
— 21 —
Terang merah menyinari puing-puing bangunan. Semakin aku mendekatinya semakin aku menyadari bahwa terang merah itu adalah sebuah menara… yang tersusun oleh beribu-ribu daging manusia yang berusaha menggapai sebuah kristal merah di puncaknya. Para penyembah menara itu telah hancur bersama puing-puing bangunan, menyisakannya sendirian berdiri di tengah jurang kota Junon.
“Wow, bahkan setelah ditimpa beban berton-ton seperti itu, menara merah ini tetap berdiri megah ya,” kata Khanza berhenti dan terkesima melihat menara itu. Dia pun mencabut tombak belati esnya dan menebas menara itu .Tetapi tombak es itu pun patah dan mementalkan Malice menjauh darinya.
“Oi,oi,oi, Emilia, setelah milenia tak bertemu denganku, kamu menolak untuk setidaknya menyapa Khanza? … Bahkan setelah menginjeksikan dirimu sendiri dengan Sel Warden, kamu tak pernah berubah. Kamu masih seorang penyihir egois yang rela menyakiti orang lain demi tujuanmu.” tanya sang Malice yang pun tertawa dengan sinis. Tiba-tiba Malice itu pun melompat dan menendang menara itu dengan sangat kuat,
“Berhenti keras kepala dan berikan Chalice-mu untukku, Emilia Fairchild!” teriak Khanza.
Kejut udara muncul meluapkan kekuatan Khanza yang dipentalkan menara itu. Namun berdiri tegar, menara itu dengan angkuh menunjukan keteguhannya pada kami. Sembari menepuk debu di pahanya, Khanza pun mengambil duduk di kepala patung sang Dewi dan bertopang dagu menatap menara itu.
“Well, seperti yang kamu liat sendiri, itu kebenaranmu, Chrysant,” kata Khanza.
“H-Ha? T-T-Tunggu dulu, aku tak mengerti apa-apa. Yang kudengar hanyalah Putri Emilia ternyata menginjeksikan dirinya dengan Sel Warden dan menjadi menara itu. Tapi yang kutanya adalah siapa aku ini sebenarnya!” tegurku mengacak pinggang.
Khanza melepas topengnya dan hanya tersenyum padaku.
ih, orang nyebelin satu itu. Senang banget sih bikin orang lain pusing? Kuhembus poniku dan mendekati menara itu. Ugh, semaki naku melihatnya, semakin aku mual. Menara itu tersusuk dari daging-daging manusia, yang tampak putus asa menggapai sesuatu. Setelah aku melihatnya dekat, wajah-wajah manusia itu… Smeua mirip sekali denganku. Tiba-tiba ada dorongan dalam diriku untuk menyentuhnya, namun—
DUG!!
Sekejap pikiranku seperti diserang oleh ribuan informasi yang tak kumengerti. Hanyalah sepatah dua patah yang dapat kuterka dari bising yang menulikan telinga itu.
“Asalkan kamu hidup… Kita akan menang…”
“Ingatlah … Sihir adalah kebohongan. Musuh dunia yang sesungguhnya—!“
Kalung Seraphina pun bersinar terang, memendarkan aura sihir yang membebaskanku dari genggaman sang Menara Merah. Keringat dingin mengucur di tubuhku, jantungku berdegup kencang, semua bulu kudukku merinding. Perasaan ini… Seolah aku sedang melihat sang kematian sendiri.
“Menarik. Aku kira Chrysant akan termakan menara itu, seperti Chalice lainnya. Tapi sepertinya, kalung Chrysant memiliki kekuatan yang dibenci oleh Emilia,” kata Khanza yang pun merampas kalungku dan memeriksanya, “Ah, energi sihir ini. Penyihir itu… Haah. Dasar, sampai sejauh apa dia melihat semuanya?” lanjut Khanza.
Saat Khanza menunjukan kristal api dalam kalung itu pada sang Menara Merah, “Ingatlah, sihir adalah kebohongan. Musuh dunia yang sesungguhnya adalah Ideal White!” katanya.
… Ha? Barusan dia—
Tiba-tiba Menara itu menjadi gelisah. Terdengar teriakan ketakutan yang kemudian menggerakan tangan-tangan itu menjauh dari Khanza. Sebuah tabung kaca pun terlihat di tengahnya, menunjukan sosok wanita berambut coklat yang tertidur di dalamnya. Tangan wanita itu menggenggam sebuah kristal berbentuk jantung berwarna merah menjauh dari kristal berlian menggerogoti tubuhnya dengan ganas, yang perlahan tubuh mendekati jantungnya.
PRANG!!
Dengan senyum lebar, Khanza menebas tabung kaca itu, meluapkan cairan kuning di dalamnya. Lantas dia pun menghancurkan tombak esnya, dan menyambut wanita berambut coklat itu dalam dekapannya. Dengan lembut, Khanza menepuk punggung wanita itu dan berkata,
“Sudah cukup, Ibu. Dengan Khanza disini, Ideal White tidak akan mencemarimu lagi. Misalpun aku adlaah anakmu yagn selalu mengecewakan… setidaknya walau sedikit, ijinkan Khanza bisa menanggung beban obsesimu itu.”
