
Haruskah kuterima permintaan Professor Oe? Di dalam laboratorium Noctis, pikiran itu terus menerus berkecamuk di pikiranku. Meskipun telah kutenggelamkan diri dalam buku-buku pelajaran dan PR, tetapi tetap saja ia menggangguku.
Sebagai seorang Putri Keluarga Noctis, aku tidak boleh sembarangan menerima permintaan orang lain. Sebab kami adalah salah satu keluarga termashyur di dunia. Bila aku menerima permintaan Professor Oe dan gagal menepatinya… Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku.
“Ba!”
Meloncat kaget aku menemukan Eclair mengerjaiku lagi. Dengan gaun tidurnya yang tipis, gadis penuh penasaran itu memeriksa PR ku dengan sekali lihat. Dengan senyum mengejek dia pun berkata, “Eits, masih salah tuh? Nomor tigapuluh kan jawabannya—“
“A-Aaa!! N-Nda mau! Aku mau mengerjakan sendiri, salah sendiri, dan mempelajari kesalahanku sendiri,” tegurku segera mengacak tugas PR yang amburadul itu jauh dari mata Kakakku yang jenius.
“Heee? Padahal kamu punya asset seorang Kakak yang pinter, kenapa tidak dimanfaatkan saja?” kata Eclair mengambek, tetapi langsugn tersenyum manis lagi setelah mengacak-acak rambutku. Dia pun memperhatikan seisi laboratorium sejenak.
Sampai sekarang mataku masih terpukau melihat anggunnya Eclair. Seperti angkasa malam yang luas, rambut Eclair terurai panjang hingga ke kakinya. Halus penuh dengankelap-kelip cahaya lilin seperti terang bintang-bintang penuh warna di langit. Bulu matanya yang panjang dan lentik, berpadu dengan sorot matanya yang penuh percaya diri. Permata giok mahaindah di matanya, siapapun yang menatap mata gadis itu.. pasti akan tersihir dalam kecantikannya.
… Dia sungguh anak Mutter, pikirku. Sebab semakin bertambah usia, semakin Eclair tumbuh menjadi gadis anggun seperti ibunya. Sedangkan aku…
“Hey, aku sudah jarang melihat kamu bermain-main kimia sihir lagi. Kenapa? Bulan sudah bosan?” tanya Eclair.
Mendelikkan mata, aku pun *******-***** tanganku dan menjawab, “T-Tak sempat, s-soalnya kan aku harus belajar dan mengerjakan PR sekolah.”
Eclair pun menyentil dahiku, “Hmmm, padahal menurutku, daripada belajar materi membosankan itu, lebih baik Bulan fokus saja ke alkimia sihir. Soalnya, kamu tampak paling keren pas bikin senyawa sihir warna warni!” katanya yang lalu tersenyum sumringah.
“B-Benarkah?” tanyaku.
Eclair pun duduk di mejaku, “Yupsi! Gini ya Bulan, ada orang yang dilahirkan untuk menjadi dokter yang menolong banyak orang, ada pula yang menjadi petugas perpustakaan yang menjaga pengetahuan dari generasi-demi generasi,” katanya yang kemudian memainkan globe besar disamping mejaku,
“Aku percaya, setiap individu itu dilahirkan dengan tujuan masing-masing. Kamu sendiri yang harus memilih apa tujuanmu. Apakah kamu ingin menjadi burung yang terbang bebas di langit dan menggapai cita-citanya, ataukah seekor kupu-kupu dalam sangkar yang lupa cara untuk terbang?”
“T-Tumben, Kakak omongannya bijak,” ejekku.
Sedikit kesal, Eclair mencubit pipiku lebar dan mengomel, “Gini-gini, aku ini Kakakmu ya. Dasar adik durhaka!”
Tawa pun pecah di antara kami, yang kemudian dihentikan oleh bunyi bel malam. Eclair pun melompat turun dari mejaku dan berkata, “Kamu tahu, lab ini tuh sebenarnya berhantu loh. Kemarin malam aku dengar-“
“Hantu tidak bisa melukai orang,” cegahku menekuk alis heran. Astaga Kakakku ini, apakah dia masih mengira aku anak kecil yang bisa ditakut-takuti dengan cerita hantu.
“Hadeh, dasar pekerja keras. Yasudah, intinya, jangan lembur terlalu malam ya, malam tanpa bulan rasanya tuh, sepi banget!” katanya mengusap pipiku dengan gemas, sebelum melangkah setengah melompat menuju kamarnya.
__ADS_1
Usai angin ribut itu pergi, keheningan menyambutku. Sendiri di antara rempah-rempah dan tanaman sihir, aku pun duduk bersandar di kursi… Memandangi langit malam penuh bintang dibalik atap kaca laboratorium Noctis.
“Semua orang dilahirkan dengan tujuan masing-masing,” gumamku mencoba menggapai bintang di langit.
