
—16—
Ada yang mencurigakan di Toko Bunga Lentera.
Tiap langkah kakiku terasa seperti meninjaki ladang berduri. Tiap hirup nafasku seolah menghisap abu api yang menyesakkan. Pandangan mataku menyempit tak mempedulikan apapun.
Aku, pemilik Bunga Lentera, tidak tahu apa-apa tentangnya.
Padahal tiap bulan Luciel memberikan laporan padaku. Dengan ingatan fotografikku, aku mengingat setiap detilnya. Tapi, aku sama sekali tak melihat adanya transaksi Aether dalam jumlah besar. Dan juga, tak ada laporan tentang pencurian Aether di gudang.
Ada yang Luciel sembunyikan dariku.
Bara api yang kukira telah padam kini bekobar kembali di hatiku. Panasnya mengalir ke seluruh tubuhku saat kukepalkan kedua tanganku. Hematku berusaha menekan api itu dengan argumen-argumen yang tak berarti. Luciel bisa melakukan kesalahan, mungkin saja dia lupa melaporkannya.
Tapi… kegelapan dalam hatiku menolaknya mentah-mentah, melahapku dengan ombak kekecewaan yang menyakitkan.
Aku pun berhenti di depan tokoku dan melihat Luciel dengan ramahnya sedang melayani pelangganku. Mata biru gadis itu pun menangkapku di luar dan dengan manis ia tersenyum menyapaku. Tapi apa yang dia sembunyikan dibalik senyuman itu?
Kulengkungkan senyumku membohongi perasaan hatiku. Benar, semua hanyalah kepalsuan. Janji manis semua hanyalah omong kosong belaka. Cinta hanya berujung pada pengkhianatan. Hubungan hanyalah ikatan takdir yang fana. Pada akhirnya, jalan ini harus kulalui meskipun seluruh dunia adalah musuhku. Baik di dunia ini maupun 10 juta dunia lainnya, aku akan selalu sendiri.
… Tapi aku berharap, kali ini meskipun hanya seperjuta kemungkinan sekalipun, aku dapat melihat epilog yang berbeda dari cerita yang digariskan untukku.
“Dame Clair darimana aja? Udah siang nih, pasti Dame lapar kan? Luciel sudah menyiapkan makanan untukmu,” kata Luciel yang membuka pintu dan menyapaku.
Tak kugubris perkataan Homunculus itu dan langsung menyerbu ke kantorku. Kuhamburkan dokumen-dokumen disana dan secara membabi buta mencari-cari faktur dan nota disana. Hati kecilku berharap ini hanya aku saja yang paranoid. Tapi… tak sampai semenit mencari aku menemukannya.
Nota dengan aroma tubuh sang pengelana dunia itu.
“Dame kenapa?” tanya Luciel khawatir.
Aku menghantam nota itu di atas meja dan melirik tajam gadis itu, “Mengapa kamu menjual Aether sebesar ini tanpa sepengetahuanku?”
Terhenyak Luciel yang melangkah mundur, gemetar tangannya saat mencoba menjawab, “A-A-Aku h-hanya—“
“… Tidak perlu takut, Luciel. Aku sudah tahu ini akan terjadi. Enam bulan tanpa pengawasanku, tentu, seseorang akan memanfaatkan keluguanmu dan menjebakmu,” kataku yang menghela nafasku panjang,
“Sejak awal, aku nggak berekspektasi kamu akan setia padaku, Luciel,” lanjutku yang pun pergi meninggalkan kantor itu.
Tetapi tiba-tiba Luciel mengambil tanganku, “D-Dame, j-jangan pergi, L-Luciel bisa menjelaskannya.”
__ADS_1
“Oh ya? Kalau begitu, silahkan,” kataku yang menarik tanganku dengan paksa. Kulipat kedua tanganku dan menatap gadis yang hampir menangis itu dengan tatapan curiga. Tentu dia tak berharap air mata buaya dapat menutupi kesalahannya kan?
