Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Celestial Finale (1)


__ADS_3

—59—


“Saat tirai panggung turun, akhirnya, aku dapat melihat dirimu yang sebenarnya. Gadis malang dengan hati yang penuh kepahitan,” kata Amelia, tersenyum melihatku.


Akar kegelapan tumbuh mengikuti pedang sang Dewi Ksatria, menghujam tubuh manusia sang Dewa. Dengan ganas akar-akar itu menghisap kekuatannya dan mengalirkannya padaku.


“Hey… Clairysviel, tidak—Black Company, kamu dan diriku, masing-masing telah memenuhi kontrak kita. Tidakkah aku pantas mendengar kebenaran tentang dirimu?” tanya sang Dewa.


“Tak ada yang menginginkan kebenaran. Yang kamu inginkan hanyalah realita yang kamu ingin terima dan pahami. Dengan kata lain…. semua orang hanya menginginkan ilusi,” tanyaku mengambil tangan Dewa itu dan menariknya duduk, “Karena itu, kamu membutakan matamu sendiri, mengelak dari kebenaran di depan matamu.


Amelia, meskipun kamu menggunakan Ideal White, kamu tak dapat menyelamatkan dunia ini.”


Amelia menopang pipinya penasaran, “Apa maksudmu?”


“Meskipun kamu mencegah kebangkitanmu di masa lalu, kamu tak dapat menghentikan Salju Superadikal menghancurkan dunia ini,” kataku yang pun duduk bersimpuh dihadapan sang Dewa, “Cepat atau lambat, dengan atau tanpa sihir pun, dia akan kembali … Sebab Salju superadikal, tidak, Anima bernama Obsidian Theater dilahirkan oleh keinginan para manusia dan Daemon.”


Anima adalah makhluk sihir yang dilahirkan dari sebuah keinginan. Sama seperti diriku lahir oleh keinginan Mentari untuk tidak kesepian, Obsidian Theater lahir dari keinginan kolektif dunia untuk mengakhiri penderitaan mereka. Dan cara paling mudah untuk mengakhiri penderitaan itu adalah kematian.


Selama masih ada penderitaan di dunia ini, akan ada orang yang menginginkan kematian… dan Obsidian Theater akan selalu terlahir. Dengan kata lain, musuh dunia sebenarnya, Iblis yang menghancurkan dunia ini tiada lain adalah diri dunia itu sendiri.


Amelia tertawa terkekeh, “Jika kamu sudah mengetahuinya sampai sejauh itu, kenapa kamu menghentikanku? Bukankah lebih baik berbuat sesuatu yang sia-sia daripada diam dan melihat dunia hancur?” tanya sang Dewa yang tubuhnya perlahan hancur oleh akar kegelapanku.


Aku menutup mataku dan menjawab, “Tidak akan ada yang berubah. Kamu hanya akan menjadi satu tumbal dari deretan jiwa lainnya, yang berusaha ‘menyelamatkan’ dunia ini… Tapi sebenarnya hanya mengambil kesempatan untuk semua orang melihat kebenaran.”


“Dan apa kebenaran itu, Dewiku?” tanya Amelia.


Kubuka mataku dan menjawab sejujurnya, “Hanya diri kita sendiri yang dapat menyelamatkan hidup kita.” Selama semua orang tak menyadari hal itu, kselamatan tidak akan datang.”


Akar kegelapanku hampir mencapai jantung Amelia dan menyerap inti kekuatannya. Saat itu, sang dewa pun merangkak mendekatiku dan mengistirahatkan kepalanya di dalam palunganku.


“Tapi… bukankah kamu juga melakukan hal yang sama denganku? Segala kejahatan yang kamu lakukan akan membuat seluruh dunia membencimu. Hingga detik kematianmu, kamu akan menjadi tumpuan penderitaan, musuh yang harus dikalahkan.


Apakah dunia yang menyedihkan seperti itu yang ingin kamu wujudkan, Black Company?”


“Aku dan kamu adalah tawanan takdir. Melawannya adalah kebodohan yang sia-sia. Sudah tujuh tahun lamanya aku menyerah melawan takdir, ” kataku yang mengelus lembut kepala dewa yang sekarat itu dan melanjutkan.

