Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
The Great Gamble (2)


__ADS_3

—57—


“Jadi, bagaimana caramu mengalahkan Sang Dewa Kuno?” tanya Ma Dame Fan yang berjlaan bersamaku menuju segel sang Dewi Kematian, “Harus kuingatkan dirimu, bahkan dengan kekuatan 3 dewa sekalipun, kami hanya mampu menyegel dewa itu.”


“Tapi sekarang kan ada empat?” kataku.


Ma Dame Fan mengeluh, “Haahh, jumlah tidak penting. Dewa Kuno itu… melebihi segala logika. Ia dapat menciptakan suatu hal yang baru dengan mudah, tapi juga menghancurkannya hanya dengan sekali jentik jari. Hukum dunia tidak berlaku padanya.”


“Tapi, bukankah sekarang dia terbelenggu oleh hukum yang sangat jelas?” kataku yang tersenyum percaya diri, “Ma Dame sendiri yang mengatakan, Triad Megistus yang asli menyegel sang Dewa Kuno. Tapi dimanakah di tersegel?”


Aku pun memanggil akar kegelapanku dan mengambil topoipenyihirku darinya. Sembari mencari barang yang kuinginkan, aku pun berkata, “Bila kekuatan Dewa Kuno itu adalah akar dari segala sihir, maka dia membutuhkan segel yang memiliki sirkuit sihir luar biasa mampu menopang tubuhnya,”


Kulihat syringe berisi cairan merah yang telah kusiapkan, “Dari pengalamanku… Hanyalah seorang manusia yang mampu punya sirkuit sihir sekuat itu. Dengan kata lain, kalian mengurung sang Dewa Kuno ke dalam tubuh Nyghtingale, yang adalah seorang manusia.”


Ma Dame Fan cukup terkejut mendengarnya, “Kamu.. berkata hanyalah seorang gadis biasa, tapi bukankah kemampuan deduksimu cukup istimewa?” katanya yang menyentuh segel Dewi Kematian itu dengan wajah penuh nostalgia,


“Tapi, memangnya kenapa jika kami menyegel Dewa Kuno itu ke dalam tubuh Manusia?”


Aku pun tersenyum menunjukan taring-taringku yang tajam, “Sederhana. Aku punya senjata pamungkas—yang terbukti mampu menghabisi separuh manusia di dunia.”


Ma Dame Fan mengangkat alisnya, “Menginfeksi Dewi Nyghtingale dengan Wabah Nyght… Kamu punya selera humor yang luar biasa,” katanya yang membuka kipasnya menutupi mulutnya,


“Dewi itu… sudah terlalu lama menderita. Bila ada cara untuk melepaskannya dari penderitaan hidup ini, aku akan membantumu.”


Perkataan Ma Dame Fan bukanlah sesuatu yang kukira dari orang yang menjebak temannya sendiri. Yang kudengar adalah penyesalan dari sahabat yang tak memiliki pilihan. Sepertinya, cerita kedua dewi itu menipu Nyghtingale hanyalah kebohongan belaka. Mereka berusaha menutupi sesuatu.


… Bagaimana aku bisa percaya dengan mereka? Mereka adalah Dewi bengis yang mengutuk Kakak Beradik untuk saling membunuh satu sama lain. Musuhku yang sesungguhnya adalah kedua Dewi jahat ini, bukan Nyghtingale. Tidak ada jaminan Ma Dame Fan tidak akan menjebakku dan menjadikanku tumbal untuk melanjutkan peran Nyghtingale. Tapi juga, saat ini aku tak mampu mengalahkan mereka.


Tidak, sampai kartu Ace-ku terbuka.


Bagaimana pun, dibalik pintu segel ini kebenaran menantikanku.


“Apakah kamu siap?” tanya Ma Dame Fan.


Aku mengangguk dengan tangan menggenggam erat Artemisia.


Ma Dame Fan pun menyentuh pintu segel itu dengan kedua tangannya. Tulang belulang pun muncul dari pintu itu menikan tangan sang Dewi dan menghisap darahnya dengan ganas. Bersamaan itu gempa mengguncang seisi Obsidian Theater hingga nagkasa pun terkoyak dan bumi pun terbelah. Pada akhirnya sinar dalam segel itu pun memudar dan perlahan pintu raksasa itu pun terbuka.

