
—13—
“Yah, itulah rahasiaku,” kataku yang menyalakan Bunga Lentera dan mengikuti Lumina ke sebuah lorong.
“… Ma Dame masih menyembunyikan banyak hal dariku,” kata Lumina menghela nafas panjang, “Tapi… jawaban itu sudah menjawab mengapa Master Arthur sangat mengenal Ma Dame,” lanjutnya.
Hati-hati kakiku menuruni tangga batu yang terjal itu, mengikuti sang penyihir yang ingin menunjukan laboratoriumnya padaku. Laboratorium yang secara kreatif dibangun Lumina sendiri dari penjara bawah tanah.
Mataku terbuka lebar, melihat sel-sel penjara telah disulap dengan peralatan alkimia, lengkap dengan rak penuh bahan-bahan kering yang membuatku iri melihatnya. Bahkan ada beberapa jenis jamur dan tanaman yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Ini alat apa?” tanyaku penasaran, menunjuk pada sebuah oven besar dengan penuh dengan pipa terhubung padanya.
Lumina tersenyum bangga, “Ehem! Aku persembahkan Thesis sihirku, Charbydis R2! Dengan alat ini, Ma Dame bisa memanipulasi suhu sesukanya, secepatnya dan seaman-amannya!" kata penyihir itu tiba-tiba penuh semangat.
Dibalik tutup kacanya, oven itu berisi tumpukan cawan petri berisi agar-agar berwarna merah darah. Kerangka-kerangka pipa yang meliuk-liuk segara penjuru menyusun mekanisme berinti Magicite kelas Manganese, sebuah kristal sihir sederhana yang terus menerus memberikan sihir api lemah untuk menguapkan air dan menjaga suhu oven itu.
“Ara, dengan alat ini, aku tak perlu lagi repot-repot cari kayu bakar untuk mandi air panas," kataku mengagumi kepraktisan penemuan jenius satu ini.
"E-Eh... benar juga ya. Implementasi yang menarik,” gumam Lumina yang kemudian melotot dan menggelengkan kepalanya, "T-Tunggu! Bukan ini yang mau kutunjukan ke Ma Dame!" lanjutnya tersadar.
Dengan hati-hati, Lumina membuka pintu kaca Charbydis R2 dan disambut hembusan uap air yang hangat. Cekatan, gadis itu mengambil beberapa cawan petri dan segera menutupnya. Lalu dengan semangat, penyihir itu pergi ke meja percobaannya dan membuka cawan petri itu untukku.
"Jadi hal yang kamu sembunyikan dariku… adalah sebuah manisan agar?" tanyaku yang bingung ketika melihat agar-agar merah yang telah ternodai sayatan-sayatan kuning kucat disekujur cawan petri itu.
"Bukaannn! Ini adalah bukti bahwa ada makhluk kecil yang hidup bersama kita," kata Lumina yang lalu menyiapkan lima buah tabung reaksi di meja itu.
Aku mengacak pinggangku, “Makhluk kecil?" tanyaku heran.
Lumina memutar rambutnya berpikir sembari berbicara, "Hmm, saat aku menangani kasus di Junon, aku memperhatikan bahwa ada tempat tertentu yang memiliki insidensi wabah Nyght tinggi sedang ada tempat yang sama sekali tidak mengalaminya. Menurut Ma Dame mengapa hal itu bisa terjadi?" kata Lumina yang lalu mengisi keempat tabung kimia itu dengan tiga air dan dua darah yang telah diawetkan dengan sihir.
"Karena konsentrasi miasma yang berbeda di tempat itu?" kataku menjawab seadanya berdasarkan teori terbatas yang kutahu tentang dunia kedokteran.
Lumina pun menusuk bintik kuning di agar merah itu dengan sebuah batang lidi, lalu mengoleskannya pada cawan kedua berisi air dan terakhir berisi darah. Seusainya, Lumina pun berkata,
“Awalnya, aku juga mempercayai teori itu. Tapi dalam eksperimenku, aku menemukannya,” kata Lumina yang kemudian menaruh telapak tangannya di atas kelima mulut tabung itu. Dengan pelan ia membisikkan mantra sihir, "Mana Touch," dan mengirimkan sumber sihir di dalam tubuhnya kepada kelima cairan disana.
__ADS_1
Sebuah sinar terang tiba-tiba muncul diseluruh tabung terkecuali tabung pertama yang hanya berisi air dan tabung terakhir yang terisi darah.
