
Hebat sekali Hwarang, kerja mereka sangat cepat. Padahal baru pagi kabar berita tentang kematian Verrel disebar, mereka sudah mengepung menara milik Lumina lengkap dengan senapan sihir mereka. Dari balik bayang-bayang gang, aku dan Arthur memperhatikan saat-saat dimana Lumina menyerahkan diri dan diarak melewati barisan penduduk Distrik tanpa nama. Semua menatap dokter itu dengan pandang kecewa dan marah, terutama kedua orang tua Verrel.
“Oh begitu rupanya, sudah kubilang, seharusnya Lumina membuat perjanjian tertulis dengan kedua manusia itu. Kata-kata manusia tidak dapat dipegang,” gumamku melipat tangan dan bersandar di dinding.
Arthur telah bersiap untuk meloncat masuk dan menghabisi Lumina, tetapi segera kutarik kerah bocah gegabah itu dan membantingnya di tanah.
“Ke-Kenapa Kakak menghalangiku?” tanya Arthur kesal.
“Ya jelaslah! Aku kan ingin melindungi Lumina darimu, Arthur. Lagipula, sekarang belum saatnya,” gumamku yang kemudian menunjuk mataku pada bayang-bayang yang muncul mengawasi Lumina di atas atap rumah-rumah reok disana, “Bila ingin menyelamatkan Lumina, maka kita harus menunggu para anjing itu membantai semua Hwarang, sebelum mengantar Lumina ke Tartarus, Penjara para Penyihir.”
“Anjing…? Maksudmu, Para Fenrir?”
Aku mengangguk, “Tartarus terkenal sebagai tempat paling aman di dunia. Sekali kamu masuk ke dalam, tiada satu pun cahaya yang akan mencapaimu, apalagi manusia. Karena itulah, saat mereka tahu Lumina akan masuk ke dalamnya, para Fenrir pasti akan bertindak.
Saat mereka keluar, kita bisa menghabisi mereka semua di satu waktu.”
Arthur menelan ludahnya, “Rencana yang bagus,” katanya.
Aku tak menjawab, tetapi terus mengawasi gerak-gerik bayangan di atas atap. Ada yang mengganjal di hatiku. Sampai sekarang, aku tak bisa menemukan jawaban mengapa Lumina diburu oleh kaumnya sendiri. Aneh, tidak logis, sebab jika Black Company ingin menguasai dunia, bukankah dengan menolong Lumina, mereka bisa menarik simpati rakyat dengan Lifebane? Ataukah mungkin Wabah Nyght ini… bukanlah sebuah pelitian sihir yang gagal?
Lagipula... untuk apa pula seorang Matrovska seperti Arthur juga mengincar nyawanya?
Sebelum pertanyaan dapat kujawab, terdengar bunyi hentakan kaki yang keras. Para bayangan di atas atap itu pun segera melesat mendekati Lumina dan membuat semua orang menjadi panik. Dengan lincah, para anjing dengan sabit dan pedang pendek itu menghabisi para hwarang satu persatu. Namun kuarahkan mataku mencari di antara kerumunan manusia yang panik, satu penyihir yang mengendalikan pasukan mayat hidup itu.
“Disana!” kataku yang segera melesat, menuju garis sihir yang mengendalikan puluhan mayat hidup yang memporak-porandakan kota. Kutajamkan jemari belatiku dan segera melompat menghujam sang penyihir, tetapi sebelum belati itu dapat menyentuh lehernya, tiga sabit menghadang jalanku.
“T-Tuan Putri?” kata Lumina yang terkejut melihat jemari belatiku hampir merenggut nyawanya.
“Lumina…? K-Kamu, ini—!”
Kilat cahaya muncul di bawah kaki kami. Cahaya itu dengan cepat menyusun dirinya menjadi diagram sihir yang sangat besar, mengurung diriku dan Lumina di dalamnya. Terperanjat kaget diriku membaca relief sihir itu. Silentia Disperium, sihir yang meniadakan segala jenis sihir di dalamnya.
__ADS_1
Sebuah pelindung sihir pun berdiri tegak, mengitari diagram sihir raksasa itu. Arthur pun melompat masuk ke dalam lingkar sihir dan bersamanya, seluruh bayangan yang dikendalikan Lumina pun jatuh tak berdaya. Ketakutan tampak jelas dari mata Lumina, ketika melihat Arthur menghunuskan Artemisia padanya.
