Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Kesombongan Sang Ksatria Kuda (1)


__ADS_3

“U-uh, silau sekali,” gumamku menolak matahari yang membakar kulitku saat melangkah memasuki distrik Clariyastra yang kumuh, “Benar juga selama di simulasi Sucubian Dream, cahaya mentari tidak dapat melukaiku. Tetapi di dunia nyata ini… Cahaya adalah musuh bagi makhluk kegelapan sepertiku,” lanjutku.


Belum lagi aroma tidak sedap yang mewarnai setiap sudut distrik ini, ingin membuatku muntah. Antara bau bangkai tikus bercampur dengan kotoran dan segala jenis benda yang mengusik hidung, semua bercampur aduk mengocok lambungku. Mereka berkali-kali lipat lebih busuk dari dunia mimpi. Saat kakiku menginjak lumpur dan menodai gaun putihku, ringan kepala rasanya ingin pingsan.


Mengapa... seorang Penyihir kaya sepertiku harus pergi ke tempat menjijikan seperti ini?


Lumina tertawa cekikikan dan membuka payung untukku, “Lebaynya Putri Noctis dari dulu sampai sekarang, tak pernah berubah ya,” katanya yang mengiringi langkah kakiku.


“Kamu siapa ya…? Bukannya Lumina yang kukenal adalah wanita pemalu dengan suara lembut menenangkan hati?” cibirku.


“Tinggal enam bulan di kota Pei Jin akan mengubahmu menjadi sedikit lebih keras, Putri,” kata Lumina yang mengantarku ke sebuah rumah yang telah dikelilingi oleh para Hwarang. Menunduk hormat, Lumina pun mempersilahkanku,


“Silahkan masuk duluan dan memulai pekerjaan pertamamu, Ma Dame Clair.”


Araraa, sudah mencemplungkan diri dalam masalah apa aku ini?


Seperti sihir prediksi lainnya, Sucubian Dream bukanlah ramalan masa depan yang sempurna. Ada banyak faktor yang tak mampu diperkirakan olehnya. Salah satunya adalah sifat Lumina, yang kini lebih cerah dan percaya diri dari perempuan yang kukenal dua tahun yang lalu. Dan pula… kejutan yang menantiku di dalam rumah itu.


Aroma darah segar segera menyambutku, bersama serbuk arang yang terburai dari perapian. Di depannya, terduduk sebuah mayat laki-laki dengan tiga luka cakar raksasa merobek leher dan dadanya. Tak jauh darinya, adalah mayat seorang ibu yang memeluk anaknya yang mati, dengan luka bakar bercampur dengan berkas menyerupai ranting pohon di sekitar kulit mereka. Tanda aborescent yang hanya muncul pada mayat yang mati tersambar petir.


Samar di udara dapat kutemukan, aroma familiar dari tubuh Arthur. Di segala penjuru dapur yang berantakan itu aku dapat mencium aromanya yang segar. Dia baru saja datang kemari.


“Berantakan dan ceroboh sekali,” gumamku memasang sarum tangan hitam dan memeriksa mayat itu satu persatu, “Ma Dame Fan berpesan apa?”


Lumina mendekatiku dan berdehem menirukan gaya bicara nenek tua bangka itu, “Buktikan bahwa pelaku pembunuhan ini bukanlah seekor Daemon, cucuku yang kurang ajar.”


“Kamu bisa tulah loh, Lumina,” kataku tersenyum geli.

__ADS_1


“Yah, tiba-tiba menghentikan pendanaan untuk penelitianku, tapi kini datang mengatakan obatku akan gagal. Siapa yang gak bakal kesal dengan penyihir tua itu?” jawab Lumina yang kemudian menyatukan tangannya dan menahan amarahnya,


“Tapi… siapapun yang melakukan semua ini pada Verrel. Aku tak sabar untuk membuangnya menjadi makanan anjing lapar,” lanjutnya.


“… Apakah seorang Dokter pantas berbicara begitu?” tanyaku sembari membuka mulut salah satu mayat itu dan mengambil secarik kertas dari tenggorokan sang anak.


“Sebut saja aku dokter yang overprotektif dengan pasien,” kata Lumina yang menunduk ingin mengintip isi surat itu, “Omong-omong, kok bisa dengan santainya Putri menebak ada surat di leher Verrel?”


Aku pun mendengus, “Klasik. Bila orang biasa bertukar surat lewat burung merpati, kami Keluarga Noctis, bertukar surat lewat mayat.”


“Mengerikan… tapi efektif juga,” komentar Lumina tersenyum ekcut.


Tertawa kecil aku melihat tingkahnya. Jujur, aku jadi lebih santai dengan tingkahnya yang polos dan terus terang seperti ini. Dengan hati-hati aku membuka isi surat itu, namun tak menemukan sesuatu pun tertulis padanya. Seolah-olah sang pelaku mengejekku dan menertawaiku yang terlambat menyelamatkan hidup Verrel.


Penghinaan klasik oleh seorang Noctis. Bila kubayangkan perselisihanku dengan Arthur adalah papan catur yang besar, saat ini dia sedang menyekak Rajaku dengan ksatrianya yang sombong. Dia meremehkanku dengan tidak repot-repot menutupi jejaknya membunuh karakter kunci dalam rencanaku.


