
— 17 —
Berpegangan tangan dengan Dagger, kami mengikuti Khanza dengan was-was. Semakin dekat dengan lubang kegelapan itu, semkain jelas telinga kami mendegar isak tangis penyesalan di dalamnya.
“Ampuni kami… Ampuni kami… ampuni kami…”
Mendengarnya mengiris hatiku, apalagi setelah melihat bahwa asal suara itu adalah ratusan sosok kegelapan yang bersembah sujud mengelilingi cahaya merah yang sangat terang. Dari lubang mata mereka yang hitam, mengalir darah yang masuk ke dalam pipa-pipa rumit disepanjang ruangan itu… menuju sang Kristal merah.
“C-Chrysant… Siapa orang itu?” tanya Dagger ketakutan.
Waduh, aku harus jawab apa? Kalau aku bilang di depan matanya adalah The Reaper, bisa-bisa Dagger jantungan dan pingsan seketika. Tapi, khanza sepertinya tidak punya niatan untuk melukai Dagger dan diriku. Hmm..
Aku pun memilih untuk berbohong, “D-Dia hanya seorang Penyihir yang sangat kuat,” bisikku.
“Penyihir…? White Order?” tanya Dagger bingung.
Aku mengangguk, “Intinya… dia berbahaya. Kamu jangan jauh-jauh dariku, oke?” bisikku.
Berhenti di mulut lubang itu, Khanza memanggil es hitam yang memaksa lubang itu terbuka. Terkejut diriku, bagai daging yang tumbuh, dinding itu menyembuhkan dirinya sendiri. Seolah-olah dia merupakan satu bagian makhluk yang sangat besar.
“Pernahkah kalian terpikir, mengapa Malice ada?” tanya Khanza tiba-tiba.
Chrysant pun menjawab, “Selama ada keinginan gelap dalam diri manusia,Underworld akan memakan keinginan itu dan melahir kan Malice… Setidaknya, itu kata-kata Black Company. Tapi, aku tak pernah melihat proses kelahiran Malice dengan mataku sendiri.”
Khanza mendengus geli, “Jawaban seorang murid teladan. Kalau begitu, Chrysant dan.. uhhh, Dagger? Bisakah kalian menjelaskan fenomena di depan?” katanya yang menunjuk kristal merah itu.
Penasaran, aku dan Dagger pun menggunakan google kami dan mendekatkan penglihatan kami ke kristal itu. Terkejut aku, sinar merah itu.. ternyata hanyalah kabut asap saja. Dibalik merahnya, ialah kumpulan daging yang berdetak dan menghisap darah dengan ganas. Dan dari daging itu, perlahan muncul tangan dan kaki kecil yang merayap keluar…. melahirkan kepala kegelapan dengan taring-taring tajam dan mata yang merah melotot.
Perlahan sosok kegelapan kecil itu berkembang menjadi berbagai bentuk. Mulai dari seekor babirusa hingga raksasa berjalan menuju koyakan dimensi yang menanti di depan Sinar merah itu. Bahkan… monster kepala menjijikan itu, Predator. Tubuh mereka pun terhisap olehnya dan menghilang… Proses itu pun terulang berkali-kali tanpa akhir.
“Judgement… Kirby… Oath…. Predator… Itu semua kan Malice?” gumamku tak percaya, “Kalau begitu, apakah kristal merah itu adalah amalgasi dari keinginan gelap manusia yang melahirkan para Malice?”
“Bukan..”
Dagger menggelengkan kepalanya, dia pun melepaskan pegangan tangannya dariku dan mendekati lubang itu,
“… Sinar merah itu adalah Magicite Reactor. Alat yang dahulu digunakan peradaban yang lalu untuk menciptakan energi tiada batas. Sekarang… aku mengerti. Apa maksud dari energi tanpa batas itu. Dahulu, mereka membiakkan Malice dan memanen Magicte mereka tanpa batas,” katanya yang membuka sebuah blueprint di tangannya dan mencocokkan kristal merah itu dengannya,
__ADS_1
“Tapi… aku tak mengerti. Bagaimana mereka mengaktifkan alat itu?” lanjut Dagger melipat angan dan berpikir keras.
“Quartz Bulan,” gumamku yang merasakan energi yang luar biasa dari sinar merah itu.
Aku… tidak tahu mengapa instingku mengatakan benda itu adalah yang kucari. Kunci dari misiku. Tapi, sinar merah itu seolah memanggilku. Jantungku berdegup seirama dengan berpendarnya sinar merah itu. Bahkan.. kalung yang Kak Seraphina berikan padaku juga ikut panas, beresonansi dengan energi sihir yang besar itu.
Dagger mengerutkan alisnya, “Tapi sebesar apapun energi dari Quartz Bulan, dia pun ada batasnya. Tidak masuk akal untuk alat pembiak Malice, jika peradaban yang lalu bisa saja langsung menyerap kekuatan Quartz Bulan,” katanya yang mengetuk-ketuk keningnya, “Pasti… ada sesuatu disini. Kunci… yang tersembunyi dibalik Magicite reactor.”
Khanza mengacak pinggangnya “Hahaha, para Professor-ku yang genius, bisakah kamu mengaitkan tabung-tabung di belakangmu dan mengambil hipotesis?” tanya sang Malice.
Aku mengacak pinggang heran, “Jangan bilang mereka menciptakan pabrik kloning untuk menyuplai nutrisi bagi Quartz Bulan? Seperti di film-film sci-fi gitu?” candaku skeptis.
Khanza menepuk tangannya dan tertawa mengejek, “Hipotesis yang menarik! Hmm, bagaimana ya aku bilangnya? Jawabanmu seperti mengatakan biskuit dan kue itu sama. Hampir benar, tapi juga salah banget, hahaha.”
