Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Noctis Melodia (6)


__ADS_3

“Mengapa?”


Hanya ada satu tanggapan yang Mutter berikan, ketika kau menceritakan hasil pertemuanku dengan Ma Dame Krista. Di dalam kantornya yang berantakan, Mutter menyibukkan dirinya membaca koran tanpa sedikitpun melihatku. Ciut hatiku, ingin segera lari dari tempat ini karena tak berani berhadapan dengan kekecewaan Mutter.


Tetapi aku juga tidak bisa mengatakan tentang Bunga Lentera padanya.


“M-Ma Dame Krista menyarankanku untuk berhati-hatii… Sebab bila Keluarga Noctis tumbuh terlalu kuat, maka akan banyak orang berusaha untuk-“


“Bukan itu maksud pertanyaanku,” potong Mutter menyilangkan kaki dan mendecakkan lidah, “Mengapa kamu melaporkan semua ini padaku, jika sekarang semuanya sudah tak berhubungan lagi dengan Keluarga Noctis?”


... T-Tunggu dulu, itu yang Mutter permasalahkan?


“Lah kamu sendiri yang memilih untuk menerima perjanjian itu atas namamu sendiri. Aku tidak tertarik sama sekali dengan urusan yang tak berkaitan dengan keluarga Noctis. Semua ini sekarang adalah masalahmu, selesaikanlah sendirian, Bulan,” kata Mutter yang kemudian berdiri dan melihat jam tangannya,


“Masih ada lagi yang mau kamu sampaikan?” lanjut Mutter sembari berjalan mendekatiku.


“… Tidak ada, Mutter,” jawabku padanya yang telah berjalan melewatiku. Sesaat saat kami berpapasan, aku dapat mendengar Mutter dengan kesalnya menghela nafas kecewa. Seolah-olah... waktunya telah disia-siakan untuk hal yang tak penting.


Pintu pun tertutup, bersamaan dengan itu kukepalkan tanganku. Padahal baru semalam yang lalu, Mutter menemaniku menciptakan obat itu. Harapan kecil yang tumbuh di hatiku, kini tertindas lagi tanpa tersisa.


Sebuah pertanyaan pun berbisik di telingaku, apa yang telah kuperbuat hingga tak layak mendapatkan kasih sayang dari ibuku sendiri? Apakah hanya karena kami tak sedarah maka ia memperlakukanku seperti debu tanpa makna? Bila begitu… mengapa tak sejak dari awal saja, kamu menendangku pergi dari rumah ini?!


Vial obat didalam tanganku pun pecah, mengucurkan darah yang banyak dari jemariku yang tersayat beling. Dengan cepat luka itu pun menghilang tanpa menyisakan bekas. Namun sakit yang mengoyak-koyakkan hatiku, semakin menjadi-jadi.


“Apa yang harus kulakukan agar Mutter melihatku?” gumamku.


Mengalir mengikuti tanganku yang kini lemas oleh keputusasaan, aku pun teringat kembali akan tujuanku. bila obat ini berhasil, maka Quina dapat kembali bersatu dengan keluarganya. dan mungkin saja… bila aku berhasil mewujudkan obat ini, maka dunia akan mengetahuinya.. Bahwa aku bukan sekedar anak haram yang menjadi parasit di Keluarga Noctis. Bahwa aku... pantas menyandang namaku.


Dan mungkin… bila obat ini berhasil disebarluaskan, Mutter akhirnya akan melihatku.

__ADS_1


“Hahahahaha…!”


Entah sejak kapan aku mulai tertawa ketika hatiku tersakiti. namun semenjak aku melakukannya, walaupun sebentar saja, rasa sakit itu mereda.. digantikan oleh desir adrenalin yang membuat jantungku berdegup kencang. Tiap tawa yang kulepas di dunia ini, begitu pula pecahan diriku punperlahan menghilang. Sama seperti bayanganku yang tak mampu lagi mempertahankan diri sebagai manusia.


Pikiranku pun menjadi jernih… dan aku bisa melihat solusi masalahku dengan jelas.


“Dari aroma tubuhnya, Quina tak punya waktu lama. Bila aku harus menunggu Ma Dame Krista memberikanku suplai Bunga Lentera, semua akan terlambat,” gumamku yang kemudian megnasah jemari belatiku yang tumbuh meruncing, “Aaahh… darimana aku bisa mencari alternatif bahan itu? Sesuatu yang juga dapat mewujudkan sihir, tetapi tidak melukai tubuh?”


… Jaring-jaring otakkun pun saling terhubung. Mataku yang semakin tajam pun melihat pembuluh darah menjalari dibawah kulitku. disana adalah jawabannya. cairan yang sama persis dengan Bunga Lentera, malah, mungkin saja jauh lebih kuat darinya. Esens yang memungkinkan seorang Penyihir memanifestasikan sihir di dunia.


Darah.


“Aku harus menyelesaikan obat ini,” gumamku yang kemudian melangkah keluar dari kantor Mutter, menuju Akademi sihir.


——— + ———


Jendela menuju kantor kepala sekolah terbuka dengan lebar. Diriku yang sudah memanjat di pohon beringin disamping kantor itu pun segera melompat dan memanjat masuk ke dalamnya. Kegaduhan pun jelas terdengar, mengundang sang kepala sekolah untuk melihat dibalik jendela. Tetapi tanpa ia sadari, aku pun telah menciup pohonnya dan berbisik,


Lingkar sihir kegelapan pun muncul dari kecupanku, memunculkan api hitam yang menghujam pikiran sang kepala Sekolah. Lepas kendali pada tubuhnya, lelaki tua itu pun tertidur tak berdaya di lantai.