Kupu-kupu biru pun muncul dari tubuh Emilia, mengurai tubuhnya menjadi cahaya yang cantik bersama seluruh menarah merah itu. Air mata mengalir dari Khanza dalam senyuman yang tak sesuai dengan emosinya. Namun mata itu terbuka lebar, saat wanita berambut coklat itu pun memeluk Khanza dan berkata,
__ADS_1
“Kamu…CH001? Tidak… Kamu adalah si bungsu, Khanza… Maafkan Mama telah membawamu ke dunia ini…”
Tubuh Emilia pun hancur menjadi ombak kupu-kupu biru yang indah. Bersatu menjadi topan, mereka pun berduyun-duyun terbang ke permukaan dan menyentuh langit kegelapan. Dan bersamanya, sinar putih pun muncul menghempas seluruh badai salju superadikal dan membawa terang langit biru kembali ke dunia. Khanza melihat semua itu tanpa berkedip sekalpun, dengan tangan menggenggam reat kristal merah milik Emilia… memendam kalut perasaannya.
“Jadi ingatan itu… Kamu adalah homunculus pertama yang diciptakan oleh Putri Emilia?” tanyaku.
Khanza tertawa, “Aku adalah yang pertama, juga yang kedua puluh, juga yang keseratus, dan ke sekian. Aku adalah Khanza, Subyek 9669, tapi juga Vandal, subyek 789 dan Kevin, subyek 893. Di dalam otakku yang terbatas ini… aku mengikat ingatan dari ke 9669 Homunculus yang diciptakan Emilia,” kata Malice itu yang mendekatiku dan menepuk pundakku,
“Kecuali kamu, Subyek 3 yang paling menyerupai sang original. Chrysanthemum,” lanjutnya.
“Apakah… kamu akan membunuhku seperti yang lainnya?” tanyaku menggenggam gagang belatiku was-was.
“Mungkin, suatu hari nanti, Hihihi,” candanya yang pun mengalungkan liontin Seraphina di leherku.
“… Apakah aku akan berakhir seperti CH001 dan subyek lainnya. Apakah suatu hari nanti… aku akan kehilangan kemanusiaanku dan menjadi.. .Malice? Apakah suatu hari nanti aku akan menjadi monster yang melukai orang-orang yang kusayangi di hidupku?” tanyaku.
“Duh, banyak banget pertanyaannya. Emang Khanza Mbah Gugel, tau segalanya? Saat ini Khanza udah pusing, kurang glukosa. Setelah Chrysant mentraktirku ramen, Khanza baru bsia mikir banget. Pokoknya, yang paling penting saat ini Khanza lapar!” katanya yang menepuk punggungku keras.
“Jawab aku!” teriakku kesal.
Senyuman di wajah Khanza pun menghilang. Dia menghela nafasnya dan menatapku dengan dingin, “Kamu sudah tahu jawabannya,” katanya yang pun menuntunku melewati puing-puing bangunan itu.
Di antara tiang-tiang listrik yang patah dan jembatan yang runtuh, aku dapat melihat pedang merah Saber yang patah disana. Tapi tak ada jejak dari laki-laki itu dimana pun aku mencarinya.
“Dia bilang pada Chrysant, bahwa dia juga adalah kelinci percobaan White Order, yang diinjeksi sel Warden, bukan? Kekuatan yang digunakannya untuk melindungimu memiliki bayaran yang sangat mahal,” kata Khanza yang melihat teriknya matahari di langit, “… Laki-laki malang itu, saat ini sedang bersembunyi di kegelapan… menantikan waktu untuk melahap mereka yang hidup dan merampas kemanusiaannya.”
“Hmph, rasa sakit itu adalah bayaranmu ketika menggunakan Ignition Berserker. Ingatlah rasa sakit itu… sehingga kamu takkan pernah menggunakannya lagi.”
“Sebab… semakin sering kamu menggunakannya, kamu akan kehilangan kemanusiaanmu.”
Kubekap mulutku tak percaya, demi aku… Saber telah—
“Intinya, asalkan kamu tidak menggunakan Ignition Berseker lebih dari 3 kali. Sel Warden dalam tubuhmu tidak akan menggerogoti tubuhmu, Chrysant,” kata Khanza.
“Tapi… Bila Khanza juga adalah subyek penelitian Emilia, kenapa, kamu tidak menyerang manusia lain?”
“Loh, kamu sunggu percaya aku ini seekor Malice?”
“Ha?”
Khanza tertawa terbahak-bahak lantas mengambil sebuah lencana dari sakunya. Lencana berbentuk elang yang dimiliki oleh seorang Pathfinder. Melotot aku melihatnya.
