Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Innocence Lost (2)


__ADS_3

— 16 —


Redup cahaya lampu menerangi lorong putih yang panjang. Hawa dingin muncul dari celah-celah ventilasi, mendinginkan badan hingga ke tulang. Bahkan salju perlahan mulai muncul di  kedua alis mataku!


“D-Dingin,” gumamku memeluk tanganku yang gemetaran sembari mengikuti Dagger yang melangkah penuh semangat di depanku, “H-Hey, Dagger, bukankah ini ide yang buruk? Bukannya harusnya kita kembali secepatnya dan memberitahu Saber tentang rencana kita?” tanyaku.


Mata Dagger melekat di petanya dan menjawab, “… Jalan masuk dari saluran pembuangan… Ruang pendingin dengan suhu dibawah nol… Tidak salah lagi, ini adalah saluran limbah Magic Reactor.”


G-Gawat, kalau Dagger sudah mencium bau artefak kuno, dia akan meninggalkan segalanya dan fokus mencari barang itu. Uhh, kalau begini caranya, yang bisa kulakukan hanya melindungi Dagger.


“Sola Echo,” gumamku memanggil sihir penghangat bagiku dan Dagger yang masih sibuk dengan petanya.


Tiba-tiba aku mendengar suara tawa anak-anak, beriringan dengan rantai yang diseret. Kutengok kesana kemari tapi tak menemukan arah suara itu. Apa saking dinginnya lorong ini aku sampai-sampai berhalusinasi?


“Chrysant…” terdengar suara anak memanggilku.


Mataku pun melihat anak laki-laki berambut pirang tersenyum menatapku. Dia berdiri di depan sebuah pintu yang disegel dengan berbagai kristal sihir. Tapi seperti dihembuskan oleh angin, anak itu pun menghilang tanpa jejak.


“Dagger, kamu melihat anak itu?” tanyaku mencubit pipi sahabatku itu agar dia kembali ke dunia.


“E-Eeh? I-Iya? Uh.. Anak?” jawab Dagger yang meliaht kesekitarnya, “Kamu melihat hantu? Hanya ada kita disini.”


“Mana ada hantu di dunia ini,” celetukku yang pun mendekati pintu tersegel itu dan merabanya. Sengat listrik pun muncul menghempaskan tanganku dengan ganas, “Sepertinya ini jalan buntu. Tak ada jalan lagi, berarti saatnya kita pulang kan, Dagger?” tawarku.


“Tidak, kapan lagi aku ada kesempatan sedekat ini dengan Automachina legendaris itu! Apalagi kalau tahu kota ini akan kita hancurkan,” kata Dagger yang keras kepala yang meneliti pintu itu dan menganalisisnya.


“Huh? Diagram sihirnya yang kompleks dan berlapis-lapis, ini kan, Kaszhania Algorithm… Segel yang digunakan para Pathfinder untuk mengurung The Reaper?” lanjut Dagger yang mengambil kaliper pengukur dan mulai mengotak-atik formula diagram sihir disana,


“…Subtituting alpha to sigma… Cracking Administrator ID… Firewall collapse… Oke! Seharusnya ini sudah cukup, Execute!” lanjut gadis itu.


Garis cahaya muncul membelah segel sihir itu dan memecahkannya. Delapan kristal sihir yang menyokong segel itu pun redup dan jatuh ke tanah, kosong tak bernyawa. Kupijit keningku. Astaga, bagaimana aku lupa, Dagger adalah peretas diagram sihir terbaik di Black Company.

__ADS_1


“Well, sekarang setelah semua penghadang jalan hilang, mari kita lanjutkan petualangan kita, Chrysant?” kataDagger berkacak pinggang dengan congkak. Saat seperti ini aku seolah melihat sosok Saber pada dirinya, sungguh, Kakak adik adalah hubungan yang penuh keajaiban ya.


Kuhela nafasku, “Kalau pun aku nggak setuju, emangnya kamu akan berhenti?” kataku yang menarik Dagger ke belakangku, “Kalau kamu tetap bersikeras lanjut, tetap di belakangku, oke?” perintahku.


“Baik, Bodyguard-ku yang bisa diandalkan!”


Sialan.


Kubuka pintu itu bersama dengan terang lampu satu persatu menyala menerangi jalan. Sinarnya menunjukan deretan tabung kaca yang pecah disepanjang mata memandang. Kabel-kabel rumit tergelar menghubungkan seluruh tabung itu ke saluran utama di langit-langit. Kupicingkan mata melihat coklat kemerahan yang familiar dari saluran utama di langit-langit itu… Bukankah noda itu mirip sekali dengan darah?


“Subyek 893…” gumamku saat menghapus debu yang menutupi label nama salah satu tabung, “Tempat… apa ini?” lanjutku.


“Chrysant, kesini!” teriak Dagger yang ternyata sudah lari entah kemana. Ih, udah kubilang tetap dibelakangku, memanglah otaku kepala batu itu.


Tapi, terhenyak diriku saat melihat tabung yang ditemukan Dagger. Utuh tak bernoda, tabung itu penuh dengan cairan kuning bening yang berpendar. Di dalamnya, tertidur sosok anak kegelapan yang memeluk dirinya. Berbagai kabel menghujam punggungnya, menghisap darahnya menuju saluran utama.


“Itukan… Malice?” kataku yang menyentuh tabung kaca itu dan sekejap, berbagai gambar tertancap di pikiranku.