__ADS_1


Segel sang Dewi Kematian telah terbuka.


…!


Duduk menanti di singgasana, adalah seorang gadis berambut coklat sebahu berpangku pipi. Saat aku melangkahkan kaki masuk, mata gadis itu pun terbuka, menunjukan permata safir yang membungkap mulutku. Sebuah lingkar halo pun menyala di kepalanya bersama dengan cahaya merah berpendar mengikuti sirkut di seluruh ruang singgasana itu.


Satu persatu kristal merah pun menyala menunjukan ribuan manusia, Daemon maupun Anima terkurung di dalamnya. Kabel-kabel tajam menancap di sekujur tubuh mereka, menghisap darah mereka tanpa henti… sekaligus Mana yang sangat luar biasa. Semuanya mengalir pada sang Gadis yang menatapku tepat di mata.


Tapi tatapan itu… sangat kosong. Sama seperti Dewi Boneka disisi Ma Dame Fan. Tidak mungkin, ini tidak masuk akal. Jangan-jangan… Penyihir gila itu telah mengubah Nyghtingale menjadi Bonekanya juga?


“Oii… Kamu bilang menyegel sang Dewi Kematian bukan? Tapi kenapa semua ini terlihat seperti mesin yang mengumpulkan kekuatan untuknya?” tanyaku panik.


“Untuknya? Oh tentu tidak. Dengan sihir sebesar ini, bukankah gadis pintar sepertimu  kamu bisa menarik kesimpulan? Atau haruskah aku memberimu kunci?” kata Ma Dame Fan yang mendekati gadis berambut cokelat itu dan memegang pundaknya,


“Pernahkah kamu pepatah Pemenang yang menulis Sejarah?”


Pintu gerbang pun tertutup tiba-tiba. Insting membuatku mengarahkan pedangku pada Ma Dame Fan, terutama… dengan niat membunuh sepekat itu. Keringat dingin pun mengucur di dahiku, bersama senyum frustasi melengkung dibibirku.


Dia menjebakku.


Senyum sinis melengung di bibir Ma Dame Fan, “Hahahaha! Kamu sungguh gadis yang menarik, Clairysviel. Sejak aku memilihmu menjadi Sang Ratu Iblis, kamu selalu melewati ekspektasiku,” katanya yang membuka tangannya dan memperlihatkan seisi ruang kristal merah itu,


“Ma Dame, Jadi semua drama ini, hanya untuk menjebakku masuk ke ruangan ini?” kataku yang kemudian menelan ludah. Untuk pertama kalinya, pikiranku buntu. Aku… tak menemukan celah sama sekali untuk lari dari masalah ini.


“Bukankah aku sudah memberimu namaku?” kata sang Dewa yang turun dari singgasana dan memanggil sebuah tongkat sihir dengan tujuh Quartz Megistus mengelilingi lubang hitam di ujungnya.


“Butuh sepuluh ribu tahun bagiku untuk memulihkan separuh kekuatanku. Tapi dengan kondisi seperti ini pun aku tak mampu memanggil Ideal White,” kata Amelia yang mendekatiku dengan tenang, “Tapi kamu, hanya dalam tujuh tahun, tega mengorbankan dunia ini dan mewujudkan Ideal White. Siapa yang mengira, akan ada hari seorang Anima akan memanfaatkan kekuatan mereka yang sudah mati untuk menentang para Dewa Dewi?”


“U-Uh, makasih?” kataku salah tingkah, lantas refleks berjalan mundur menjauhi mimpi buruk itu.


Namun Amelia tertawa kecil dan menatapku geli, “Tapi, monster sekuat dirimu, jatuh dalam perangkap bodoh yang akmu sendiri buat? Menggelikan sekali,” katanya yang mengulurkan tangannya padaku, “Sekarang, sesuai perjanjian kita. Clairysviel, serahkan Ideal White padaku.”


“Seorang Dewa sepertimu, ingin memnggukana Ideal White? Memangnya apalagi yang tak dapat kamu kabulkan dengan kekuatanmu sendiri?” tanyaku penasaran… sembari menantikan akar-akar pohonku sampai di ruangan ini.


