
Aku mengira sudah melihat banyak kejutan di dunia ini, namun mendengar cerita Danius segera membuktikan aku salah. Legenda mengatakan kalung mewah hanya akan mewujudkan keindahannya di tangan seekor yang akan menyatukan seluruh Daemon di penjuru dunia, Sang Puella Dragonica. Dan baru saja aku telah mempermalukan sosok hebat itu.
“Qrista dan Professor Oe menculik Puella Dragonica kami saat kecil. Mereka melakukan berbagai percobaan padanya, memanipulasi ingatannya dan membuatnya jatuh sakit. Semua demi menyegel kekuatannya sebagai Puella Dragonica,” jelas Danius yang memberanikan diri menatapku,
“Tapi adalah karna Darah Putri, kekuatan Quina telah kembali. Dia akan menjadi kunci bagi kami, para Daemon terbebas dari perbudakan manusia.”
Hmm, jadi… Quina tidak sedarah dengan Qrista. U-Ugh, sudah kuduga, takdir tidak mungkin memberikan jalan semudah itu padaku.
“Jadi apa yang diinginkan Sang Puella Dragonica di kota Hilfheim, hmm?” tanyaku masih menggoda Quina dengan daging nikmat itu, geli sendiri melihat responnya yang polos mencoba meraih daging itu.
“A-Anu, apakah Putri Noctis boleh berhenti mengganggu Pemimpin kami?” pinta Danius yang masih bersujud bersama pengikutnya.
“Aku berbicara dengan Pemimpinmu, Danius,” kataku yang kemudian berpangku dagu dan menajamkan belatiku mengangkat dagu Quina, “Tergantung jawabanmu, kalian semua masih bisa melihat hari esok,” lanjutku.
Sesaat menggertakkan rahangnya dan menatapku penuh benci, Quina mendesis dan berkata, “… Kota Hilfheim adalah permulaan. Kami akan membebaskan seluruh Daemon di kota ini dan memulai revolusi.”
Revolusi? Itu terdengar menyenangkan sekali. Kulirik kumpulan Danius dan menilai mereka. Hmm, sepuluh Daemon Usagi yang kecil tapi lincah, tiga Daemon Jaguar yang kuat, seorang manusia penuh skandal dan juga seekor kucing penuh misteri. Mereka mau ngelawak atau bikin revolusi?
Keinginan kami pun sejalan. Bila aku membantu Puella Dragonica, aku dapat menghalangi rencana Mutter. Bantuanku juga akan membuat kelompok pemberontak ini berhutang budi padaku. Dan melihat Quina dengan handal menggunakan Judgelight, aku pun mencium aroma uang yang bisa kami jalin bersama.
Tapi, karena aku tamak, tentu aku ingin memeras mereka.
“Dahulu, aku adalah Putri dari Amelia Sonata Noctis. Hmm, kalau aku menyerahkan sang Puella Dragonica kepada Ratu, apa mungkin dia akan menerimaku lagi?” gumamku.
“Tch, sekali Noctis tetap saja Noctis,“
Tertawa geli aku menggoreskan jemari belatiku di dagu Quina yang cantik, “Kalau aku jadi kamu, aku akan menjaga mulutku. Dengan kekuatanku, aku dapat menghancurkan rencanamu. Tapi disisi lan, aku juga bisa menjadi senjata terkuatmu.”
Quina menatapku dengan curiga, “Apa yang kamu rencanakan, iblis?”
“Kamu sendiri yang mengatakannya. Seorang Noctis akan selalu menjadi Noctis. Kami adalah orang gila yang dapat melakukan segalanya demi tujuan kami,” kataku yang kemudian melepaskan Quina dari jerat talinya,
“Dan kamu sudah tahu tujuanku.”
Quina pun berdiri dan mengusap tangannya yang tergores oleh akar kegelapan. Masih waspada, dia meminta seluru pengikutnya untuk berdiri tapi bersiap dengan senapan mereka.
“Apa yang kami bisa berikan agar kamu mau membantu kami, Daemon Bulan?” tanya Quina meski tampak jijik mengatakannya.
Tapi, setelah kupikir kembali… Kawanan ini tak memiliki apa-apa untukku. Bila Quina tak sedarah dengan Qrista, dia tak berguna bagiku. Mau tak mau, mereka pun harus membeli berbagai senyawa senjata yang hanya aku yang tahu resepnya. Dan terang-terangan menghancurkan kota hilfheim hanya akan mengganggu rencanaku untuk menghentikan kegilaan Mutter.
Kecuali jika…
Aku pun tersenyum dan mengibas jubahku. Dengan percaya diri kuulurkan tanganku pada Quina dan berkata,
“Hanya satu yang bisa kamu berikan padaku. Quina, jadilah sahabatku!”
