Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Chaotic Trio Formed!


__ADS_3

— 41 —


Seraphina selama ini… adalah Lady Luciel? Seberapa ingin aku menganggap semuanya hanyalah kebohongan, ingatan akan masa depan sangat nyata di tanganku. Meskipun terdiam, aku masih dapat merasakan kekuatan Malice yang tertidur dalam Mystelteine. dia… seolah tersenyum padaku, layaknya anak-anak yang melihat sebuah mainan.


“Bos? Oi, Chrysant, sadar oi,” kata Saber yang menepuk kedua pipiku, “Kita lagi di Underworld tahu. Kalau kamu gak fokus, bisa-bisa kita dimamam Malice,” tegurnya.


Terkejut diriku langsung menepus tangan itu, “U-um, m-maaf.”


Saber berkacak pinggang bingung,”Kamu ni kenapa sih? Sejak keluar dari gua itu, pikiranmu kayak melayang kemana-mana. Habis mimpi buruk kah?” tanya laki-laki itu.


“… Bisa jadi,” kataku ragu.


Saber melihat sebuah batang pohon yang landai. Ia pun melompat dan duduk disana, sembari menepuk sisi sebelahnya, seolah mengajakku duduk di sampingnya.


“Kalau gitu kamu bisa ceritakan padaku. Gini-gini, beberapa minggu laki, aku akan jadi abang iparmu loh. Kamu bisa berbagi semuanya padaku!” kata Saber dengan ceria.


Abang… ipar?


Nyeri segera menyerang kepalaku. Sesaat aku dapat melihat senyuman hangat Seraphina.. yang kini berubah menjadi pandang dingin yang ia berikan padaku. Perutku sakit, ingin kumuntahkan sarapanku.


Apa yang harus kukatakan pada Saber? Haruskah aku menceritakan tentang apa yang baru saja kujalani? Mana mungkin dia akan percaya denganku. Mana mungkin aku mengatakan bahwa tunangannya.. bahwa Kakakku… adalah sang Pemimpin White Order yang membawa penderitaan bagi dunia ini!


Kukepalkan tanganku mencoba menekan perasaan di dadaku yang menggebu. Tapi…


Saber mengelus kepalaku dengan lembut. Kutatap matanya yang penuh kehangatan saat melihatku. Wajah bodohnya yang selalu ingin kusambel itu, kini berubah selayaknya seorang kakak. Apakah ini wajah yang ia tunjukan pada adiknya, Dagger?


“Maafkan aku, tapi… aku tak bisa menceritakannya padamu,” kataku tak menolak elusan kepala itu.


Saber memandangku sejenak dan mengangguk paham, "Tenang, kamu bisa pelan-pelan menceritakannya. Tapi untuk saat ini, baiknya kita fokus untuk keluar dari Underworld, oke?” katanya yang kemudian meregangkan tangannya dan tersenyum penuh percaya diri, “Yoosh! Saatnya, aku menunjukkan sisi kerenku pada adik iparku! Gini-gini, aku juga seorang prajurit veteran! Serahkan padaku, Bos.”


… Ha? Orang yang baru kemarin tahu cara mengolah salju superadikal menjadi air minum, sekarang ingin menunjukan jalan bagi seorang Pathfinder? Ada batasnya orang bisa sotoy tahu.


Namun melihat kesabaran dan keceriaan Saber, kecemasan di dadaku pun perlahan lega. Benar juga, aku tidak boleh berkutat terus pada kegelapan dalam hatiku, sebab nyawa kami berdua  dipertaruhkan saat di Underworld. Mungkin saja apa yang kulihat di masa depan hanyalah ilusi semata… bisa jadi hal itu nyata adanya. Namun, hanya dengan bertemu langsung dengan Seraphina, maka jawaban baru dapat kudengar.

__ADS_1


Saat itu terjadi…


Kugelengkan kepalaku, “Heh, Diver amatiran kayak kamu mau memimpin seorang Pathfinder? Gaya banget,” kataku yang menepuk keras punggung Saber, “Kamu masih seribu tahun lebih awal untuk ngomong begitu, Saber!” tegurku dengan cengiran lebar.