“… Waktu hanya dapat bergerak maju dan takkan kembali. Bahkan setelah menjadi Dewi Ruang dan Waktu pun, aku tak dapat melanggar hukum yang ditulis oleh dunia,” jawab Amelia yang ingin menggapai sesuatu di tangannya,


“Dengan Ideal White, aku bisa menulis ulang hukum itu dan menjadi Penguasa dari Takdir sendiri!”

__ADS_1


Penguasa takdir? … Itu artinya, bahkan sebagai seorang Dewi pun, Amelia, terkurung oleh takdirnya sendiri. Lantas apakah dia sesungguhnya membenci takdirnya sebagai seorang Dewi? Atau mungkin ada suatu penyesalan yang ingin ia tebus di masa lalu?


… Jika benar begitu, itu artinya, dia hanya gadis bodoh, tak berbeda denganku.


Aku pun menghirup nafasku dan menenangkan diriku.


“Hmmm, tunggu dulu, kamu belum membantuku mengalahkan dirimu, bukan? Kenapa aku harus menyerahkan Ideal White kepadamu?” tegurku.


Amelia mengacak pinggangnya, “Bahkan disaat krisis seperti ini, kamu masih seorang pedagang rupanya. Baiklah!” katanya yang membebaskan pelindung aneh yang melingkupi tubuhnya, “Meskipun aku membantumu… itu bukan berarti kamu akan menang melawanku, Dewi muda. Silahkan mencoba dan rasakan kesia-siaan usahamu.”


“Ih, sombongnya. Padahal kamu cuma Dewa gabut, yang susah payah sepuluh ribu tahun mewujudkan Ideal White, tapi tak berhasil. Padahal, seperti yang kamu bilang, aku aja cuma butuh tujuh tahun,” katkau yang mengangkat pundakku,


“Bukankah itu artinya, kamu lebih lemah dariku, Amelia?”


Amelia tertawa terbahak-bahak. Lantas seluruh kristal merah di ruangan itu pun ebrsinar terang, mengalirkan kekuatan dahsyat kepada sang Dewa. Dengan mudahnya, Dewi itu memanggil lubang hitam di tangannya dan berkata,


“Setelah melihat kekuatan ini, kamu masih ingin menantangku?”


Aku tersenyum kecut dengan keringat dingin bercucuran di dahi, “Aku tidak akan kalah dengan Dewa cengeng yang terjebak di masa lalu!” teriakku memanggil akar-akar kegelapan menyerang sang Amelia.


Dengan mudah Amelia menghancurkan akar-akar kegelapanku, bahkan hingga menjadi debu tak bermakna. Tebruka lebar matanya saat melempar bola kegelapan di tangannya padaku.


Bola hitam dengan ganas itu menghisap segala sesuatu di sekitarnya, termasuk kulit-kulitku dan dagingku. Tetapi saat aku ingin melarikan diri, sebuah dinding tak terlihat menahanku. Dinding itu pun semakin menghimpitku mendekati bola itu, dan di saat yang sama Amelia mengepalkan tangan kanannya, berkata,


“Black Hole Bomb!”


BUM!!! Srriinggg!!!


Sinar terang menyilaukan mata. Hanya dalam satu detik, ledakan besar terjebak dalam ruang hampa di dekat tubuhku.  Lantas cahaya itu pun menghilang, tak menyisakan satu pun debu di sekitarnya dan yang megnerikannya… raungan itu tak hancur oleh kekuatan sedahsyat itu. Amelia dengan mudahnya menguasai ruang dan mengurung ledakan itu hanya mengenai tubuhku.


P-Phew… untung saja, tubuhku ada banyak. Kalau tidak, bisa berabe! Siapa yang bisa kabur dari serangan maut seperti itu?


“Surprise!” teriakku, yang dari belakang menebas pedangku ke leher Amelia. Tetapi bukannya melukainya, pedangku justru patah dan tak tersisa.


Tertawa canggung aku, “Waduh,” gumamku sebelum Amelia menghancurkan tubuhku lagi tanpa tersisa.


Astaga, bagaimana aku bisa mengalahkan monster sekuat ini?

__ADS_1


__ADS_2