Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Ode to Sorrow (4)


__ADS_3

— 36 —


“U-Uwaah!!” terjatuh aku menubruk atap. Duh, bokongku nyeri sekali! Hah, kenapa aku teledor banget sih hari ini? Rumah ini kan terbalik!


Tapi, bunga-bunga bercahaya menjadi bantalanku. Mereka tersebar di sepanjang dinding Toko Bunga Lentera, berpendar dengan cahaya putih. Rak-rak toko terpajang di atas kepalaku, dengan berbagai tanaman dan kristal warna-warni secara ajaib melekat di raknya. Hmm, kukira rumah dari Malice pertama akan mirip dengan kastil drakula yang menyeramkan… Tapi, perasaan apa ini? Setiap detik aku berada di tempat ini, semakin hatiku merasa tenang.


Aroma dari tanaman herbal meredakan kegelisahanku. kesederhanaan toko itu membawaku dalam nuansa rumah yang nyaman. Meski samar, aku merasa… orang-orang yang pernah tinggal di rumah ini hidup penuh dengan kasih sayang dan kekeluargaan.


Kutepuk pipiku, “Fokus, Chrysant. Nuwa dan Saber dalam bahaya,” kataku.


Tiba-tiba dari meja kasir aku dapat mendengar suara wanita dan anak gadis, tetapi tiada sosok yang dapat kulihat.


"Luciel, anak-anak tugasnya itu cukup bangun, makan, main, merepotkan orang tuanya lalu tidur. Urusan tanggung jawab dan tugas itu, nanti kalau udah dewasa yah,” kata seorang wanita dengan suaranya yang lembut.


“Kata seorang tuan yang meninggalkan homunculusnya selama enam bulan," balas sang gadis mengambek.


“Enak aja ninggalin. Kan tiap hari kamu kuhubungi via telepati. Lagipula, aku kan meninggalkan peri-peri yang membantumu menjalankan toko ini bukan?”


“Hihihi… Kalau begitu, Luciel akan menerima tawaranmu dengan senang hati, Ma Dame-ku!”


“Jangan pulang kesorean ya, hati-hati!”


Setelah itu hening menyergapku. Tertegun diriku mendengarnya suara itu. Sungguh meski percakapan itu terdengar biasa, aku dapat merasakan hangatnya kekeluargaan disana… hingga mengundang senyum di wajahku. Aku pun teringat dahulu aku seringkali dimarahi Seraphina karena setiap sore selalu kabur dan bermain bola, hingga lututku luka-luka atau badanku kotor kena lumpur. Tapi setiap saat, Seraphina selalu mengelus rambutku dengan sabar dan mengobati luka-lukaku.


Nostalgia sekali…. Sekarang pun, Seraphina masih merawatku dengan penuh kasih sayang setiap kali aku pulang dari ekspedisi. Tapi, apa yang telah kuberikan untuk membalas kebaikan Kakak?


… Aku pun teringat saat Seraphina menolak Ignition yang susah-susah kumenangkan untuknya. Kebingungan pun menyergapku. Apa yang sebenarnya dapat kulakukan untuk membuat Kakak senang?


Muncul di depan mataku, sebuah kupu-kupu biru yang menari-nari dengan riang. Dia pun menuntunku masuk lebih dalam lagi ke dalam toko itu dan menemukan sebuah dapur sederhana dengan meja makan dan empat kursi disana. Di atas meja itu, masih ada sepotong martabak yang menempel disana… membeku dalam waktu.


Lagi terdengar suara yang tak nampak di mata,


“Kalau ada hal lain yang bisa kulakukan untukmu, katakan saja, aku siap melakukan apapun untuk Nona Luciel,” kata seorang laki-laki dengan manis.


Heh, manis mulutnya mengingatkanku pada si Pangeran, yang sudah bertunangan tapi masih tega-teganya mendekatiku.


“Sungguh? Kalau begitu… Tinggalah di rumah ini, Master Arthur,” kata sang gadis.


Eh, kebetulan nama mereka sama. Astaga.


Namun gugup seperti tak menyangka jawaban itu, laki-laki itu dengan panik menjawab, “S-Sebelum aku memberi jawaban pasti, b-boleh aku konsul dulu dengan pelayanku?”

__ADS_1


“Nggak boleh, pokoknya Luciel mau jawabannya sekarang.”


