Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Ilusi Bermata Dua (1)


__ADS_3

—11—


Deretan tiang bunga lentera menyala satu persatu, menyinari gelap sepanjang jalan kota Pei Jin dengan keindahan warnanya. Keramaian kota kini telah diganti deretan angkringan yang penuh dengan para buruh pulang dari kerja. Saling bercerita tentang keluh kesah dan menghibur satu sama lainnya bersama wangi jajanan yang polosnya menggoda perut bergerumul.


Disana, aku menemukan diriku berdiri di tepi jembatan besar, memandangi cahaya Pohon Yggdrasil yang menerangi malam, menggantikan bintang dan bulan yang telah direnggut dari dunia.


Mengapa aku menolong anak itu?


Pertanyaan itu mengitari kepalaku sebab akal logika tak mampu menarik kesimpulan. Apakah rasa iba yang mendorongku? Ataukah kesombongan diriku yang ingin menjadi seperti Kakak?


“Bulan yang ingin menjadi sang Mentari. Omong kosong,” gumamku memandangi tanganku.


Tangan yang telah melukai terlalu banyak orang tak bersalah. Tangan yang telah merenggut masa depan dan cinta dari dunia ini. Tangan ini seharusnya sudah tak pantas untuk menyelamatkan siapapun.


Tapi, apakah seorang pendosa sepertiku tak boleh berbuat baik?


“Mengagumi tanganmu sendiri?” tanya Arthur yang tiba-tiba hadir disisiku.


“Mengagumi tangan dengan kuku-kuku tajam seperti belati ini?” balasku.


Mataku pun melihat lezat bingkisan aroma bingkisan di tangannya… ah, bau daging ini, martabak telur favoritku.


“Mau?” tawar Arthur menyodorkan martabak itu.


Tapi sesaat tanganku hampir menyentuhnya, bocah itu menariknya kembali. Dengan wajah tenang dia tersenyum tipis dan mengejekku,


“Ini buat Luciel, bukan untukmu, Auntie yang lupa membawa keponakannya ke dokter! Terus, aku dengar, semalam, Luciel-lah yang menolongku, bukan kamu. Jadi sepertinya aku berhutang nyawa padanya.”


“Astaga, bocah tidak sopan satu ini. Kalau begitu, siapa dong yang membawamu ke Luciel?” kataku yang tertawa geli. Ah, untuk sebentar, aku melupakan kegalauan dalam hatiku.


“Anak itu suka telur martabaknya satu aja. Katanya lebih garing,” lanjutku yang membuat Arthur pucat pasi.


“U-Uh… A-Aku kira semakin mahal harganya, semakin orang suka,” katanya yang gugup.


“Hahaha… Luciel gadis yang baik. Apapun hadiahnya, dia pasti menyukainya,” lanjutku kembali memandangi pohon Yggdrasil dan menghirup nafas dalam.


Kami berdua pun terdiam. Hanya ditemani oleh suara riak sungai di bawah jembatan dan orang-orang yang lewat, menikmati nuansa malam kota Pei Jin dan kehadiran satu sama lain. Sama seperti dulu, kami menikmati waktu bersama dalam keheningan di perpustakaan istana.


Tujuh tahun berlalu… kami berdua sepertinya tidak jauh berubah.


“Auntie punya tangan yang cantik. Sayang bila Auntie tak menyikainya,” kata Arthur tiba-tiba membuatku terkejtu, “Padahal aku percaya, dengan tangan itu, Auntie dapat menolong banyak orang.”


“H-Ha? B-Baru saja, k-kamu menggoda tantemu sendiri? Duh, Dewi Nyghtingale-ku, tolonglah keponakanku ini, sepertinya efek ramuan cinta itu semakin menjadi-jadi!”


Seperti kepiting rebus, Arthur terbelalak kaget dan membantah, “Nggak ya! A-Aku cuma memuji kok. Salah, kah?”


“Yah, harus kuakui, aku memang cantik dan mempesona, tapi tolonglah ya, kontrol napsu masa mudamu itu.”


“A-Astaga, siapa juga yang bakal terpesona dengan orang kepedean, nggak peka dan pemaksa sepertimu? Huh, pantas aja sampai sekarang masih jomblo,” tegur Arthur.


JLEB!


Gemas, aku pun menjitak Arthur dan mengomel, “Kamu ni yaa, dasar kurang ajar. Begitu caramu ngomong dengan bibimu sendiri?”

__ADS_1


“A-A-Ampuuun!”


