
— 40 —
… Mengerikan.
Sepanjang mataku memandang, ratusan boneka manusia berserakan di sekitar sang Ksatria. Hancur dan terkoyak-koyak, tertancap dalam tombak api yang menyala-nyala… Pemandangan itu membawaku dalam neraka. Tanganku gemetar, nyaliku pun menghilang. B-Bagaimana bisa aku mengalahkan monster sekuat ini? Keraguan merantai diriku.
Mustahil.
“Ah, boneka-boneka itu, jadi begitu rupanya…,” kata Khanza yang bersandar dibalik puing koloseum, menghindari pandang sang ksatria.
“Kamu punya rencana, Khanza?” tanyaku.
Khanza mendengus geli, “Melawan Adrammalech dalam kondisi seperti itu? Jangan bercanda. Monster itu punya sembilan nyawa dengan regenerasi yang nggak ngotak, bila kita tak mengalahkannya dalam satu serangan, Adram akan smebuh dan malah semakin kuat,” katanya.
“S-S-Serius?”
TIba-tiba di langit muncul ratusan bintang yang melesat mendekati Adrammalech. Mereka adalah malaikat dengan sayap putih, yang membawa gada surga yang menghantam sang Malice dengan kuasanya. Berkali-kali, seperti hujan meteor yang tak kenal ampun. Tapi setelah debu menghilang, sang Malice bangkit dengan kepala robot tertancap di pedangnya yang panjang. Dia pun mengaung dengan keras, menangkal seluruh laser biru yang menghujaninya.
… G-Gila.
“Tapi sekarang ktia sedang diuntungkan. Para malaikat itu adalah The Immortal, Homunculus ciptaan Lady Luciel, setiap boneka itu memiliki kekuatan sebesar seorang Pathfinder. bila kita bisa mengonsentrasikan kekuatan mereka dalam satu serangan, kita dapat menghabisi Adram… Mungkin,” kata Khanza.
“H-H-Huh? Emang gimana caranya kita bisa bekerja sama dengan—“ ledakan besar terdengar bersamaan dengan tombak api melesat ke arah kami. Segera aku dan Khanza pun menghindarinya, namun sadar mata iblis Adrammalech telah menemukan kami.
Tiga pasang tanduk berlian mencuat di kepalanya, besar dengan garis-garis api yang menyala. Tubuhnya dipenuhi kristal-krital api yang merangkai diri menjadi zirah penuh tanduk mengancam. Seperti harimau yang marah, matanya mengintai kami. Taring-taringnya mencuat.. tak sabar menerkam kami dengan puluhan pedang api di belakang punggungnya. Menatap Malice itu aku seperti berhadapan langsung dengan Sang Kematian.
“Mystelteine, dengannya, kamu bisa membajak pikiran semua Homunculus itu menjadi milikmu. Percaya padanya, dia akan menunjukkanmu jalan,” kata Khanza yang memegang dadanya dan melepaskan energi sihir yang dahsyat,
“Ignition… Berserker!”
Berlian hitam menerkam tubuh Khanza, merangkai diri menjadi zirah penuh tanduk dan topeng naga yang menutupi wajahnya. Dari punggungnya muncul lingkar sihir raksasa yang memendarkan petir ungu dan memanggil enam tangan es raksasa. Sinar keunguan pun melintasi seluruh sirkuit sihir Khanza dengan aura kegelapan samar-samar menyelinap keluar darinya.
Khanza memegang kepalanya, dia tampak begitu tersiksa, “Aku… hanya dapat memberimu 10 menit… Aku percaya padamu, Chrysant.” katanya yang kemudain mengaung keras dan melesat menuju Adrammalech.
__ADS_1
Percaya padaku, percaya pada sebuah pedang? Penyihir itu udah gila apa? Mana mungkin sebuah… eh? Sinar redup berpendar dari bilah hitam Mystelteine. Kekuatan besar menariknya dari tanganku lantas melesat ke langit.
T-Tunggu, jangan tiba-tiba pergi gitu dong! Astaga, merepotkan sekali. Melesat ke langit dengan sayapku, aku mengejar pedang itu. Tapi tombak-tombak api yang nayris kuhindari, memperlambatku. Tak ingin kehabisan energis sihirku dengan terbang, aku pun bertumpu pada tombak api itu dan melompat dari satu sama lainnya, mengejar sang pedang yang mendekati para malaikat di langit.
“Multiple Malice detected. Initiating Extermination Protocol,” terdengar suara gema dari para Malaikat.
Mereka pun membentuk sebuah lingkar sihir raksasa yang melesatkan laser-laser biru yang membumi hanguskan kota Pei Jin. Tetapi itu tak sepadan dengan kehancuran yang disebabkan pertarungan Khanza dan Adrammalech. Saat pedang dan tombak mereka beradu, gunung terbelah dan badai salju superadikal pun sirna. Lava dari perut bumi pun terkoar-koar di langit, tanah bergejolak seperti gelombang air laut. Melihatnya aku seperti sedang bermimpi buruk.
Tiba-tiba Mystelteine berhenti tepat di tengah lingkar sihir para Malikat. Aku pun melompat dan mengambil gagangnya, tetapi kegelapan segera merayap di tubuhku seperti cakar-cakar harimau yang ganas. Dan bersamaan itu, bayangan seorang wanita berambut putih pun memelukku dari belakang dan menuntun tanganku… mengangkat pedang itu ke angkasa.
“Error, Error. Unidentified being detected. Measuring mana energy level… Error! Cannot calculate, cannot calculate.” terdengar suara bergema dari lingkaran itu.