__ADS_1


Amelia bukanlah Dewa yang jahat. Dari pertemuanku yang singakt, aku bisa merasakannya. Dari mitos sejarah sihir dan cerita yang Amelia berikan, sebuah garis merah dapat kutarik. Dahulu bencana besar hampir melenyapkan peradaban. Di tengah keputusasaan itu, Dunia memabngkitkan Amelia dari tidurnya. Sang Dewa yang baik hati itu pun setuju untuk meminjamkan kekuatannya pada dunia dan mengalahkan Bencana itu. Kemurahatiannya itu menciptakan era sihir yang membawa kesejahteraan dan perdamaian dunia.


Tapi, tidak dalam waktu yang lama. Sihir adalah sebuah kekuatan, dan sama seperti kekuatan lainnya, dia dapat tercemar dan menjadi obsesi. Obsesi itu pun melahirkan perang dan pemusnahan yang kemudian mendatangkan Penderitaan. Dan seperti siklus setan, sang Iblis Obsidian Theater pun terlahir kembali.


Dan sang Dewa penolong itu pun secara tragis menjadi Dewa Malapetaka di amta semua orang.


“Jadi… kamu berencana akan menyatukan dunia ini untuk mengalahkan dirimu, sang musuh dunia?” tanya Amelia.


Aku mengangguk, “Aku akan terus membiarkan dunia ini tumbuh melawanku dan lalu menghancurkannya, berulang-ulang, hingga dunia berani melihat kebenaran,” kataku yang memegang kalungku, “… Itu adalah satu-satunya peran bagiku untuk diterima di dunia ini.”


Amelia menitikkan air mata dan tersenyum pahit, “… Kamu bodoh sekali. Ketika disekitarmu penuh dengan cinta dan kehangatan, mengapa kamu sendiri menolaknya? “


“Cinta adalah sebuah perbuatan, bukan konsep. Sama seperti realita, cinta memiiki nilai yang relatif.  Begitu pula cara orang mencintai. Amelia, Ini adalah caraku untuk mencintai dunia ini,” jawabku yang melepas pergi Amelia yang perlahan hancur menjadi debu,


“Hingga tak ada lagi orang yang dikorbankan untuk menyelamatkan orang lain, hingga tak ada takdir yang memaksa seorang gadis malang memikul beban dunia ini, aku akan menuntun dunia ini menggantikanmu, Amelia.”


Saat Amelia menghilang, gempa besar pun menghampiri ruangan itu. Kristal kristal merah di dindingpun jatuh dan pecah. Pintu raksasa itu pun runtuh tak tersisa. Perlahan aku menaiki puing demi puing, mendekati sang cahaya pertama. Tetapi bersamaan dengan itu, suara-suara pun terdengar di kepalaku.


Kebenaran yang kusembunyikan dalam ahtiku. Saat telinga ini mendengar dibalik dinding istana Noctis, bayangan yang akan menerkam kami.


“Kedua anak itu sama sekali tidak bernilai. lebih baik kamu menyingkirkan mereka dan melahirkan seorang anak laki-laki untuk meneruskan Keluarga ini.”


“…P-Papa. M-Mentari akan berjuang keras untuk menjadi Penyihir terhebat. K-Karena itu, Mentari mohon, jangan buang kami!”


Saat hidung ini mencium aroma familiar dan air mata, dari seorang Ibu yang baru saja menembak anaknya… tapi kemudian menyelamatkannya.


“M-Maafkan, Mama, Bulan. Harusnya, Mama tak terbuai oleh cinta dan bualan laki-laki itu. Harusnya… Mama tidak melepaskan rumah sederhana, tempat kita bertiga hidup penuh kebahagiaan. Hanya inilah… jalan untuk menyelamatkanmu dan menajuhkanmu dari kutukan Keluarga Noctis.”


Saat mulut ini mengecap nostalgia hidangan yang disajikan, setelah pertemuan yang terlalu lama menanti… dan menyadari bahwa kaca yang pecah, tak akan kembali.


“Bulan, aku selalu berharap momen kebersamaan kita ini, takkan berakhir. Setiap malam, aku selalu berdoa kepada dewa-dewi, untuk tidak memisahkan kita lagi. Tapi, kamu tidak merasakan hal yang sama denganku, bukan?”


Menaiki puing terakhir, aku pun meraih Ideal White. Tetapi merasakan kebusukan hatiku, Cahaya Pertama itu menghancurkan lenganku yang tak pantas. Meski begitu, aku terkenal sebagai seorang yang pemaksa. Dengan cepat aku  meregenerasi tangankku dan menyentuh sinar terang itu,


“Ideal White… Aku adalah Black Company, Monster yang telah menghancurkan separuh dunia ini dan mengalahkan Dewa terakhir dunia,” kataku dengan akar-akar merayap dari jantungku.