Meringis nyeri, Saber tampak lega melihatku tersenyum. Sambil mengelus pundaknya, dia pun bertanya, “Terus, kita mau kemana nih, Bu Bos?”


Kuelus daguku melihat ke puncak pepohonan di hutan rimba itu. Disana, kulihat pantulan sinar dari sebuah kaca. Hmm, mungkin, dari sebuah binokuler atau cermin ringkas. Aku pun tersenyum dan mencabut belati kembarku, menyusunnya menjadi busur dan menarik anak panah.


“Gimana kalau kita… berburu seekor Putri penguntit?” kataku melepas panah sihirku.


Cepat panah cahaya itu melesat dan mematahkan dahan tujuannya. Bersama itu, terdengar teriakan perempuan yang dengan panik segera melompat menyelamatkan dirinya. Sosok  berambut biru pucat itu pun mendarat dengan elegan di tanah, lengkap dengan urat kesal di keningnya saat menatapku.


“Tch, cebok tengik sialan! Kalau kamu udah tahu aku mengikutimu, kenapa harus menembakku sih? Kan ada cara yang lebih elegan seperti mengirimpin pesan lewat familiar? Dasar, pelakor sialan,” gerutu Nuwa menghentak-hentakan kakinya kesal.


W-Whoa, tak kusangka, ternyata dibalik gayanya yang lemah lembut di markas, Nuwa… memiliki mulut kayak pasar. Dengan seragam hitam Black Company yang ketat dan rambut yang diikat ekor kuda, aku hampir tak bisa membedakan sang Putri dengan preman yang biasa kutemui di pasar. Ya Tuhan, tak kukira sosok tomboy sepertinya kelak akan menjadi ratu Black Company.


“Kukira itu sambutan yang pas sekali untuk penguntit sepertimu, kan? Tuan Putri?” kataku mengemas belati kembarku.


“A-Ah, iya, baik Putri,” kata Arthur kaget.


“Apa kau bilang?”


“SIAP LAKSANAKAN, TUAN PUTRI MAHKOTA!”


Nuwa menghela nafasnya, “Bagus. Sekarang, kamu, Ruin Hunter. Sori ya, aku  to the point saja. Tinggalkan misi ini dan pulang. Ini perintah dari Putri Mahkota.”


H-Ha? Astaga, dia ngomong apa sih? Dengan hormat aku pun membuka gulungan emas pemberian Arthur untukku.


“Dengan segala hormat, aku menolak, Tuan Putri. Ruin Hunter ini turun kemari atas petunjuk dari Pangeran Mahkota, sosok yang berpangkat lebih tinggi darimu,” kataku setengah mengoloknya.


“Ugh, dasar bucin buta,” kata Nuwa mencubit keningnya kesal, “Gini ya, kalau kamu masih ngotot mau meneruskan misi ini, kamu akan mati, Chrysant.”


Kutekuk alisku, tunggu dulu, apa jangan-jangan, Nuwa tahu apa yangsedang terjadi di zona ini? Memang benar, bila aku meneruskan misi ini dan menemukan Adrammalech yang telah berubah menjadi Malice, aku pasti mati. Tapi, aku masih tak megnerti. Kenapa seorang Putri sepertinya repot-repot turun ke Underworld hanya untuk memperingatiku?

__ADS_1


Apa mungkin Nuwa adalah orang baik? U-Uuuhh… mustahil!


Aku garuk kepalaku canggung, “Aduh, Putri. Bukannya aku tidak hormat sama perintahmu, tapi… aku punya firasat buruk di zona ini,” kataku yang kemudian mengetuk tanah dengan kakiku, “Dapatkah putri merasakannya? Di bawah hutan rimba ini… sesuatu sedang menghisap energi dari dunia. Aku khawatir, White Order telah merencanakan sesuatu yang berbahaya disini.”