Kupicingkan mataku sebal, “Sialan, trus emamgnya yang bener apa?” gerutuku.
Khanza mengelus dagunya, “Mereka bukan meng-kloning seseorang melainkan menciptakan orang yang mampu menampung kekuatan Quartz Bulan dan memperbaharuinya. Mereka menyebutnya Chalice of Impurity,” kata Malice itu yang mengangkat pundaknya dan melanjutkan, “Toh, apalagi calon ideal sebuah cawan selain organisme yang mampu memperbaharui diri dan mudah dikendalikan selain manusia?”
“Apa?!” teriak aku dan Dagger bersamaan.
Khanza tertawa geli, “Duh, kalian berdua polos sekali sih sampe gemesin? Tujuan hidup adalah kekuatan terbesar yang mendorong manusia. Tapi, kekuatan itu juga adalah kelemahan mereka,” kata Malice itu yang melangkah disekitar tabung-tabung yang pecah itu,
Dengan kata lain, mereka yang punya alasan mampu melewati segala cobaan.”
Khanza pun menyentuh salah satu tabung itu, “Mereka menjerat dan memperdaya banyak sekali orang tak bersalah, lantas menyuntik mereka dengan DNA asing yang merampas kemanusiaan dan ingatan mereka.
Pada akhirnya, sebagian besar dari mati tanpa dapat mewujudkan tujuan mereka… atau menjadi monster yang justru melukai orang-orang yang mereka sayangi.”
“Maksud Khanza, sinar merah itu… dulunya… seorang manusia?” tanyaku ragu.
Khanza mengangguk, “Yup, gadis malang itu bernama Emilia Fairchild. Dia adalah gadis baik hati yang selalu ingin menolong orang lain meskipun mengorbankan dirinya. Diperdaya oleh kumpulan penyihir sesat bernama White Order… kini gadis itu justru menjadi Chalice of Impurity yang paling berbahaya,” kata Malice itu memandang sinar merah itu dengan pedih,
“Tubuhnya hancur termakan oleh sel-sel kanker yang menyebar dengan ganas dan tak terkontrol. Sel-sel itu pun lepas dari tubuhnya dan menginfeksi segala makhluk hidup di sekitarnya, menggerogoti tubuh mereka… dan mengubahnya menjadi Malice malang yang selamanya memohon ampun.
Inilah wujud asli dari The Endless… satu dari tujuh Malice tipe S yang ditakuti dunia.”
“Bagaimana kamu bisa mengetahui semua ini, Lady Khanza?” tanya Dagger penasaran.
__ADS_1
O-Oh, tidak-tidak, tidak. Aku segera melotot dan memberi kode bagi Khanza untuk tutup mulut, tapi Malice itu tersenyum licik. Dengan bangga dia menepuk dadanya dan berkata,
“Karena aku adalah the Reaper!”
Dagger menghela nafasnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya, “Mustahil. Mana mungkin lady baik hati dan bijaksana sepertimu adalah The Reaper yang bengis dan tak kenal ampun itu?”
“E-Eh? A-Ah, u-uh, a-aku seriusan loh. Lihat, mana ada manusia yang punya tangan dan kaki seperti ini?” kata Khanza.
Dagger menekuk lehernya, “Ekstrimitas artifisial bukan hal aneh di jaman sekarang, Lady.”
“T-Tapi, kekuatan sihirku yang besar dan tidak abnormal itu—“
“Chrysant juga punya kekuatan sebesar itu.”
“Topeng tengkorak mengerikan ini—“
“Lady Khanza cuma punya selera yang unik.”
“Kamu tak sadar, wajahku kan mirip banget dengan Chrysant?”
“Kita sedang di dunia dengan distorsi waktu, wajar kalau bertemu dengan seseorang yang mirip dengan kita dari lini waktu lainnya, bukan?”
“U-Uh… b-bener juga ya,” kata Khanza terhenyak.
Ingin aku tertawa melihat Khanza kalah debat dengan Dagger. Untuk pertama kalinya, aku bersyukur dengan sifat keras kepala sahabatku itu. Kalau dia panik, bisa-bisa Khanza yang tak sabaran akan menyerang kami.
Dagger pun mengangguk dengan antusias dan mengacak pinggangnya senang, “Intinya, di mataku, Lady Khanza adalah seorang manusia.”
Khanza terdiam sejenak. Sebuah senyuman tipis muncul di bibirnya, saat matanya—untuk pertama kali, menatap lembut orang lain. Ekspresi wajahnya saat itu, hampir membuatku tak mengenal Khanza. Dia… sungguh tampak berbeda dari sneyum sinis dan air muka gilanya saat bertarung denganku.
Saat ini dia mirip sekali dengan … Kak Seraphina.
“Kini aku mengerti kenapa Chrysanthemum bisa sangat ekspresif seperti itu,” kata Khanza yang pun menutup kembali dinding itu dan menyegelnya dengan kristal Kaszhania Algorithm.
Tapi saat Khanza menyentuh dinding yang sempurna itu, dia pun berkata, “Kebaikan harus dibalas kebaikan, hmm. Oke. Aku sudah memutuskan.”
“H-He? Memutuskan… apa?” tanyaku yang was-was dan memegang gagang belatiku.
__ADS_1
Perlahan tubuh Khanza terurai menjadi kupu-kupu merah yang cantik. Dia pun menatapku dengan serius dan berkata,
“... Saat kamu akan memilih untuk melindungi orang yang kamu sayangi atau menyelamatkan dunia ini… Chrysant, kamu takkan menyesal bila memilih kata hatimu.”