__ADS_1


Terang mata iblisku pun menyala saat pohon tumbuh dari tubuhku dengan dahsyat, kulit-kulitku pun pecah dan mengeluarkan darah, tetapi aku tak berhenti.


“Kamu telah membuatakan dunia ini terlalu lama. Kalau kamu terlalu angkuh untuk meminjamkan kekuatanmu, maka, ijinkanlah aku merebutnya darimu!” teriakku yang meminjam kekuatan Amelia dan memanggil lubang hitam raksasa yang berusaha menelan hembusan energi dari cahaya mahakuasa itu.


"Absolute Darkness!"


Ratusan pohon Yggdrasil pun tumbuh melingkari lubang hitam itu. Mereka saling terakit bersama, mengekang sang Api suci yang meronta-ronta ingin melepaskan diri. Dengan seluruh kekuatanku dibantu oleh kekuatan Amelia, aku pun meluaskan akar kegelapan dari poho putih itu, membentuk lingkar-lingkar sihir rumit untuk menyegel cahayanya. Setelah segel itu tercipta, cahaya pun menghilang. Kegelapan pun menyelimuti Obsidian Theater.


Kehilangan sebagian besar kekuatanku, aku pun bertekuk lutut dengan nafas terengah-engah.


“... Bekerjalah, aku mohon,” kataku melihat bola akar kegelapan pekat yang terbang di langit. Perlahan akar itu pun mengeras menjadi liuk ratusan pohon Yggdrasil yang bercahaya gemilang menerangi dunia dengan cahaya yang palsu.


Bunga-bunga mawar putih pun mekar dari dahan pohon putih itu. Dari mahkotanya tumbuh sebuah buah apel yang besar dan kemudian pecah, melahirkan puluh ribu manusia maupun Daemon yang menatap kosong dan bingung. Daun Yggdrasil pun jatuh mengenai kepala mereka.. lantas melahirkan keajaiban yang pun membuka mata mereka.


“M-Ma Dame Clair?”


Mendengar suara itu, terbuka mataku hingga berkaca-kaca. Kuketatkan rahangku saat berlari menuju arah suara itu dan memeluknya dengan erat.


“L-L-Loh, k-kenapa? A-Aduh, sesak ah,” kata Luciel yang meronta-ronta ingin melepaskan diri dari pelukanku.


Tetapi aku tetap memeluknya dan berkata, “Bising banget sih. Diamlah sesekali dan biarkan aku memelukmu, Luciel.”


Luciel adalah anak yang pintar. Merasakan pundakku gemetar, dia pun membalas pelukan itu dan mengelus kepalaku.


“Syukurlah… hipotesisku…. bekerja,” kataku terisak-isak. Merasakan kehangatan tubuh itu lagi adalah sebuah keajaiban bagiku.


Aku mengambil sebuah taruhan besar. Akar-akar kegelapanku tidak hanya menyerap kekuatan dari semua orang yang dikubur di tanah, tetapi juga perasaan dan ingatan mereka. Bila aku dapat menciptakan cukup banyak Homunculus, aku bisa menghidupkan kembali semua jiwa yang telah terbunuh oleh Wabah Nyght. Tapi untuk menghidupkan lebih dari seratus juta jiwa itu, aku membutuhkan kekuatan yang sangat besar.


Dan jawabannya adalah Ideal White. Namun, aku tak yakin akar-akar kegelapanku mampu mengurung kekuatan besar itu. Untung saja, lubang hitam Amelia membantuku. Tanpa kekuatan Dewa Kuno itu… kemungkinan hipotesisku ini pasti gagal.


Tapi, dia juga Dewa jahat yang membuatku dan Mentari saling membunuh satu sama lain. Haruskah aku membencinya atau berterima kasih padanya? Dunia ini memang abu-abu.


“Ma Dame… telah bekerja keras, sekarang istirahatlah,” kata Luciel menenangkanku.


Istirahat…? Semua keajaiban ini datang dengan harga. Aku… telah menerima takdirku menggantikan Amelia untuk menuntun dunia ini. Dan pekerjaanku belumlah selesai. Di dunia tanpa dewa-dewi ini, aku harus memastikan, semua orang dapat berdiri dengan kakinya sendiri.

__ADS_1


Kulepas pelukanku dan menghapus air mataku. Dengan senyum aku pun berkata,


“Tak ada kata istirahat di kamus Toko Bunga Lentera!”


__ADS_2