
Apakah matahari dulu sepanas ini di kulitku?
Mengapa kini sinarnya terasa terlalu terang bagiku?
Terhenti diriku di sebuah persimpangan jalan. Disana kutemukan seekor burung gagak, ditembak mati di jalanan. Darah mengucur dari lubang tempat peluru bersarang padanya, matanya terbuka lebar seolah tak percaya ajal menjemputnya terlalu awal. Aku mengenal gagak itu sebab ialah burung yang kukirim kepada Danius.
Tanpa berpikir panjang, aku pun menusuk jarik telunjukku dan meneteskan darah pada luka burung itu. Namun, tepat disaat tetes darah itu menyentuh dagingnya, sekejap ia berubah menjadi riak yang melahap burung gagak itu. Begitu ganas dan cepat, mengubah gagak itu menjadi gumpalan daging yang kemudian meledak tanpa tersisa.
“… Tidak mungkin,” gumamku. Darahku yang dahulu dapat menyembuhkan segala jenis penyakit, kini berubah menjadi senyawa poten yang meningkatkan regenerasi sel... Hingga menciptakan kanker yang mematikan.
Kekuatan darahku… meningkat.
“Mengapa kamu begitu terkejut?” tanya suara yang familiar.
Saat aku berpaling, kutemukan diriku berada di dalam ruang gelap, diterangi hanya oleh sebuah lentera redup di depan kakiku. Dan dari kegelapan itu, melangkah sosok kegelapan penuh dengan rantai dan jimat segel, menatapku dengan mata kosong dan senyuman sinisnya.
“Apakah penipu itu tidak memberitahukan siapa dirimu sesungguhnya, Meine Dotter?” tanya sosok kegelapan itu mencoba meraihku, tetapi rantai mencegahnya.
Tetapi sosok kegelapan itu pun memanjangkan jemarinya, menjadi sebuah belati yang sangat tajam. Rahangnya pun memanjang dengan deretan taring-taring yang mengerikan, serta tulang-tulangnya menajam keluar dari seluruh kulitnya. Bagaikan monster dari negeri dongeng, sosok kegelapan itu menggeram penuh dendam.
Saat itulah aku tahu… sosok kegelapan itu sama sepertiku.
“Sama sepertiku. Semakin banyak tubuhmu ternoda oleh darah, semakin dalam kamu akan jatuh dalam kegelapan. Dan dari kegelapan itu akan lahir kekuatan yang membuatmu semakin sempurna, Bulan,” kata kegelapan yang meraih pipiku dan mengelusnya dengan lembut,
“Ini adalah… wujud kita yang sesungguhnya, Bulan. Keturunan pemakan manusia yang dikatakan sebagai anak-anak Sang Dewi Kematian… Daemon Malaakh.”
Kutepis tangan itu dan menolak, “Aku tidak akan menjadi monster sepertimu!”
“Ya, aku berharap demikian. Tetapi, Bulan, darahku mengalir di dalam pembuluh darahmu. Meskipun kamu menolaknya, insting selalu akan mendorongmu untuk mencapai kesempurnaan. Sama sepertinya, menuntunku … Amelia Sonata Noctis.”
“A-Amelia… Sonata Noctis. Kamu… adalah Mutter?” tanyaku tak percaya.
Sosok gelap itu menggelengkan kepalanya, “Black Company telah mengkhianatiku dan mengurungku dalam tubuh anakku sendiri. Dan parahnya lagi, namaku dicuri oleh penipu yang menjebakku di liang laknat ini, ” katanya yang membekap wajahnya,
__ADS_1
“Kini aku telah dikutuk, mengemban nama sang Dewi Kematian, Nyghtingale Ereshkigal, terkutuk untuk menghancurkan dunia ini karena kebodohan mereka.”
Aku menyeret tubuhku mundur menjauhi bayangan itu, “Kamu bohong!”
Bayangan itu tersenyum, “Maaf, tapi kamu akan merasa sangat sakit sebentar,” katanya yang kemudian menepuk tangannya begitu keras.
Seperti kilat menyambar tubuhku, seluruh tubuhku terasa tersayat-sayat. Isi perutku seperti dihantam palu berkali-kali, paru-paruku seperti dirajam tombak tanpa ampun. Dan saat aku tersungkur dalam kesakitanku, aku menemukan kegelapan telah sirna dari sosok itu.