Terdengar tawa geli di samping telingaku, “… Kamu ingin hidup dan menolong kedua bocah itu bukan? Kalau begitu, maukah kamu memberikan jiwamu padaku?” bisik sang kegelapan di telingaku.
Suaranya yang manis mengkhianati keringat dingin yang mengucur membasahi bulu kudukku yang merinding. Di tengah kekacauan itu, pikiranku justru tenang dan kosong. Tapi tak ingin dikalahkan perasaan itu, aku pun menjawab,
“Aku adalah pemilikmu. Kamulah yang harus mengikuti keinginanku. Mystelteine! Berikan aku kemenangan!” teriakku.
Kegelapan itu pun menghilang dengan meninggalkan kekuatan yang luar biasa di tubuhku. Benang-benang cahaya terlihat di mataku, mereka melilit ujung Mystelteine dan menuntunku untuk melesat menuju lingkar sihir para malaikat. Disana, seperti air yang emngalir, dengan mudah aku menikam seorang malaikat dan menyebarkan aura kegelapan padanya.
Sang malaikat mencengkram rambutnya yang hitam,“E-E-error, s-s-system corrupted. I-Initiating—“ katanya sebelum terdiam sejenak sementara rambutnya berubah menjadi putih dan kulitnya menjadi pucat, “… Reboot. Noctis Labyrinthus activated. Connecting to main server…
Welcome home, Black Company. Beginning infection program. All Hail Noctis,” lanjutnya menatapku dengan matanya yang kini seperti seekor iblis.
Aura kegelapan itu pun menyebar ke seluruh jaringan lingakran sihir itu, menginfeksi semua malaikat homunculus itu dengan ganas. Hanya dalam hitungan detik, sistem Homunculus itu pun tunduk padaku. Semua bergumamkan hal yang sama,
“All Hail Noctis.”
“… A-Apa yang sebenarnya terjadi? Pedang ini mengerikan,” gumamku ketakutan melihat potensi Mystelteine yang luar biasa.
Di permukaan, Khanza menghempaskan Adrammalech ke tanah dan mengurungnya dalam sebuah istana es yang kemilauan. Dia pun menoleh padaku, sebuah anggukan pun memberiku kode untuk mengakhiri rencana kami. Aku pun menarik nafasku dan mengangkat pedangku. Mysteltein dengan ganas menyerap seluruh energi dari para malaikat, tak peduli satu persatu akhirnya jatuh tak bernyawa. Energi yang dahsyat itu menembus badai superadikal dan mempertemukan dua langit yang berbeda.
Kututup mataku membayangkan mimpi pertempuran terakhir The Reaper. Kuingat jelas kuda-kuda yang disiapkan Kakak saat menghadapi serangan maut The Reaper. Mengikutinya dengan sempurna, aku pun membuka mataku dan berteriak,
__ADS_1
“Raven Style Finale: World Crusher!”
Kayunkan pednagku dan melepaskan energi dahsyat yang menghancurkan segala yang disentuhnya menjadi debu. Ledakan putih melahap segalanya, hutan, gedung-gedung, gunung dan langit, tak ada yang dapat lari darinya. Begitu hebat getaran itu hingga dimensi pun retak dan hancur seperti kaca, membuka luka menganga yang menghisap segala sesuatu disekitarnya.
“Hacking The Root Completed. With great power comes great cost. Now time to pay, Chrysant.”
Nyeri menghantam kepalaku bersama denging dan bising yang menyerbu telingaku tanpa ampun. Tak tahan aku pun menutup mataku tetapi bukannya kegelapan yang menyambutku melainakn garis yang menuntun kesadaranku ke sebuah titik.
TAK!
Mataku terbuka dan kudapatkan diri di sebuah laboratorium bawah tanah, berdiri diantara Homunculus yang melingkari sebuah altar. Di tengah altar itu, seorang gadis berambut merah pun terbangun, melepas perangkat di kepalanya. Dengan hijau matanya yang mengingatkanku akan daun pepohonan yang rindang, dia menatapku dengan dingin… dan perlahan mendekatiku dengan sebuah pistol di tangannya.
… Tidak, tidak mungkin. Dalang dibalik para homunculus itu… Sosok yang memulai semua tragedi ini…. Lady Luciel ternyata!
Tak dapat bergerak dan tak dapat berkata-kata, aku hanya dapat menyaksikan pistol itu ditodongkan di keningku.
“Haah, sayang sekali. Padahal kamu bonekaku yang paling sempurna, Chrysant, “ kata Seraphina sebelum—
DOR!!
… !
Terbangun aku menemukan diriku dalam sebuah gua. Api unggun mengusir dingin dari tubuh dan aroma lezat muncul dair panci yang kumasak. Tiba-tiba dari dalam gua aku mendengar suara tapak kaki yang santai, sebelum seorang laki-laki menyambutku,
“Lapor, gua ini buntu lagi, bosku! Sudah dua minggu kita turun ke Underworld, sudah ratusan gua kita jelajahi, tapi tak ada satu pun yang berakhir ke markas bawah tanah White Order,” kata Saber yang mengambil ration dari cincin spasialnya, “Aku jadi penasaran, apa mungkin informasi yang kita dapatkan hanyalah bohongan?”
“T-Tidak mungkin,” gumamku tak percaya.
“U-Uh? Kapten?”
Kupegang kepalaku yang nyeri, tapi kemudian amtaku terbuka lebar saat melihat… tangan kananku memegang pedang hitam itu. Mystelteine.
Disaat itu pun aku tahu, aku tidak terbangun dari sebuah mimpi buruk. Semua itu nyata. Aku telah kembali di masa lalu dengan bayaran yang mahal. Sebuah Kebenaran.
__ADS_1