
— 30 —
Di suatu tempat di waktu yang lain…
Bunyi mesin monitor menyambut seorang dokter muda, membawanya dalam nuansa seperti di pesawat antariksa. Dingin ruang ICU menembus jas putihnya yang tebal, tetapi sepertinya tidak mengganggu dokter itu memeriksa keduapuluh pasien di ruangan itu. Semua pasien itu tertidur dalam koma, meninggalkan tubuhnya yang perlahan dilahap oleh berlian biru.
Malisifikasi.
“Hmm, menarik. Setelah injeksi konsentrat modulator dari Menara Biru, kondisi semua pasien kini stabil,” gumam Nuwa yang mencatat dalam rekam medis yang dipegangi oleh seorang perawat.
“Tapi Putri, seminggu berlalu, kita masih tidak bisa mencegah progresi Malisifikasi pada korban. Keluarga korban kini cemas akan keselamatan mereka,” kata Perawat itu.
“Untuk saat ini, mustahil untuk mengembalikan proses Malifikasi. Menangkap para oknum White Order yang menyebarkan neurotoxin itu pun hanya memberi ketenangan singkat bagi keluarga mereka,” kata Nuwa yang memengangi tangan seorang pasien dengan lembut,
“Tapi… sebagai Putri Mahkota, aku tidak akan menyerah. Aku pasti akan menemukan obat untuk menyembuhkan mereka,” lanjut Sang Putri yang menaruh Ignition para Pemburu muda itu di dada mereka.
“Bagaimana caranya Putri?” tanya Perawat itu.
“… Penyihir White Order yang kita tangkap dua malam kemarin, membocorkan informasi yang menarik. Lewat berantai-rantai penelitian keji pada manusia, sepertinya selain menemukan Neurotoxin yang memulai Malisifikasi… Mereka juga menemukan serum antidotumnya,” kata Nuwa yang mengetatkan kepal tangannya,
“Untuk itu, Black Company akan mengirim pasukan untuk menyerang markas besar mereka… dan mengakhiri kejahatan White Order sekarang dan selamanya. Aku, sebagai pewaris gelar Ellen Lunaris Noctis, berjanji… takkan ada lagi ada seorang yang harus menderita oleh malisifikasi.”
… Itu adalah pidato penuh kebohongan yang dengan mudah diucapkan, namun sesungguhnya Nuwa menyembunyikan seluruh fakta. Tidak ada serum antidotum untuk proses malisifikasi dan juga tidak ada namanya Neurotoxin yang memulai malisifikasi. Kebenarannya terlalu sederhana bahkan bisa disebut sebagai lelucon.
__ADS_1
Neurotoxin itu… adalah ekstrak jus tomat yang secara misterius mengakselerasi proses Malifikasi, proses yang sendirinya sudah berlangsung dalam tubuh manusia. Benar sekali, semua manusia di era ini hanya menunggu waktu sebelum proses Malifikasi melahap tubuh mereka. Tapi kebenaran itu dipendam jauh dalam lapis demi lapos kebohongan yang berakar pada satu kata.
Ignition.
Anugrah yang diberikan oleh Dewi Black Company kepada umat manusia. Dengan kristal itu, seorang manusia dapat menggunakan sihir dan kemampuan fisik yang luar biasa. Hanyalah mereka yang memiliki ambisi yang kuat pantas mendapatkan anugrah itu dari sang Dewi.
Betapa piciknya kebohongan itu, pikir Nuwa. Padahal sesungguhnya, tanpa amodulator Menara Biru yang diminum penduduk Benteng Angkasa tiap hari, mereka semua dapat menggunakan sihir. Sebab di tubuh mereka telah bersarang Sel Warden yang menunggu untuk dibangunkan.
Ignition itu sendiri diberikan pada manusia yang telah menunjukan proses Malifikasi. Dia sesungguhnya adalah pecahan pohon kristal The Sixth Lector, yang mampu mengirim Sel Warden ke masa depan. Semakin sering seorang Pemburu mengugnakan sihir… semakin besar progresi Malifikasinya yang dikirim ke masa depan, hanya untuk melahapnya kelak di satu waktu.
Semua hanyalah kebohongan picik dari umat yang menyembah sang Dewi Penipuan dan Pengkhianatan, Black Company. Nuwa… sudah muak mendengarnya.
