, kalau dilihat dari atas jelas banget. Mereka bukan pohon yang berdiri sendiri, melainkan batang dari sebuah pohon besar!” gumamku.


Apa mungkin jika kuikuti, aku akan menemukan Toko Deception disana? … Waktuku sempit, sekecil apapun petunjuk aku harus mengikutinya.


Melesat menyusuri akar raksasa yang meliuk di sekujur hutan aneh itu, kutemukan sebuah lubang raksasa yang menjadi sumbernya. Kunyalakan Flare untuk menerangi lubang itu dan menemukan, sebuah rumah kayu bertingkat dua, tergantung terbalik di tahan oleh liukan akar yang tumbuh amburadul.


Terjun mendekati rumah aneh itu, kutemukan sebuah papan yang dilukis dengan tulisan dan gambar kekanak-kanakan. Tulisannya tak bisa kubaca, tapi bunga yang terlukis kesana memicu firasatku. Mungkin saja, tempat ini adalah Toko Bunga Lentera… Kediaman dari Malice paling bengis di sepanjang sejarah dunia.


The First Malice, Deception.

__ADS_1


“Tak ada waktu lagi,” gumamku yang pun membuka pintu toko itu.


__ADS_2