Tertawa geli, seorang wanita pun menenangkan gadis itu, “Hush, hush, Luciel, Arthur sudah memiliki rumahnya sendiri. memaksa seseorang untuk meninggalkan rumahnya, bukanlah sesuatu yang baik… kecuali, kalau kalian berdua nikah,” katanya dengan jenaka.


“Itu bukan ide yang buruk. Kalau Luciel menikah dengan Master Arthur… bukankah itu artinya, kita akan menjadi keluarga yang sesungguhnya?”


Hening kembali muncul, bersama pikiranku yang melayang pada sebuah pertanyaan. Keluarga yang sesungguhnya, hmm… Seraphina dana ku tak terikat oleh darah. Kami hanyalah korban rantai takdir yang menyakitkan, untuk saling terikat dalam hubungan saling ketergantungan. Sebagai ganti diriku menjadi sosok adik bagi Seraphina, aku merebut kehidupannya sebagai seorang Penyihir.


Sungguh… dengan dasar hubungan seperti itu, apakah kami berdua dapat disebut keluarga yang sesungguhnya?


Kupu-kupu biru itu pun muncul kembali, kini dia mengantarkanku melewati koridor. Tetapi di sepanjang koridor itu, aku dapat mendengarr sang wanita berteriak,


“Mengapa kamu menjual Aether sebesar ini tanpa sepengetahuanku? Kamu menyembunyikan sesuatu dariku, Luciel? Kamu ingin para Hwarang menangkapku?”


Ketakutan jelas terdengar dari suara sang gadis, “Tidak, A-A-Aku h-hanya—“


Namun sebelum memberikan sang gadis untuk menjelaskan, wanita itu telah memotongnya dengan geraman kesal,


“Hah!… Aku sudah tahu ini akan terjadi. Enam bulan tanpa pengawasanku, tentu, seseorang akan memanfaatkan keluguanmu dan menjebakmu,” gerutunya yang membuka pintu dengan kasar.


“D-Dame, j-jangan pergi, L-Luciel bisa menjelaskannya!”


“Oh ya? Kalau begitu, silahkan.”


“Bagaimana hal itu menjadi alasan valid bagimu melanggar perintahku? Luciel, bahkan setelah tertangkap basah olehku, kamu sama sekali belum mengatakan maaf untukku. Sepertinya… bagimu, aku ini bukan prioritas pertama ya?”


“Tidak, bukan begitu, Luciel hanya ingin…” isak tangis dapat kudengar dari sang gadis. Air mata gadis itu meredamkan kemarahan dari sang wanita, sebab aku dapat mendengarnya mendekati sang gadis dan memeluknya dengan erat.


“… Maaf, aku tak bermaksud menyakitimu,” kata wanita itu sangat menyesal, “Sepanjang hidupku, aku telah dikhianati oleh orang-orang yang kusayangi. Mungkin… kepedihan itu menumpulkan hatiku untuk melihat ketulusanmu.”


“… A-Apakah Dame kecewa denganku?”


“.. Aku tahu kamu memiliki niat yang baik, tapi… Aku juga tak bisa membohongi diriku.”


Tangis semakin pecah dari sang gadis, “M-Maaf, maafkan Luciel… Ma Dame. Kumohon… jangan tinggalkan aku!”


Pun terdengar suara pintu tertutup. Sepertinya… pembicaraan itu tidak berakhir dengan baik. Sesak di hatiku menyiksaku. Bagimana bisa hubungan harmonis yang kudengar sebelumnya, runtuh oleh sebuah kekecewaan? Apakah hubungan bahkan sebuah keluarga pun seringkih itu?


… Apakah mungkin akan datang hari dimana Seraphina pun akan meninggalkanku?


__ADS_1


Tempat apa ini? Mengapa dia sengaja menunjukan picis-picis ingatan yang membuatku mempertanyakan diriku? Aku pun bertanya pada kupu-kupu yang muncul di depan mataku,


“Apa kamu ingin membuatku ragu, Deception?” tanyaku.


Tetapi kupu-kupu itu menjawabku dengan api yang melahap tubuhnya. Lantas aku pun mencium aroma pekat minyak dari obor dan panas yang segera menggeliat di sekujur koridor itu. Magis, kayu-kayu di sekitarku pun menyusun dirinya menjadi bangunan dan jalan kota primitif. Sepanjang aku berjalan, terdengar suara teriakan di kanan-kiriku.


