
Hari ini seharusnya aku pergi menuju Distrik Tanpa Nama. Tetapi setelah mengetahui apa yang terjadi dalam mimpi Arthur, kutemukan diriku duduk di depan meja bundar, menunggu dengan gelisahnya di ruang VIP restoran.
Para kelinci pelayan satu persatu datang membawakan kudapan demi kudapan. Hingga dalam sekejap, satu meja telah penuh dengan berbagai kulineran khas Pei Jin. Mulai dari sup Gargantua lunak hingga hakau berisi kuda laut, segala makanan dari penjuru dunia hadir dihadapanku.
"A-arara... sampai jam berapa ya aku harus menunggu? Ini... sudah jamuan ketujuh yang kalian hidangkan untukku," keluhku menahan isi perut agar tidak tetumpah di depan umum.
Seekor kelinci dengan pakaian rapi menghampiriku dan menunduk dalam, "Mohon maaf, Ma Dame Clair. Nyonya besar sedang dalam perjalanan secepatnya kemari."
"Kamu sudah bilang begitu sejak enam jam yang lalu," kataku tertawa canggung.
Kelinci itu tampak bersalah sekali dan menunduj berkali-kali, "Mohon maaf Ma Dame Clair, Nyonya besar sangat sibuk."
Kuhela nafasku panjang dan menggigit batang tebu kecil di gelasku. Memanglah, harusnya aku sudah tahu bertemu dengan Ma Dame Fan, bukanlah hal yang mudah.
Dia adalah pendiri sekaligus penguasa kota Pei Jin. Memiliki kekayaan yang sangat besar, Ma Dame Fan telah menjadi saingan Keluarga Noctis sejak berabad-abad yang lalu. Entah itu bidang agrikultur, perkapalan dan lain sebagainya, Ma Dame Fan selalu sedikit lebih unggul. Persaingan lama itu... membuat hubungan kami berdua, uh... sedikit rumit.
Benar katanya, di Pei Jin bayangan dapat melihat dan mendengar. Sesaat setelah Danius meninggalkanku, para Hwarang mengepung rumah dan membawaku ke restoran mewah ini. Untuk inspeksi katanya, tapi bagiku, semua ini adalah taktik untuk menguras tenagaku sehingga dia makin mudah kengambil informasi dariku.
"Heh, emangnya aku ini pedagang kelas teri?" gumamku lucu.
Pintu pun terbuka dan karpet segera digelar. Pelan terdengar suara tapak sepatu nan elegan, melangkah masuk dengan pasti. Semerbak melati tercium oleh hidungku, parfum khas yang sangat disukai nenek tua itu. Cocok sekali, pikirku, mewarnai penyihir yang terlalu tua untuk hidup.
"Karena kelicikanmu itulah, aku membuatmu menunggu, Clairysviel," kata Nenek tua itu mengetuk tongkat jalannya di lantai, memintaku menoleh padanya.
Mataku hanya melirik ke nenek tua itu dan berkata, "Nenek sudah sehat? Pinggulnya tidak encok lagi? Lututnya udah gak sakit?"
__ADS_1
Ma Dame Fan tertawa lantang, "Koe ki dari cilik emang gak tahu sopan santun ya. Pantes sampe sekarang masih jomblo," katanya yang pun duduk di hadapanku.
"Sialan," kataku sedikit kesal.
Sebenarnya, jauh dari kata tua bangka, Ma Dame Fan masih tampak seperti gadis berusia dua puluhan. Tahi lalat di ujung mata kirinya mebjadi penyempurna manis wajahnya. Air mukanya tenang, mencerminkan ribuan hal yang telah ia lalui dalam hidupnya. Dia menggunakan kebaya hitam yang dihiasi oleh bordir bunga nan indah yang berpadu sempurna dengan helai rambut hitamnya yang halus. Nama wanita anggun itu adalah Amelia Sonata Noctis, nenek buyutku, sebelum ia menikah dengan seorang pedagang Pei Jin milenia yang lalu dan meninggalkan namanya.
Rahasia dari keabadian Ma Dame Fan adalah karena ia seekor Daemon Naga. Berbeda dari manusia dan Daemon lainnya yang hidup dengan jantung berdetak, Ma Dame Fan hidup dari inti Quartz di dalam dadanya. Kekuatan sihir yang besar itu menjaga tubuhnya dari segala penyakit dan menua. Tetapi hal itu juga menjadi batasannya. Sebab semakin sering Ma Dame Fan menggunakan sihir, hidupnya akan semakin memendek. Tipis, tapi aku dapat merasakan… energi sihir dari inti Quartz di dalam dadanya sudah sangat redup.
“Sejak koe datang kesini, ada adal saja ulahmu. Entah itu membuat obat yang sangat adiktif atau skema-skema licik lainnya yang membuatmu kaya raya. Heh, yah, aku bisa memahami kecintaanmu pada duit, sebab aku pun begitu. Tapi sekarang, apalagi perkara yang meh koe bikin sampe-sampe mengontak pedagang gelap, buyutku yang kurang ajar?" tanya Ma Dame Fan.
Menghisap habis gula dalam tebu, itu aku pun menjawab, “Pertanyaan yang sulit untuk buyutmu yang bodoh ini menjawab. Apalagi datang dari seekor ular yang mengundang Fenrir melakukan penelitian pada rakyatnya sendiri.”
