
— 27 —
“Hanya untuk alasan bodoh itu… Kekh! Nuwa!!” teriakku mengetatkan kepal tanganku.
Namun Menara biru itu pun berpendar, melepaskan kejut energi yang membuat dinding retak. Air yang keluar dari menara itu perlahan tercemar menjadi kental seperti darah. Dari retakan lantai pun muncul tangan-tangan merah yang menyeruak keluar.
“Malice? Bagaimana mereka bisa ada disini?” gumamku yang pun membuka pedangku dan mengalirkan energi listrik di intinya. Sebuah pedang cahaya pun muncul saat kulesatkan tarian kematian bagi Malice merah itu.
Tapi, Malice itu terus tumbuh hingga tak terhitung jumlahnya. Mereka menghantam tubuhku dengan tangan belatinya, mencoba menembus pelindung sihir yang melingkupi tubuhku.
“Demi… dunia… yang lebih baik…” ucap para Malice itu sebelum kulesatkan tebasan pedang melingkar, melepaskan kejut udara yang meratakan sebagian dari Malice misterius itu.
Kuhirup nafasku dalam dan membayangkan tubuhku bersatu dengan pedangku sembari mengingat teknik yang Seraphina pernah ajarkan padaku. Setajam angin, mengikis pegunungan yang terjal… Sekarang!
“Raven style 03: Windchaser!” teriakku melepaskan seratus tebasan yang beresonansi dengan angin, mengubah medan pertempuran itu menjadi corak darah yang bertebaran di langit.
Serangan itu menggunakan seluruh energi di pedang sihirku. Magicite di dalamnya pun gosong, konslet dan tak dapat digunakan lagi. Yang tersisa hanyalah seonggok besi ta berguna, yang hancur di atas medan darah tempatku berpijak. Yah berbeda dengan Twin Princess, apa yang kamu harapkan dengan pedang sihir standard Black Company?
“… Tapi untuk Malice bersarang di perut Black Company, terlebih di sumber airnya… Ini tidak bisa kubiarkan,” kataku yang mencoba menebas menara biru itu, tetapi pedangku langsung patah.
Sama seperti Menara Merah di kota Junon, Menara itu juga terbuat dari berlian. Saat Nuwa megninjeksikannya dengan Sel Warden, menara itu seperti meronta-ronta kesakitan dan menyerangku dengan pasukan merah aneh tadi.
Apa mungkin sama seperti di Junon, Menara ini adalah Magicite Reactor yang mengurung seorang Penyihir yang berubah menjadi Malice? Bila begitu… selama ini, air yang kami minum dan gunakan sehari-hari… adalah bagian seekor Malice?
Uugh.. kubekap mulutku, menahan diri untuk tidak muntah.
Tidak Chrysant, jangan berpikir yang aneh-aneh.
“… Sumber air ini telah tercemar. Bila seseorang meminumnya bisa gawat… Aku harus menghancurkannya,” gumamku memegang kepalaku yang sakit sekali.
Bertekuk lutut diriku, termakan oleh nyeri kepalaku. Denging telingaku perlahan berubah menjadi suara statik. Suara seorang perempuan awalnya terdengar patah-patah… semakin lama terdengar semakin jelas.
“Asalkan kamu hidup… Kita akan menang.”
Pelangi muncul di pandang mataku saat air mata mengalir dari pelupuk mataku. Bising suara statik itu seperti bor yang memasuki telinga. Ingin aku berteriak, tapi lidahku tercekat oleh nyeri yang begitu menguasai tubuhku.
“Ingatlah … Sihir adalah kebohongan. Musuh dunia yang sesungguhnya adalah Ideal White!“
Ombak merah meluap-luap dari menara biru itu, membentuk tangan-tangan raksasa yang ingin meraihku. Dengan kekuatanku yang tersisa, aku pun melompat menghindarinya. Tapi aku pun menyadari, perlahan berlian tumbuh di kedua tangan dan kakiku, menggerogotinya seperti parasit yang ganas. Sirkuit sihirku pun berpendar merah, menyipratkan darah dari bawah kulitku.
