
—17—
Angin sejuk berhembus, menemaniku dan Arthur yang duduk di atap sebuah gudang kosong di Indrayastra. Tenang ombak laut menjadi melodi yang membawa kantuk bagi kapal-kapal besar yang berlabuh di pelabuhan terbesar Pei Jin. Berbeda dengan sibuk dan berisiknya tempat itu di pagi hari, malam merupakan persembunyian yang sempurna bagi kaum yang takut akan sinar matahari.
“A-Anu, Auntie, ke-kenapa kita duduk disini ya?” tanya Arthur yang memeluk dirinya sendiri, berusaha mengusir dinginnya malam.
“Untuk menyaksikan drama yang menarik,” kataku yang pun memberikan laki-laki itu sebuah kapsul obat, “Kalau kamu mau hidup melewati malam ini, minumlah obat ini, Artie.”
Menurut permintaanku Artie pun segera meminum obat itu. Tapi pahit yang luar biasa membuat wajahnya meringis dan pucat pasi. Tertawa diriku melihat tingkah Arthur yang polos, tapi tawa itu cepat sirna saat mataku menangkap sosok familiar yang muncul dari gang sepi.
“Luciel? kenapa dia ada disini?” gumam Arthur.
“Tak semua orang dapat berdagang di Chandrayastra tanpa seijin Ma Dame Fan. Mereka yang opportunis atau kepepet untuk mencari uang akan mencari cara untuk menjual barangnya. Karena itu… sebuah pasar gelap pun lahir di distrik ini. Indrayastra,” kataku yang berpangku dagu melihat Luciel memperhatikan sekitarnya.
“Berbeda dengan Chandrayastra, di distrik ini, kamu bisa mendapatkan apapun yang kamu inginkan hanya dengan uang. Apapun itu. Bahkan, hidup seseorang,” lanjutku.
“Maksud Auntie, Luciel terlibat perdagangan gelap?” tanya Arthur.
Aku menggelengkan kepalaku, “Tidak, jika gadis itu ingin berdagang, ia takkan mengenakan gaun yang kurang lucu itu. Dia ingin menghajar seseorang kayaknya,” kataku yang meminum teh Chrysant hangat dari botol minumku,
“Kebetulan malam ini, Master Towa, salah satu penyihir tinggi Pei Jin, sedang menyelundupkan senjata ke dalam kota. Dia menggunakan rumor tentang Daemon Bulan untuk menyembunyikan influks pendatang baru di Pei Jin sebagai para petualang… padahal mereka adalah pedagang gelap dan prajurit bayaran.”
Arthur terhenyak, “S-Senjata? Hmm… Jika tak salah, Master Towa adalah penyihir yang paling menentang Ma Dame Fan saat menerima pengungsi manusia. Apakah mungkin.. senjata itu ia gunakan untuk mengkudeta Ma Dame Fan?”
Aku tersenyum geli, “Araraa, Artie, kamu punya imajinasi yang liar banget sih. Tidak, tidak, tidak, jangan lupa, siapa pedagang yang mau repot-repot melakukan kudeta yang nihil profit? Jawabannya sederhana, Arthur.
Master Towa menjual senjata itu dengan harga menggiurkan ke kubu yang membutuhkannya sekali. Kira-kira siapa kah mereka?” tanyaku.
Arthur menekuk alisnya bingung, “Siphon dragonica, negara tetangga yang sedang naik daun itu?”
__ADS_1
“Manusia pengungsi di Distrik Tanpa Nama.”
“T-Tidak, tidak mungkin. Mereka takkan berani melakukan itu.”
Aku mengelus kepalaku dan mendengus, “Kamu lupa, di hari pertama aku datang di distrik itu, para manusia itu menyerangku? Jika seekor Daemon biasa diserang di kepala sekeras itu, sudah pasti dia akan mati. Dengan kata lain… kejadian itu memastikan niatan membunuh dalam diri orang-orang di distrik tanpa nama.
Tapi pertanyaan yang terpenting adalah… mengapa?”
Arthur meminum teh chrysant di gelas yang kubawakan darinya dan berpikir keras. Tiba-tiba matanya melihat teh itu dan terkejut, “Demi sumber air bersih.”
Aku mengangguk, “Tepat sekali. Kamu tahu mengapa pohon Yggdrasil memiliki harga yang sangat mahal? Mereka memurnikan air yang diracuni oleh Salju Superadikal. Di era saat semua sumber air menjadi beracun, memiliki air bersih adlah sebuah mukjizat yang diincar banyak orang,” kataku yang kemudian melipat tangan,
“Belum lagi saat sang Daemon Bulan mengeluarkan teori bahwa wabah Nyght disebarkan melalui air yang diminum. Kepanikan itu mendorong orang-orang yang putus asa untuk melakukan apapun demi mendapat air bersih itu.”
Kesimpulan itu kutarik setelah mendengar seseorang membuang Aether dalam jumlah besar di sungai Arisia. Properti senyawa sihir itu mendisrupsi energi sihir dan mengembalikannya ke wujud asalnya, yaitu Mana. Meskipun tidak disengaja, Aether secara teori mampu untuk menjernihkan air dalam jumlah terbatas… Dengan efek samping tentu saja. Orang yang meminum air Aether tidak dapat menggunakan sihir.
