
— 15 —
“Black Company, tunjukan taring penghancurmu pada seluruh musuhmu. Dragon’s Maw!” ucapku melepaskan panah merah yang memusatkan udara bersamanya, melesat dengan cepat dan menghantam tubuh Predator dengan ledakan dahsyat.
“Aaarhhhh!!” teriak Predator dengan suara melengking yang menyakitkan telinga. Hancur sebagian wajahnya ketika ia mencoba melacak dimana penyerangnya itu, tapi beruntun tiga panah merah pun melesat padanya.
“H-Hen-Hent-Hentikaaaann…!” teriak Malice raksasa itu yang kemudian merangkak dengan cepat mendekati posisiku. Setelah
“Hmph, tiga Dragon’s Maw belum mampu menunjukan lokasi jantungnya. Kulitnya keras juga,” gumamku yang pun melompat dari satu gedung ke gedung lainnya, dan melesatkan panah cahaya yang menarik perhatian Malice itu.
“C-C-C-Chrysaaantt?!!” teriak Predator yang tiba-tiba tersenyum dengan lebar, “C-Chyrsant… Chrysant!! Aaaah, Ibu… akan senang… Ibu akan senang!” katanya.
Huh? … Darimana dia bisa mengetahui namaku? Tak penting, tugasku hanyalah menarik perhatian Malice itu menuju jebakan yang telah disiapkan Dagger.
Predator pun emrangkak dengan cepat berusaha mengejarku. Dengan tangan dan kakinya yang seperti laba-laba, monster itu merayap menaiki gedung yang condong dan rapuh. Aku pun tersenyum dan memberi isyarat pada Dagger yang bersiap di atap gedung seberang.
“Activate Shield,” gumamku mengaktifkan pelindung sihir dari kristal sihir yang dipinjamkan Dagger.
Dan bersama itu ledakan hebat pun terdengar di lantai bawah, menghancurkan tiang fondasi gedung rapuh itu. Kehilangan penyangganya, gedung itu pun runtuh ke arah Predator berada. Tak sempat berespon, Predator hanya berusaha menggapaiku dengan sneyuman menjijikannya.
“C-Chrysaaantt!!” katanya sebelum diremukkan oleh berton-ton beratnya gedung rapuh itu.
BUM!!!
Saat kabut debu telah sirna, aku pun mendekati kubangan darah yang muncul dari runtuhan puing. Kutekuk alisku dengan heran, seekor Malice dengan darah? Bukankah Malice adalah makhluk tidak hidup yang tidak memerlukan darah untuk berfungsi? Kenapa Predator memilikinya?
Dengan kaki roketnya, Dagger turun mendekatiku. Mengacak pinggangnyaa dengan bangga, Dagger pun tersenyum, “Gimana bom terbaruku? Hebat kan?”
Aku tertawa masam, “Aku jadi bingung apakah kamu benar-benar seorang Pemburu? Seperti baisa, kamu cuma megnandalkan Automachina-mu dan sama sekali tidak menggunakan sihirmu, Dagger,” kataku.
“Iya dong. Kan memang itu tujuan penciptaan Automachina. Agar semua orang dapat menggunakan sihir dengan mudah,” katanya menggosok-gosok hidungnya bangga Lantas gadis itu pun mendekati kubangan darah yang ditinggalkan Predator dengan tanda tanya yang sama denganku.
“… Kita beneran sudah mengalahkan seekor Malice tipe S?” katanya tak percaya.
“Chrysant pun sebenarnya ragu, tapi sekuat apapun Predator, dia takkan selamat dari beratnya gedung itu,” kataku yang mengambil sampel darah Predator ke tabung khusus di tas kecilku, “Tapi… Seseorang mengatakan bahwa Predator adalah malice yang cacat,” lanjutku yang pun melompat dari puing lainnya berusaha melacak Quartz Bulan yang menjadi jantung Predator.
Tetapi tepat saat aku meninggalkan Dagger, gempa bumi pun muncul bersama suara gelinding yang familiar. Aku pun segera berteriak pada Dagger,
“L-Lari!”
BUMM!!!!
Dari tanah ledakan pun muncul, bersama dengan mekarnya tangan-tangan merah yang merayap keluar dari lubang itu. Dengan senyumannya yang mengerikan, Predator pun muncul kembali. Lidahnya yang panjang pun melesat berusaha menghantam Dagger, tetapi gadis itu memiliki seragam bertarung yang kuat. Dengan mudah Dagger menangkis lidah itu dengan kakinya lantas melompat mundur mendekatiku.
Mata Dagger pun melihat sekeliling dan keringat dingin pun mengucur di keningnya, “… Chrysant, sepertinya… kita dikepung, haha,” katanya tertawa kosong.
__ADS_1
Di segala penjuru, monster yang identik dengan Predator pun bermunculan dan menghadang jalan. Sial, gila ya?! Siapa yang kira Predator ada lebih dari satu?
“Sial, kita terjebak,” gumamku.