__ADS_1
“Awaken, The Warden!”
“Haaarrggghhh!!!! Aaaaa!!!!!”
Petir menyambar dari tubuhku, membelah seisi ruangan dengan tak karuan. Kulitku pun terkelupas, menunjukan darahku yang mendidih seperti magma. Kuku-kuku jemariku memanjang seperti cakar serigala, sayap berlian pun tumbuh menyeruak dari punggungku. Dan bersama dengan itu, ingatan-ingatan asing pun membanjiri pikiranku.
Malaikat meluluhlantakan kota dengan pedang apinya.
Tangisan dari anak yang kehilangan ibunya.
Orang-orang yang bersujud memohon ampun di hadapan malaikat itu, hanya untuk dilahap oleh api kemurkaannya.
Dan… Khanza, berdiri di gedung tertinggi dengan jubah merahnya berkibar tak karuan… Menantang malaikat itu dengan tombak esnya.
“Haaahh… Khanza kira, saat ini Chrysant sudah terbang ke langit tujuh bareng si Pangeran. Tapi, sepertinya masalah selalu pergi bersamamu yah,” kata Khanza yang tiba-tiba muncul di sampingku dan mengacak-acak rambutku, “Chrysant tidak apa-apa? Hihihi, Malisifikasi rasanya menyakitkan bukan. Makanya udah kubilang, jangan pakai kekuatan The Warden kalau tak mau menderita seperti ini,” tanya Khanza dengan nyebelinnya.
“… Kenapa… Kamu disini?” tanyaku.
Khanza tak menjawab dan mendekati Menara Biru itu. Dengan tendangan maut dia mengguncang menara itu. G-Gila ya penyihir itu? Emangnya menara itu macam hape lemotku yang bisa bener sendiri kalau ditepuk-tepuk?
E-Eh? Mendadak bising statik di telingaku pun menghilang. Nyeri kepalaku pun perlahan mereda, bersama dengan tenangnya Menara Biru itu dan lenyapnya tangan-tangan merah yang menyergapku, menjadi air yang mengalir di selokan. S-Sulit dipercaya. T-Trik itu bekerja!
Berlian di tanganku pun runtuh bersama dengan sayapku. Nafasku yang sesak kini telah lega kembali. Aku pun dapat bangkit berdiri, mendapati Khanza menatap miris tubuhku. U-Uh, apakah aku terlihat semenyedihkan itu?
“… Khanza… Kita harus segera menghancurkan Menara itu sebelum dia meracuni seisi kota,” kataku yang berusaha mencapai menara itu, dengan badan terasa mengambang… lantas tumbang sia-sia.
“He? Kenapa? Nanti kalau Menara ini dihancurkan, kita minum dan mandi darimana? Air hujan?” tanya Khanza bingung.
“Bukannya… menara itu… Seperti Emilia di kota Junon?” tanyaku yang pun duduk mengatur nafasku.
Khanza tertawa terbahak-bahak, “Emangnya kenapa? Sepuluh tahun minum air dari menara ini, Chrysant nggak diare kan? Amanlah,” katanya yang mengelus Menara itu.
“Tidak, kamu tidak mengerti. Nuwa sudah meracuni air itu dengan Sel The Warden, bila kita membiarkannya, orang-orang tak bersalah akan meminumnya,” tegurku.
“Nuwa? Oh, si tengik dari Klan Gremory itu? Aaah, jadi dia yang menjebak Chrysant disini ya. Dasar anak muda, sukanya membuat masalah tapi tak mau membereskannya, “gerutu Khanza yang pun mengorek telinganya denan santai,
“Tapi kekhawatiran Chrysant tidak berdasar. Sebab, dari awalkan kita semua sudah terkontaminasi sel Warden,” katanya yang menghembus jemarinya.
“Ha?”
__ADS_1
“Eh?”
