Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Khanza


__ADS_3

—2—


“Ignition!"


Kekuataan mengalir dalam tubuhku membentuk lintasan rumit yang berpedar cahaya biru. Kristal Ignitionku pun bersinar terang bersama mataku yang semakin akut. Dalam per detik, aku dapat menangkap Judgement melesat dan ingin menghantamku dengan pukulan mautnya. Serangan yang dengan mudah kuhindari dan bahkan kugunakan sebagai landasan bagiku memotong tendon ototnya.


Sebelum raksasa bermata tiga itu menyadarinya, aku telah melompat di punggungnya dan menyatukan keuda belatiku menjadi busur panah. Dalam satu tarikan pasti, aku pun mengucapkan mantra, “Angel Touch.”


Angin berpusar mengitari panahku yang melesat dan menghancurkan punggung dari monster itu. Terbantung Judgement hingga menubruk gedung yang menghamburkan debu yang banyak.


Tapi… bangkit dari reruntuhan gedung, kegelapan menyusun kembali tubuh sang malice. Ketiga mata merahnya menyala bersama aungan yang memekakkan telinga. Tiga pasang tangannya pun tumbuh dengan paksa, membentuk cakar belati yang sangat tajam. Tulang belulang tumbuh mencuat menjadi baju zirah yang sangat mengerikan.


Menarik busur panahku, aku mengucapkan doa, "Dewi Cahaya, terangilah kegelapan dengan cahaya gemilangmu. Light torrent!" dan melepaskan tiga panah cahaya yang melesat tepat mengenai mata sang raksasa.


"GRAAAAHHH!!!" erang Judgement kesakitan.


Dalam amukannya, Judgment menghancurkan tiang-taing listrik dan pepohonan disekitarnya. Tetapi amukan buta itu justru menjadi peluangk berlari melingkarinya dan memasang jebakan.


Segera, aku pun berlutut dan menepuk tanganku, berdoa, "Oh Black Company, penuntun hidup kami. Lindungilah kami dari mereka yang jahat, jauhkanlah kami dari deru kematian. Celestial Pyramid!”


Lingkar sihir cahaya pun muncul di sekitar sang raksasa monster, bersinar terang membentuk penjara piramid yang dikendalikan oleh tanganku


“Saber!” teriakku.


“Woke!” balas Saber dengan kuda-kuda yang mantab. Panas api segera berpusat di palu raksasanya, mengumpulkan kekuatan yang begitu dahsyat hingga kulit laki-laki itu pun terkelupas.


Peluh turun dari keningku sembari dengan gesit menembakan pulhan cahaya dari Piramid sihirku, menghabisi Malice-Malice kecil yang ingin menerkam kami. Hingga garis-garis putih di sekujurku berubah jadi merah panas, membakar kulitku. Setiap kali Judgement memberontak dari penjara piramidnya, hentakan kuat kulawan dengan sepenuh kekuatanku.


“Saber, lama banget sih,” gumamku yang hampir mencapai batas.


“Iye, iye, sabar Bu. Senjata pamungkas butuh waktu untuk di cas, tahu,” kata Saber sebal.


Retakan demi retakan muncul dari penjara piramid. Ketika sang Raksasa memukulnya dengan angkara murka, dinding cahaya itu pun pecah dan membebaskan energi sihir yang menghempaskan segala abu kegelapan di sekitarnya. Terpental diriku oleh hentakannya, menghantam keras tinang listrik hingga hampir tumbang.


Namun tepat saat piramid itu pecah, energi sihir Saber pun telah penuh. Melompatlah Pemburu itu sembari mengucap mantra dan melampiaskan seluruh energi sihirnya dalam satu serangan telak,


“Black Company, hancurkanlah dunia dalam panji perangmu. Berikanlah tubuh makhluk fana ini kekuatan untuk meruntuhkan benteng terkuat sekalipun. Atomic Buster!! Hraagghhh!!!” teriak Saber menghantam Malice Mutan dengan palu raksasanya.

