
—Epilogue I—
“Terlalu awal untukmu menyerah, Bulan.”
Suara familiar membangunkanku dari tidur. Saat membuka mata, kutemukan diriku berada di sebuah lorong gelap. Seekor kupu-kupu cahaya pun muncul, mengikat mataku untuk mengikutinya menari-nari disekitarku. Tetapi cahaya kupu-kupu itu pun pergi menjauh.
“Tunggu!” kataku mengejarnya dan di saat itu pijakan kakiku pun runtuh dan aku terjatuh ke dalam lautan kegelapan yang kelam.
Dan di dasar kegelapan itu aku terjatuh, dihadapan sebuah pedang merah yang menikam tengkorak disana. Gaun putih yang anggun dikenakannya, membalut tulang-belulang yang terikat oleh sisa-sia otot dan jaringan ikat. Tetapi aku sangat mengenali gaun itu, sebab Mentari menggunakannya di hari aku membunuh Kakakku.
Kupu-kupu putih itu pun hinggap di gagang pedang dan bersamanya, kejut cahaya muncul. Dari tulang-belulang itu pun tumbuh pohon cahaya raksasa dengan bunga-bunga putih yang cantik mekar disepanjang mataku memandang. Serbuk-serbuk cahaya pun berkumpul, menyusun tubuh seorang wanita dengan helai rambut keemasan yang indah dan dua pasang mata giok yang selalu tersenyum menatapku.
“Mari kita menyimpulkan takdir sumbang kita, Bulan,” kata Mentari yang memangil pedang cahaya di tangannya dan melesat menyerangku.
Namun Kakak bukanlah seorang ksatria, dengan mudah aku menangkal serangannya, merebut pedang cahaya itu dan refleks hampir menikamnya. Tetapi aku berhenti tepat saat ujung pedang itu menyentuh dada Mentari.
“Tidak… Aku tidak mau melukaimu, Mentari,” kataku.
“Sampai kapan hatimu akan lemah? Bila kamu tak punya keberanian untuk melangkah, maka jangan marah kalau aku yang duluan mengambil kesempatan,” kata Mentari yang memecah dirinya menjadi tiga diri bercahaya menyerangku tanpa ampun.
“Seorang yang lemah hatinya sepertimu, tidak punya pendirian dan kepastian hanya akan melukai lebih banyak orang,” kata Mentari yang bergantian menyerangku dan menembakkan panah-panah cahaya bertubi-tubi padaku,
“Selama kamu tidak mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupku, kamu akan semakin menderita,” lanjutnya yang pun menendangku telak hingga terpental di padang bunga.
Bangkit berdiri diriku mengusap darah yang keluar dari mulutku. Kutatap wanita itu dan menjawab, “Tidak akan.”
“Haaah… Sampai kapan kamu akan melukis diriku sebagai sosok Kakak yang baik, setelah semua yang kuperbuat padamu?” kata Mentari menebas pedang cahayanya dengan kesal,
“Hadapilah Bulan, aku adalah wanita yang sangat jahat!” lanjutnya melesat menyerangku lagi.
Kuhela nafasku memanggil Artemisia patah dan menangkal semua serangan sederhana Mentari. Dia tidak serius menyerangku, setiap tebasan pedangnya tidak memiliki niatan membunuh sama sekali. Dia hanya menyalurkan rasa frustasinya padaku… seperti yang dia lakukan selama masih hidup.
“Kamu adalah Anima yang lahir dari keinginanku, kenapa kamu tidak mau menuruti kata-kataku?” kata Mentari mengayunkan pedang cahaya tanpa henti,
“Kamu tahu betapa iri hatiku melihat Mama begitu memperhatikanmu dibanding diriku, hingga akhirnya aku menjebakmu dan membuat peliharaanmu ‘menyerangku’, sang pewaris Takhta Noctis. Sebab itu hubungan Mama denganmu pun hancur, hingga akhirnya wanita tua itu menjadikanmu kambing hitam dan mengeksekusimu demi mempertahankan kebaikan nama Noctis.”
“Cepat atau lambat Keluarga Noctis akan menyingkirkan salah satu dari kita. Sebab mereka hanya membutuhkan satu cahaya,” jawabku yang dengan mudah aku menangkap tangan Mentari, mengangkat dan melempar tubuhnya hingga menubruk kedua lainnya di padang bunga.
__ADS_1
Wanita itu pun bangkit dan memandangku dengan kesal,
“Tatapan sombongmu itu, yang seolah memandang dirimu lebih baik dariku… Dari kecil, aku selalu membencinya!” kata Mentari memanggil delapan bola cahaya di punggungnya dan memanggil pilar-pilar cahaya yang menikam tanah. Serangan yang dengan mudah kuhindari.