Luciel memegang jantungnya dan menghirup nafas dalam. Dengan kepastian di matanya, dia pun menjawab,
“Ma Dame masih ingat tentang tujuanku hidup di dunia ini? Semuai ni kulakukan… demi menjadi seseorang yang mampu melindungi orang yang berarti di hidup Luciel.”
Aku mengelus daguku dan berpikir, siapa orang yang dimaksud Luciel? Apakah kekasihnya? Ataukah teman yang ia temui selama enam bulan berada di luar pengawasanku? Apapun itu, jawabannya sama sekali tidak mengubah apapun.
Aku pun menantang gadis itu, “Bagaimana hal itu menjadi alasan valid bagimu melanggar perintahku? Luciel, bahkan setelah tertangkap basah olehku, kamu sama sekali belum mengatakan maaf untukku. Sepertinya… bagimu, aku ini bukan prioritas pertama ya?” tanyaku.
“A-Apakah Dame kecewa denganku?” tanya Luciel.
Dari balik pintu aku dapat mencium aroma tubuh Arthur, mendadak berhenti tak enak masuk. Tak ingin anak itu terseret dalam masalahku, aku pun menghela nafasku panjang dan membalikkan badanku.
“Kecewa adalah perasaan saat kepercayaanmu dikhianati oleh realita. Jika kepercayaan itu tak pernah ada, bagaimana aku bisa kecewa?” jawabku yang mengambil topi penyihirku yang tercangkleng di tiang jaket di kantor.
Mengetatkan topi itu, aku pun memberi pesan terakhirku pada gadis yang menunduk dengan tangan dikepal itu,
“Tunjukan padaku, Luciel. Kekuatan untuk melindungi yang tujuan hidupmu itu.”
— + —
Kumpulan ikan yang lapar mendekatiku ketika tanganku menawarkan remah roti kepada mereka. Berjongkok melihat rotiku habis dalam sekejap, aku menghirup aroma musim gugur di sekitarku. Daun-daun kemerahan berguguran di tepi tambak tempatku berada, ditiup angin bersama suara samar-samar anak-anak yang sedang bermain bola. Di tepian pagar besi yang memisahkan jalan dan danau buatan itu, Daemon maupun manusia menghabiskan sore mereka dengan memancing disana.
“Kata-kata Auntie terlalu kejam bagi Luciel,” kata Arthur di belakangku.
“Ara, sungguh?” kataku yang menyuapi mulut ikan disana dengan remahan roti, “Apa yang membuatmu bisa berkata demikian, Artie?” tanyaku.
Arthur duduk disampingku dan menghela nafasnya, “Meski baru dua hari bekerja di Toko Bunga Lentera, aku dapat melihat jelas betapa Luciel bersungguh-sungguh menjalankan tugasnya disana… Sementara Auntie hilang entah kemana,” kata bocah itu yang ikut-ikutan memberi makan ikan bersamaku,
“Menurutku… menuding kesetiaan Homunculus itu, setelah semua ketulusan yang ia berikan pada Auntie, adalah hal yang sangat tidak adil.”
Aku tersenyum, “Bila kamu diposisiku, bagaimana kamu mendefinisikan kata adil itu, Artie?” tanyaku.
“Entahlah, aku tak dapat mengertimu. Di mataku, Auntie adalah sosok yang penuh kasih sayang, tapi entah mengapa… cara Auntie menyampaikan kasih sayang itu bikin pusing kepala,” kata Arthur yang menatap cahaya pohon Yggdrasil dari kejauhan,
“Seolah Auntie takut mengungkapkan kasih itu dengan tulus.”
Tertawa diriku, duh, anak-anak dan imajinasinya yang liar. Kasih? Dalm diriku? Hahaha. Bagaimana iblis sepertiku dapat memiliki konsep yang bahkan tak dimengerti manusia itu?
__ADS_1
“Aku tak mengerti apapun yang kamu ucapkan, Artie. Aku adalah wanita jahat yang meninggalkanmu, yang masih polos dan lugu, di sarang para serigala,” kataku yang pun menyangga tubuhku dan bersantai mendengar ombak tenang tambak itu,
“Kasih tidak menyakiti tapi menumbuhkan seseorang menjadi lebih baik. Tapi yang kuketahui hanyalah cara menyakiti dan menghancurkan orang lain,” lanjutku.