“Boleh juga bocah itu.”


Lumina menepuk tangannya, “Berarti dugaan kita sama ya Putri? Pembunuh bengis itu tak lain adalah Matrovska yang menyerangku semalam, Arthur Arpeggio Noctis,” katanya yang kemudian memanggil bola api magma di tangannya yang membara sama dengan emosinya, “Tunggu apa lagi Putri. Ayo, kita bakar bocah tengik itu!”


“Araraaa, sabar, asistenku yang emosian. Apa yang bisa dilakukan dua orang penyihir melawan seorang ksatria spesialis pemburu penyihir?” tanyaku.


"Eh? Kan Putri Sang Daemon Bulan, salah satu dari tujuh penyihir terkuat di Kinje? Masa melawan seorang Matrovska aja kalah?”


Tertawa geli aku, “U-uhh, gimana ya jelasinnya,” kataku yang kemudian mencoba meniru sihir Lumina tapi yang muncul hanyalah kedutan api yang menyedihkan, “Sesungguhnya… aku tak punya bakat sihir sama sekali, Lumina. Aku bisa mendapatkan posisiku, ummm, dengan banyak manuver dan perjanjian gelap. Intinya, Ma Dame Clair hanyalah titel semata.”


Langsung melototlah Lumina dan mengguncang kedua pundakku, “S-S-Seriusan, Putri? K-Kalau begitu cerita tentang kehebatan Putri mengalahkan penyihir di Hilfheim? Kebangkitan Putri setelah dieksekusi itu… semua hanya cerita bohong belaka?”

__ADS_1


“Yup. Kamu kan anaknya Danius, harusnya paham dong, kenapa aku deket banget dengannya? Untuk menyebarkan rumor tentangku tentu saja,” kataku yang kemudian duduk di kursi meja makan dan menyilangkan kaki, “Pada hari eksekusiku, kami menciptakan boneka yang mirip sekali denganku. Diciptakan oleh pengrajin paling ulet, digerakkan dengan tali sihir, didanai dengan uang yang sangat besar. Siapapun takkan percaya bahwa yang mati di hari itu bukanlah aku, melainkan boneka biasa.”


Membekap wajahnya tak percaya, Lumina pun berkata,”Jadi intinya… Putri Noctis ingin berkata bahwa sihir Putri adalah uang?”


“Pernahkah kamu melihatku bertarung?”


“Tidak. Bahkan di malam itu, Putri hampir lari terbirit-birit,” kata Lumina mengingat malam pertemuanku dengan ‘Para Fenrir’ yang adalah koleksi mayat hidup Necromancer itu.


Wanita ini pun… jauh lebih mematikan dari tampang manisnya. Tak ada orang yang masih waras akan mencemplungkan diri dalam Kegelapan ilmu Necromancy. Hanyalah mereka yang terkutuk kehilangan orang yang dikasihinya akan mencoba ilmu gelap itu dan menemukan kekecewaan. Mungkin itulah yang menjelaskan betapa terlipatnya sifat Lumina… menjadi Penyihir dengan hati dingin, yang bahkan tak berkedip melihat keganasan di rumah ini. Kalau Lumina yang kukenal, dia sudah pingsan dari tadi.


“Yah, tugasmu sekarang adalah melindungiku, Asistenku, Lumina Sang Necromancer,” kataku yang memasang kembali jubahku dan pergi ke depan pintu.


Senyum sinis yang sangat tak cocok dengan wajah lembut itu pun tersungging, ketika ia berkata, “Kalau Putri mati, apakah boleh aku menjadikanmu salah satu koleksiku?"


Mendengus geli, aku pun pergi dan menjawab, “Jangan menyerangku aku saat tidur, oke?”


“Hihihi, siapa yang akan tahu? Putri Noctis adalah spesimen yang sangat menarik,” balas Lumina menyusul dan berjalan di sisiku.


“Hey, sifat aslimu keluar tahu.”


“Hihihih!”


Haaah… Gawat ini. Memiliki asisten yang entah kapan akan menjadikanku zombie kesayangannya, atau adik yang akan memburu hidupku untuk ‘menyelamatkan dunia’, mengapa sepertinya takdir selalu menuntunku dalam situasi yang rumit? Yah, untung saja, Lumina cukup polos untuk kubohongi dengan mudah.


Tetapi Arthur telah mengambil langkah pertamanya. Terjebak dalam permainan mematikan ini, mau tak mau aku harus mengambil langkah. Sama denganku yang juga mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, Arthur juga tahu… Malah kemungkinan besar, dia jauh lebih tahu. Karena itulah, Arthur mematahkan kesempatanku untuk menyempurnakan obat Lifebane.


Dan seperti seorang pemburu yang handal, dia menantikanku melakukan kesalahan sebelum menyergapku.

__ADS_1


“Menarik sekali, Artie,” gumamku membekap mulutku, menyembunyikan senyum penuh taring yang tak sabar melihat wajah putus asa Arthur, setelah semua rencananya gagal.


__ADS_2