Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Time Dysplasia (1)


__ADS_3

—10—


Gema langkah kakiku terdengar tiap kali menapak di antara beceknya jalan reruntuhan kota. Hutan tumbuh meliuk di antara gedung bertingkat, memekarkan bunga-bunga cahaya yang menjadi penuntun jalan. Jamur-jamur warna-warni tumbuh besar, perlahan memakan sisa-sisa peninggalan dari peradaban sebelumnya.


“Aneh, tak ada satu pun Malice disini. Apa mungkin White Order sudah menghabisi semuanya?” gumamku ketika mencapai jantung kota Junon.


Bila tak ada Malice disini, berarti benar, White Order yang menyerang tim ekspedisi Nadja. Tapi, rasanya sebagai markas White Order pun tempat ini… terlalu sepi.


Firasat Chrysant semakin tidak enak. Kata Khanza, ada rahasia besar di kota ini yang tak seharusnya ia ketahui. Kulihat sekitarku melihat puing-puing kota yang hancur lebur, gelap menjadi arang setelah terlahap oleh api yang sangat besar. Tapi melihat flora superadikal yang tumbuh, aneh rasanya mengatakan tempat jatuh sepuluh tahun yang lalu tidak masuk akal.


Tempat ini seolah sudah jatuh satu abad yang lalu.


Tiba-tiba bulu kuduk Chrysant merinding. Pekat niat membunuh menusuknya dari belakang. Mengikuti instingnya, aku pun melompat dan nyaris menghindari tebasan maut dari sosok berjubah hitam. Kristal es melesat, nyaris kutepis dengan kedua belatiku.


“Tunggu dulu, kita sama-sama manusia, tidak perlu bertarung seperti ini,” kataku.


Tetapi sosok berjubah hitam itu justru melesat dan menebaskan pedang hitamnya padaku. Tipis Chrysant menepis tebasan demi tebasan pedang itu, tetapi seperti hujan yang deras serangan itu tak ada hentinya. Hingga tiba-tiba…


BUK!!


U-Ughh…! Tendangan kuat menghantam perutku. Bagai harimau pemburu, mengambil kesempatan itu dan menyerangku lagi. Namun, bagi Chrysant, tendangan itu hanya terasa seperti gelitikan saja. Bagaimana tidak? Sudah sehari-hari ia dikeroyok Malice. Kayak begini mah bukan apa-apa!


“Gran Impact!” teriakku memanggil kejut gelombang yang menghempaskan sosok penyerangku. Saat dia terlempar jauh segera kusatukan kedua belatiku dan menarik tujuh anak panah petir.


“Black Company, pinjamkan diriku gaga petirmu. Thunder Arrow!” ucapku yang melepaskan anak panah itu.


Melesat dengan cepat tujuh panah itu memburu penyerangku. Namun, sosok gelap itu dengan lincah menghindarinya dan bahkan mengembalikan keseimbangan tubuhnya. Tapi dia tidak menyadari bahwa ketujuh panah petir itu menancap pada tiang-tiang listrik di sekitar kami. Aku pun tersenyum dan menjentikkan jariku,


“Dawnbreaker,” kataku.


Petir besar menyambar dari kabel-kabel listrik yang berceceran di tanah dan merambat lewat genangan air di sekitar kami. Mereka dengan ganasnya menyambar sosok gelap itu dan mengirimnya dalam penderitaan neraka. Tak berdaya, sosok gelap itu pun bertekuk lutut dengan nafas terengah-engah.


“Kamu pikir itu cuma panah biasa? Sepertinya, kamu kurang pengalaman,” kataku yang kemudian mematahkan busur panahnya dan menghunus belati tajam di leher sosok hitam itu, “Penyihir yang baik mampu memanfaatkan lingkungan untuk membunuh Malice. Tak sadarkah kamu, tempat ini penuh dengan air kotor? Mereka adalah konduktor listrik terbaik untuk sihirku,” lanjut gadis itu membuka tudung jaket laki-laki itu.


Tapi betapa terkejutnya aku, laki-laki itu… memiliki wajah yang mirip sekali denganku. Rambut abu-abu pendeknya seperti abu yang habis terbakar oleh jingga api di matanya yang membara. Tatapan mata penuh kebencian dan dendam.


“Kamu seorang White Order?” tanyaku.


Tetapi laki-laki itu hanya menggeram tak menjawab. Sebal, Chrysant pun menggoreskan tajam belati di pipinya dan mengancam,


“Cepat bicara kalau kamu masih sayang hidupmu.”


Geram, laki-laki itu justru menjawab dengan kesal, “Kami takkan tunduk dihadapan kalian, Black Company keparat!”


Kulihat sebuah rantai membelenggu leher laki-laki itu, dengan duri-duri yang menggigit lehernya. Iiihhh, tampak menyakitkan sekali, pikirku. Di rantai itu aku dapat melihat tulisan aneh tertera disana.

__ADS_1


“Batch 3366, Subyek 893… ?” gumamku yang kemudian membuka google dan maskerku.