“Arthur… Jangan agresif gitu. Kamu hanya butuh informasi dari Lumina, kan? U-Uhh, tentang Chronostoria Noctis? Kamu tak perlu membunuhnya,” tebak diriku yang melindungi Lumina dibalik naunganku.
Arthur mendengus geli, “Kakak sungguh berpikir begitu? Padahal kukira Kakak lebih pintar dari penyihir jahat itu, bisa menebakku sebagai seorang Matrovska. Tapi ternyata, kakak beradik sama saja bodohnya,” katanya yenga mengangkat pundak psarah, “Pasti kamu juga tak tahu, bahwa penyihir kecil itu hanyalah umpan bagiku untuk menjebakmu dalam sihir ini. Padahal sejak awal, targetku hanyalah satu, Sang Daemon Bulan.”
Dari bayangan Arthur muncul sebelas prajurit lainnya. Sebuah pin naga emas terpajang dengan bangga di dada mereka, tanda dari divisi prajurit terkuat di dunia, Matrovska. Seperti satu kesatuan, kedua belas prajurit itu menghunuskan pedangnya padaku.
“… Mengapa kamu melakukan ini? A-Aku percaya padamu, Arthur. Bukankah, kamu sendiri yang bilang, kita bisa memulai lembaran hidup yang baru?” kataku yang berusaha mendekati laki-laki itu, tetapi segera dicegah Lumina yang khawatir.
“Ya, benar sekali. Tetapi lembaran baru tidak akan dimulai, jika buku yang lama tidak diselesaikan terlebih dahulu,” kata Arthur yang melesat dengan kecepatan tinggi, bersiap menghujamkan Artemisia di dalam jantungku. Tertiup oleh angin, sihir ilusi pada kedua mata Arthur pun menghilang. Sebuah marka terkutuk yang membawa nostalgia pada hatiku pun terumbar dan bersamanya… penyesalan yang abadi.
Tanda Kutukan Sang Pahlawan.
Tanpa menunggu lebih lama, Arthur telah menghujam jantungku. Dirangkulnya diriku saat berbisik manis di telingaku, “Matilah, agar sihir Ideal White dapat terwujud, oh, Kakak yang telah merebut segalanya dariku, Daemon Bulan.”
Arthur pun mencabut pedangnya dan bersama dengan itu, deras darahku menyembur. Terlalu terkejut untuk merasakan sakit, tubuhku pun tergeletak di tanah. Dinginnya tanah menyerap hangat tubuhku, mataku pun semakin lama semakin gelap. Hanyalah wajah sedih Lumina terlihat ketika ia mengguncang-guncang tuubuhku dan berusaha menyelamatkan hidupku. Tetapi… semua sia-sia. Sebab Artemisia adalah pedang anti sihir yang dapat menghancurkan jantung seekor Daemon Malaakh. Tanpa jantungku… maka tubuh ini akan mati.
Pada persimpangan jalan yang mana yang salah kuambil?
Mengapa hanyalah takdir pahit yang menanti dalam hidupku?
… Mati di tangan anak yang begitu ingin kulindungi? Bercanda saja. Sepertinya kamu benar, Nyghtingale. Aku terlalu terlena dalam permainan keluarga ini sehingga buta akan segalanya.
Sungguh komedi dewa-dewi yang sinis.
“Hahahahahahahaha!” tawaku yang pun bangkit berdiri. Akar putih tumbuh dari dadaku, menutup segala darah yang mengucur darinya. Darahku pun perlahan berkumpul di punggungku, memekarkan sayap dahan yang sangat besar. Otot wajahku seperti tertarik, menunjukan senyum paling sinis dan baris taringku yang tajam. Getaran sihir besar pun kupancarkan, menghancurkan segala sihir kelas teri itu menjauh dariku.
“Aku adalah Daemon Bulan, Sang Iblis yang akan menghancurkan dunia ini. Kamu sungguh berpikir dapat membunuhku semudah itu?” kataku yang menghujamkan akar-akar pohon dunia pada kesebelas Matrovska terkecuali Arthur.
Laki-laki bodoh itu masih mencabut pedangnya dan menebasku, tetapi dengan mudah kutangkap pedangnya dengan kedua jariku. Kupaksa matanya menatap kedua iris iblisku, saat kugapai kedua pipinya. Tersenyum puas diriku, merona pipiku saat melihat wajahnya yang sangat ketakutan. Girang rasanya, setelah sekian lama aku dapat melepaskan kegelapan yang selama ini kupendam dalam hatiku. Aaah, kapan terakhir kali aku dapat menatapnya sedekat ini? Anak yang lahir dari zinah antara Kakakku dengan tunanganku, yang kubesarkan dengan tanganku sendiri.
