Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Celestial Finale (End)


__ADS_3

—62—


Bila surga benar-benar ada, apakah kamu melihat semua ini Mentari? Hari dimana langit kelam akan runtuh dan semua bibit yang kita tumbuhkan akhirnya berbunga? Apakah dunia akan mengenal cinta setelah melihat langit biru, seperti yang kamu katakan? Ataukah kebodohan manusia dan Daemon akan terus menghilang arti perasaan itu yang sesungguhnya?


Hingga detik ini, aku masih meragukan Cinta. Tetapi setelah tujuh tahun melintasi dunia dan bertemu banyak orang, melihat manifestasi cinta mereka yang beragam bentuk… Hanya satu kesimpulan yang dapat kutarik.


Bahwa cinta adalah sihir untuk membuatmu menjadi semakin kuat.


“Judas Anguish,” gumamku yang menunjukan wujudku sesungguhnya di depan Quina, “Kamu sudah siap, Ratuku?” tanyaku yang menggetarkan hatinya.


Quina yang terkejut itu mengangguk, “S-Setiap saat,” katanya memanggil tombak petirnya.


“Aku akan melindungimu dari gelombang kejut ledakan yang akan terjadi. Tetapi setelah itu, aku percaya pada kemampuan teleportasimu, Quin,” kataku yang menciptakan sebuah lubang hitam di tanganku.


Di hadapan kami, sebuah roket meluncur mendekati singgasanaku. Quina pun menghantam tombak petirnya ke dasar, memanggil medan magnet yang sangat kuat yang mempercepat datangnya roket itu kepada kami. Sedang dari segala penjuru 6 roket lain pun datang, melesat dengan cepat.


Aku pun menarik Quina dan melompat. Kupanggil akar-akar kegelapan membentuk perisai yang membelenggu ketujuh roket itu sebelum sebuah ledakan luar biasa pun muncul, mengkoyakkan ruang dan waktu dan menghisap segala yang ada disana. Perisai Yggdrasilku dengan mudah dihancurkannya, hingga membebaskan dua tangan kegelapan yang memberontak keluar dari sangkarnya.


Tiga sayap dari tulang belulang pun mekar, dengan darah menjadi kulit sayapnya. Tulang belulang menyusun diri mereka, menjadi tengkorak raksasa dengan tubuh setengah laba-laba mengerikan, menancapkan kaki-kakinya yang tajam pada batang pohon Yggdrasil terbalik. Tulang naga membentuk kepalanya, helai-helai rambut putih yang tajam menjuntai hingga ke tanah. Tajam taring-taringnya ketika kedua mulutnya yang mengerikan tersenyum melihatku.


“Obsidian Theater, sang pencuri cahaya. Musuh dunia yang sebenarnya,” kataku membalas senyuman monster itu.


“K-Kamu bilang ledakan itu hanya membuat sedikit retakan, t-tapi, bu-bukankah kita baru saja melepaskan monster mengerikan itu ke dunia?” kata Quina yang menggenggam tanganku erat.


“Blink!” perintahku.


“K-Kamu gila?"


“Lakukan saja,” kataku.


Medan listrik menelan tubuhku, dengan cepat ia melesatkan tubuhku tepat di punggung monster itu. Mendarat dengan sempurna, aku pun segera melemparkan bola htamku pada monster itu dan meledakkannya.


“Black Hole Bomb!” teriakku, namun kemudian lenganku pun pecah tak mampu menahan kekuatan luar biasa Amelia.


Bom energi itu menghancurkan setengah badan Obsidian Theater, namun salju superadikal segera mengepul dan menyembuhkan lukanya dengan sempurna. Disaat itu sang Pencuri Cahaya mencabut sebuah pedang merah raksasa dengah relief sihir ungu yang mengejutkanku.


“Blink!” teriakku memerintahkan Quina.

__ADS_1


Kami berdua pun nyaris menghindari tebasan pedang raksasa itu. Tapi mataku miris melihat batang pohonku berhasil dia tebas dengan mudah. Api-api kegelapan melahap luka di pohon itu, mencegahnya untuk tumbuh lagi.