__ADS_1
Mata Quina terbelalak, begitu pula para pengikutnya. melihatku tersneyum dengan penuh percaya diri membuat gadis itu menepuk dahinya.
“A-Aneh sekali, aku tak dapat merasakan nitan jahat dibalik permintaan itu. Kamu sungguh ingin bersahabat denganku? Kenapa, untuk apa?” tanya Quina heran.
“U-Uhh, soalnya dalam buku-buku, sahabat, kan, saling membantu disaat sulit?” jawabku jujur.
Quina mendekap lengannya. Alis matanya berkerut, kalut dan kegelisahan mewarnai wajahnya. Seringkali dia mencuri pandang padaku dalam kebimbangannya. Dari keraguannya, aku paham, Quina sangat cerdas. dia dapat melihat melewati kepolosanku.
Bila kami berdua menjadi sahabat, itu artinya bukan hanya aku akan membantu Quina, tetapi dia juga membantu Iblis sepertiku. Dan bagi seekor yang kelak akan memimpin seluruh Daemon, tentu keputusan itu sangat berat. Sebab, bagaimana jika aku memintanya untuk menolongku menghancurkan dunia ini?
Tapi, saat ini, aku adalah lentera harapan baginya. Jadi bagaimana Puella Dragonica? Sekarang pilihlah Quina! Apakah kamu akan terus menjalani hari sebagai budak manusia atau menjual jiwamu dan seluruh rakyatmu padaku demi secercah harapan akan kebebasan?
Akhirnya Quina menjawab, “Aku tidak bisa menjadi sahabatmu, Iblis. Kami akan membebaskan kaum Daemon dengan kekuatan kami sendiri.”
Kejujuran yang ditunjukan dari tatapan Quina lebih menyakitkan dari saat ia menolakku pertama kalinya. Tentu saja, dia akan menolakku. Aku kan monster yang telah membunuh ibunya sendiri? Tapi, terbesit di pikiranku. Haruskah aku memanipulasi ingatannya dengan sihir dan membuatnya tunduk padaku?
Hahaha… Pikiran seperti itu hanya tersirat di benak seekor iblis.
Kuhela nafasku, “Okay,” kataku singkat dan segera membereskan barang-barangku ke dalam cincin spasial.
Semua ekor disana segera menyingkir saat aku melewati mereka. Tatapan takut dan ngeri seolah menembakkan belati yang menghujam punggungku. Segera kupercepat langkah kakiku, pergi menjauhi kawanan itu.
Saat bersatu kembali dalam kegelapan, Nyghtingale datang dan memelukku dari belakang.
“Ditolak dan ditakuti, dunia semakin memojokkanmu dalam kesendirian. Kekosongan yang mereka hujamkan di hatimu itu sampai kapan kamu hiraukan?” bisiknya dengan manis, “Dunia seperti itu untuk apa kamu selamatkan?”
“Hey, bolehkah aku bergabung dalam pesta kalian?” gumamku.
Kucabut belati di pinggang kananku dan mulai mengambil bagian demi bagian tubuh yang masih segar. Anehnya, bau menyengat itu semakin melemah. Ketika gaunku sudah dipenuhi oleh darah dan belatung… barulah aku tersadar.
“Beruang yang dikendalikan Qrista… Buankah dia ide yang bagus?” gumamku yang tanpa sadar menjalarkan akar-akar kegelapan pada seluruh mayat disana.
Kupu-kupu merah pun melepaskan diri dari tubuhku. Dia melesat ke tanah dan melepaskan sebuah diagram sihir raksasa berwarna ungu redup. Darinya, akar-akar kegelapan tumbuh menghujam semua mayat daemon disana, mereka menghisap darah dengan ganas dan memekarkan mawar hitam yang indah. Satu persatu mayat itu pun bangkit berdiri dan menoleh padaku.
“Hidup, Ratu Iblis…” kata mereka.
Tersenyum hampa diriku mengulurkan tanganku pada mereka, “Hey, apakah ada dari kalian yang ingin menjadi sahabatku?”
Perkataanku membuka mata ular dari tiap mawar hitam itu. Segera seluruh mayat itu bersujud dihadapanku, seperti boneka yang setia.
"Hidup, Ratu Iblis!" teriak mereka menggetarkan tanah.
… Hebat sekali. Aku tak mengira kekuatanku akan sebesar ini. Aku tertawa, menyadari sedalam apa diriku… hingga menggunakan Necromancy untuk menciptakan sosok sahabat.
Tapi, bukankah ini bagus?
__ADS_1
Bukankah penyebab dari segala perselisihan adalah kegagalan hubungan interpersonal tiap individu? Bila semua orang tunduk padaku seperti mayat-mayat hidup ini, bukankah aku bisa menciptakan kedamaian dan kebahagiaan yang abadi? Bukankah aku dapat menyelamatkan dunia ini?