“Hahahaha! Chrysant lucu banget sih. Kamu terlalu polos sampai bisa kukerjai berkali-kali. Makanya, kalau ada rapat atau pertemuan para Pathfinder, datang dong. Lagipula Pangeran itu gokil banget, masa dia gak ngomong apa-apa sih ke kamu?” kata Khanza yang pun menepuk dadanya dan memberikan salam hormat seorang Pemburu padaku,
“Perkenalkan Ruin Hunter, aku adalah Khanza Leilani Nadjana, tapi mungkin kamu lebih mengenal Code Name-ku, ehem… The Desert Lion. Pathfinder tertua di Black Company!”
__ADS_1
“HA??! APA KATAMU PENYIHIR SIALAN?!”
— + —
Hangar bandara melepaskan segala letih dalam diriku. Melihat kumpulan Pemburu dan peneliti disana membuat hatiku lega. Aaah, akhirnya, setelah hari yang panjang ini aku bisa lepas dari tawa dan keisengan Khanza!
“Chrysant!!!” teriak Dagger yang pun berlari dan memelukku dengan erat, “Kenapa kamu selalu gini. Membahayakan dirimu sendiri demi orang lain. Ih, kamu gak ngerti seberapa khawatir aku dibuat kamu, huh?!” katanyay yang kemudian mencubit lebar kedua pipiku lebar.
“A-A-Ampyuuun, a-auuu gak bakal ngelakuin itu lagi kok” pintaku.
Khanza tertawa geli, “Yang penting kan, sekarang Chrysant sehat walafiat. Kamu bisa melepaskannya, Dagger,” katanya.
“Loh, Khanza juga ikutan?” tanya Dagger.
Tunggu, oh iya benar juga. Kan Dagger adalah bawahan Khanza, mana mungkin gadis itu tidak mengenal atasannya bukan? Astaga, penyihir itu menipuku lagi.
“Eh, Dagger, tahu gak, penyihir gila satu ini, bilang dia adalah sang Desert Lion. Gak mungkinkan?” kataku.
“Paathfinder Nadja, tapi… dia kan sudah—“ kata Dagger yang tiba-tiba melotot dan memberi hormat pada Khanza, yang telah mengenakan topeng singa berambut putih panjang,
“Hormat kami, Mentari Black Company, Desert Lion!” teriaknya gugup.
“H-Ha? Tidak mungkin, kamu benar-benar…”
Khanza tak menjawab dan membalas hormat gadis itu, lantas mengisyaratkannya untuk istirahat. Dari punggungnya dia pun memberikan pedang patah Saber pada adiknya. Melihatnya, Dagger pun menggigit bibirnya… paham apa yang terjadi pada Kakaknya dari lini waktu yang lain itu.
Memeluk pedang itu dengan erat, Dagger pun berkata dengans uara gemetar, “Terima kasih… Pathfinder-ku.”
Khanza menepuk pundak Dagger dengan kalem, lalu mengangguk padaku, seolah memintaku untuk menghibur Dagger. Tak usah dia minta pun, aku pasti sudah melakukannya, tahu. Tapi, Penyihir itu pun mengibaskan jubah merahnya dan meninggalkan kami… menuju tim ekspedisinya. Dengan bangga dia menunjukan kepada anak buahnya, harta karun terbesar dalam ekspedisi itu di tangannya. Kristal merah yang memiliki energi tanpa batas. Quartz Bulan.
… Ya Dewiku, Khanza benar-benar sang Desert Lion!
“… Tak hanya memenuhi misi kami, secara teknis, tak ada yang mati dalam ekspedisi ini. Penyihir itu, sang Desert Lion benar-benar seorang Pathfinder yang hebat…” kata Dagger yang memeluk erat pedang itu, “Tapi… Meski Saber masih hidup… Apakah pengorbanan ksatria itu sia-sia?” tanya Dagger yang bingung.
Menggelengkan kepalaku aku memegang dadaku dan melihat ke langit, “… Hidup ini telah ia selamatkan, meski semua orang melupakannya, aku akan mengingatnya,” kataku menggenggam tangan Dagger yang menangis.
… Haah, misi ini terasa sangat panjang sekali. Ada banyak pertanyaan yang masih tersisa di kepalaku. Ada beberapa kebenaran yang ingin kuanggap sebagai kebohongan belaka. Tapi, meskipun kudapatkan dari Penyihir sialan itu, aku menemukan harta karun yang lebih berharga dari Quartz Bulan. Kata-kata yang kini menjadi lentera dalam hatiku.
“... Saat kamu akan memilih untuk melindungi orang yang kamu sayangi atau menyelamatkan dunia ini… Kamu takkan menyesal bila memilih kata hatimu,” gumamku ke langit.
Tunggu aku Saber… Suatu hari, aku akan membuktikan kata-kata itu untukmu.
Aku akan menyelamatkanmu.
Character Revision
__ADS_1