Resonansi sihir.
Namun, resonansi sihir hanya dapat terjadi ketika suatu benda memancarkan energi sihirnya pada benda lain yang memiliki mana. Contohnya Bunga Lentera yang berpendar jika dialirkan mana seorang Penyihir. Tapi air tak memiliki mana, sedang darah... meskipun memiliki mana, kandungan protein di dalamnya harusnya mengabutkan resonansi sihir itu.
Lalu apa yang membuat tabung reaksi itu berpendar?
"Pernahkah Ma Dame mendengar cerita Kota Alliese?”
Aku mengangguk, “Kota manusia yang pertama kali diselamatkan Sang Daemon Bulan?" tanyaku.
"Sampel ini aku ambil dari kota itu. Tabung ketiga adalah saat kota itu menggunakan sumber air dari sungai yang biasa penduduk gunakan, sedang tabung pertama adalah setelah aku meminta mereka mengganti sumber air dari pegunungan Montanna. Sesaat setelah pergantian itu, insidensi Wabah Nyght pun menurun secara drastis,” kata Lumina yang kemudian menunjuk tabung kedua,
"Tabung kedua ini... adalah air dari tabung pertama yang kuoleskan dengan bakteri dari cawan petri... Mana yang beresonansi disini membuatku curiga," lanjut Lumina yang menaruh jari telunjuknya pada tabung keempat dan kelima sembari mengucapkan mantra, “Apalagi setelah aku menemukan ini... Mala Touch.”
Aku membekap mulutku menutupi senyuman yang merekah di bibirku. Dokter Oe… hebat juga.
Mala Touch adalah sihir yang memaksa Mala, produk sisa dari energi sihir untuk memunculkan dirinya menjadi terang keunguan. Dan di dalam tabung keempat dan kelima itu, sinar ungu pun muncul dan semakin berpendar terang. Tanda ada proses sihir yang aktif sedang berlangsung di tabung itu.
Hmmm, jika aku tak salah ingat, sesuai dengan postulat Asherune, praktek sihir sederhanaya adalah siklus konversi Mana dan Mala yang dikendalikan oleh dua enzim, Manazyme dan Malazyme.
Aku pun menyentuh taabung keempat dan merasakan panas disana, "Ini... sihir Heat wave. Hanya ada tiga makhluk yang dapat menggunakan sihir. Manusia dan Daemon tidak mungkin sekecil ini bukan… Kalau begitu, mungkinkah makhluk kecil yang ingin kamu tunjukan ini adalah seekor Anima?”
Lumina tersenyum dengan pahit, “Benar Putri. Inilah penyebab Wabah Ngyht yang menelan setengah dari mereka yang hidup di dunia. Seekor Anima mikroskopik yang terus menerus mengeluarkan sihir Heat Wave dengan menukar Mana inangnya dengan Mala yang dihasilkannya," katanya yang kemudian mematikan sihirnya di kelima tabung itu dan menunduk,
"Ini juga... yang menjelaskan stadium penyakit Nyght. Panas yang dihasilkan Anima itu akan jadi keluhan demam tanpa alasan pada stadium Satu.
Bila berlanjut, panas dan superadikal akan mulai memecahkan pembuluh darah di seluruh tubuh menjadi stadium dua, dimana bercak lebam muncul dimana-mana dan darah mulai keluar dari semua lubang tubuh beserta kulit," lanjutnya yang kemudian tampak berat sekali menyebutkan stadium ketiga.
Aku pun memotongnya, "Dan di stadium tiga, jantung sang penderita tidak dapat menahan panas dan superadikal itu... sehingga akhirnya pecah dan penderita pun tewas dengan penderitaan yang sangat," kataku mensintesis penemuan Lumina.
Dari sorot pandang Lumina, aku pun paham… Sepertinya bocah yang kutolong tadi sore menemui akhir yang pahit.
“Kalau kamu berhasil menemukan penyebab Wabah Nyght, bukankah kamu tinggal selangkah lagi untuk menaklukannya, Daemon Bulan?” tanyaku melipat tangan.
__ADS_1
“… Satu langkah itu sangat curam,” kata Lumina yang kemudian membawaku ke ruang penyimpanannya yang gelap dan dingin.