Itulah mengapa, tak masuk akal bagiku, kumpulan manusia yang sangat pandai sihir… menyerangku tanpa sedikit pun sihir.
Tapi aku hanya mengangkat pundakku, “Untuk apa? Artie jangan lupa, aku pun seorang pedagang. Aku tidak melihat satu pun profit yang bisa kudapatkan dari kegiatan merepotkan itu,” jawabku dingin.
“Aaargggh, aku paling tidak mengerti kalian orang-orang Pei Jin,” kata Arthur menggaruk-garuk kepalanya frustasi, “Tapi tunggu dulu, kalau begitu, kenapa Luciel datang kemari?”
“Hmm, sepertinya, gadis itu berhasil melacak Aether yang ia jual dan mendengar rencana busuk Master Towa. Dengan lugunya, dia berusaha menghentikan rencana itu sendirian demi melindungi seseorang yang entah siapa itu,” kataku agak sedikit cemburu,
“Bodoh sekali.”
“Astaga, Auntie—!” kata Arthur yang tak sabar ingin membantu Luciel, tapi kutarik tangannya dan berkata,
“Belum, belum. Artie, kamu tak tahu kenapa Sang Pahlawan selalu datang terlambat? Karena semakin tersudut seseorang, harga sebuah bantuan akan semakin tinggi. Pertolongan biasa dapat menjadi penyelamatan hidup yang menaikkan nilai jual sang Pahlawan.”
__ADS_1
“Aduh, Auntie… Kenapa perhitungan banget sih jadi orang.”
“Araraa, tak percaya aku mendngar kata-kata itu dari seorang Noctis, hihi,” kataku geli.
Apalagi ketika orang yang menciptakan kekacauan ini tidak lain seorang Noctis. Setelah menang dan menghancurkan kerajaan Kinje, negara raksasa di utara, Uni Erites melanjutkan ambisinya dan berusaha melahap negara-negara kecil di sekitarnya. Perang berkepanjangan itu menyebabkan kelangkaan senjata di kota Pei Jin.
Kebetulan keluarga Noctis dahulu dikenal sebagai pembuat senjata yang handal. Dan kebetulan, kepala keluarga Noctis saat ini adalah sosok prajurit bayaran yang sangat terkenal. Tentu senjata yang ia rekomendasikan akan memiliki kredibilitas dan harga yang tinggi.
Hal yang kepala keluarga itu lakukan tinggalah “menyapu bara api ke tumpukan jerami”, lantas meniupkan angin yang cukup. Api besar akan menyeruak dan Keluarga Noctis… seperti biasa akan keluar dari konflik itu dengan kantong yang gendut.
Kamu hebat juga, Adik iparku.
Melihat Arthur tak tahu apa-apa bukanlah hal yang mengejutkan bagiku. Sebab, memang ada janji yang mengikat Mentari dan Jun yang menyebabkan laki-laki itu berusaha mati-matian menyembunyikan kegelapan Keluarga Noctis dari Arthur. Dia berjanji untuk menjaga Arthur tetap bersih.
Tapi, apa yang akan dia lakukan, jika tahu anak yang ia lindungi itu, kini mengetahui kebusukannya?
“Lihat Artie. Bukankah laki-laki itu terlihat familiar?” kataku menunjuk Jun yang melangkah di depan gudang kosong itu bersama para prajurit bayarannya.
“T-Tidak mungkin, A-Ayahanda,” gumam Arthur tak percaya.
Berbeda dengan Jun, aku tidak terikat janji papaun utnuk melindungi Arthur. Dengan senyum licik, aku pun berbisik di telinga laki-laki itu,
“Hey, Arthur, bagaimana jika aku berkata, ayahmulah yang menjadi dalang dibalik semua rencana busuk ini?”
Aku menyukai bunga berwarna putih, tetapi aku paling senang saat melihatnya ternoda oleh warna lain. Merah darah, biru keputusasaan atauapun ungu pengkhianatan. Paduan warna itu akan menghasilkan bunga baru yang memberikanku kejutan kecil di tujuh tahun yang sangat panjang ini.
Tetapi seperti yang kukira dunia ini berbeda dengan dunia lainnya. Kali ini, bukanlah Master Towa yang datang dalam transaksi berbahaya ini. Berdiri di hadapan Jun, ialah sosok berjubah hitam bersama kedua Matrovska yang menyerangku dua malam sebelumnya. Penjelajah dunia itu membuatku penasaran.
Bila dia datang ke dunia ini dan mengganggu takdir yang dituliskan oleh Sang Dewi, bukankah itu artinya sang penjelajah dunia itu memiliki kekuatan yang luar biasa? Apakah mungkin dia mampu mengubah akhir dari dunia ini?
__ADS_1
Dan pun… Luciel, menggantikan posisiku di malam ini, aku bertanya-tanya, apakah kesimpulan yang akan kamu tarik? Apakah epilog yang akan kamu tulis dari pertemuan ini? Apakah kamu dapat menunjukan padaku, kekuatan untuk melindungi yang kamu maksud?
Aku tersenyum meringis, menanti dengan tak sabar kejutan kecil yang akan disuguhkan padaku.