T-Tunggu-tunggu, aku merasa Khanza salah paham dengan perkataanku. Kupijit keningku, “Sel Warden, mengubah Homunculus menjadi Malice, awal dari tragedi Emilia dan Predator Telos. Bila sel itu menyerang manusia, bukankah dia akan menyebabkan mutasi yang berbahaya?”
Khanza terbelalak kaget, “Serius? Khanza baru tahu. Penelitian siapa tuh?”
“Loh, apa Chrysant yang gagal paham ya?” gumamku pening.
Khanza pun tertawa terbahak-bahak, “Astaga, maaf-maaf. Aku cuma mengerjaimu saja, hihihi. Khanza suka sekali melihat wajahmu yang terlalu serius itu,” katanya yang pun membuka lengan seragamnya dan menunjukan sirkuit sihir di balik kulit berliannya,
“Ingatlah, Sihir adalah kebohongan. Musuh dunia yang sesungguhnya Ideal White… Apakah kamu sudah paham arti kata-kata itu?“
“Uuuhh, nggak sih… Tapi, intinya kita harus mencegah White Order mewujudkan Ideal White, kan?”
Khanza tersenyum lebar, “Nope. Kata-kata itu menceritakan kebenaran dunia. Sihir kita, umat manusia adalah kebohongan,, yang lahir dari pengorbanan seorang Penyihir,” kata Khanza itu yang pun menyentuh Menara itu,
“Untuk mewujudkan dunia yang lebih baik… Khanza masih ingat jelas jargon gadis bodoh nan naif itu. Terbuai oleh janji umat manusia, hanya untuk menjadi korban kelicikan mereka. Kini dia terkurung disini, terkutuk selamanya menjadi Malice yang memberikan anugrah sihir bagi umat manusia. Itulah kebenaran tentang The Warden.”
Kukerutkan keningku, “Kamu mau mengerjaiku ya? Teori konspirasi seperti itu tidak akan menipuku. Setelah perbudakan selama beratus-ratus tahun, melihat sanak saudaranya dipaksa menjadi seekor Malice, kemanusiaan akhirnya mengalahkan The Warden di bawah bendera Black Company.
Masa setelah kemenangan gemilang itu, kita… dengan bodohnya manusia menginfeksi dirinya dengan sel The Warden dan dengan sukarela menjadi seekor Malice?”
Khanza tersenyum, “Yah, kalau kamu keras kepala ingin menghancurkan Menara ini,” katanya yang menghempaskan aura dingin yang menusuk tulangku, “Kamu harus melewatiku terlebih dahulu, Chrysant.”
Kutelan ludahku dan segera mengurungkan niatku. Dengan sihir aja aku udah babak belur dikalahkan Khanza, apalagi dengan sirkuit sihir konslet seperti ini.
“T-T-Tapi, setidaknya jelaskan padaku, apakah benar tidak apa-apa kita membiarkan menara ini? Kan Nuwa meracuninya dengan sel Warden?”
“Chrysant yakin si Tengik itu beneran punya sel Warden? Atau jangan-jangan, cairan merah itu, ehem, ternyata jus tomat?” kata Khanza yang tertawa geli, “Kalau sel tubuhnya sendiri, gadis ini tidak akan marah. Tapi beda ceritanya dengan jus tomat. Makanya dengan sebuah tendangan, Khanza bisa menenagkan sifatnya yang memang suka cranky itu.”
Tunggu… Tomat? Uh…
“Maksudmu, Nuwa menyuntikan jus tomat ke Menara itu?”
Khanza mengangguk dengan polos, “Yup. Sama seperti Chrysant kan? Kalau tidak dibikin spagheti bolognese, mana mungkin kamu mau makan tomat?” katanya yang kemudian mengelus Menara Biru itu dengan lembut,
“Di dalam menara ini… Tertidur mimpi yang ingin dicapai oleh Emilia. Malice yang memberikan anugrah sihir bagi umat manusia.
Chryanthemum The Warden.”
__ADS_1