
Mentari telah terbenam bersamaan dengan lautan buruh kembali ke sarang hangat mereka seperti ombak. Terombang ambil dalam keramaian itu adalah diriku, memeluk erat jaket kulitku berharap menangkal dinginnya musim gugur. Tetapi arah langkah kakiku melawan arus itu, pergi menuju tempat favoritku di Pei Jin.
Tersembunyi di antara lampu-lampu warna warni distrik itu, di dalam sebuah gang sepi dapat kamu temukan sebuah pintu sihir yang antik. Ketika kamu mengetuk gagangnya yang seperti mulut singa tiga kali, maka pintu itu pun akan terbuka, membawamu ke dalam kedai minuman sunyi dengan nuansa kuno penuh nostalgia. Tak sembarang orang dapat menemukan kedai minuman... Hanyalah jiwa yang sedang tersesat dapat datang kesana, dengan meninggalkan serpihan jiwanya sebagai bayaran.
Kedai Minum Janji Hati.
"Oh, tidak biasanya aku melihatmu disini," kata Quina yang telah duduk di meja bersama sosok peramu saji tinggi yang tak memiliki wajah. Kebetulan malam masih muda dan kami adalah pengunjung pertama bar itu.
"Siapa yang lebih terkejut dibanding aku? Melihat seorang pengantin yang baru menikah, menghabiskan malamnya dengan minum sendirian?" balasku yang mengambil duduk disampingnya dan memesan segelas susu kepada sang Bartender.
Quina tertawa kecil dan mengolokku, "Heh, kamu datang kemari hanya untuk minum susu? Astaga, sifatmu sungguh tak pernah berubah, Clair. Yah, aku pun tak lebih kurang darimu," katanya yang mengelus gelas mocktailnya dengan pelan, "Hari ini... adalah hari kematian Papa. Aku tak ingin suamiku melihat diriku yang bersedih, karenanya aku melarikan diri ke tempat ini. ... Meskipun sudah kepala tiga, pengecut ini tak pernah berubah ya?"
Menghela nafas pelan aku menepuk pundak sahabatku itu pelan, "Lantas jika galau seperti itu, kenapa kamu tidak memesan minuman Humming Angel?"
"... Hidupku kini sudah seperti mimpi. Aku tak memerlukan ilusi palsu seperti itu lagi dalam hidupku," kata Quina yang menyisip minumannya sedikit. Aneh, biasanya urusan minum, Quina adalah jagonya tapi malam ini... dia memesan minuman tak beralkohol.
"Oiya? Padahal baru beberapa saat yang lalu, kamu mabuk habis-habisan karena dikerjai dokter seniormu... Uh, jika tak salah, kamu disuruh jaga 247, sedang seniormu bermain golf bukan?"
Mendengus lucu, Quina mencubit hidungku dan berkata, "Dasar! Harusnya kamu menyemangati sahabatmu ini, kek. Malah ngingetin masa-masa suram... Haaaahhh! Aku jadi ingat ketemu senior sialan itu hari ini. Saat kita sedang sibuk-sibuknya, dia malah main golf lagi di kamar jaganya. Paling nyebelinnya lagi, gaji kami dipukul rata lagi, haah."
Hanya dapat tertawa sumbang, aku bertanya, "Bekerja sepanjang hari, ditekan oleh atasan tanpa bayaran yang mumpuni, tunjangan dari pemerintah nunggak di akhir tahun. Kamu menyesal menjadi dokter, Quin?"
Quina terdiam sejenak. Sorot matanya menunjukan penyesalan dan keraguan akan tetapi mulutnya tersenyum tumpul, "Sebentar lagi Wabah Nyght akan merebak di kota ini juga... jika aku berhenti, maka teman-teman sejawatku akan semakin menderita. Dan tentu saja, jika sistem kesehatan kolaps, maka apa yang akan terjadi pada warga Pei Jin?"
__ADS_1
"Jadi kamu memutuskan untuk mengorbankan dan membunuh diri, menggerakkan roda mesin yang hanya membuat mereka yang di atasmu semakin kaya? Apakah itu sungguh altruisme ataukah hanya kegeosian untuk memuaskan diri? Aku kurang paham," kataku sembari menerima gelas besar susu favoritku.
"Dunia sepertinya telah mengubahmu menjadi seorang pesimis ya, Clair," kata Quina yang melihatku dengan khawatir, "Aku sudah mendengarnya, tentang korban pertama Wabah Nyght di Distrik tanpa Nama. Apa yang kamu katakan pada lumina, sehingga dia sepatah arang itu?"
Teringat diriku akan wajah terguncang Lumina setelah mendengar kata-kataku. Dia tak mampu berkata apa-apa, seluruh semangatnya menghilang. Api yang berkobar di matanya telah digantikan oleh hampanya putus asa. Pada akhirnya dia hanya terdiam terpaku menatap seorang pasien yang ia bunuh dengan tangannya sendiri.
"Menurutmu, Quin, sampai mana kita dapat berbuat dosa demi orang yang kita kasihi?" tanyaku.
Quina mendengus sarkas, "Kamu dan perumpaan sinismu lagi. Kemana Clairysviel kecil yang manis dan memandang dunia penuh dengan cahaya dulu?" jawabnya yang kemudian mengetuk-getuk meja dan melanjutkan, "Terlalu sederhana bagiku untuk bilang, kasih tidak akan menyakiti. Sebab perasaan itu begitu kompleks untuk disimpulkan dalam satu kata. Tapi... bila kasih digunakan sebagai justifikasi kejahatan yang kamu lakukan, artinya kamu orang yang sangat bodoh, Clair."