Tapi laki-laki itu segera membuka matanya lebar dan berkata,


“Mata biru lazuardi itu… Tidak mungkin, k-kamu, subyek 03…?” katanya yang tiba-tiba mendekatiku dan tak mempedulikan belatiku menggores pipinya, dia mengguncang pundakku dan dengan frustasinya berkata, “Kenapa kamu justru bersekongkol dengan kelompok busuk itu? Gara-gara mereka, hidup kaum kita penuh penderitaan!”


“Kaum kita? A-Apa maksudmu?” tanyaku bingung.


Laki-laki itu melepaskan cengkramannya di pundakku dan membekap dahinya, “T-Tidak mungkin… mereka sudah mencuci otakmu,” katanya.


H-Ha? Cuci otak? Ngomong apa sih orang ini?


“Sudah cukup aku mendengar omong kosongmu,” kataku yang menghunuskan belatiku pada laki-laki itu, “Bila kamu masih sayang dengan nyawamu, tunjukan padaku dimana kalian menculik tim ekspedisi Black Company!” perintahku.


Yah, memang bodoh diriku bertanya demikian pada musuhku. Tentu saja laki-laki itu takkan menunjukkannya padaku. Tapi kecurigaan memenuhi dadaku. Adsesuatu yang tak beres disini. Untungnya, sorot mata tak tahu menahu laki-laki itu menjawab kecurigaanku.


“Tim ekspedisi? Tak ada manusia pun melangkahkan kaki disini,” kata laki-laki itu.


Sudah kuduga. Melihat kondisi kota yang tak sesuai dengan waktunya ini, membuatku menarik kesimpulan. Sepertinya aku terjebak dalam Time Dysplasia, distorsi waktu yang meleburkan berbagai masa di satu titik… menyebabkan kekacauan waktu yang membangkitkan banyak celah pada realita yang sebenarnya. Celah itu kemudian melahirkan Malice yang pun memburu para manusia yang terjebak dalam kekacauan ini.


Time Dysplasia adalah kemampuan spesial yang hanya dimili oleh seekor Malice. The Reaper, Malice tipe S yang hampir menghancurkan dunia saat ia terbangun di dunia. Sepertinya segel Malice itu sudah melemah hingga ia dapat menciptakan distorsi waktu seberat ini. Hmm, apa mungkin White Order menggunakan Quartz Bulan untuk melemahkan segel itu?


Semakin Khawatir diriku... Dagger apakah kamu baik-baik saja?


“Menurutmu, tahun berapa sekarang?” tanyaku.


E-Eh? S-S-Satu millenia lebih jauh dari waktuku? P-pantas saja, kami sulit saling mengerti. Duh, sesungguhnya, jika aku keluar dari Junon, aku akan terlepas dari efek Time Dysplasia. Hanya saja, sebagai seorang Pathfinder, tentu, aku tidak bisa membiarkan fenomena ini meluas. Setidaknya… aku harus menemukan dimana Quartz Bulan dan menutup segel The Reaper.


Hmmm, apa ini yang dimaksud Khanza dengan kebenaran?


Terdengar bunyi nyaring sekali dari kejauhan, memekakkan telinga kami. Wajah Subyek 893 segera pucat mendengarnya, “T-Tidak-tidak-tidak, di-diarah itu, Annabel?!” teriaknya yang lalu berlari mendekati asal suara itu.


“T-Tunggu, aku masih banyak pertanyaan!” teriakku, tapi tentu saja, dia takkan menggubrisnya. Aku pun mengetuk-ketuk kakiku di tanah memanggil sihir percepatan. lantas bagai angin, aku pun melesat mengekor laki-laki itu.


— + —


Kilat membelah langit, layaknya meteor kecil Khanza melesat dan mendarat tepat di tengah pemukiman kecil di kota Hilfheim. Besar energi sihir menghempaskan segalanya, menyisakan sang Penyihir dan beberapa orang saja yang masih berdiri tegak disana.


“Haruskah kalian melawan dan membuat pekerjaan Khanza semakin sulit?” tanya Khanza mencabut tongkat sihirnya dan memanggil tombak pedang es,


“Harusnya Anak Malice seperti kalian diam saja dan biarkan Khanza membunuhmu. Dengan begitu, Khanza bisa menghancurkan Emilia sepenuhnya,” lanjut penyihir itu dengan niat membunuh yang sangat pekat.


“K’laes Libera!!” teriak seorang laki-laki yang mengubah dirinya menjadi serigala yang dipenuhi tulang.


Sesudah transformasi menjadi serigala, laki-laki itu pun berteriak, “Kalian semua pergi! Aku akan menahan monster itu disini,” perintahnya kepada orang-orang banyak.

__ADS_1


“T-t-tapi-!” balas perempuan disamping laki-laki itu.


Namun belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Khanza telah melesat di hadapan perempuan itu. Tombak pedang telah siap diayun Khanza, mencabut nyawa dihadapannya. Namun, secepat kilat serigala itu menerkam Khanza dan mencegahnya.


