Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Noctis Melodia (2)


__ADS_3

Semerbak harum rempah-rempah menari-nari di hidungku. Perlahan dengan tubuh kecil itu, kutuangkan berbagai jamuran dan umbi ke dalam sebuah pot besi yang besar. Mendidih ramuannya, saat kuaduk berubah warna menjadi merah perlahan-lahan. Tersenyum puas diriku melihat ramuan sempurna itu.


Sejak kecil laboratorium adalah tempat favoritku di istana Glasglow. Tenang tanpa mata yang mengawasi, aku bisa menghabiskan waktuku belajar di dalamnya, meramu senyawa sihir dari berbagai tanaman dari segala penjuru dunia. Tanpa harus khawatir bila Mutter datang kemari, sebab telah lama ia meninggalkan seni alkimia sihir dari hidupnya.


“Bulan, kamu lagi ngapain?” tanya Eclair kecil dengan riang, muncul tiba-tiba seolah merayap dari bayanganku. Ah, sepertinya aku terlalu fokus pada ramuan ini.


“M-Mentari, kamu lebih baik jauh-jauh dari pot ini. Soalnya panas banget,” cegahku khawatir.


“Heee? Bulan lagi bikin ramuan ya! Kok kayaknya asik? Aku juga mau!” kata gadis kecil itu yang kemudian mengambil sediaan daun Ingrassia yang sudah kutumbuk. Lincah sekali gerak putri itu, hingga tanganku tak sempat mencegahnya.


“M-Mentari, j-jangan, kalau Ingrassia dan Belrose, bertemu mereka akan-!”


“E-Eh?”


Secepat mungkin aku melindungi Eclair, tepat disaat pot sihir itu meluap-luap dengan hebatnya. Letupan besar pun muncul, memuntahkan isi ramuan itu ke segala penjuru lab. Dan sebagian di antaranya membakar gaun dan punggungku, yang mendorong Eclair jatuh dan melindunginya.


Seusai kekacauan itu, mataku segera memeriksa seluruh lekuk tubuh Eclair. Kekhawatiranku pun menghilang ketika tak satupun senyawa berbahaya itu menyentuh Putri Noctis. Tapi… saking leganya tak kusadari mataku sudah berkaca-kaca. Segera kucubit hidung eclair dan merundungnya,


“Kamu ini bego apa sih?! Bermain-main dengan senyawa sihir itu berbahaya tahu! Coba bila cairan itu membakar tubuhmu dan membekas, apa yang bakal terjadi? Duuuhhhh! Ingatlah, kamu ini adalah Putri Pertama Kinje!”


“M-M-Muuphh!” katanya yang memintaku melepaskan cubitan itu. Tapi segera setelah kulepas, gadis itu justru menjulurkan lidahnya dan berkata,


“Kamu juga seorang Putri tahu. Kenapa kamu boleh belajar alkimia sihir, sedang aku tidak? Nggak adil banget!”


“E-Emang dunia harus adil?”

__ADS_1


“Harus dong! Eh, tunggu dulu. Jangan bilang kamu belajar alkimia sihir diam-diam?” kata Eclair yang mendorongku dan duduk dengan senyum jahil, “Heeeeeee? Bulan nakal ya. Wadududuuh, bagaimana ini? PR dari Mutter semalam masih menumpuk. Bila saja adikku yang nakal ini mau meminjamkan catatannya kepadaku, mungkin kejadian kecil ini takkan kulaporkan ke Mutter.”


“Kamu-ini-sungguh-nyebelin! Baiklah, tapi jangan ditiru persis dong, nanti Mutter marah lagi,” kataku yang kemudian menghela nafas kesal.


Eclair segera memelukku dengan erat dan berkata, “Asyiikk! Bulan memang adikku yang terbaik. Duh, apalah aku tanpa adikku yang menggemaskan ini!”


U-ugh, seriusan. Kakakku sangat menyebalkan. Sepertinya Mutter terlalu membanjirinya dengan kasih sayang hingga membuat Eclair jadi manja tak kepalang seperti ini. Sudah berapa kali aku harus terlibat dengan tingkahnya yang ngawur itu? Duh, padahal dia kan Putri Pertama Kinje, seorang yang akan menjadi Ratu. Heran aku, kapan sih dia belajar lebih dewasa sedikit?


Masih mengomel dalam hati, sesungguhnya momen paling favoritku di kediaman Noctis ialah saat eclair memelukku. Degup jantung Eclair yang indah jelas kudengar di telingaku. eNtah mengapa, detak jantung Eclair terdengar seperti melodi yang indah. Segala kekhawatiran dan ketakutanku pun menghilang dalam dekapannya, meleleh seperti waktu yang berlalu tanpa terasa.


Setelah melewati pelajaran privat yang panjang, Mutter mengajak kami masuk ke dalam kantornya. Aroma kopi yang kuat mencuat dari dalamnya, berpadu dengan pekat tembakau yang menggelitik hidungku. Di antara dokumen yang tercecer berantakan di lantai, Mutter menunjukan sebuah kristal indah di atas meja kerjanya.


Mutter pun berkata, “Dari generasi demi generasi, Keluarga Noctis telah melahirkan para Magistrat sihir yang mengubah dunia. Sihir sudah menjadi nafas hidup kita sama seperti keluarga penyihir lainnya. Namun ada satu hal yang membedakan kita dari keluarga lainnya.”