Dia menjadi seorang wanita dengan rambut putih sebahu, menatapku dengan iris matanya yang keunguan. Namun yang membuat mataku melotot adalah betapa miripnya wajah kami berdua. Segera bayangan menjemput tubuhnya kembali dan menutupi cerminan diriku itu.
“Tidak ada seorang manusia pun dapat melihat seorang Dewi. Tapi, karena kamu seekor Daemon Malaakh, kemampuan regenerasimu menyelamatkan hidupmu. Karena itulah, aku hanya dapat mewujudkan diriku sebagai bayangan di hadapanmu,” jelas Nyghtingale.
Semua ini… terlalu nyata untuk menjadi mungkin. Kepalaku sama sekali tidak dapat memproses apa yang terjadi. Tapi semua menjadi masuk akal. Alasan mengapa Mutter selalu menatapku dengan mata dingin, alasan mengapa Ayahanda begitu terkejut saat melihatku yang seperti cerminan orang lain, dan juga… mengapa aku terjebak dalam takdir menyakitkan ini.
“Mengapa… kamu terus menerus hadir dipikiranku?” tanyaku yang duduk tegak bersimpu di hadapan sang Dewi.
Nyghtingale pun kembali ke wujud manusianya dan melakukan hal yang sama denganku, “Karena Cinta, kurasa. Sama sepertimu, aku hidup dengan selalu bertanya-tanya, bagaimana rasanya sebuah cinta sejati? Saat aku hampir menggapainya, cinta itu ternyata hanyalah ilusi yang mengurungku kemari. Nama cinta palsu itu adalah Ideal White.”
“Ideal White… bukankah itu magnum opus yang ingin diwujudkan Black Company?” tanyaku lagi.
“Setiap sepuluh ribu tahun, setiap planet di tata surya akan berada dalam garis yang sama. Dalam satu detik, pelindung sihir dalam inti planet pun menghilang dan membuat semua yang hidup di permukaannya terpapar oleh sinar kosmik yang akan memusnahkan segalanya.”
“Semua pencapaian peradaban itu hilang dalam satu detik?” tanyaku tak percaya.
Nyghtingale mengangguk, “Ya. Dan ini bukan kejadian sekali, tapi puluhan kali. Untuk mencegahnya, leluhur di masa lalu menciptakan sistem sihir untuk melindungi… setidaknya segelintir orang dari pemusnahan itu. Mereka menamakan sistem itu Nyghtingale Ereshkigal,” katanya yang kemudian menopang dagu dan bertanya padaku,
“Hey Bulan, apakah kamu tahu kemana perginya jiwa semua makhluk yang mati?”
“O-Obsidian Theater… tempat persemayaman Dewi Nyghtingale?”
Sang dewi mengangguk, “Tapi seperti yang kamu lihat sendiri… aku mengemban nama Nyghtingale Ereshkigal, sesaat setelah mewujudkan Ideal White. Apakah bulan bisa mengkaitkan apa yang terjadi disini? Kuncinya adalah Obsidian Theater,” tanya dewi itu lagi.
Jujur, aku menggelengkan kepalaku. Tapi bukannya marah, sosok kegelapan itu justru tertaw lucu dan menepuk kepalaku dengan lembut, “Tidak apa-apa. Soalnya, hanya seorang Noctis asli yang tahu tentang kebenaran ini. Kamu terlalu dicekoki dengan informasi palsu tentang dirimu, hingga tak mengetahui potensi kekuatanmu yang sebenarnya.”
__ADS_1
Sang Dewi pun mengibaskan tangannya dan sekejap ruang gelap itu pun berganti menjadi sebuah lautan yang tenang. Kami berdua pun duduk di atas sampan, melewati satu lentera demi lentera, bersama ribuan sampan lainnya. Semua menuju sebuah lubang hitam yang menghisap segalanya dengan rakus.
Sembari menerangi jalan dengan lenteranya, Nyghtingale pun berkata, “Apakah kamu tahu jiwa memiliki energi di dalamnya? Sistem Nyghtingale menjebak setiap jiwa makhluk hidup, mengekstrasi seluruh energi di dalamnya dan menyatukannya di tempat ini. Dengan kata lain, Obsidian Theater adalah sebuah pabrik energi yang sangat besar. bayangkan… sepuluh ribu tahun jumlah energi yang dia ekstrak dari jiwa malang yang mendambakan surga? Untuk apa?”
Terbuka mataku yang segera merinding, dengan terbata-bata aku pun menjawab, “U-Untuk… menciptakan seorang Dewa.”