Membusungkan dadanya, sang Predator di hadapanku pun memekarkan segala tanduk yang mencuat di wajahnya. Bunga kesinisan itu penuh putik berduri yang melahirkan sinar merah terang darinya. Pucat wajah Chrysant ketika melihat sinar merah itu, sebab betapa besar energi sihir yang ia rasakan hingga sihir statik mengacaukan sirkuit tubuhnya.
“Sinar merah itu… memiliki kekuatan persis bom atom!” kata Dagger menganalisa energi sihir Predator dengan kacamatanya.
Ugh, tidak ada gunanya panik. Selagi Monster itu mengumpulkan kekuatannya, aku harus mencari jalan keluar masalah ini. Tiba-tiba mataku pun menangkap sebuah saluran bawah tanah yang terlalu sempit untuk dijangkau Predator. Entah kemana gang itu akan berakhir, tapi kalau tidak berbuat apa-apa, mereka akan jadi makanan Predator.
“Daggersiapkan Da Vinci, aku akan mengalihkan perhatiannya,” perintah Chrysant.
Dagger pun mengangguk. Dari tasnya, ia mengambil sebuah kristal segitiga yang kemudian Dagger putar untuk memercikan api sihir di dalamnya. Sedangkan aku pun membakar sihirku dan melesat dengan kedua belatiku, mencoba menggagalkan monster itu menyiapkan serangan mautnya. Tetapi Predator lain segera melindunginya.
BUK!! TRIING!!
“Hyyaaaarrgh,” teriakku menangkis serunduk seekor Predator yang ingin menikam Chrysant dengan tanduknya.
K-Kukkh! Luka saat pertarunganku dengan Khanza belum sembuh dengan sempurna. Tapi demi melindungi Dagger, kubakar sirkuit sihirku hingga overload dan menangkal tanduk predator hingga dia terpukul mundur. Lantas kutikam kedua belatiku di tanah dan berteriak,
“Oh Black Company, Dewi terakhir dan terkuat dunia ini. Aku, Chrysanthemum memanggil keagunganmu. Habisi semua musuhku dalam gemilang cahayamu.
Indignation!”
Bingung, Dagger pun berteriak, “K-Kamu mau bunuh diri? Kok ngeluarin sihir tinggi di dekat kita sih?!”
Tetapi, Chrysant terlalu sibuk untuk menjawab. Sebuah panah merah ia tarik, mengarah pada Predator yang sedang mengumpulkan energi sihirnya. Tajam mata perempuan itu menantikan saat-saat sang Predator mengarahkan bola sihir merah itu kepada mereka dan bersiap untuk menembakkannya,
“Dagger, sekarang!”
Dagger pun memecahkan kedua belas bagian kristal Da Vinci ke sekitar diagram sihirku. Bersinar terang dalam tujuh warna, kristal itu membentuk medan sihir yang menyerap seluruh energi sihir di dalamnya. Sinar merah di mulut Predator pun sirna diserap oleh kedua belas kristal Da Vinci.
“Activate Control - ID: Da Vinci— Register Catalyst: Twin Princess,” kataku yang menyalurkan seluruh energi sihir yang dikumpulkan kristal Da Vinci pada busur panahku, hingga mengobarkan panah merahku.
Lantas kuarahkan panah itu ke mata Dewi di langit dan saat seluruh kekuatannya terkumpul, aku pun melesatkannya ke langit dan berteriak, “Morning Star!”
Panah merah itu pun memecahkan mata dewi itu menjadi prisma yang memantulkannya ke segala penjuru kota berkali-kali. Tak terhitung bangunan yang runtuh akibat kekuatannya, para Predator pun kocar-kacir berusaha menghindari sinar merah itu tetapi gagal dan terbakar habis olehnya. Memanfaatkan kekacauan itu, aku dan Dagger pun melarikan diri ke saluran bawah tanah itu.
Tergesa-gesa aku dan Dagger pun menerobos saluran pembuangan yang kering itu, menghindari lubang-lubang yang diciptakan oleh sang Predator hingga akhirnya menemukan titik terjauh yang aman dari jangkaunnya.
Saat banjir adrenalin tubuhku menghilang, rasa lelah menyergap diriku. Aku pun duduk di dinding kusam itu dan melepaskan busurku yang panas. Terengah-engah, aku pun tersenyum melihat wajah Dagger yang khawatir.
“… Kamu, Pathfinder paling gila yang kukekanl,” komentar Dagger membuka botol minum dan menelannya dengan lahap, “Baru kali ini aku melihat seorang Pemburu memanfaatkan Da Vinci untuk mengubah energi sihir lawan menjadi milikmu… Terlebih, dengan timing mepet seperti tadi!” lanjutnya.
Chrysant tertawa hampa, “… Yang penting, kita masih hidup kan?” balasnya. Tetapi bergidik bulu kuduknya mendengar suara teriakan Predator yang sedang mencari-cari mereka. Lantas terdengar lebih banyak lagi rayap kaki melangkah menggetarkan tanah. Sepertinya raungan itu memanggil monster kepala lainnya… lebih banyak lagi.
__ADS_1
Astaga, bahkan dengan Morning Star, jurus andalan Kakak saat masih bertugas dulu, tidak cukup menghentikan monster itu.