Ketika bunga lentera dinyalakan, mataku segera disambut oleh deretan rak-rak yang tinggi, penuh dengan cawan petri berisikan agar merah. Kehabisan kata-kata aku hanya termangu melihat koleksi masif itu. Ini mah namanya bukan penelitian penyihir biasa… tapi sudah sampai ke tahap obsesi.
“Diluar sepengetahuan Master Arthur, selama bertahun-tahun aku mencoba seluruh jenis tanaman di dunia untuk mengalahkan Anima mikroskopis itu,” kata Lumina yang mengambil sebuah cawan petri dan menunjukannya kepadaku,
“Hingga akhirnya, baru setahun ini, aku menemukannya. Jamur tanpa nama yang dapat menaklukan Wabah Nyght. Orang-orang peradaban dulu menyebutnya penisilium tapi aku tak tahu pastinya,” lanjutnya yang menunjukan sebuah titik putih di agar darah itu, lantas mengimbuhkan sihir Mala Touch dan menunjukkan nihilnya aktivitas sihir disana.
Aku tertawa geli, “Jadi jamur kecil ini adalah Mutterbeweisen melegenda yang mampu mengalahkan seribujuta penyakit?” kataku tak percaya, “Tapi, bila kamu memilikinya, mengapa dokter tak menyelamatkan Gideon dengan obat ini?” tanyaku
“Dengan dosis sekecil ini… Mustahil,” jawab Lumina yang menatap pedih cawan petri itu, “Cawan adalah spesimen terakhir dari jamur itu. Berbagai cara sudah kucoba, tetapi… aku tak bisa membudidayakannya.”
Araraa… Takdir sepertinya berpihak padaku. Awalnya kukira sang Daemon Bulan sungguh-sungguh menemukan Mutterbeweisen dan menaklukan Wabah Nyght. Dan Dokter itu tidak menyadari bahwa obat yang ia temukan adalah Magebane. Jamur penghasil racun yang mengikat manazyme dan mencegah proses pembentukan sihir.
Racun pembunuh seorang penyihir.
Aku kira sudah memusnahkan jamur itu… tapi sepertinya masih tersisa ya? Aku pun duduk di meja kerja laboratorium itu dan melipat tanganku. Lumina terlalu banyak tahu. Bila dia memiliki dana dan fasilitas yang mumpuni, dia akan menjadi ancaman untuk rencanaku menghancurkan dunia ini.
Sebab Anima kecil yang ditemukan Lumina itu adalah partikel kecil dari Pohon Yggdrasil. Selama tujuh tahun datang di dunia ini, aku menumbuhkan pohon itu di seluruh dunia. Akar-akar dari pohon cahaya itu pun menyentuh sumber air disekitarnya dan menginfeksi air itu dengan wabah Nyght.
Dengan begitu, pohon Yggdrasil dapat menjadi semakin kuat dengan menyerap Mana dari seluruh makhluk hidup di dunia ini.
Hmm, dilema. Haruskah kuhabisi Lumina sekarang?
Tidak. Bila tak ada pengelana dunia itu, aku pasti sudah menghabisi gadis polos ini. Tapi, aku belum tahu siapa dan informasi apa yang pengelana itu ketahui tentang diriku. Lebih baik, aku memanfaatkan kenaifan Lumina dan menjadikannya pion baruku.
“Kamu kenapa terobsesi sekali dengan Mutterbeweisen? Bukankah Homunculus sepertimu kebal terhadap penyakit itu?” tanyaku.
Lumina menaruh cawan itu kembali ke raknya dan berkata, “Aku mungkin kebal… tapi Master tidak. Semua ini kumulai… agar Wabah Nyght tidak menjangkau Master Arthur.”
… Aku tidak menemukan kebohongan atau niat tersembunyi dibalik perkataan gadis itu. Sepertinya dia benar-benar melakukan ini demi Arthur. Mulia sekali, tapi Lumina tak tahu alasan manis itu membuatnya semakin mudah kumanipulasi.
Aku pun tersenyum, “Bagaimana jika ternyata aku punya cara untuk menyelesaikan masalahmu? Apa yang akan kamu berikan padaku, dokter Oe?” tanyaku.
Lumina menelan ludahnya dan berkata, “… Segalanya, asalkan aku dapat melindungi Master Arthur dari penyakit ini.”
__ADS_1
Kutatap kedua mata indah itu dengan serius, “Kalau begitu jalinlah sebuah kontrak denganku,” kataku yang pun meraih wajahnya terutama matanya yang indah itu,
“Lumina Oedelia, jadilah asistenku.”