Setelah puas, aku pun melepaskan cubitanku. Saling memandangi satu sama lain, tawa pun pecah. Mungkin kerinduan hati yang telah menumpuk kini meluap seperti waduk yang pecah, memberikan kehangatan yang familiar dan nostalgia… yang tak ingin kuingat kembali.


Seusai tertawa, aku pun menatap Arthur dan bertanya, “Kenapa kamu datang kemari, Artie? Kukatakan sekali lagi, bila kamu mencari bayangan ibumu dalam diriku, kamu hanya akan menemukan kekecewaan Artie.


Aku bukanlah Mentari.”


… Dan aku pun telah memilih meninggalkanmu dulu.


“Aku ingin melindungi Keluargaku yang tersisa,” jawab Arthur tanpa keraguan.


Ha? Ngomong apa anak ini...?


“Maksudmu Lumina dan bapakmu yang sontoloyo itu?”


“Termasuk Auntie juga,” jawab Arthur yang menggenggam tangannya yang penuh luka, “… Aku tak ingin lagi kehialngan orang-orang yang berharga dalam hidupku… Karena kelemahan diriku.


Hah... ada-ada saja.


Aku pun mendengus, “Artie, demi kebaikan kita berdua, lebih baik kamu tak menganggapku sebagai keluargamu,” kataku.


“Apa maksud Auntie?”


“Soalnya, kalau kamu menganggapku keluarga, dengan perasaan menggebu-gebu di dadamu itu padaku, bisa terjadi skandal yang panas,” ejekku.


“A-Astaga, ini lagi. Padahal aku kira kamu mau ngomong serius. Ya ampun, cape dah aku,” keluh Arthur sedang aku hanya tertawa terbahak-bahak melihat responnya yang lucu.


Namun, aku serius dengan perkataanku. Akan lebih mudah bila Arthur tak menganggapku sebagai keluarganya. Dengan begitu, ketika dia mengetahui rahasia tentangku dan Mentari, Arthur akan lebih mudah untuk membenciku.


Beberapa saat kemudian, Melewati pasar yang telah tutup, melintasi jembatan kecil selokan di distrik Pariyastra, kami pun menemukan sebuah rumah bertingkat dua dengan penuh tanaman obat di halamannya. Toko Bunga Lentera, rumahku.


Cahaya bunga lentera yang hangat telah menantikanku di balik jendela rumah, menghadirkan pemandangan yang nostalgia bagiku. Merantau dalam perjalanan lama, aku sangat merindukan terangnya rumah saat pulang. Toko telah tutup dan kuperhatikan bebrapa dagangan telah habis dari etalasenya. Sepertinya hari ini sibuk seperti biasa, hatiku agak bersalah rasanya meninggalkan Luciel mengurusi toko sendirian.


Hmm, sepertinya aku mesti mencari part-timer baru di toko ini. Oh iya, kan ada Arthur? Hihihi. Tenaga gratis dan efisien, asik!


Tiba-tiba perpaduan aroma bawang bombay dan bawang putih menari-nari di hidungku. Perut kami yang sudah bergerumul pun mengambil alih kemudi dan menyihir kami menuju dapur. Disana, kami mengintip dibalik pintu dan menemukan Luciel telah menyulap dapur kecil itu seperti resto kecil yang nyaman.


Seperti Chef handal, Luciel memasak dengan lincah. Derum lemak daging yang perlahan keluar membuatnya menganggukkan kepala mengikuti iramanya, menari kecil dalam senandung pelan sambil menusuk-nusuk kentang dan wortel di campuran tersebut.


“Kentang dan dagingnya sudah lembut, gurihnya pun udah pas. Sip,” gumam Luciel yang menghidangkan semur daging itu di meja makan. Duduk dirinya melihat jam di dinding sambil bergumam,


“Waduh, udah jam 7, tapi dua orang itu belum pulang. Padahal Luciel nda suka makan sendiri.”


JEBRAK!


“Aku pulaaaaang!” teriakku dengan penuh semangat, langsung melompat mendekati gadis kecil yang kaget itu dan mengusap pipiku dengan miliknya,


“Oooh, Luciel gak mau makan sendiri yaa? Luciel kesepian yaa? Awwww, lutuna Homunculusku satu ini,” godaku.


BUK!


Sebuah jitakan maut kuterima di kepala, menghardikku duduk di meja makan dengan santun. Tapi bukannya melanjutkan dengan megnomel, Luciel mendorong kursi dan mempersilahkan Arthur duduk disana.