“… Auntie kira, aku tidak tahu bahwa seminggu setelah ‘menghilang’, Auntie yang membantai habis kawanan serigala itu?”
“Ara, sejak kapan kamu pandai berteori konspirasi?” kataku yang tertawa kecil.
“Tanpa buku sihir dan Quartz Megistus yang Auntie tinggalkan, bagaimana bisa aku menyusun Lumina untuk melndungiku selama ini?” tembak Arthur lagi.
“Kamu yakin itu bukan Ibumu?” tanyaku balik.
“Ibu terlalu sibuk menolong orang lain untuk peduli dengan anak dari wanita yang menghancurkan hidupnya,” kata Arthur.
Darimana dia tahu? Haaah… Jun, kamu sudah berjanji padaku. Dasar, laki-laki tak pernah bisa dipegang ucapannya.
Aku pun mendengus, “Iya, iya, aku memang tidak adil pada Luciel. Aku tahu bahwa gadis cerdas itu akan curiga pada sosok yang ingin membeli Aether sejumlah besar seperti itu. Karenanya, dia berpura-pura menjual senyawa sihir itu dan mengawasi gerak-gerik dari sosok bernama Quina itu,” kataku yang mengambil dari topi penyihirku dan mengambil beberapa serbuk Aether disana dan menebarkannya di langit,
“Setiap senyawa sihir memiliki jejak yang khas. Bagi seorang penyihir yang ahli di bidang alkimia, mereka mampu melacak jejak khas itu dengan mudah. Kemungkinan, Luciel menggunakan fakta ini untuk melacak keberadaan Quina.”
Arthur tampak terkejut,” Kalau Auntie dari awal tahu, kenapa harus memarahi Luciel?!”
“Aku ingin melihat sampai sejauh mana Luciel bisa hidup tanpaku. Karena itu, aku memberinya… ehem, sedikit dorongan lebih, Uhh…. mungkin berlebihan sih, makanya aku jadi galau sekarang dan menenangkan diri,” kataku yang pun berdiri dan meregangkan tubuhku,
“Yah, makanya sekarang aku disini, mengawasi Luciel dan membantunya, jika gadis itu membutuhkanku. Mau gimana pun, aku tetaplah tuan yang menciptakan Homunculus itu. Dia masih berada dalam tanggung jawabku.”
Arthur menepuk dahinya heran, “Astaga, dasar Auntie yang kikuk.”
Tertawa canggung diriku yang menggaruk-garuk leherku, “Oh ya, kalau kamu jauh-jauh datang dari Junon, artinya kamu membawanya kan?” tanyaku.
Arthur menekuk alisnya, lantas berdiri membuka jubahnya. Ia pun menyerahkan sebuah pedang berwarna hitam padaku dan bertanya, “Maksud Auntie, pedang yang dahulu kamu gunakan?”
Aku pun dengan senang hati menerima pedang itu dan mencabutnya. Gelap bilah pedang itu hingga tak satu pun cahaya dapat menodainya. Sebuah huruf kuno terukir padanya, memancarkan kutukan yang dapat mengembalikan sihir kembali dalam wujud aslinya, energi dan menyerapnya. Dengan pedang itu aku telah menumpas jutaan musuh yang menghalangi jalanku.
Artemisia.
“Masih ada waktu sebelum Luciel beraksi, bagaimana jika kita pemanasan dulu, Artie?” tanyaku.
Pucat pasi wajah Arthur saat ia menggeleng kepalanya, “N-N-Nggak mau! Kan sudah kubilang, aku cuma ksatria nama doang. Kalau melawan Ksatria terhebat di Junon, bisa babak belur aku!”
__ADS_1
Tersenyum meringis diriku menunjukan taring-taringku, “Araraa, tenang saja, bukankah katamu, aku ini Auntie-mu yang penuh kasih sayang?”
Saat mendengar perkataanku, jelas di wajah Arthur tertulis, betapa dia ingin menarik kata-katanya.