… Apa tujuanku dilahirkan di dunia ini? Apakah hal yang ingin kuraih dengan tangan ini?
Ketika melontarkan pertanyaan itu, terbesit di benakku sebuah mimpi yang merayu hati. Tentang seorang ibu yang mengelus lembut kepalaku saat aku berhasil melakukan sesuatu. Senyum bangga yang ia tujukan padanya… ingin sekali ku melihatnya. Lantas mimpi itu pun berganti menjadi wajah Dame Krista dan Prof. Oe yang memeluk penuh lega pada anaknya yang sembuh.
Kugenggam tanganku erat. Mimpi itu mungkin selamanya takkan dapat kuraih. Tetapi beda ceritanya dengan Quina, dia masih bisa mendapatkannya. Bila aku dapat mewujudkan kenyataan dimana orang-orang seperti Quina dapat bersatu dalam kehangatan keluarganya lagi… Mungkin saja aku dapat menyentuh sedikit dari kehangatan itu.
“Jika tak salah, aroma dari obat itu.. mirip sekali dengan Mint-Vladberry atau Tunisia ya?” gumamku yang kemudian mulai mengendus satu persatu tanaman sihir di laboratorium Noctis.
Saat diriku sedang asik meracik ramuan baru dari berbagai tanaman sihir, pintu lab pun terbuka. Cahaya lilin menunjukan bayangan seorang wanita dengan blus dan celana panjang, melangkah mendekatiku.
Langkah kaki yang tegas dan penuh kepastian itu sangat familiar di telinga. Terhenyak kagetlah aku, lantas langsung melompat menyembunyikan segala kekacauan yang telah kuperbuat. Dengan matanya yang lelah, wanita itu menghela nafas ketika melihatku di laboratorium.
“Bulan, sudah berapa kali aku bilang, ya, kamu boleh merawat arboretum dan lab kecil ini, tapi bukan berarti kamu boleh begadang di dalamnya,” tegur Mutter yang baru saja pulang dari jam lemburnya di istana Ishtarin.
“A-Anu, in bukan seperti itu. B-Bulan hanya iseng saja,“ kataku yang bergegas mengemas kekacauan itu.
"Iseng?"
“Akar pohon Tunisia, getah Sunnyaster, daun Mint-Vladberry. Semua yang Bulan kumpulkan adalah tanaman yang terkenal memiliki efek anti peradangan poten,” kata Mutter yang pun mengambil sebuah bunga berkelopak lima yang memendarkan cahaya putih,
“Tapi ini… Bunga Olivia. Dia hanya terkenal karena kemurnian warna putihnya yang disinonimkan dengan lambang perdamaian. Dia hanyalah tanaman hias tanpa khasiat apapun. Tapi mengapa kamu menaruhnya bersama ketiga preparat lain?”
Kugaruk pipiku dan tersenyum canggung, “S-Soalnya… Bunga Olivia punya aroma yang paling mirip dengan obat itu. Meskipun aromanya tipiiis sekali.”
Aku pun menceritakan semuanya ke Mutter. Tentang pertemuanku dengan Prof. Oe dan Istrinya, tentang penyakit yang diderita Quina dan juga tentang obat bernama Metilprednisolon. Jantungku berdegup dengan kencang, sebab untuk pertama kalinya aku berbicara selama ini dengan Mutter. Melihatnya menyimakku dengan anggukan kecil, membuatku berpikir… ah, untuk sebentar saja, aku merasa seperti anak kandung Mutter.
“Krista Oedellia... Hoo, menarik. Bukankah dia adalah Salah satu Penyihir Tinggi Pei Jin? Obat ini... apakah aku bisa menjadikannya pundi-pundi uang? Menarik, menarik,” gumam Mutter yang melipat tangannya memperhatikan bunga itu dengan sangat. Ah, dasar Mutter, pikirannya selalu bisnis mulu.
Lantas mendengus lucu, Mutter pun berkata, “Sampai kapanpun, kamu takkan bisa mereplika obat itu… Dengan metode biasa,” katanya.
“E-Eh? A-Ada metode lain?” tanyaku bloon.
“Bagaimana kamu bisa menyebutnya Alkimia sihir, jika kamu menghilangkan sihir darinya, Bulan?” balas Mutter dengan pertanyaan yang membuat kepala pusing, seperti biasanya.
__ADS_1
Setelah menyuruhku memetik sebakul penuh bunga Olivia, Mutter pun mengajakku menuju pohon oak raksasa yang tumbuh di tengah laboratorium. Dengan tongkat sihirnya, Mutter menuliskan nama yang asing pada kulit pohon itu, Chrysanta Alodia Noctis. Tetapi saat menuliskan nama itu, wajah Mutter tampak pedih. Seolah nama itu memiliki makna yang begitu dalam di hidupnya.