Kenapa aku mudah menghindarinya? Karena aku bisa merasakan Mentari tidak sungguh ingin melukaiku dengan pilar sangat panas itu.
“Setelah menghilang selama tujuh tahun, kamu tiba-tiba kembali di hadapanku dan meminta maaf padaku. Tapi, kamu datang sebagai Sang Daemon Bulan yang telah dielu-elukan sebagai pahlawan yang menaklukan berbagai wabah bersama Ksatriamu yang mempesona. Hidupmu yang bebas dan gemilang, membuatku merasa seperti gadis bodoh yang terkurung dalam sangkar menyedihkan,” kata Mentari yang membentuk tombak Calabolg di tangannya dengan mudah dan melesatkannya padaku.
Tampak bergerak sedikit pun, aku bisa menghindari bidikan payah Mentari dan merasakan kejut ledakan di punggungku.
“Karena itu aku merebut Axel darimu dan menjebaknya untuk menikahiku. Kamu tak akan menyangka, betapa senang hatiku melihat tatapan mata kecewamu, saat melihat Axel menciumku di pelaminan, hahaha!”
“Selama kamu dan Axel bahagia. Lagipula, Anima dan seorang manusia… bukan pasangan yang cocok,” jawabku.
Mentari memusatkan cahaya mengumpul di tubuhnya, menjadi zirah cahaya yang indah. Tiga sayap malaikat pun tumbuh di punggungnya, membentangkan bulu-bulu putih yang indah tiada tara. Bersama itu petir menyambar dan membuka pintu surga di angkasa dengan hujan ribuan pedang melesat padaku.
Aku menjawab hujan pedang itu dengan memekarkan sayap akar kegelapanku dan menangkal semua erangan keputusasaan Mentari.
“Darimana kamu mendapatkan kekuatan untuk bangkit dari smeua takdir buruk yang menimpa dirimu? Melihatmu tampak selalu kuat… aku semakin membenci diriku yang kecil dan lemah. Bukankah kamu seharusnya Anima yang lahir dari keinginanku? Bukankah tugasmu untuk selalu ada disisiku dan menemaniku? Kenapa kamu selalu membuatku sengsara?!” kata Mentari menjambak rambutnya sendiri,
“Karena itu kamu mencari Ideal White?” tanyaku.
Mentari memegangi dadanya yang sesak dan mengangguk, “Sejujurnya, aku tidak ingin membuat dunia menerimamu. aku… berencana menggunakan Ideal White untuk mencegah diriku memanggilmu ke dunia ini dan membuat hidupku menderita. Tapi, justru dengan bodohnya aku terjebak oleh dewa-dewi dan menjadi pion dalam rencana mereka.”
Mentari menutup matanya dengan pedih, “Karena diriku yang bodoh, egois dan tolol, aku … menjadi Obsidian Theater, sang Pencuri Cahaya.”
Saat hari Amelia memilih Mentari dan diriku sebagai Sang Pahlawan dan Ratu Iblis, sebuah keanehan terjadi. Memiliki kutukan Triad Megistus membuat diri kami menjadi makhluk setengah dewa yang memiliki kekuatan yang besar. Untuk mengalahkanku, hati Mentari tergoda oleh kekuatan besar Obsidian Theater. Bertahun-tahun Mentari melakukan penelitian dan pada akhirnya, dia pun berhasil membuka segel sang monster itu.
Namun tak mampu mengendalikannya, Obsidian theater pun menelan Mentari dalam tubuhnya… Dan menyebabkan Badai Salju Superadikal tersebar di dunia.
Untuk mencegah Kakak menghancurkan dunia ini… aku pun “memisahkan” tubuh dan jiwanya. Setelah pertarungan yang lama, aku berhasil mengekstrak ingatan Mentari dan menyegelnya dalam tubuhku. Sedang tubuhnya yang tak berjiwa kusegel artifak sihir kuno yang dapat menghubungkan dimensi keempat dan dunia ini. Hingga… aku memiliki kekuatan yang cukup untuk menghancurkan tubuh Mentari yang diambil alih Obsidian Theater.
“Tapi yang paling buruk dari semua.. Kamu, orang yang paling kubenci di dunia ini… Justru adalah orang yang membereskan seluruh kesalahanku,” kata Mentari yang membuka matanya yang berkaca-kaca dan melanjutkan,
“Kenapa… kamu sampai segitunya untuk seorang Kakak yang sangat jahat padamu, Bulan?”
Aku mendekati Mentari, “Karena aku sudah berjanji padamu,” kataku yang pun mengulurkan tanganku,
__ADS_1
“Meskipun semua orang meninggalkanmu, percayalah, Bulan akan selalu disisi Kakak. Apapun yang terjadi, Bulan akan menyayangi Kakak,” kataku.