“Gantung dia! Gantung si Penyihir Putih!”


“Gara-gara pengkhianat itu, cecunguk manusia itu membunuh keluargaku. Tak bisa kumaafkan, bahkan kematian pun terlalu baik untuknya!”


Aku pun sampai pada sebuah tiang gantung yang berdiri di tengah kota. Diam membeku dalam waktu, tiang gantung itu seperti saksi akan kebiadaban yang terjadi di kota itu. Teriakan dan sorakan terdingar memekakkan telingaku, saat seorang hakim membacakan keputusan di depan khalayak,


“Kami Dewan Penyihir Tinggi Pei Jin dengan ini menyatakan, Clair sang Penyihir Putih, terbukti bersalah dalam membocorkan informasi penting Pei Jin pada manusia pemberontak. Untuk kejahatannya yang busuk itu, kami memvonisnya denga hukuman mati dengan digantung!”


Sorakan pun semakin riuh mendengar vonis itu. Tetapi… Setelah beberapa saat, tiba-tiba gempa pun terasa di bawah kakiku, bersama ledakan hebat di berbagai sudut kota. Kepanikanku pecah, dan seseorang berteriak,


“Monster! Penyihir itu telah mengutuk kita!”


Dari tanah muncul akar-akar kegelapan yang mencuat dan menhancurkan kota dengan ganas. Tanah pun terpecah belah, terangkat ke angkasa oleh dahsyatnya akar-akar pohon itu. Gesit, aku melompati satu tanah demi tanah menuju puncak pohon raksasa yang tumbuh menjulang di langit.


Tetapi yang menyambutku disana, ialah sosok gadis berambut hitam yang menikam seorang wanita berambut putih panjang. Pedang merah di tangannya mengucurkand arah yang membasahi puncak pohon itu, sederas air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.


“Mengapa… Ma Dame? Kemana… perginya Ma Dame baik hati, yang selama ini kukagumi. Kenapa… kamu berubah menjadi monster yang menghancurkan dunia ini?” tanya gadis itu yang terisak-isak, “Padahal dengan Mystelteine, Ma Dame dapat menghentikan jantungku… Kenapa… kamu membuatku membunuh orang yang paling kusayangi di dunia ini?”


“… Jadi… orang yang ingin kamu lindungi… ternyata aku ya? Arara… Ma Dame-mu ini terlalu bodoh sekali untuk menyadarinya.”


Wanita berambut putih itu menancapkan pedang putihnya dan pun memeluk gadis itu dengan erat. Bersama dengan itu langit gelap pun runtuh dan cahaya mentari perlahan menyinari tanah yang penuh kegelapan itu. Langit biru pun terbit membawa masa depan baru yang asing bagi semua mata yang selamat.


“Sihir adalah racun dunia… Selama ada sihir dan Ideal White, dunia ini cepat atau lambat, dunia ini… akan mengalami kehancuran,” kata wanita itu yang mengelus rambut sang gadis yang terbenam di dadanya, sembari matanya menatap langit biru, “Tapi… lihatlah. Setidaknya… Meski masa depan dunia ini suram, kita masih dapat melihat langit biru….


Demi cahaya harapan baru inilah, aku melakukannya. Agar kamu… dapat hidup penuh harapa... Putriku, Luciel Diamanda… ”


Tubuh wanita berambut putih itu pun perlahan terurai menjadi kupu-kupu kegelapan yang bersatu dengan pohon cahaya, meninggalkan gadis kecil itu sendirian dalam tangisnya. Sang gadis pun melihat ke langit dan pun berteriak melampiaskan emosinya.


“Luciel tidak butuh cahaya harapan itu, Luciel.. hanya ingin Mama ada bersamaku! Kenapa Mama tidak pernah mengerti?” kata sang Gadis yang menjambak rambutnya dengan geram,


“Akan kuhancurkan… dengan tangan ini… Racun yang merenggutmu dariku. Ideal White!”


Retakan muncul dalam pohon cahaya itu, meruntuhkan tapakan kakiku dan menjatuhkanku dalam kegelapan yang kelam. Kupu-kupu api itu pun muncul di hadapanku, perlahan berubah wujud menjadi sesosok perempuan berambut coklat sebahu yang mengambil tanganku.


“Sekarang... tunjukan padaku, jawabanmu saat bertemu dengan kebenaran, Chrysant."

__ADS_1


Character Design



__ADS_2