Tersenyum pahit, aku pun menyalakan lenteranya dan melanjutkan, “Dagger, ada ide buat ngalahin Malice-Malice ganas itu?”
Dagger tertawa masam, “Mungkin… kita hancurkan satu kota ini?” katanya dengan senyum jenaka, duduk di sampingku.
“Ide bagus,” kataku bersandar di pundak Dagger. Kulihat sirkuit sihir di tanganku sudah overload dan tak berguna. Aku… sudah tak dapat lagi menggunakan sihir sebesar tadi.
Raungan Predator membuat Chyrsant dan Dagger semakin tegang. Tetapi, suara oretan spidol menarik perhatianku. Dagger sedang mencoret-coret peta kota di tangannya.
“Lagi bikin apa, Dagger? Surat wasiat?” tanya Chrysant.
Kesal, Dagger pun mengetuk kepalaku, “Ih, sembarangan banget ngomongnya. Aku belum mau mati tahu, Chrys,” tegurnya yang kemudian menuntun mata Chrysant melihat lingkaran-lingkaran merah yang Dagger tandai di peta itu.
“Aku sedang mengingat dimana saja posisi lubang-lubang jalanan yang dibuat Predator. Sejak awal datang ke kota ini, aku penasaran sebenarnya apakah lubang-lubang itu? Setelah melihat sendiri, sekarang aku mengerti,” lanjut Dagger yang kemudian mencocokkan peta itu dengan denah saluran pembuangan kota Junon dari tas besarnya.
Chrysant pun heran, “Uh… ngapain cari lubang di tengah kesempitan?”
Dagger pun menjawab, “Dahulu ketujuh benteng angkasa adalah sebuah kota besar di Underworld. Dengan kekautan Dewi Black Company, kota-kota itu pun diangkat ke tanah dan membebaskannya dari kutukan kegelapan.” Seraphina kemudian menandai lima titik dimana ia menemukan lubang terbesar dalam ekspedisinya,
“Tetapi dalam buku kuno, aku menemukan penelitian kuno yang megnatakan Junon dibangun di atas batu garam yang sangat rapuh. Ketika hujan seratus tahun melanda, batu garam itu pun larut menyisakan kekosongan. Beratnya kota menghancurkan lapisan tanah, runtuh mengisi kekosongan itu… Kalau tak salah, orang jaman dulu menyebutnya Sinkhole,” lanjutnya.
Aku pun menegakkan kepalaku dan terkejut, “Tunggu, jadi seluruh kota dapat sewaktu-waktu runtuh ke perut Mars?” tanyaku
Dengan tatapan pasti, Dagger pun mengangguk dan kemudian membongkar isi tasnya dan menyusun beberapa prisma berwarna kuning dan dua puluh inti Malice, batu yang dikenal sebagai Magicite.
“Hmmm, Lima Repeater. Dua puluh Magicite kosong. Hmmm, kalau kita menorehkan diagram Streamburst pada kelima repeater itu, kita bisa menciptakan aliran air terus menerus untuk melarutkan batu garam…
Tapi, butuh waktu berapa lama? Meski kita menyalakan kelima Repeater, mungkin butuh satu minggu baru ada efeknya.”
Aku pun menekuk alisku dan berkata, “Kenapa nggak sekalian Streamburst di hybrid dengan Tornado? Kalau kita menggabungkan kedua sihir ini dalam Repeater, kita bisa meningkatkan kecepatan pelarutan batu garam itu berkali-kali lipat. Tapi bila kita pake rencana ini, hanya 2 lubang ini yang bisa kita serang,” kataku yang menandai 2 lubang raksasa yang saling berdekatan,
“Dan kedua lubang ini sangat sempurna. Bila posisinya bedekatan, berarti kita bisa menghancurkan batu kapur di tengahnya saja. Kalau kita bisa memancing seluruh Predator ke jembatan tengah ini, maka dalam sekali serang, WOOSH! Kita bisa mengubur mereka semua dalam reruntuhan.”
Hening membuatku canggung, “U-Uhh, apakah ideku… terlalu bodoh?” gumamku.
“Astaga…. bagaimana bisa aku lupa! Kalau saja nggak mageran dan belajar dengan serius, sahabatku yang imut ini bisa jadi lulusan terbaik akademi sihir,” canda Dagger yang memelukku dengan erat.
“I-Iiih, apaan sih, sesak tahu!” kataku yang menolak pelukan Dagger dengan malu.
Tiba-tiba Dagger pun mengemaskan alatnya dan berdiri penuh semangat. Dia pun mengulurkan tangannya padaku dan berkata, “Bila kita menjelaskan rencana ini ke Saber, pasti dia akan membantu kita. Ayo, Chrysant!”
Tapi saat aku mengambil tangan Dagger, tiba-tiba lampu terowongan itu menyala, menuntun kami ke sebuah pintu yang terbuka di samping kami. Terkejut kami berdua saat udara dingin keluar dari sela pintu itu, membuat bulu kuduk kami merinding.
Remang-remang dapat kubaca tulisan di atas pintu besar itu, “Emergency Exit — Magicite Reactor?”
__ADS_1