__ADS_1
Arthurku tapi juga bukan milikku. Anak yang telah memberikan warna dalam hidupku sekaligus merebutnya. Orang paling bodoh dan tak tahu apa-apa di dunia ini.
“Sayang sekali, semua ini hanyalah simulasi. Semua ini hanyalah sihir yang bernama Sucubian Dream dalam pikiranmu. Saat seluruh ilusi ini menghilang, kamu akan terbangun dalam ranjangku dan tersadar… perbedaan kekuatan di antara kita,” kataku yang mencakar wajah itu dengan kuku jemariku yang tajam.
“M-Mengapa kamu selalu melawan takdirmu, Daemon Bulan? Bila kamu mati di tanganku, maka aku bisa mewujudkan Ideal White dan mengakhiri penderitaan dunia ini!!” bentak Arthur memaksakan diri.
“Jika kamu bisa mengalahkanku, maka jawaban akan kuberi,” kataku yang kemudian mencium kening Arthur dan meruntuhkan sihir ilusi yang menguasai dirinya.
Kegelapan dalam hatiku pun padam, ketika aku akhirnya bisa tersenyum tumpul melihat tubuh Arthur perlahan hancur bagai debu bersama dengan seluruh dunia ini.
“Jadilah lebih kuat lagi, Arthur sang Pahlawan. Sebelum kegelapan ini menelanku terlalu dalam.”
--------------- + -----------------
Terbangun diriku di meja kasir begitupula seekor kucing hitam yang menggenggam tanganku di tengah lambu sihir yang memisahkan kami. Tatapan bingung Danius segera menyadarkanku, bahwa kini diriku sedang berada di dunia yang nyata, di malam sesaat setelah aku menyelamatkan Arthur dari para Fenrir. Tangis darah pun mengalir dari mata kananku, bersama dengan hilangnya penglihatan dari mata itu. Tapi sama dengan seluruh luka di tubuhku, penglihatan itu pun kembali seperti semula.
“Kita berdua sudah melihatnya, kan? Matrovska yang kamu maksud adalah Arthur. Kamu tak perlu khawatir, Danius, sebab target utama mereka bukanlah Lumina melainkan aku,” kataku yang meregangkan tubuhku.
Danius menggelengkan kepalanya, “Sampai sekarang, Danius ini takkan mengerti, bagaimana sihir ilusi yang begitu lemah itu dapat menjadi senjata poten di tangan Putri.” katanya.
Kuistirahatkan pipiku di tangan dan berkata, “Ah, yang kulakukan tak seberapa. Hanya membajak mimpi basah dari pemuda bau kencur, menghubungkannya dengan pikiran kita lewat sihir sederhana Succubian Dream. Cuma itu doang kok, hihi. Terlebih dari itu, hadiahku?”
Danius memicingkan mata dan menjauhkan Quartz dariku yang sudah mengiler melihatnya.
“Enak aja. Selagi belum ada bukti jelas, takkan pernah Danius berikan batu ni ke Putri.”
Tiba-tiba terdengar bunyi gaduh di atas, yang lalu diikuti dengan jendela terbuka. Tersenyum diriku dan menunjuknya ke Danius, “Barusan itu buktinya. Sekarang kamu tak perlu cemas, nikmati saja Q time-mu dengan Lumina. Asal kamu berjanji padaku, jauhkan dia dariku bila tak ingin nyawa Lumina dalam bahaya.”
Meskipun Danius terlihat enggan, pada akhirnya kucing itu pun menurut dan memberikan Quartz itu padaku. Layaknya bayangan gelap, kucing itu menghilang tanpa jejak, meninggalkan pertanyaan yang tak ingin kuketahui. Sebab sama sepertiku, pasti Danius pun kecewa pada Arthur. Sebab anak yang juga ia besarkan itu, malah kini menghunuskan pedang pada keluarganya.
Mataku pun melirik pada kedua gelas di dekat kompor sihir. Gelas kopi yang Arthur dan diriku nikmati di kala senja dalam mimpinya itu. Semua seperti ilusi yang kuat, tapi kemudian menghilang dengan cepat kala bertabrakan dengan kebenaran.
__ADS_1
“Sekarang, apa yang akan kulakukan dengan batu ini, hmm?” gumamku menatap gemilang biru dari batu sihir indah di tanganku.