“Astrea, pedang terkutuk yang menyebabkan luka yang tak dapat disembuhkan. Astaga, kalau begini, kemampuan regenerasiku pun akan percuma,” gumamku sambil melayang di langit bersama Quina, menatap dengan putus asa kekuatan besar monster itu.


Tiba-tiba Obsidian Theater menghisap segala Salju Superadikan di mulutnya. Matanya pun bersinar merah terang, ketika menembakkan bola cahaya ke arah kami. Kewalahan, Quina menteleportasi kami berdua, menghindari bola cahaya itu hanya untuk melihat ledakan luar biasa yang disebabkan olehnya. Satu bola itu… memiliki kekuatan yang sama dengan satu Black Hole Bomb Amelia dan dia bisa mengeluarknya dengan mudah? Pantas saja, Sang Dewa menyerah mengalahkan monster ini!


Sinar terang yang banyak pun muncul dari daratan. Ribuan Balista cahaya pun menghujani tubuh monster itu. Misil-misil kecil pun melesat dari berbagai tempat, meledakkan tubuh sang Pencuri Cahaya. Salah satu misil itu pun meledak dengan dahsyat, membentuk asap seperti jamur yang mekar di langit. Sinarnya yang terang membuatku menutup kami berdua dalam kepompong akar kegelapan.


“Ohoho, aku tak menyangka, kalian menggunakan senjata dari peradaban sebelumnya. Padahal sudah ribuan tahun penggunaan senajta itu terlarang,” kataku cukup terpukau.


“Namanya juga kepepet. Yang penting, apakah senjata tetua-tetua kita di masa lalu mampu menghancurkan monster itu?” balas Quina.


Aku pun membuka kepompong akar kami dan melihat sang Obsdian Theater kewalahan menangkal serangan dari daratan. Tapi kecepatan ia menyembuhkan diri jauh melebihi serangan kami. Dia dengan mudah mengembalikan tubuhnya seperti semula dan bahkan mengaung keras, membersihkan seluruh salju superadikal di muka dunia dan menangkal misil-misil yang menyerangnya.


Tapi aku sempat melihat, sebuah luka di dada monster itu menunjukan kristal merah yang besar. Besar energi sihir dalam kristal itu hingga menandingi besar energi Ideal White. kurasakan denyut jantungku beresonansi dengan kristal itu, hingga aku pn dapat menarik satu kesimpulan.


Kristal itu adalah inti jantung sang Pencuri Cahaya. Bila kristal itu sama seperti milik Anima lainnya, berarti… sebuah pedang anti sihir dapat dengan mudah menghancurkannya.


“Quina, kamu masih punya cukup mana untuk memanggil jurus pamungkasmu, Terra Caladbolg?” tanyaku yang memanggil Artemisia patahku dan memegangnya di tanganku yang tersisa.


“Masih, tapi apa rencanamu, bulan?” tanya Quina.


“Kamu mau cari mati? Bahkan seorang Dewi sepertimu takan dapat menghindari seranganku tanpa terluka. Bila seranganku mengenai jantungmu, kamu akan mati!” kata Quina.


“Percaya padaku, aku punya rencana,” kataku meyakinkan gadis itu.


“Kamu… dan rencanamu,” kata Quina menggenggam tangannya dengan kesal. Tapi pada akhirnya, dia pun memanggil tombak petirnya. Pusaran angin pun mengepul saat Quina mengonsentrasikan seluruh kekuatannya di tombak petir itu. Tiga belas lingkar sihir pun muncul membidik jantung Obsidian Theater dan tombak petir Quina pun perlahan menjadi tombak cahaya yang gemilang.


“Jangan mati, Bulan,” kata Quina dengan darah keluar dari mata dan hidungnya, bersama dengan seluruh sirkuit sihirnya yang terbakar. Matanya pun terbuka lebar ketika dia melesatkan tombak cahaya itu dan berteriak,


“Terra Caladbolg!!”


Secepat cahaya tombak sihir itu melesat dan menghancurkan dada Obsidian Theater. Tepat disaat jantungnya terekspos, Quina pun memindahkan tubuhku disana. Kutarik lengan kiriku, mengumpulkan seluruh kekuatanku di hadapan kristal merah besar itu.