Aku pun tersenyum, “Dengan menyayangi Kakak, aku pun dapat menjawab pertanyaan yang selama ini menghantuiku. Bila ada seseorang yang masih menyayangi Kakak, maka… orang sejahat dan sebusuk Bulan pun masih layak dicintai,” kataku.
Air mata menitik dari pelupuk mata Mentari. Mulutnya bergetar, berusaha mengutarakan sesuatu tapi tak mampu. Pada akhirnya aku pun memeluk Kakakku dengan erat, mengungkapkan perkataanku dengan sepenuh hati.
“Sudah cukup, Kakak. Kamu tidak perlu membenci dirimu lagi. Mari kita lepaskan masa lalu bersama… dan memulai hidup yang baru bersama,” bisikku mengelus kepalanya Mentari dengan lembut.
“Apakah menurutmu… dosa kita akan diampuni?” tanya Mentari.
“Tidak, tapi… kita punya cukup waktu untuk menebusnya,” kataku menepuk pundak Mentari yang gemetar, “Sangat banyak waktu, Kakak,” lanjutku yang diam-diam menjalarkan akar kegelapanku pada tubuh Mentari.
Dan sebelum wanita itu menyadarinya, aku pun menikam jantung Mentari. Kulepas pelukanku dan melihat wajah terkejut Kakak, yang langsung pucat ketika akar kegelapanku dengan ganas menyerap seluruh darahnya dengan ganas.
Aku pun tersenyum menyeringai, menunjukkan taring-taringku yang tajam, “Sekarang, kematian pun takkan dapat memisahkan kita. Kamu dan aku akan selalu bersama, Mentari. Kamu takkan melukaiku lagi, dan aku pun takkan dapat melukaimu lagi,” kataku yang mencium kening Mentari dan melanjutkan,
“Bukankah ini adalah perwujudan cinta yang paling sempurna, Kakak?”
Ingatan Mentari pun melebur dalam diriku bersama dengan tubuhnya pecah menjadi mahkota bunga yang berhembus oleh nagin. Semua perasaannya, semua cinta yang telah diterima olehnya, kini adalah bagian diriku. Seekor Anima lahir dari keinginan manusia, itu adalah separuh kebenarannya. Yang seseungguhnya terjadi ialah saat mewujudkan seekor Anima, separuh jiwa sang pemanggil akan menjadi bayarannya.
Selama tubuh Obsidian Theater ada di dunia, jiwa Mentari akan berusaha kembali pada tubuhnya. Penyatuan yang sempurna pun takkan terjadi. Karena selama tujuh tahun ini aku mengumpulkan kekuatan untuk menghancurkan tubuh Mentari.
Sehingga kini, aku pun dapat menyatukan diriku dengan Mentari dan menjadi Anima yang sempurna, Malice yang Pertama. Dan bersamanya, kekuatan Obsidian Theater dan Dewa-Dewi yang tiada tara.
Cinta yang melukai orang lain hanyalah sebuah obsesi kateksis yang fana. Melihat perwujudan citna dari semua orang yang kutemui, aku pun sadar bahwa cinta yang sesungguhnya adalh kekuatan yang menyembuhkan dan menumbuhkan. Tidak ada ruang pada kejahatan dan emosi buruk lainnya. Cinta seharusnya kekal dan tak sirna oleh waktu. Karena itulah, manusia atau Daemon lemah yang terpaut oleh waktu dan emosi takkan dapat mengerti arti cinta yang sesungguhnya.
Bila dunia tidak mau menerimaku… Maka dengan kekuatan besar ini, takan ada orang yang dapat melukaiku. Dengan begitu mereka takkan memiliki pilihan lain selain mencintaiku. Bukankah dengan begitu, aku bisa merasakan dan mengerti cinta yang sesungguhnya?
Menari-nari diriku tenggelam dalam tawa, saat padang bunga cahaya itu pun perlahan berubah menjadi merah darah. Tak sabar menantikan lidahku mengecap kesempurnaan cinta.
PS:
- Season 1 sudah selesai\, yeeeyy !!! Tapi masih banyak plot yang belum selesai. Apa yang akan terjadi dengan lumina\, Luciel\, dan Arthur? Di Season 2 penulis akan memulai cerita dengan sudut pandang dari karakter utama yang baru\, melihat konsekuensi dari pilihan yang dilakukan oleh Bulan\, karakter utama season 1.
Sambil mengupdate, penulis akan merevisi bab sebelumnya (baru selesai sampe bab 14 nih :3, semoga cepat selesai!)
Terima kasih sudah membaca sampai bab ini, semoga Kakak-Kakak menikmati ceritanya!
__ADS_1