Sihir ilusi sederhana seperti itu sangat lemah jika digunakan secara konvensional, seperti sihir biasa. Berbeda dengan sihir elemen lain yang memiliki intensitas yang kuat dan meledak-ledak, sihir ilusi ibaratnya belati kecil yang tajam.  Bila sihir elemental menyerang tubuh seseorang, maka ilusi mengincar pikiran mereka yaitu otak manusia. Semakin dekat dengan organ targetnya, maka sihir ilusi akan semakin efektif.


Tapi... tak pernah kukira, sihir ilusi yang lemah seperti Zennitus, mampu menidurkan Kepala Sekolah yang adalah seorang Magistrat Sihir.


“Fokus, Bulan,” gumamku yang kemudian melompat masuk ke kantor kepala sekolah dan mulai mencari pada rak buku. Setelah menelusuri buku hitam yang tebal, aku pun menemukannya. Daftar murid akademi terbaru beserta identitas pribadi di dalamnya.


“Penyihir yang memiliki mana yang kuat, tetapi dari kalangan biasa dan yatim piatu,” gumamku sembari dengan cepat menelusuri isi buku itu.


Aku membutuhkan darah, tapi tak sembarang darah. Hanya ada satu ras yang dapat menggunakan sihir dengan efektif, manusia. Tapi tak smeua manusia dilahirkan sama, ada beberapa yang memiliki bakat sihir yang luar biasa. Aku membutuhkan darah dari orang berbakat seperti itu dalam jumlah yang banyak, sebab bila butuh seratus Bunga Olivia untuk mengimitasi Metilprednisolon, maka butuh berapa banyak darah untuk mengimitasi sebuah Magicite?

__ADS_1


Namun tak sembarang penyihir berbakat yang dapat kupilih. Dia haruslah seorang yang bila telah tiada, tak ada satu pun yang akan mempedulikannya. Tak ada satupun… yang akan merindukannya.


Bagaikan takdir menuntun jariku, mataku pun terbuka lebar ketika menemukan satu orang yang memenuhi kriteriaku. Seorang gadis muda dengan rambut cokelat yang pendek, bersekolah di akademi ini dengan bantuan beasiswa tidak mampu.


“Lumina Aivelstadt,” gumamku tersenyum mengelus foto sihir gadis itu.


Bila kuingat, sama denganku, Lumina adalah gadis yang dikucilkan di kelas. Dia memiliki perawakan yang kumal dan udik, dengan kacamata tebal yang seringkali disembunyikan para perundungnya.  Tiada hari tanpa terdengar caci maki dan siksa yang membuat gadis itu sering menangis di toilet sendirian. Bahkan dia sengaja pulang malam ke asrama, agar tidak ada orang yang melihatnya dan mengerjainya lagi.


Target yang sempurna.


Malam pun telah pekat, ketika aku menyelinap di antara kegelapan. Mataku pun mengintai gang sepi menuju asrama putri akademi, mencari-cari targetku dibalik semak-semak. Sat satu persatu lampu sihir mati, munculah sebuah bayangan kikuk yang berjalan merunduk. Memegang erat tasnya yang basah setelah dibuang ke toilet, gadis itu melangkah tertatih-tatih setelah ditendang jatuh dari tangga lantai dua. Kakinya pun berdarah oleh luka infeksi sebab sepatunya yang rusak tertusuk oleh beling kaca jalanan.


“S-Siapa disana?” tanya gadis yang menyadari kehadiranku.


“Oh, kamu benar-benar memiliki sihir yang luar biasa,” kataku yang pun muncul dari balik semak-semak, mendekati gadis ketakutan itu.


“P-Putri Noctis…?” kata Lumina tak percaya, “A-Ada apa yang mulia mencariku malam-malam seperti ini?”


“Apakah boleh aku meminta semua darahmu?” tanyaku dengan sopan.


“H-Ha? P-Putri bercanda, kan?” jawab Lumina bingung, dia pun menoleh ke kanan dan kiri mencari pertolongan… tetapi aku telah menutupi jalan gang itu dengan ilusi. Tak ada siapapun yang akan melihat dan mendengarnya malam ini.


“A-Apa yang Putri ingin lakukan dengan darahku?” tanya Lumina yang berjalan mundur, seiring dengan  aku mendekatinya dengan jemari belati yang terasah.


“Menciptakan obat,” kataku.


“O-Obat? Maksudnya, Putri ingin menggunakan hidupku untuk menyelamatkan orang lain?” tanya Lumina bersandar di dinding, paham dia tak dapat lari kemanapun. Tanpa sihir, seorang manusia tak dapat berharap untuk mengalahkan seekor daemon.


Aku pun mengangguk dan bersiap untuk pertarungan sihir melawannya, tetapi ternyata… Lumina justru tersenyum dan menjatuhkan tasnya. Mata yang mati itu kini bercahaya penuh harapan. Gadis itu pun menangis dan memelukku dengan erat.

__ADS_1


“… Aku sudah tak tahan lagi, Putri… Aku mohon… akhiri semua rasa sakit ini.”


__ADS_2