Nyghtingale mengangguk, “Benar sekali. Manusia masa lalu menganggap, hanyalah seorang dewa yang mampu menyelamatkan mereka. Karena itu, mereka menciptakan dewa mereka sendiri dan memeras kekuatannya untuk mempertahankan pelindung planet selama beribu-ribu tahun lamanya. Nama dewi Nyghtingale Ereshkigal,” katanya yang kemudian membentuk seekor daemon dan manusia yang saling bertarung,
“Tubuh seorang manusia tidak mampu menampung jiwa seorang Dewi. Mereka pun memecahnya menjadi dua energi yang berbeda. Kemarahan dan dendam, energi negatif yang lahir dari akumulasi jiwa yang terkutuk. Dan pula, cinta dan kasih, energi positif yang lahir dari akumulasi jiwa yang terbekati. Dualitas seorang dewi yang dipecah menjadi dua pribadi.
Sang Iblis dan Sang Pahlawan.
Untuk menyempurnakan jiwa sang dewi, salah satu dari makhluk setengah dewa itu harus saling membunuh satu sama lain dan mewujudkan sihir paling sempurna, Ideal White. Dan akhirnya. ehem, mewujudkan keinginannya yang tentu saja adalah ‘menyelamatkan dunia’, hahaha.”
Dari nada sinis Nyghtingale menceritakan dongeng itu, aku tahu kebenarannya tidak semanis itu. Sejak awal siapapun yang membuat sistem ini adalah orang yang sudah hialng akal. Lantas apa arti hidup ini, bila pada akhirnya jiwa mereka yang hidup akan berakhir menjadi gumpalan tragedi yang berulang-ulang?
“Jadi… kamu membunuh sang Pahlawan untuk mewujudkan Ideal White?” tanyaku.
Nyghtingale menggelengkan kepalanya, “Tidak, Sang Pahlawan mengkhianatiku dan menggunakan Ideal White untuk menolak takdirnya. Dia menjebak tubuhku menjadi seorang Dewi… meskipun ia tahu, tubuh itu sudah tak memiliki jiwa lagi.”
“Tapi kalau dia gagal, bukankah artinya, seharusnya limabelas tahun yang lalu, kita semua sudah mati?” tanyaku tak mengerti.
Nyghtingale tertawa, “Bila kamu masih hidup sekarang, kamu tahu kan artinya? Kisah pemusnahan itu adalah kebohongan belaka! Lucu bukan!? Tak ada yang dapat memperkirakan kapan kiamat datang, tak ada yang dapat melindunginya, bahkan seorang Dewi sekalipun,” katanya yang membekap mulutnya dan tertawa terbahak-bahak,
“Malah, karena kebodohannya… Sang Pahlawan justru menciptakan Dewi palsu tanpa jiwa, seekor monster ganas yang melahap dunia ini untuk mengisi kekosongan jiwanya! Lucu banget bukan?! Pada akhirnya, ketamakan gadis polos itu akan cinta, mendorongnya menjadi penyebab kehancuran dunia ini. Tapi apa yang ia dapatkan?
Sesuatu yang dibangun atas dasar kebohongan, tidak akan bertahan lama. Pada akhirnya, meskipun dia berpura-pura menjadi diriku, George tetap tidak memilihnya.”
… Tidak mungkin. Jadi, Pahlawan sebelumnya adalah… Mutter? D-Dia membunuh saudaranya sendiri hanya demi mendapatkan Ayahanda…? Tapi aku pun teringat bahwa selama hidupnya, Ayahanda tak pernah menemui Mutter. Mereka bahakn tinggal di istana yang berbeda. Seolah seperti musuh yang saling membenci.
Kubangan kegelapan pun muncul di depanku. Tangan-tangan tengkorak perlahan mengeluarkan sebuah pedang hitam elegan di dalamnya. Nyghtingale pun mencabutnya dan melihatnya dengan seksama,
“Pedang ini bernama Artemisia, bersamanya telah mengalir darahku. Dengan kata lain, pedang ini terhubung dengan tubuhku. Bila kamu berhasil menikam jantung Penipu itu dengan pedang ini, maka ia akan menghisap jiwa sang Dewi di tubuhnya dan mengembalikannya kepada tubuhku,” kata sang Dewi yang kemudian menawarkan pedang itu padaku,
__ADS_1
“Karena aku masih ingin melihat Cinta Sejati, aku bertanya padamu. Meine Dotter, meskipun harus membunuh orang yang kamu sayangi, apakah kamu akan menyelamatkan dunia ini?”