“Sudah kubilang, lari!!” teriak manusia serigala itu lewat telepati.


Khanza tertawa melihat orang-orang banyak berlarian dalam panik. Geli dirinya menahan terkaman serigala itu dengan tangannya, lantas berteriak,


“Lari sampai di ujung dunia pun, kalian takkan selamat! Aku akan memburu kalian semua hingga tak ada yang tersisa!”


Dengan mudah Khanza menendang serigala itu pergi menjauh darinya. Tetapi kemudian ia tersadar, Khanza lengah. Kesal dirinya melihat darah tetap mengucur keluar dari luka terkaman itu.


“Kutukan Hemofilia, hmm? Tak kusangka ada dari kalian yang berhasil menguasai kutukan Emilia yang menyebalkan itu,” kata Khanza yang kemudian menumbuhkan berlian yang menutup luka itu,


“Sayang sekali. Bila Khanza seorang manusia, pastinya kutukan itu sudah sangat cukup untuk membunuhnya… tapi, manusia bukanlah Khanza,” lanjutnya.


Serigala itu memuntahkan darah yang mengucur dari giginya yang rontok. Di benaknya, keringat dingin bercucuran bersama panik. Dasar iblis merah, bagaimana cara serigala itu bisa melukai berlian yang hidup?


Tidak, itu tidak penting. Dari awal, mana mungkin Anak Malice seperti Serigala itu mampu mengalahkan seekor tipe S? Tujuannya hanyalah mengulur waktu agar saudara-saudaranya dapat melarikan diri dari monster ini.


Sang Serigala pun mengaung, memanggil kawanan kegelapan yang muncul dari kegelapan. Mereka adalah serigala gelap berkepala tiga yang setia padanya. Cerberus, Malice tipe C.


Tertawa riang, Khanza mengikuti sinar matanya yang melesat dari satu Cerberus ke lainnya. Tampak menikmati pertarungan, Khanza mencabik-cabik satu persatu Cerberus dengan tombak pedangnya.


Darah yang menari-nari di langit, Khanza manfaatkan menjadi pusaran yang menembakkan peluru kegelapan ke segala penjuru. Malice yang terkena tembakan peluru itu pun lantas terbakar hingga tak tersisa satu bulu pun.


“Lumayan, lumayan! Kamu adalah lawan yang pertama kali bertahan dua menit melawanku,” kata Khanza menepuk tangannya, mencemooh sang Serigala,


“Melindungi keluargamu, hmm? Bila kubiarkan lebih lama, penasaran aku, apakah kamu dapat mempertahankan akal sehatmu saat taring dan cakarmu itu melukai saudaramu sendiri? Hahahah!” lanjut penyihir itu.


“Lalu, karena itu kami harus mati? Hah, bercanda saja. hingga akhir, aku, Vandal akan selalu menentangmu, Reaper!” teriak sang Serigala yang melesat ingin menerkam Khanza, bersama tiga Cerberus raksasa lain yang muncul tiba-tiba di belakang penyihir itu.


“Haaah. Padahal, Khanza sudah menawarkan jalan termudah, tapi selalu ditolak. Haah, aku benci sekali meminjam kekuatan dewi busuk itu… tapi untuk menghentikan sel Emilia di tubuh kalian, apa boleh buat,” gumam Khanza mengubah kembali senjatanya menjadi tongkat sihir yang patah.


Tak mempedulikan serigala yang ingin menerkamnya, Khanza pun menusukkan tongkatnya di tanah. Getaran tanah pun muncul disusul akar-akar pohon melesat dan mengikat para serigala itu hingga tak bisa bergerak. Duri dari akar itu menusuk kulit para serigala dan menghisap darah mereka dengan rakusnya.


“Mengapa monster seperti kalian ingin hidup, Khanza tidak mengerti. Bukankah hidup ditolak dan dikhianati oleh sesama manusia itu sangat menyakitkan?” kata Khanza yang menghujam jantung Vandal, si Serigala, dengan tangan kosong,


“Tidakkanh kalian mengerti? Aku melakukan ini demi kebaikan kalian semua. Serahkanlah hidup dan waktu kalian padaku, agar biar aku saja yang menanggung dosa ini,” lanjutnya.


Tiba-tiba panah cahaya melesat, Khanza pun segera mencabut tangannya menghindar. Namun ledakan pun muncul, sinar terang segera menyeruak dan membutakan mata penyihir itu sejenak.


Saat pandangannya kembali, Khanza menghela nafasnya dan mengacak pinggang sebelah,


“Ah, boneka palsu itu lagi… Sudah kubilang pergi jauh-jauh malah datang kemari. Dasar, bocah nakal,” katanya setelah melihat Chrysant dan Albert membawa lari Vandal darinya.

__ADS_1


Tertawa kecil wanita itu, memegang perutnya,


“Apakah dia segitunya ingin bergabung dengan iblis-iblis Black Company yang kumakan dua minggu lalu?” katanya yang tertawa sinis.


__ADS_2