
— 37 —
Saat aku terbangun, kutemukan diriku terbaring di tepi lubang raksasa. Kedua tanganku pun memeluk sebuah pedang putih yang persis seperti pedang Deception. Mystelteine, pedang dengan ornamen indah melingkupi Quartz di gagangnya dan sirkuit putih yang rumit berpendar di bilah pedangnya. Sungguh pedang yang cantik sekali, tetapi samar kurasakan… Kehidupan yang menggeliat dalam pedang ini bersama kekuatan yang sangat besar mengalir dalam diriku.
… Pedang ini seperti seekor monster yang hidup dan ingin melahapku.
“Inikah senjata yang dimaksud Nuwa?” gumamku yang segera berdiri. Kulihat di belakangku, menyadari rumah terbalik itu kini telah tiada… digantikan oleh akar kegelapan yang mengunci tempat itu.
kugelengkan kepalau dan segera melompat, melesatkan sayapku menuju tempat Nuwa dan Saber berada. Sial, berapa lama aku ilusi itu? Time dysplasia ini mengacaukan orientasi waktuku. Kumohon, Dewi, semoga aku masih sempat!
SRIINGG!!!
K-Kuukh!!
Laser biru menembus pahaku, lantas ledakan besar menghempaskanku di tanah. Untungya, berlian birudan pelindung sihir melindungi tubuhku, sehingga aku pun dapat segera berdiri dan memasang kuda-kuda… Menghadapi malaikat kematian yang telah menunggu di hadapanku. Darah mewarnai battlesuit dan topeng tengkoraknya yang putih, ketika perlahan dia mendekatiku dengan pedang laser di tangannya.
Da-darah itu… T-Tidak, tidak mungkin! A-Aku terlambat?
“Malice detected. Initiating— No… Electromagnetic Pulse detected. Turning off auto-pilot mode,” gumam Asmodeus yang tiba-tiba tampak was-was denganku.
Apa mungkin karena pedang di tanganku, dia jadi ketakutan? Ini kesempatan. Segera aku pun melesat dan menebaskan pedang itu, Asmodeus menangkisnya tetapi tiba-tiba cahaya terang berpendar dari pedang itu mematikan pedang lasernya. Panik menghindar, pedangku berhasil menggores topeng tengkoraknya dan menunjukkan sosok di baliknya.
… Seperti yang kuduga. Wajahnya yang sama denganku, tetapi dengan rambut putih kebiruan yang transparan dan mata yang bersinar. Selain wajahnya, mesin melingkupi seluruh tubuhnya, pipa pembuluh darah bersinar biru saat gadis itu mengepalkan tinjunya dan menghempaskan pukulan keras yang menghancurkan kulit berlianku.
U-Ukhh, keras aku menghantam tiga pohon hingga rubuh. Berat mataku sempat melihat Homunculus itu menjambak rambutnya.
“Error. Error. System down… Accessing Recovery mode. Suggestion: Retreat. Retreat, Retreat,” katanya yang dengan panik memanggil sayap roket dari punggungnya dan melesat meninggalkanku.
Astaga… sekuat itukah Mystelteine hingga monster itu begitu ketakutan? Atau mungkin sinar putih itu… Electromagnetic Pulse yang dia sebutkan, sangat fatal bagi mesin sepertinya?
__ADS_1
Homunculus yang belum mengalami malifikasi. Mesin yang tak memiliki perasaan… Sebelum terinjeksi oleh Sel Warden, apakah aku juga seganas mesin itu? Bila Emilia dapat menciptakan ratusan Homunculus sekuat itu, bukankah dia dapat menguasai dunia dengan mudah?
…!
“Aarggh!”
Kulepas seluruh akar-akar kegelapan yang tumbuh dari gagang Mystelteine, panik kulempar pedang itu menjauh dariku. Tetapi akar-akar kegelapan itu tetap menggeliat mencoba mencariku, sebelum akhirnya menyerah dan kembali di bilah pedangnya. Pedang itu berusaha memakanku…!
“… Mengerikan sekali,” gumamku yang mendekati pedang itu dan takut-takut menyundulnya dengan kaki, “Monster itu… gak bakal keluar lagi kan?”
Setelah memastikan pedang itu aman, kubalut dirinya dengan jimat pelindung. Sepertinya benar kata orang, kekuatan besar datang dengan harga yang besar pula. Bila tidak melawan Asmodeus, ada baiknya aku menyegel pedang ini dari dunia.
“Saber, Nuwa!” gumamku yang segera berlari.
Tapi lututku segera kehilangan kekuatannya, saat melihat horror yang menantiku.
“Tidak, tidak, tidak, tidak… I-Ini tidak mungkin terjadi,” gumamku menjambak rambutku.
