Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Time Dysplasia (End)


__ADS_3

— 13 —


Kalau misiku adalah menyelamatkan tim ekspedisi Nadja, aku akan senang hati pergi bersama Dagger dari neraka ini. Apalagi saat ada dua Malice tipe S bersarang di tempat ini. Tapi, William menulisnya dengan jelas. Misiku adalah merebut Quartz Bulan dari White Order.


Tapi, bagaimana aku bisa membiarkan mereka?


Puing-puing gedung pencakar langit, telah disulap menjadi rumah sakit darurat seadanya. Di depan mataku, terbaring belasan anggota tim ekspedisi yang terluka parah. Bau nanah yang busuk menusuk hidungku, keluar dari kertas sisa yang digunakan sebagai pembungkus luka. Kurus semua anggota ekspedisi itu, mengenaskan hingga ke tulang belulang.


“Persediaan ration kami hampir habis. Untungnya ada beberapa pemburu elemen air yang ikut dalam ekspedisi ini. Namun, setelah dua bulan minum air sihir, banyak orang yang menunjukan gejala kekuarangan mineral,” jelas Dagger yang pun tampak kelelahan dan kurus, berbeda dari gadis cantik jelita yang kuingat dulu.


“Enam bulan? Bukankah ekspedisi ini baru diluncurkan sebulan yang lalu?” tanyaku.


Dagger pun mengantarku ke jendela yang menghadap langit. Dia pun menunjuk pada bulan merah yang bersinar di langit. Bagaikan mata iblis, Bulan itu bergerak kesana kemari seolah mata seorang predator mencari mangsanya.


“Aku pun kurang mengerti, tapi bulan itu adalah sihir yang merusak alur waktu. Seperti sungai yang tak beraturan, Chrysant dapat menemukan spot dimana waktu berjalan lebih lama… dan temapt dimana waktu berjalan lebih cepat. Hal itu… membuat kami kehilangan persepsi waktu,” kata Dagger yang tangannya yang penuh perban.


Mataku pun menangkap seekor Malice di jalanan kota, merangkak dengan kaki laba-labanya, mengangkat kepalanya yang besar. Dua sobekan pulutnya pun terbuka, menjuntaikan dua pasang lidah yang meraba-raba tanah mencari jalan. Meringis ngeri diriku melihat Malice itu. Tak pernah aku melihat makhluk menjijikan seperti itu.


“Jadi itu Malice tipe S yang diciptakan White Order?” kataku.


Dagger mengangguk, “Berkali-kali kami mencoba melarikan diri dari tempat ini. Tapi, Sang Predator dengan mudah menghalangi kami. Bila.. tak ada sihir pelindung yang didirikan Pathfinder Nadja di gedung ini, tentu Malice itu akan menyerang tempat ini,” katanya.


Hmm, setleah melawan Khanza, aku paham betapa kuatnya Malice tipe S. Satu Pathfinder tidak cukup untuk melawan monster itu, apalagi kumpulan Ruinminer dan Chronicler dengan pengalaman bertarung yang minim. Tak hanya itu, tim ekspedisi ini juga penuh dengan rakyat sipil, para peneliti yang tak dapat bergerak dengan cepat.


Tiba-tiba Dagger menyandarkan kepalanya di bahuku, “Tapi… Kalau Chrysant datang… semua akan baik-baik saja kan?”


Tak kuasa Chrysant menjawab tidak dan menghancurkan harapan Dagger. Sehingga aku pun mengelus rambut Dagger dengan pelan dan membisikkan kebohongan,


“Yup, semua akan baik-baik saja, Dagger.”


… Tunggu.

__ADS_1


Kupicingkan mataku melihat Khanza duduk di atas sebuah gedung yang jauh. Dia tampak tersenyum dan melambaikan tangannya padaku… lantas memintaku menemuinya. A-Astaga, Malice itu gila ya. Bagaimana bisa dia dengan cepat melacakku?


Tapi… bila aku tak menurutinya, apa yang akan dia perbuat dengan tim ekspedisi ini? Meski ketakutan setengah mati, akhirnya aku pun diam-diam pergi menemui Khanza.


“Yo, Chrysant. Sehat?” tanya Khanza yang melepas topeng tengkoraknya dan tersenyum.


Aku hanya menatap merah matanya yang sama seperti bulan di langit.. Dari penampilan luarnya, Khanza memiliki segalanya. Tubuh tinggi langsing seperti model, senyuman yang mampu memerangkap hati dalam satu serangan dan pula sorot mata yang penuh misteri. Dia… seperti diriku jika sudah besar nanti. Tapi dibalik semua itu, Khanza adalah monster yang mengerikan. The Reaper, Malice yang hampir memusnahkan umat manusia kini berdiri dihadapanku dengan santainya.


“Kamu pasti bertanya-tanya, kenapa The Reaper yang ditakuti, ternyata adalah wanita yang sangat cantik dan mempesona?” tanya Khanza yang mendekatiku dan mengulurkan tangannya,


“Tentu saja, alasannya jelas bukan? Khanza dulunya seorang Manusia.”


…! Segera Chrysant melompat mundur dan bersiap mencabut belatiku.


“Omong kosong!”