Para peneliti dengan jas lab putihnya yang bersih, mencatat dengan giat status dari semua tabung di ruangan ini yang masih utuh. Salah satu peneliti itu adalah seorang wanita dengan rambut emas yang panjang, melirikku dengan mata safirnya.


Lady Luciel… Nama wanita itu, berhenti di depanku. Dia pun menggapaiku, tetapi tangannya dihalangi oleh sebuah tabung kaca. Jelas aku dapat melihat kantung matanya yang tebal saat senyum pahitnya melengkung.


“Sebentar lagi aku akan meraihmu, Ideal White…”


UGH!! Rintihku menahan nyeri kepalaku yang sangat. Saking nyerinya aku pun tersandung oleh kabel dan terjatuh menghantam papan kontrol. Bunyi bising pun muncul saat pendar sinar kuning dari cairan tabung itu perlahan menghilang.


I-I-Ingatan siapa yang tadi muncul? Kenapa semua terasa familiar saekali? Nama itu pun… Lady Luciel, dimana aku seringkali mendengarnya?


“Chrysant, kamu tidak apa-apa?” tanya Dagger yang meraihku dengan khawatir, “Sakit kepalamu kambuh lagi? Aku ada bawa obat yang dulu Kak Sera selalu berikan padamu,” lanjutnya yang pun mengambil sebuah pil dari tas besarnya dan sebuah botol minum… yang kemudian kuterima.


Perlahan efek obat itu pun bekerja, memudarkan nyeri seperti dihantam kapak itu. lega nafasku saat kakiku dapat berdiri kembali. Air mata masih menggenangi mataku, tapi kabur, aku melihat Malice hitam itu membuka matanya yang biru.

__ADS_1


Bersamaan dengan pecahnya tabung kaca itu, kucabut kedua belatiku, menyambut Malice yang melepas seluruh kabel di tubuhnya dan berjalan keluar. Ditatapnya aku dengan biru matanya yang membuat merinding, lantas tersenyum.


“Chrysant… kamu kembali…”


TUSKH!!


Sebuah tombak menghujam jantung Malice itu dan mengangkatnya tak berdaya. Terbuka mulut sang Malice yang ingin berteriak, namun darah telah menggenangi pita suaranya. Dari balik tubuh Malice itu, aku dapat melihat jubah merah dari penyihir dengan topeng tengkorak yang mengerikan.


Khanza.


“Chrysant… Tolong… aku….” kata Malice itu berusaha meraihku. Sekejap kegelapan pudar dari tubuhnya, menunjukan sosok anak laki-laki yang tersenyum padaku di lorong tadi. Tetapi Khanza segera mencabut tombaknya lantas menebas Malice itu secepat kilat hingga tak satu pun tersisa… Selain cipratan darah dan Magicte di beling kaca yang berserakan di lantai.


“Ternyata, kamu sembunyi disini rupanya, Subyek 970,” kata Khanza yang mengambil Magicite yang menjadi jantung Malice itu. Kupu-kupu merah pun muncul dari Magicite itu, terbang melingkupi Khanza lalu menghilang.


Penyihir itu pun melepas topeng tengkoraknya dan menyapa, “Waduh, kalau takdir terus mempertemukan kita seperti ini, apa mungkin kita berjodoh Chrysant?”


“Omong kosong. Kamu kenapa disini, Khanza?” tanyaku ketus, berusaha melindungi Dagger dari monster berbahaya itu.


Khanza tertawa kecil, “Serem, serem. Chrysant galak banget ya. Kalau ditanya kenapa, tentu saja untuk mengalahkan Emilia,” katanya.


“T-T-Tadi, M-M-Malice itu… m-m-menjadi manusia, kan?” tanya Dagger dengan tangan gemetar, “T-T-Tapi bukankah itu tidak masuk akal. Malice… dan manusia, mereka bukan satu—“


“Loh, bukannya itu wajar? Malice adalah makhluk tak sempurna yang lahir dari keinginan manusia. Seperti anak ingin mencontoh kedua orang tuanya, apakah salah Malice berusaha untuk berwujud seperti umat manusia yang melahirkannya?” tegur Khanza yang membersihkan tombaknya dan tertawa kecil,


“Bukankah itu ilusi yang Black Company tanamkan di dalam diri kalian sejak kecil?” lanjutnya yang pun berbalik.


“Tunggu! Apa maksud perkataanmu tadi?” teriakku.


Khanza menghentikan langkahnya dan menatapku dengan senyuman sinis, “Kamu beneran ingin memecahkan ilusi itu, hmm?” katanya yang pun memanggil es hitam raksasa yang melesat menghempaskan selruh tabung akca disana dan menghancurkan dinding beton di depannya.


Cahaya merah pun terlihat dibalik puing-puing beton itu, bersama dengan aura kegelapan yang menyeruak keluar. Di dalamnya, aku dapat melihat banyak sekali sosok gelap yang bersembah sujud menyembah sinar merah itu. Mereka menggenggam tangan, seolah berdoa pada seorang Dewi.

__ADS_1


“Sekali kamu melihat kebenaran, duniamu akan berubah, Chrysant. Kamu masih punya pilihan untuk mundur dan hidup dalam kebohongan, tapi jika kamu ingin mengecap kebenaran, masuklah ke ruangan itu,” kata Khanza yang mengulurkan tangannya padaku,


“Pilihan ada d tanganmu, Chrysanthemum.”


__ADS_2