__ADS_1


Kekuatan dahsyat meremukkan tulang-tulang Malice Mutan. Kegelapan yang menyelimuti tubuhnya pun tersibak, menunjukan puluhan Magicite merah terang tertanam dalam tubuhnya. Belum menyerah, Saber membakar sirkuit sihirnya lagi hingga darah mengucur di seluruh tubuhnya. Kekuatan dahsyat pun terkumpul hingga mementalkan jauh Raksasa itu, meruntuhkan berderet pepohonan yang dihantamnya.


“Lihat, serangan pamungkasku luar biasa kan? Heh, tunggu saja, suatu hari aku bisa membelah mars dengan sihirku,” kata Saber terengah-engah.


“B-Belum.. Saber! Di belakangmu!” teriakku saat bayangan Malice Mutan sekejap muncul di belakang Saber, siap meluncurkan serangan mautnya.


“Activate: Shield!” teriakku melesatkan kristal sihir praktis untuk melindungi Saber dari pukulan telak itu.


Tapi, sihir instan seperti itu tak cukup menghalau serangan sang raksasa. Pukulan itu pun telak diterima Saber, menghempaskannya menembus dinding demi dinding reruntuhan. Tetapi, mata Malice Mutan itu masih murka dengan sang petarung, bersiaplah dirinya untuk melesat melancarkan serangan susulan.


Deg! Jantungku berdebar begitu cepat. Meski tulang belulangku berteriak memintaku untuk diam, aku tak ingin juniorku terluka. Segera aku berdiri dan berteriak,


“OI!! DisinI!” teriakku memancing sang Raksasa, “Penyihir dengan mana besar sepertiku lebih enak lebih enak dibanding cowok itu!” kataku.


Tantangannya itu mengundang mata Judgement padaku. Mulut Judgment yang hancur perlahan terangkai kembali oleh kegelapan, menyisakan raungan keras yang memekakkan telingaku.


Hah, padahal selama ini aku sudah menjalankan misiku dengan berhati-hati. Tapi kenapa, sekarang aku ceroboh dan membahayakan orang lain? Tidak, tidak ada gunanya berpikir begitu. Semua Malice memiliki penglihatan yang buruk, dia takkan menyadari keberadaan Saber yang pingsan jika perhatiannya kualihkan.


Setidaknya, aku bisa menolong Saber. Meski harus mengorbankan nyawanya!


Tiba-tiba seperti kilat, Sang raksasa telah hadir di hadapanku. Siap melontarkan hujaman maut pada gadis kecil itu. Dan dalam sepersekian detik, aku pun sadar.


Ini… momen kematianku.


Kibaran jubah merah datang di depanku. Dengan tongkat sihirnya yang patah, Sosok itu menangkal pukulan sang Raksasa dalam lingkar sihir berwarna ungu. Sebuah pukulan pun sosok itu lesatkan ke perut sang Malice dan mendorongnya jauh. Tak membiarkannya bernapas, sosok itu melemparkan kristal es hitam yang meledak menjadi serpihan tajam yang menghujam sleuruh tubuh Malice Raksasa itu.


Di tengah erangan penderitaan sang Malice, sosok berjubah merah itu membekap topengnya dan menatap ke langit.


“Darah… segar. Kekuatan…!” gumamnya dengan suara serak.


Sinar merah menyala dari celah sempit di topeng putih sosok berjubah merah itu. Angka 6 terukir di dahi topengnya, menyala bagaikan api. Dibalik kobaran jubah merahnya yang lusuh, sosok itu mengenakan battle suit putih yang identik dengan milikku, tetapi kontras berbeda warna. Sebuah lencana elang berkarat tercantum di lengannya, dengan kegelapan mencemari kristal itu. Terkejut diriku.. lambang elang itu, dia seorang Pathfinder?


Tapi, siapa? Tak ada dari tujuh kolegaku memiliki wujud sepertinya.


“Kamu… siapa?” tanyaku.


Pemburu itu hanya tertawa tak mempedulikanku. Tanpa mengucapkan mantra, ia membentuk es hitam sedemikian rupa hingga mengubah tongkat sihirnya yang patah menjadi tombak pedang. Sembari lihai bermain dengan senjatanya, sang Pemburu memanaskan tubuhnya bersiap akan Sang Raksasa yang perlahan menyembuhkan dirinya.