Khanza menutup mulutnya dan tertawa geli, “Aku kria kamu bercanda, tapi ternyata Chrysant beneran kehilangan ingatannya ya?” katanya yang tiba-tiba melesat di belakangku. Dengan tangannya yang kuat, Khanza mencengkram pundakku dan berbisik di telingaku,


Kucabut belatiku dan menebas Khanza, tetapi dengan lincah nan anggun Malice itu menghindarinya.


“…perjanjian kita kamu tidak akan menyentuh anak-anak itu!” tudingku.


“Perjanjian kita hanya berlaku di hari itu, bodoh. Yah, aku pun bingung alasanmu melindungi anak-anak Malice itu. Kamu hanya memperpanjang penderitaan mereka sehari, Chrysant.


Padahal mereka akan segera mati, meski tanpa campur tanganku sekalipun. Daripada hidup sia-sia seperti itu, lebih baik kumakan saja jantung mereka agar menjadi kekuatanku bukan?” kata Khanza menjilat tangannya yang masih merah oleh darah,


“Aah… Kreatif juga manusia-manusia itu, uhh, White Order namanya? Menyediakan essensi mana yang begitu besar demi Malice cacat yang mereka ciptakan. Seratus boneka itu saja berhasil memulihkan sebagian kecil kekuatanku,” lanjutnya.


Khanza menepuk tangannya keras dan tersenyum, “Cukup. Aku memanggilmu kemari bukan untuk mengajakmu berkelahi,” katanya yang menunjuk ke arah gedung tempat Dagger dan tim ekspedisinya bersembunyi,


“Chrysant ingin anak-anak itu selamat bukan? Bagaimana jika kita bekerja sama sekali ini?”

__ADS_1


“… Kerja sama? Sulit bagi Chrysant membayangkan Malice kuat sepertimu membutuhkan bantuanku,” kataku ketus.


Khanza tertawa kecil dan mengangkat pundaknya, “Yah, mau gimana lagi. Khanza baru terbangun di masa ini, kekuatanku belum sempurna. Bila harus mengurus Emilia dan anak-anaknya, seorang yang kuat seperti Khanza pun akan kerepotan sekarang,” lanjutnya yang menunjuk Malice kepala yang sedang berpatroli di jalan,


“Predator, mereka menyebutnya bukan? Aku ingin Chrysant menghabisi Malice cacat itu selagi Khanza menghabisi Emillia. Sebagai gantinya, Khanza akan melepas Chrysant dan tim ekspedisi kembali ke Alexandria. Gimana, tawaran yang menarik bukan?”


“Bagaimana aku bisa memastikan kamu tidak akan melanggar janjimu lagi?”


“Khanza selalu menepati janjinya. Bila aku suka melanggar janji, harusnya hari itu aku memakanmu meskipun kamu menang, bukan?”


Kuhela nafasku, sepertinya aku tak punya pilihan lain. Kukepalkan tanganku, membenci diriku yang begitu lemah hingga harus berharap pada bantuan Malice busuk di depanku.


“Satu, siapakah Emilia yang kamu maksud? Dua, mengapa kamu yakin aku dapat mengalahkan Predator, padahal aku sendiri sudah kerepotan melawanmu? Tiga, apa rencanamu sesungguhnya, Khanza?” tanyaku yang menunjukan tiga jari pada Malice itu, “Kalau kamu tidak bisa menjawab tiga pertanyaan Chrysant ini, lupakan saja pembicaraan ini.”


Khanza menepuk tangannya, “Waaah, hamster imut berusaha bernegosiasi dengan singa pemangsa? Baiklah, aku akan menjawabnya,” kata Malice itu yang melipat tangannya,


“Bolehkan Khanza menjawab pertanyaan keduamu dulu. Heh, pertanyaan yang bodoh. Bila kamu tak percaya akan kekuatanmu, siapa lagi yang akan percaya, Chrysant?” lanjut Khanza.


Khanza pun memanggil sebuah bidak ratu hitam di tangannya, hancur dan tak sempurna bidak itu, kehilangan sebagian badan dan kepalanya.


Malice itu pun melempar-lempar bidak itu seperti mainan, “Emilia memiliki bagian Chalice of Impurity yang kucari. Dia adalah Malice tipe S bernama Endless. kekuatannya yang unik memungkinkan—hmm, akan lebih menarik jika Chrysant melihatnya sendiri,” kata Khanza yang kemudian menangkap erat bidak itu,


“Dan tentang tujuanku, heh. Apalagi selain menghancurkan dunia sialan ini?” kata Khanza dengan niatan membunuh yang sangat pekat bercampur dengan amrah yang meluap-luap,


“Apakah jawaban itu memuaskan Chrysant?” tanya Khanza.


Kukepalkan tanganku, menahan rasa takut yang menghujam dadaku. Sudah kukira… Khanza sangat berbahaya bagi dunia! Tapi, bila perkataannya benar, tidak mungkin aku bisa mengalahkan dua Malice tipe S di kota ini… apalagi jika Khanza juga menghalangiku. Demi menyelamatkan Dagger dan tim ekspedisi itu dari kota ini, aku tak punya pilihan lain.


“Baiklah. Tapi ingat ini Khanza,” kataku yang mengacungkan tinjuku pada Malice itu, “Suatu hari, aku pasti akan menghentikanmu! Kamu ada masalah?”


Khanza tersenyum tipis dan menjawab, “Tidak, tidak sama sekali, Chrysanthemum. Aku akan menantikan hari itu."

__ADS_1


__ADS_2