Wanita itu kemudian meraba kristal itu, mencurahkan sihir ke dalamnya. Getaran pun muncul bersamaan dengan tumbuhnya sebuah pohon cahaya tinggi dari kristal itu. Indah dahannya, memekarkan bunga cahaya biru yang memukau mata. Pemandangan itu seolah-olah membawaku ke negeri dongeng.


“Alat ini dapat menunjukan bakat elemen sihir seorang Noctis. Berbeda dari penyihir lain yang menghabiskan puluhan tahun hidupnya, mengasah sihir tanpa arah dengan kemungkinan gagal yang tinggi, alat ini memungkinkan kita berfokus pada bakat yang pasti membawa hasil kesuksesan,” lanjut Mutter.


Kristal yang menunjukan bakat sihir seseorang? Jantungku pun berdegup kencang bersamaan dengan kecemasan. Sebab, aku… bukanlah seorang Noctis sesungguhnya. Darah yang mengalir dalam nadiku telah tercemar oleh seekor Daemon rendahan yang tak pernah kutemui.


Tetapi, berbeda denganku, Eclair justru tampak antusias sekali. Tanpa diminta oleh Mutter, gadis itu langsung mengangkat tangannya dan berkata, “Aku mau duluan!”


“Silahkan,” kata Mutter dengan senyum yang lembut.


Eclair mengangguk penuh semangat dan menyentuh kristal itu. Seperti percikan air yang menderu, perlahan sebuah dahankecil pun muncul dari kristal itu. Darinya, mekar bunga mawar dengan tiga warna yang sangat cantik, meliuk menjadi sebuah belati kecil yang cantik. Terpukau wajah Eclair melihatnya… begitupula Mutter.

__ADS_1


“Elemen api, air dan angin. Wah, wah, seingatku hanya ada satu Noctis yang menguasai tiga elemen sekaligus dan dia adalh Progenitor Amelia, pencipta alat ini. Hmm, sepertinya kamu bakal tumbuh menjadi penyihir yang lebih hebat dari Mutter,” puji Mutter.


“B-Benarkah? Kalau begitu, aku pun bisa menyelamatkan dunia seperti Nyonya Progenitor yang hebat?” kata Eclair.


“Kalau saja kamu sesekali mengerjakan PR tanpa menyontek milik Bulan, mungkin sekali!” gurau Mutter.


Melihat keakraban Mutter dan Eclair, sesak segera mengikat dadaku. Rasa iri berkecamuk mendorong diriku untuk berharap. Bila aku memiliki potensi sihir yang hebat seperti Eclair, apakah Mutter akan memperlakukanku dengan penuh kehangatan, sama seperti ia pada Eclair? Aku… sangat menginginkannya.


“Nyonya Noctis… A-apakah aku boleh mencobanya juga?” tanyaku.


Mutter menekuk alisnya heran tetapi kemudian menjawab sekenannya, “Silahkan.”


Keringat dingin mengalir dari keningku, saat tanganku menyentuh kristal putih itu. Jantungku berdegup kencang, mengalirkan deras hasratku untuk merasakan pula hangat kasih Mutter. Getaran pun muncul, persis seperti saat Mutter emngalirkan sihirnya di kristal itu. ah, apakah ini sungguhan? Apakah aku juga punya potensi sihir besar seperti Eclair?


Setangkai bunga pun tumbuh, kelam warnanya yang mekar mengucurkan darah yang menetes di lantai. Tiba-tiba sbeuah mata pun terbuka dari kelopak bunga itu, menatapku dengan mata ular merahnya yang mengerikan. Seolah tersenyum menatapku, akar hitam tumbuh menjalar menyentuh tanganku.


“…Meine Dot-“


Tiba-tiba Mutter menarik tubuhku dalam dekapannya dan berteriak sembari mengayunkan tongkat sihir ke kristal itu, “Silentia disperium!”


Akar-akar kegelapan itu pun menghilang, tetapi mata merah itu masih terus tersenyum melihatku. Sebuah bisikan lembut pun terdengar jelas di telingaku, dalam bahasa yang tak kumengerti. Tetapi dingin segera menjamah tubuhku saat suara tawa familiar terdengar dari bisikan itu.


“Mutter, apa yang baru saja terjadi?” tanya Eclair khawatir.


Kurasakan tangan Mutter pun gemetaran, tetapi senyuman muncul di wajahnya. Mengapa Mutter tersenyum saat melihat hal mengerikan itu? Ingin kubertanya, tetapi sekat segera mencegah tenggorokanku. Entah mengapa aku merasa jika aku bertanya… maka hal buruk akan terjadi.

__ADS_1


“Elemen sihirmu… adalah kegelapan, Bulan. Elemen keenam yang paling lemah. Hanyalah sihir ilusi yang dapat kamu gunakan dengan baik, tetapi itu pun... di era sihir seperti sekarang, tidak ada gunanya. Dengan kata lain, kamu tak memiliki bakat sihir sama sekali,” kata Mutter yang melepasku dari pelukannya.


Sekejap mendengar perkataan Mutter, dunia pun kehilangan warnanya. Mimpi senyuman hangat Mutter yang ia tunjukan pada Eclair, ditujukan pula padaku pun… kini hanya menjadi fatamorgana nan jauh. Menghilang ketika mataku berkedip kemudian.


__ADS_2