Ma Dame Fan melengkungkan senyum khasnya, menutupi mata gioknya yang indah, “Seperti biasa, sihir ilusimu itu sangat mengerikan. Siapa penyihir di dunia ini mampu mensimulasikan masa depan begitu akurat lewat mimpi? Koe bisa menjadi asset yang sangat berharga namun disaat yang sama belati bermata dua yang mengerikan,” katanya yang kemudian menyisip teh chrysant favoritnya dan melanjutkan, “Koe liat sampe mana aja?”
“Sampai Lifebane terwujud dan seorang mati karenanya.”
Trik murahan seperti itu takkan mempan bagiku, yang mengambil sebuah hakau dan melahapnya.
“Proyek gagal seperti itu tak pantas mendapat dukungan,” akhirnya Ma Dame Fan menjawab.
Oh begitu rupanya. Ma Dame Fan adalah orang paling objektif yang kukenal. Bila ia menilai seseorang atau sebuah proyek memiliki harga, nenek tua itu akan mendukung. Tetapi tepat disaat sebuah proyek itu gagal, dia dengan dinginnya memutus dukungannya tersebut. Tidak pernah berpihak dan cepat bertindak, Entah apakah itu bisa dibilang adil dan bijaksana, tapi dengan gaya memimpin seperti itu, Ma Dame Fan dapat mempertahankan kota Pei jin ini bebas dari pengaruh dua negara besar yang ingin menerkamnya.
“Bagaimana jika kukatakan bahwa tinggal satu langkah lagi untuk menyempurnakan obat itu?” tanyaku yang menyodorkan sebuah tabung reaksi berisikan agar darah.
Sebagai Noctis, seharusnya nenek tua itu mengerti apa isinya. Magebane, jamur yang dapat mematikan sihir seorang penyihir selama-lamanya.
__ADS_1
“Kamu memiliki racun yang membunuh ibumu sendiri? Terus apa idemu? Mencampur racun itu pada Lifebane? Dasar gila,” katanya yang mengistirahatkan pipi pada tangannya, “Di era ini, baik Daemon maupun manusia begitu bergantung pada ishir. Bayangkan, apa yang terjadi jika seorang ibu tak mampu lagi menyalakan kompor sihirnya dan memasak untuk keluarga? Bayangkan senapan-senapan sihir yang sudah merajalela dimana-mana, kini hanyalah pipa besi yang tak berguna?” jelasnya.
Lantas penyihir tua itu menunjuk ke arah jendela, pada perisai sihir transparan yang melingkupi seluruh kota. Einhenjarr, sihir pelindung yang diciptakan oleh Ma Dame Fan untuk melindungi seluruh kota Pei Jin dari salju superadikal. Sihir yang telah menguras sebagian besar hidupnya.
“Bila sihir menghilang dari dunia ini, lantas siapakah yang dapat melindungi kita semua dari Salju Superadikal, hmm, Clairysviel?”
Aku menggelengkan kepalaku dan menunjuk ke langit, “Bila kita bisa menembus langit, kita tidak lagi membutuhkan Einhenjarr,” kataku yang kemudian menunjukan penyihir tua itu batu Quartz yang kudapatkan dari Danius.
Maka tertawalah sang penyihir itu, “Koe meh ngangkat satu kota ni ke langit? Koe ki rodo bodo ya ternyata! Hahaha!” katanya yang menghempas segala keanggunannya menjadi seperti anak-anak yang menggemaskan.
Tersenyum canggung aku menjawab,” T-T-Tidak sebodoh itu bukan? Ini kan kota pedagang sekaligus penyihir terbesar di dunia. kita punya sumber daya untuk mewujudkan ide ini seberapapun gila terdengarnya.”
Ma Dame Fan menghapus air mata jenakanya dan menatapku dengan bangga, “Benar sekali. Aku percaya rakyatku bisa melakukannya,” katanya.
Tersentuh diriku dengan kepercayaan diri Ma Dame Fan. Sesuatu yang tak pernah kumiliki saat menjadi Putri Pertama kinje. Rasa bangga dan percaya yang sangat pada potensi rakyatnya sendiri. mungkin… itulah yang menjadi dasar perbedaan kami. Karena kepercayaan itulah, para Daemon dan manusia yang tinggal di Pei Jin begitu percaya dan menyayangi Ma Dame Fan. Seusatu yang takkan dapat kumiliki.
Ma Dame Fan pun berdehem, memanggil pelayannya menyediakan kontrak. Dengan cepat dia menulis kontrak sihir itu dan mengecapnya dengan darah.
“Baiklah, kamu menang, Clairysviel. Aku akan membiayai kembali penelitian Lumina, hingga produksi massal dan penjualan obat itu,” katanya yang menyerahkan kontrak sihir itu kepadaku, “Namun dengan satu syarat.”
“U-Uh, bukankah, Quartz ini udah cukup untuk jadi syaratnya?” kataku canggung, sebab… syarat dengan seorang yang lebih kaut darimu seringkali berakhir dengan menyebalkan.
Ma Dame Fan menggelengkan kepala, “Tidak, sama sekali tidak. Kita berbicara tentang Sang Ma Dame Fan membantu penjahat yang kelak akan mencuri sihir dari dunia. Tentu saja satu atau dua Quartz takkan cukup,” katanya yang kemudian menunjukku.
“Bagaimana pun, aku ini masih Nenek buyutmu. Tentu saja aku khawatir denganmu yang selalu hidup sendirian tanpa arah. Karena itu, sebagai syarat untuk bantuan dariku…”
__ADS_1
Entah mengapa firasatku menjadi buruk…
Dengan senyum percaya diri, Nenek tua itu pun berkata, “Mulai hari ini, kamu akan menjadi penguasa dari distrik para manusia. Ehem, nama distrik tanpa nama itu sekarang adalah… Clariyastra!”