"Bukankah tumbuh dewasa, artinya, kita juga semakin bodoh untuk melihat solusi yang dahulu begitu sederhana?" jawabku.
Quina mendengus geli, seperti biasa dia menjentik keningku. Tetapi kini dengan tatapan tulus, sahabatku itu bertanya padaku, "... Hey, Clair. Bolehkah aku meminta pendapatmu, sebagai seorang Noctis? Apakah tinta takdir dunia telah sampai di ujung yang tipis?"
"Ya. Dunia ini sudah sekarat," lanjutku yang kemudian teringat akan Barley yang kuberi pada Quina. Apa mungkin... alasan lainnyanya dia kemari karena-
"Kalau begitu... sungguh berdosakah aku melahirkan anak bila masa depan baginya begitu suram?" tanya Quina.
Kata selamat tidak dapat kuucapkan. Sebab benar katanya, cerita untuk dunia ini memiliki akhir yang buntu. Antara Dewi Nyghtingale merengkuh seluruh kehidupan atau Mutter Yggdrasil menelan dunia dalam pelukannya, kedua pilihan sama-sama buruk. Dalam sudut pandang siapapun, adalah egois melahirkan jiwa yang polos dan tak bersalah ke dunia yang busuk ini. Tetapi... hati kecilku meronta-ronta, menginginkan hal itu menjadi salah. Meski otakku penuh dengan pesimisme, semangat yang sempat Lumina tunjukan padaku ingin membuatku mempercayainya lagi.
Bahwa Kasih itu memperkaya dan menumbuhkan kehidupan.
"Kalau kamu ada waktu untuk berpikir seperti itu, lebih baik waktumu itu digunakan untuk sesuatu yang lebih produktif?" tanyaku yang mengedipkan mata dan menunjuk dada Quina, "Selama jantung itu masih berdetak, selama itu pula, kamu memiliki pilihan, Quin. Untuk kebaikan... maupun yang lainnya."
__ADS_1
Mata Quina terbelalak lantas segera berkaca-kaca, tersenyum penuh haru ia menghapus air matanya. Melihat Quina menitikkan air mata mengingatkanku saat ia menolongku pergi dari Junon... dan akhirnya menemukanku di pelosok hutan. Tetes air mata dari wanita ini sangatlah langka dan berharga, sebab Quina hanya jatuh untuk orang yang benar-benar berarti bagi Quina.
"... Bila masih ada harapan bagi dunia ini, aku akan berusaha meraihnya, Clair. Demi mewujudkan dunia yang lebih baik demi anak ini... aku takkan lari," kata Quina yang memantabkan niatnya, "Kamu ini, kalau terlalu sinis seperti itu, siapa laki-laki yang akan mendekatimu, hah?" lanjutnya menepuk punggung dengan keras.
Hampir kusemburkan air susu dalam mulut, tetapi kutahan dan segera menjawab, "Y-Ya maaf!" Dengan elegan diriku mencoba memperbaiki postur tubuhku dan mengambil tangan Quina. Kutatap matanya dengan sebuah senyuman,
"Selamat ya, Quina," kataku yang akhirnya dapat mengucapkan kata-kata itu.
Kata-kata itu tidak sedangkal yang kamu kira. Dia bukan ucapan selamat tanpa dasar. Sebab kebenaran yang kupendam tentang Wabah Nyght ini sesungguhnya sudah mencapai ******* akhirnya.
Wabah Nyght mungkin adalah upaya Black Company menciptakan suatu penyakit yang membuat Mana seseorang terlalu berlimpah ruah. Tetapi, efek samping dari penyakit itu adlaah sindrom yang kelak menghancurkan tubuh mereka. Entah pa tujuan mereka, namun kini yang tersisa hanyalah jemari sang Dewi Kematian yang telah menelan separuh dunia.
Namun, kunci untuk melenyapkan relung jemari dewi kematian itu kini sudah lengkap. Lifebane yang diciptakan oleh Lumina sungguh bekerja menghancurkan para bakteri jahat itu. Namun, dia melupakan komponen terakhir dalam obatnya. Zat yang dapat mencegah seorang penyihir menggunakan sihir selamanya, yang aku perkirakan bekerja pula pada bakteri yang selalu mengeluarkan sihir Heat Wave dan menghancurkan tubuh dari dalam.
Jamur Magebane.
Tetapi, bila kedua obat itu dijadikan satu, tiada seorang pun di masa ini yang dapat membedakan jamur mikroskopis itu. Hingga sebuah dilema pun muncul, apakah manusia dan Daemon siap tak dapat menggunakan sihir lagi sepanjang hidupnya? ... Apa yang akan terjadi pada Lumina, jika orang-orang tahu bahwa dia telah merampas kekuatan sihir dunia? Pikiran itu mengacaukan hatiku dengan sangat, membuatku begitu ragu.
Pada akhirnya, aku tidak mencampur Magebane dalam obat Verrel. Dengan kata lain, orang yang membunuh anak kecil tak berdosa itu adalah diriku. Sang Daemon Bulan.
Melihat cerminan mata iblisku dalam mata Quina, aku pun berkata padanya, "... Aku juga akan berusaha mewujudkan akhir yang paling bahagia untuk cerita sumbang ini."
Tiba-tiba terdengar suara pintu kedai minum itu terbuka. Nafas terengah-engah mendekatiku dengan cepat, saat seorang laki-laki kemudian mengambil tanganku dengan matanya yang panik. Arthur, laki-laki yang mendatangi kami berdua itu pun berkata padaku,
__ADS_1
"Kak, L-Lumina ditangkap oleh polisi Hwarang!"