Melewati deretan perawat yang menunduk hormat padanya, Nuwa pun mendengar pujian dan kekaguman dari mereka.
“Jangan lupa, meski cantik dan memiliki segalanya, Putri Nuwa datang sendiri memeriksa pasiennya, beda banget dengan para spesialis itu, apalagi si Rizal, hahaha,” sahut yang lain.
“Iya, bener banget! Aaah, melihat Pangeran Arthur dan Putri Nuwa bersebelahan di TV, seperti melihat pasangan yang begitu sempurna. Mereka berkilauan kayak pangeran dan putri dalam cerita dongeng!”
… Haah, Nuwa menghela nafasnya. Lagi-lagi rumor yang tersebar tentang dirinya terlalu berlebihan. Pertunangannya dengan Arthur hanya bermakna politik. Tidak ada cinta sama sekali tumbuh di antara keduanya. Lagipula Nuwa… sangat membenci monster bermuka banyak itu. Pria keji yang tega memperdaya hati perempuan polos demi mendapatkan kekuasaan. Menjijikan… tapi disisi lain, Nuwa tak memungkiri kecerdasan sang Pangeran.
Dalam perjalanannya, Nuwa melewati sebuah ruang isolasi. Meski disana tertulis nama seorang Gremory, dengan dingin gadis itu melewatinya.
“Aku bukan lagi Nuwa kecil yang memandangmu dengan kagum. Aku adlaah Ellen Lunaris Noctis, orang kedua paling berkuasa di Black Company,” bisik Nuwa yang mengepalkan tangannya dan memandang ke depan dengan penuh tekad,
__ADS_1
“Dengan tangan ini… aku akan mencegah takdir pahit yang menanti kita.”
Hanya menunggu waktu, sebelum semua manusia akan menjadi Malice. Gemilang kemenangan umat manusia melawan The Reaper pun hanyalah usaha putus asa untuk mengulur akhir dunia. Demi menjaga agar manusia tak jatuh dalam keputusasaan, kebohongan menjijikan ini pun disebarkan oleh Black Company.
Namun, masih ada satu harapan kecil yang ingin Nuwa raih. Ideal White, sihir sempurna yang mampu mengabulkan seluruh keinginan penyihir yang memanggilnya. Dengan sihir itu Nuwa mampu mencegah takdir pahit ini dan membuka masa depan baru bagi kemanusiaan.
Tapi untuk mewujudkan Ideal White, Nuwa membutuhkan energi sihir yang sangat besar. Lebih tepatnya, tujuh Quartz dari Malice tipe S yang pernah meneror dunia. Kelak, setelah ia dilantik sebagai Ellen Lunaris Noctis… Dia dapat mewujudkannya.
“… Pasti, dengan tangan ini, aku bisa mewujudkan masa depan yang cerah bagi kita,” gumam Nuwa memandang langit biru dibalik jendela rumah sakit.
“D-D-Dokter Nuwa,” tiba-tiba terdengar suara laki-laki memanggilnya, Nuwa pun segera menoleh dan menemukan seorang dokter dengan rambut acak-acakan tampak ngos-ngosan di dekatnya.
“Dokter Rizal, ada yang bsia dibantu?” tanya Nuwa dengan sopan pada seniornya itu.
Dokter Rizal pun menepuk tangannya dan berkata, “T-Tolng, gantiin aku poli sebenar. I-I-Istriku melahirkan!”
Terkejut Nuwa mendengarnya, “Kalau gitu nunggu apalagi, cepat dok kesana. Urusan poli penyakit dalam serahkan sama saya saja,” kata sang Putri yang menepuk pundak seniornya itu.
“Terima kasih Putri!! K-Kebaikan Putri akan saya balas!” kata Rizal yang segera berlari dengan tergopoh-gopoh ke kamar bersalin.
Nuwa pun tersenyum melihat seniornya itu. Anak, hmmm. Sesuatu yang jauh dipikiran Nuwa. Sebab dia… tak sampai hati membawa hidup yang naif dalam dunia yang penuh kebohongan ini… apalagi jika harus menderita. Tidak, tidak sekarang. Tapi mungkin, setelah Nuwa berhasil mewujudkan Ideal White… dia akan memikirkannya.
Gadis itu kemudian pergi ke poli penyakit dalam, sembari bersenandung lagu favoritnya.
__ADS_1