“Hancurlah dan jangan kembali, Iblis!” teriakku membelah kristal itu dengan Artemisia.


TRIIINGG!

__ADS_1


Sinar terang muncul dari pecahan kristal itu, menghisap segala udara disekitarnya. Dan tak sampai sekedip mata, sebuah ledakan sihir pun muncul meratakan seluruh gunung dan hutan sepanjang mata memandang.


“Haaaarrggghh!!!” erangku menahan segala nyeri, melepaskan seluruh kekuatanku mengangkat seluruh kota terakhir dengan akar-akar kegelapanku, menembus dan melindungnya dari langit yang runtuh.


Kulihat tanganku perlahan hancur menjadi debu. Tangan yang dahulu sangat kubenci sebab dia telah melukai orang-orang yang kusayangi, tetapi kini dengan arogannya ingin menyelamatkan dunia ini.


“Karena itu, Luciel ingin menjadi orang yang lebih kuat lagi tiap harinya. Berharap suatu hari kekuatan ini bisa luciel gunakan untuk melindungi orang yang Luciel sayangi.”


Luciel masih memiliki hidup yang panjang untuk mewujudkan mimpinya! Kulepaskan segala segel kutukan dalam tubuhku dan melepaskan kekuatan sihir yang menghalau radiasi ledakan itu menyentuh kota.


“Berjanjilah pada Danius ini, kamu akan menjadi orang tua yang baik untuk Luciel.”


Aku tidak bisa mati sekarang, masih banyak janji yang harus kupenuhi! Kukerahkan seluruh tubuhku yang tersisa untuk membuat pelindung sihir di seluruh kota untuk menangkal kejut gelombang yang dapat meratakan tanah itu.


“Aku ingin melindungi Keluargaku yang tersisa.”


Bila aku pergi, siapakah yang tersisa untuk Arthur?


“Mengapa Putri menangis?”


… Aku belum sempat membangkitkan dokter bodoh tapi baik hati itu dan meminta maaf padanya!


“Bulan, suatu hari, pokonya kita harus pergi melihat padang Bunga Olivia bersama, ya!”


Kupaksa segala sel-sel di tubuhku untuk berploriferasi melebih batas, mengantar ketujuh kota itu menembus langit.


"Sedikit lagi!" kataku yang kemudian megnetatkan rahang menahan rasa nyeri yang luar biasa.


Saat terang ledakan itu pun menghilang mataku dapat melihat langit hitam yang perlahan runtuh. Tujuh lubang raksasa pun muncul dari tiga pohon cahaya yang berhasil mengantar ketujuh kota itu menembus badai Salju Superadikal dan langit Obsidian Theater. Dari retakan dan celah dari tubuh sang Pencuri Langit, kelap-kelip cahaya mengintip di baliknya. Dan sebuah sabit putih menyinari sendu lanigt, membawa cahaya yang selama ini telah dirindukan oleh dunia. Begitu asing… tapi penuh dengan nostalgia.


Ingin kuraih sabit putih itu tetapi aku pun tersadar… aku tak lagi memiliki tangan untuk meraihnya. Tubuhku telah mencapai batasnya. Aku tak dapat menyembuhkan diriku.


“… Apakah aku akan mati sebelum dapat mengerti sebelum dapat mencintai?” gumamku bersama dengan perlahan gelap menyelimuti mataku,


“... Tidak, aku... tidak ingin mati.”


Aku tersenyum dan menertawakan diriku. Beberapa bulan yang lalu, betapa aku menginginkan kematian menjemputku. Tapi setelah segala kehangatan yang kudapat selama beberapa dalam ini, aku pun akhirnya mengerti. Benar katamu, Amelia... selama ini, aku hidup dengan penuh cinta di sekitarku.

__ADS_1


Kenapa... aku baru mengertinya disaat hariku berakhir?


Sebuah sayap putih membentang menyelimutiku, bersama dengan denyut jantung yang tenang berdetak saat ia mendekapku dalam naungannya. Aroma bunga matahari yang familiar, membuatku tersenyum saat menutup mataku.


__ADS_2