Kubekap wajahku dan menyeringai,
“Ayo kita pergi… Menyelamatkan kota Hilfheim.”
Malam itu Bulan Purnama bersinar terang di langit. Para serdadu Hilfheim yang mengantuk tiba-tiba dibangunkan oleh bau busuk yang menyengat. Saat mereka mengarahkan obor mereka di balik dinding kota, terkejtulah mereka menemukan ratusan mayat hidup telah berlari dan memanjat dinding.
“Api! Panggil penyihir api segera!” teriak seorang serdadu sebelum seekor Daemon Serigala mencabik-cabik lehernya.
Akar kegelapan pun tumbuh dari bekas luka sedadu itu, menghujam tubuhnya. Dia pun bangkit berdiri saat mawar hitam bermekaran di tubuhnya.
“Hidup, Ratu Iblis,” gumamnya yang membuat seluruh serdadu menjadi ketakutan.
Seperti senja melahap sinar matahari dengan cepat, mawar-mawar hitam bermekaran melingkupi kota Hilfheim. Ledakan terdengar dimana-mana bersama dengan teriakan manusia meminta pengampunan. Tetapi, kelak teriakan penderitaan itu berubah menjadi nyanyian pujian.
“Hidup, Ratu iblis,” “Hidup, Ratu Iblis?” “Hidup Ratu Iblis!”
Para Daemon yang melihat tuan mereka satu persatu dibunuh, segera menggunakan kesempatan itu untuk lari. Menara pengawas yang dahulu menjadi monumen mengerikan bagi para Daemon, kini telah hancur dilahap api.
“Kamu pikir bisa mengalahkanku semudah itu, Bulan? Aventus Crimson!” teriak Professor Oe yang melesatkan pedang-pedang api padaku, “Aku adalah Magistrat Oedellia! Satu dari penyihir tinggi Pei Jin, Penyihir Oranye sang penguasa api.”
Ledakan demi ledakan menghancurkan tubuhku, tetapi dengan cepat akar kegelapan menyusun kembali tubuhku. Dengan perlahan aku berjalan mendekati Professor Oedellia yang dengan putus asa melancarkan sihir percumanya padaku.
“Lama tak berjumpa Professor. Bagaimana rasanya bertemu dengan murid yang kamu tipu dan hancurkan hidupnya?” tanyaku menunduk dengan hormat, menyapa guruku.
“Asura blade!” teriak Prof. Oe menebaskan pedang api raksasa membelah tubuhku menjadi dua. Tetapi akar-akar kegelapan segera menyatukannya kembali seperti sedia kala.
“Araraa, inikah sambutanmu untuk mantan muridmu? Wah, anda sungguh guru yang sangat hebat,” kataku yang menyeringai menunjukan taring-taringku,
”Aku penasaran, apakah suami dan istri memiliki rasa yang sama?”
Akhirnya, Professor Oedellia terbang dengan kaki roketnya, “Kukh! Sepertinya aku tak punya pilihan lain. Qrista... maafkan aku,” teriaknya memanggil membuka kemejanya dan menunjukan inti matahari kecil yang menjadi jantungnya.
Laki-laki itu pun mengucapkan mantra, “Api penciptaan, api kehancuran bersatu dalam jantungku. Dewi Nyghtingale sang penebus, tunjukanlah pada kami. Murka yang membumi hanguskan dunia… inilah sihir tertinggi elemen api, Angkara— U-Uaakhh!”
Tiba-tiba Professor Oe memuntahkan darah dan menghentikan kidungnya saat akar hitam menembus jantungnya. Nyghtingale muncul dalam kegelapannya dan tersenyum padaku,
“Maaf, tapi sekarang, aku hanya ingin meminjamkan kekuatanku pada putriku saja,” katanya mengelus wajah Prof. Oe yang terkejut, sebelum menghilang bersama asap dan bunga api.
Dalam kekecewaan, laki-laki itu pun terjatuh menghantam tanah. Dari bayanganku, tumbuh akar-akar kegelapan yang melesat menyambut laki-laki itu dan menghujam tubuhnya. Dengan ganas seperti hyena yang lapar, akar-akar itu mencabik-cabik tubuhnya dan melahapnya.
Kupu-kupu merah dan oren pun muncul dari jantungku. Mereka pun hinggap di ujung jariku, seperti pasangan yang telah lama bersama. Saat mengagumi keindahan kupu-kupu itu, aroma familiar pun tercium mendekatiku.
Melirik pada arah aroma itu, aku pun tersenyum, “Arara, apakah kamu ingin melengkapi buffet keluarga Oedellia-ku, Quina?”
__ADS_1
Quina bersama pasukannya segera menghunuskan senjatanya padaku. Sang Puella Dragonica dengan geram berkata padaku,
“Daemon Bulan… aku takkan memaafkanmu!”