__ADS_1


Dengan mudah Pemburu Berjubah Merah itu menangkal serangan bertubi-tubi Sang raksasa dan membalasnya dengan tendangan maut. Lantas, Pemburu misterius itu pun melompat dengan anggun, menarikan tombak-tombak es hitam menghujam tubuh sang Raksasa bertubi-tubi.


Layaknya seorang balerina yang menari di panggung, dengan lemah gemulai Pemburu Berjubah Merah itu mengecoh sang Raksasa dan merobek dagingnya untuk menunjukan lokasi seluruh Magicite di tubuhnya.


Caranya bertarung… sangatlah indah. Dia seperti seorang balerina yang menarikan kisah mematikan dalam tiap tebasan senjatanya. Tak ada ruang bagi cela, hanyalah kesempurnaan yang lahir dari tiap gerakannya yang anggun. Gaya bertarung yang asing bagiku.


“Terkurung dalam obsesi… Diperdaya dan ditinggalkan oleh janji yang terlalu manis… SIhir adalah ilusi tanpa akhir,” kata Pemburu Berjubah Merah itu pada sang Raksasa yang terkapar tak berdaya. Dengan sepatu berliannya, sosok berjubah merah itu menahan leher sang raksasa dan membuatnya tak dapat bergerak,


“Kamu sudah tak lagi membutuhkannya… Biarlah Khanza akan membebaskanmu dari penderitaanmu, William…,” lanjutnya menghujam Magicite terbesar milik Sang Raksasa dan mengambil sesuatu dari dalam kristal itu. Tapi apa? Kabut membuatku tak dapat melihatnya dengan jelas.


Tak seperti Malice biasanya, tubuh Sang Raksasa terurai menjadi kupu-kupu bercahaya. Mereka terbang dengan kekuatan dahsyat, menyibak rambut ungu sang Penyihir yang terurai dengan indahnya.


Bagaikan melihat lukisan yang menjadi di hidup,aku terperangkap dalam keindahan yang tiada tara itu. Mataku seolah sedang menyaksikan seorang malaikat pembebas yang penuh cahaya, turun untuk menyelamatkan dunia.  Dan bersama dengan langkah kakinya, bunga mawar putih tumbuh penuh warna di bawah tombak pedangnya yang tajam.


Sungguh cantik sekali… Lebih dari segala yang pernah kulihat di dunia.


"Ah... aku mengingatnya sekarang," gumam Khanza yang pun menoleh padaku. Dia pun mematahkan rahang topengnya dan memperlihatkan senyuman sinisnya padaku.


"Kamu adalah... Chrysant," lanjutnya.


H-Hah? Bagaimana bisa dia tahu namaku?


Kupu-kupu cahaya pun melingkupi tubuh pemburu itu dan dalam sekejap, dia pun menghilang tanpa jejak. Cahaya terang itu kini telah menjadi kegelapan yang familiar. Hingga aku merasa seolah-olah terbangun dalam mimpi yang sangat indah.


Namun satu-satunya yang ditinggalkan oleh penyihir itu ialah sebuah nama.


Khanza. 


Aneh… mengapa rasanya aku pernah mendengar naam itu? Ugh, mulai lagi. Kebiasaan overthinking-ku muncul lagi. Kutukan buruk yang mengikutiku semenjak amnesia yang mengikuti dari kecil. Hantu yang selalu menajdi celah kekosongan di pikiranku.


Tapi sungguh, siapakah Pemburu itu? Mungkin aku akan mendapatkan jawabannya saat kembali ke markas besar.


“Oh ya, hampir lupa. Saber,” gumamku bangkit berdiri perlahan. Sssh, meringis diriku, rasanya sekujur tulangku retak semua hingga perlu kuseret kakiku mencari Saber.


Sesampai di dekat Saber, aku menghela nafas panjang. Sialan, ternyata juniorku itu bukan pingsan tapi pura-pura mati hingga tertidur. Ngorok lagi! Kesal, aku melompat dan menyikut perut junior kurang ajar itu dan berteriak,


“Dasar!”

__ADS_1


__ADS_2