__ADS_1


“A-Aku boleh ikut makan disini juga?” tanya Arthur bingung.


Luciel mengangguk, “Boleh. Tuan kan keluarga Dame. mulai hari ini, rumah ini pun adalah rumahmu juga,” katanya yang pun mengambilkan nasi untuk Arthur dan diriku.


“Tapi itu artinya, Tuan muda Arthur harus bekerja keras di rumah ini, oke? Jangan jadi pemilik toko yang gabut dan ilang-ilangan,,” lanjut Luciel yang menunjukku dengan memonyongkan bibirnya.


“Kalau aku mempersembahkan bingkisan ini, apakah boleh aku menumpang gratis untuk beberapa hari ini, Nona Luciel?” tanya Arthur yang menyerahkan martabak hangat kepada gadis kecil itu.


Dalam sekejap, mata Luciel pun berbinar-binar penu semangat. Senyum lebar pun merekah di bibirnya, bersamaan dengan iler yang segera dia hapus. Dengan ceria gadis itu berkata,


“I-I-Ini untuk Luciel, sungguh, semuanya?”


Arthur tersenyum dan mengangguk.


“W-Waaaahh!! Udah berapa lama Luciel nggak makan martabak? Pas mau beli, luciel datang selalu telat dan abangnya bilang udah habis,” kata Luciel yang segera menyantap martabak itu dengan lahap,


“Mmhh, dagingnya juicy banget. Meskipun kurang krispy, tapi gurihnya mantab,” lanjut gadis itu.


“Kalau ada hal lain yang bisa kulakukan untuk Nona, katakan saja, aku siap melakukan apapun untuk Nona,” kata Arthur dengan lihai. Hmm, sepertinya bakat playboy dari ayahnya menurun pada Arthur.


“Sungguh? Kalau begitu…” Luciel terdiam sejenak dan melirikku. Tiba-tiba dia tersenyum manis dan menoleh pada Arthur,


“Tinggalah di rumah ini, Tuan Arthur,” lanjutnya.


Sama seperti Arthur, aku pun terkejut mendengar permintaan gadis kecil itu. Kepolosan senyuman Luciel membuat Arthur sulit menolak gadis itu, apalagi dengan hutang budi yang membelenggunya.


Makanya aku paling tidak suka hutang budi.


Bertopang dagu, aku pun menikmati melihat Arthur kelabakan mencari-cari alasan untuk menolak Luciel. Aku rasa bukan hakku untuk ikut campur urusan kedua pemuda di depanku.


“S-Sebelum aku memberi jawaban pasti, b-boleh aku konsul dulu dengan pelayanku?”


“Nggak boleh, Luciel mau jawabannya saat ini.”


Bagus sekali Luciel. Jangan pernah memberi seorang laki-laki waktu untuk menjawab, karena mereka pasti akan menggunakan waktu itu untuk mencari seribu satu alasan!


Bingung, pada akhirnya Arthur melihatku dan memberi kode bantuan. Araraa, cemen banget sih. Baru segitu doang udah minta bantuan. Tertawa geli aku pun membantu keponakanku.


“Hush, hush, Luciel, Arthur sudah memiliki rumahnya sendiri. memaksa seseorang untuk meninggalkan rumahnya, bukanlah sesuatu yang baik,” kataku yang pun menikmati martabak itu dan melanjutkan,


“Kecuali, kalau kalian berdua nikah.”


“Itu bukan ide yang buruk,” kata Luciel.


….! Tersedak aku dan hampir saja mati tercekik. Segera kuteguk air dan memukul-mukul leherku.


“Bulan tidak setuju!” cegahku segera.


Luciel tertawa jenaka, “Luciel ebrcanda Dame. Jangan overprotektif gitu ah sama aku. Hmm, kalau semisal Arthur tak bole tinggal disini… sebagai gantinya,” kata Luciel yang kemudian melihat Arthur dan berkata dengan serius,


“Maukah Tuan Muda berjanji padaku, untuk selalu ada disisi Ma Dame Clair?”


Tanpa mengunggu lama, Arthur menjawab, “Tentu saja. Nona Luciel bisa memegang janjiku.”

__ADS_1


Melihat kedua anak itu tersenyum dan makan bersama di meja ini, aku menyembunyikan bunyi retakan dalam hatiku. Manis pemandangan itu hanyalah sebuah ilusi yang menunjukan kehangatan keluarga. Sebab aku tahu, hubungan hangat yang kami miliki sekarang… hanyalah kepalsuan belaka.


__ADS_2