Tentu saja aku tak bisa terang-terangan mengatakan aku datang dari masa depan. Mereka pasti langsung melabeliku orang gila.


“Memang sih… Hmm, iya ya, setelah kamu menunjukannya,” kata Nuwa yang kemudian membuka tangannya dan memanggil bola air tetapi bola itu berpendar dan hancur kemudian, “Tempat ini mengacaukan aliran Mana dalam tubuhku. Apa mungkin White Order menemukan ‘relik itu’? Kalau benar… Benteng Angkasa dalam bahaya.”


Aku pun mengangguk setuju, “Yup, yup. Karena itu, sepertinya zona ini sangat berbahaya bagi seorang Putri Mahkota, yang kelak akan memimpin Black Company,” kataku yang kemudian menoleh pada Saber, “Bagaimana kalau kamu mengawal Putri Nuwa pulang ke Alexandria, Saber?” tanyaku.


Bila Khanza saja kewalahan melawan Adrammalech, apalagi Nuwa dan Saber. Belum lagi jika kami harus berhadapan dengan Asmodeus, si homunculus gila itu. Bila sendirian, aku mungkin bisa menyelinap dan mungkin membunuh Adrammalech di saat ia lengah. Tapi, kalau bertiga… Tidak, ini terlalu beresiko. Lebih baik Nuwa dan Saber pergi dari zona ini. Setidaknya, aku bisa menyelamatkan mereka.


“Kamu ngomong apa, Ruin Hunter? Kalau ada bahaya yang mengancam Black Company, tentu saja, aku htak bisa membiarkannya,” kata Nuwa mengacak pinggang dengan bangga, “Aku, Nuwala Celestie Gremory, Pathfinder terkuat kedua Black Company akan memimpin misi ini. Tenang saja, di kamusku, tidak ada namanya kata gagal!” lanjutnya dengan sombong.


“H-Haa?! Tunggu dulu, Putri Nuwa. Kan kamu punya tugas yang lebih penting —“


Tanpa mendengarkanku, Nuwa membalikkan badannya, “Kalau kamu ingin aku pulang, maka kamu juga harus iktu denganku. Tapi, aku tahu, kamu berencana ingin menyelesaikan misi ini sendirian, bukan? Hah, tipikal Ruin Hunter, si Pathfinder kesepian,” ejeknya.


“APA?! K-Kamu mau ngajak berantem?” bentakku yang kemudian mengepalkan tanganku menekan kekesalanku, “S-Sialan. kalau gitu, terserahlah. Tapi, ingat aku adalah pemimpin misi ini. Kamu harus mengikuti perintahku, oke Putri?”


Putri Nuwa mengangkat alisnya heran, “Hoo? Kamu, seorang berdarah biasa, ingin memerintah keluarga kerajaan sepertiku? Berani juga nyalimu.”


“U-uuughhh, n-ngeselin. Udah ah, bodo amat,” kataku yang melangkah kesal mendahului Nuwa, “Kalau kalian berdua mau ikut, ingat benar-benar. Jika bahaya aka nmengancam hidup kalian berdua, segera lari”


Nuwa menyusulku dan tersenyum, “Bahaya sudah jadi nama tengahku, bocah tengik.”


Sepanjang perjalanan, kami berdua selalu beradu mulut. di tengah keramaian itu, Saber hanya menggaruk-garuk rambutnya canggung.


“Anu… kalau aku sih… pinginnya mau pulang,” gumam Saber, tetapi ditengahnya sengit perdebatanku dan Nuwa, suaranya tenggelam tak terdengar.


PS:


Halo, halo, maaf baru bisa update setelah sekian lamaa, hahaha. Pekerjaan lagi sibuk-sibuknya nih. Tapi setelah ini, saya berencana untuk lebih sering lagi update. Emmm, mungkin 2 hari atau 3 hari sekali, hihihi. Terima kasih sudah sabar menunggu, selamat menikmati ceritanya ya kak!

__ADS_1


__ADS_2