“Tidak, Saber, tidak… Kamu bercanda bukan? Kamu masih hidup bukan?” gumamku pada keheningan. Mual segera menyergapku, memaksaku memuntahkan seluruh isi perutku. Dan pada sat itu pula, kenyataan menamparku dengan keras.
… Aku terlambat
“Aaaarrghhhh!” kupukul tanganku berkali-kali di tanah, menyesali langkah kakiku yang lamban. Harusnya aku lebih cepat, harusnya aku tidak setuju denganr encana Nuwa, harusnya aku tidak meninggalkan mereka. Tapi penyesalan semakin membuat lidahku terasa pahit.
“B-B-bagaimana aku haru menjelaskannya ke Seraphina?” gumamku membekap wajahku.
Aku sangat ketakutan. Bayangan wajah kecewa Seraphina saat mendengar kabar buruk menyesakkan dadaku. Aku telah menyakiti Kakak yang telah membesarkanku. Aku telah mengecewakannya. Aku…. tidak mampu melindungi orang yang dicintai Kakak. semua salahku yang tak cukup kuat utnuk melindungi mereka…!
Oh Dewi, Apa yang harus kulakukan sekarang? Ingin diriku memutar balik waktu dan kembali di sisi mereka, mencegah semua tragedi ini. Namun sihir waktu—
__ADS_1
“Time Dysplasia,” gumamku teringat pada pengalamanku di kota Junon.
Benar, Time Dysplasia! Distorsi waktu yang diciptakan Luciel Diamanda. Saat itu, dia berhasil membawa Saber dari lini waktu yang berbeda ke dunia ini. Bila… aku dapat menggunakan kekuatan itu, aku bisa mengembalikan Saber dan Nuwa kemari.
“Tunggu aku,” gumamku yang mengepalkan tangan dan pergi melacak Asmodeus. Kuoleskan darah Nuwa dan Saber di kelopak mataku sembari mengucapkan mantra,
“Dewi Black Company, dengarkan dendamku, tunjukan kepadaku pelabuhan api gelap ini. Bloodhound!”
Sinar mera yang menembus lebatnya hutan terlihat dimata. Beralri menembus hutan yang lebat, aku pun melacak keberadaan Homunculus sialan itu. Ingin diriku menghancurkan mesin bodoh itu, tapi sayangnya, aku memerlukan dirinya sekarang. Sebab hanyalah White Order yang megnetahui cara menyebabkan Time Dysplasia.
Aku… membutuhkan kekuatan itu!
Terkejut melihatku muncul dari lebatnya hutan, Mesin yang meringkuk kesakitan itu menatapku tak percaya. Sebelum dia dapat mencabut pistolnya dan membidikku, petir ungu melesatkan diriku dan membanting kepala Asmodeus di tanah. Kutancapkan Mystelteine disamping kepala mesin itu saat tangan dan kakuku mengunci tubuhnya.
“Error, Error. Miscalculation!”
Kusantukkan dahiku pada CPU berjalan itu dan membentaknya, “Cukup omong kosongmu. Kalau kamu ingin hidup lebih lama, Jawab aku! bagaimana cara mewujudkan Time Dysplasia?”
“Time Dysplasia…? Cannot comprehend. Asking to repeat question correctly. Repeat, repeat, repeat…” katanya yang memejapkan mata kesakitan.
Sialan, sepertinya mesin ini terporgram untuk menjaga rahasia dengan ketat. Kalau begitu, aku tak punya pilihan selain “menginterogasi” anggota manusia di White Order.
“Kalau begitu tunjukan padaku diamna markas kalian berada,” kataku yang mengalirkan sihir pada Mystelteine dan memunculkan suara denging yang menyiksa mesin itu. Benar dugaanku, sesuatu dala pedang ini membuat Asmodeus kesakitan.
Sialan, sepertinya mesin ini terprogram untuk menjaga rahasia dengan ketat. Kalau begitu, aku tak punya pilihan selain “menginterogasi” anggota manusia di White Order.
“Kalau begitu tunjukan padaku diamna markas kalian berada,” kataku yang mengalirkan sihir pada Mystelteine dan memunculkan suara denging yang menyiksa mesin itu. Benar dugaanku, sesuatu dala pedang ini membuat Asmodeus sangat kesakitan.
“Error, error, error. Critical damage to circuit! Self-repaire failed. Repeating. Self-repair failed,” gumam Asmodeus, sinar merah pun muncul dari matanya, “Protect Data at all cost. Apoptosis begin….”
__ADS_1
Tiba-tiba inti Homunculus itu pun menyala terang. CPU ini… jangan bilang dia ingin menghancurkan dirinya?
“Protocol completed. Execute: Unwavering Faith!”