Sinar pun muncul, membela nama itu menjadi sebuah pintu yang membawa kami pada tangga menurun yang dalam. Langkah demi langkah menyalakan lampu sihir yang hinggap di dinding lorong hingga membawaku pada sebuah ruangan dengan dinding putih tebal dari bahan yang asing bagiku.
Saat melangkah masuk ke ruangan itu, percikan sinar pun muncul membuka berbagai mesin-mesin aneh yang membuatku penasaran. Namun yang paling menarik mataku adalah tiga buah tabung kaca raksasa, terhubung satu sama lainnya dengan pipa kaca yang meliuk-liuk dengan rumit terkait dengan batu Magicite yang masih aktif.
Samar-samar dapat kubaca nama alat itu, Gruhningen Alpha.
“Kamu mengatakan bahwa aroma obat itu muncul dalam Bunga Olivia, tapi tipis sekali bukan?” tanya Mutter yang menunjukan di depannya, “Dengan alat ini, kita dapat memanfaatkan sihir untuk mengamplifikasi kekuatan esens dari tanaman sihir. Bila normalnya kamu membutuhkan sepuluh ribu bunga Olivia untuk mendapatkan satu mili esens-nya, dengan alat ini, kita hanya butuh seratus.”
“A-Apakah alat ini juga salah satu rahasia keluarga Noctis, Mutter?”
“Yup, aku memberitahumu dengan syarat. Kalau kamu bisa membuat Ma Dame Krista berjanji memberikan hak produksi obat itu untuk keluarga Noctis, akan kuajarkan cara menggunakannya,” katanya yang menyentuh tabung kaca itu dengan lembut. Seolah seorang teman yang tertemu kembali setelah sekian lama berpisah.
"M-Mutter, tidak semuanya tentang uang," keluhku.
"Oh, Bulan, apakah kamu tak tahu? Uang itu adil, uang itu jujur, uang itu berkuasa. Tanpa uang, darimana kamu bisa melakukan semua penelitian alkimia sihirmu? Dan yang paling penting, aku suka uang. Karenanya, kalau ada kesempatan, kamu harus gercep mengambilnya, oke?"
Aku pun mengangguk, "B-Baik, Mutter. Besok, aku akan menemui Dame Krista lagi."
"Ma Dame, beda loh dengan Dame biasa. Itu adalah sebutan terhormat bagi seorang penyihir di negeri Pei Jin. Salah-salah sebut gelar orang, bisa mempengaruhi outcome negosiasi, mengerti?" tegur Mutter.
"S-Siap, Mutter!"
Mutter pun mengangguk dan dengan antusias mengajarkanku cara mengoperasikan Gruhningen Alpha. Saat menjelaskan, mata Mutter yang sering terlihat lelah, kini penuh dengan cahaya harapan. Kadang tak jarang kutemukan dirinya tersenyum tipis mendengar bunyi penuh nostalgia dari alat itu.
Tiba-tiba aku pun teringat kata-kata Eclair… Apakah aku akan memilih menjadi burung yang terbang bebas di langit ataukan kupu-kupu dalam sangkar yang lupa cara untuk terbang. Di mataku, kini Mutter terlihat seperti seekor burung elang yang bangga terbang dengan sayap lebarnya, menyayat langit dengan kecepatannya. Wajah yang sangat berbeda ketika duduk disamping Ayahanda, saat menjadi Ratu Kinje.
Sebuah pertanyaan pun terbesit dibenakku. Apakah… saat muda dahulu, Mutter memilih untuk melupakan cara untuk terbang meraih mimpinya?
Tiga puluh menit pun berlalu, setelah bersama menikmati derum melodi mesin yang indah itu, terdengar suara tetesan dari ujung pipanya. Dengan semangat aku pun mengambil cairan itu dan mencium aromanya.
“N-Nggak sepekat punyanya Ma Dame Krista sih, tapi ini beneran, Metilprednisolon!” gumamku yang melompat-lompat kecil, merayakan keberhasilan kecilku.
Dengan senyum sumringah, aku pun mendekati Mutter tetapi langkah kaki terhenti ketika melihatnya sudah duduk tertidur dengan pulas di sofa besar, di dekat perpustakaan kecil di lab sihir itu. Sedikit mendengkur dengan mulut yang terbuka kecil, sepertinya Mutter lelah sekali hingga dapat tertidur padahal baru rebahan sebentar. Padahal seringkali kuintip dibalik pintu, Mutter seringkali belum tidur padahal sudah pukul dua malam.
Mengapa Mutter masih mau membimbingku padahal kelelahan seperti ini?
__ADS_1
Apakah mungkin… sebenarnya Mutter juga menyayangiku seperti anaknya?
Tersenyum merona, aku pun melepaskan jas labku dan perlahan menyelimuti Mutter. Nakal, diriku pun naik ke atas sofa besar itu dan ikut tidur disisinya… Seperti yang ingin kulakukan sejak kecil dahulu.