
— 31 —
Panah cahaya melesat tepat di tengah sasarannya, diikuti anak panah demi anak panah berikutnya. Perawat yang menilai performaku pun dengan panik segera menghentikanku dan berkata,
"C-Cukup, Lady Chrysant, kalau kamu teruskan bisa bisa alat diagnostik kami bisa rusak."
"O-Oh, maaf, aku... sedang melamun sampai tak sadar," balasku menurunkan busur panah yang dipinjamkan rumah sakit padaku.
"Bahkan saat melamun, kemampuan beroanahmu luar biasa ya. Pantas dalam 3 tahun menjadi Pemburu, karirmu langsung melejut menjadi Pathfinder," puji si Perawat sembari menulis di rekam medisku.
... menjadi seorang Pathfinder ya. Harusnya aku sedikit merasa senang mendengarnya. Tapi... sejak pertemuanku dengan Liam barusan, kini hatiku berkecamuk.
"Tiga bulan lagi, Black Company akan menyerbu markas besar White Order. Ini adalah misi yang berbahaya dan seluruh Ksatria serta Pemburu wajib mengikutinya," kata Liam di dapur apartmen Seraphina, menolak meminum kopi yang kubuatkan untuknya pagi tadi.
"Tiga bulan...? Itu bertepatan dengan pernikahan Kakak," kataku yang melirik Seraphina yang masih tertidur pulas di kamarnya.
"Ya, tapi aku telah mengajukan proposal yang disetujui parlemen Black Company. Sebelum pelaksanaan misi besar itu, kami akan mengirimkan ekspedisi untuk mensurvey area disana,", kata Liam yang pun memberikanku sebuah hulungan emas yang familiar,
"Bila kamu ingin, aku bisa memasukkanmu dan Saber dalam tim ekspedisi itu. Bila kalian berhasil menyelesaikan misi itu, Black Company akan memberikan kalian dan Seraphina ijin khusus untuk tidak mengikuti penyerbuan itu."
Tawaran itu sangst menarik. Dengan kata lain, Liam memberikanku pilihan. Bila aku tidak mengikuti misi itu, pernikahan Seraphina akan dibatalkan. Belum lagi, penyerbuan markas besar White Order adalah misi yang sangat beresiko. Mungkin saja dalam misi itu, aku dan Saber bisa gugur.
Namun di lain sisi, dengan mengikuti tim survey, aku bisa mencegah semua itu terjadi. Hanya saja, perasaan tak enak apa yang berkecamuk di dadaku ini? Harusnya misi survey itu gampang dilakukan tapi... apakah sesederhana itu? Mengapa dari semua Pathfinder, Liam memilihku?
"...sant... Lady Chrysant, oiii?"
"U-Uwaah! " celetukku kaget melihat seorang perawat memanggilku di ruang tunggu. Tertawa geli perawat itu.
"Astaga, Lady Chrysant mikirin apa lagi sih. Jangan-jangan, tentang pertunangan Pangeran Arthur dan Putri Nuwa belakangan ini?" kata si perawat yang menoleh pada siaran TV, yang menunjukan Arthur dan Nuwa saling bertukar cincin di acara resmi.
"Waah, mereka serasi sekali. Putri Nuwa bukan hanya cantik dan mempesona, tapi juga pintar dan berbakat. Bersama dengan Pangeran, ia membongkar kasur korupsi besar yang hampir membahayakan banyak orang di Festival Mentari Terbit.
Lebih cocok daripada gadis pencicilan yang selalu kembali penuh luka, betul?"
"U-ugh, udah kubilang berkali-kali. Rumor tentangku dan Pangeran itu palsu. Kami berdua.... tidak memiliki hubungan apa-apa," kataku yang sesaat setelahnya merasakan kehampaan yang menghujam dada.
Si Perawat tertawa, "Tentu, tentu, setiap check up, Lady Chrysant selalu mengatakan itu. Tapi apa yang terucap, tak berarti apa yang dirasakan, bukan?"
"N-Nyebelin, ih. Udah Bu Amanda, kasih tau aja, kapan giliranku masuk ke poli!" tegurku.
__ADS_1
"Oh, sekarang,"
"... Kok ga bilang bilang sih."
"Lah, Lady melamun terus sampe gak dengar panggilan, hihihi."
Setelah puas mengerhaiku, Bu Amanda pun memanduku masuk ke ruang poli. Semerbak aroma teh menyambutku, ditemani samar lagu klasik yang menenangkan jiwa. Nuansa putih menyambutku dengan sentuhan tanaman hijau yang manis di mata. Dari semua poli, memang ruangan dokter Rizal yang paling nyaman di mata.
"Silahkan masuk..."
... Tunggu, kenpoa suara dokter Rizal jadi feminim sekali. Kutelan ludahku lantas mengintip di balik lemari. Kutemukan seorang gadis berambut biru pucat sedang membaca artikel di tab-nya. Kacamatanya yang trbal melirot hingga ke batang hidungnya, namun menambah kesan elegan dari dokter itu. Lemah gemulai tangannya, mengangkat secangkir teh dan menyisipnya dengan sempurna... meskipun matanya masih lekat membaca.
S-sial, kenapa si Nuwa ada disini?
"U-uh, Bu Amanda, hari ini Chrysant gak jadi check up deh," bisikku, tetapi sialnya Bu Amanda dengan iseng mendorongku di hadapan Putri Nuwa.
"Dokter, pasien sudah datang, kalau ada apa-apa, dokter tinggal panggil saya di depan ya," kata Bu Amanda yang memaksaku duduk di depan meja dokter.
"Oke, makasih Bu," kata Putri Nuwa yang pun menoleh padaku dan langsung melotot. Senyuman kaku pun melengkung di wajahnya, dimana dengan nada seprofesional mungkin, Nuwa menyapaku dengan,
"Ngapain orang sehat walafiat datang kesini, hmm? Ah, mungkin Lady tersesat ya. Kalau begitu, disana, pintu keluar sudah menanti Lady."
U-oh, sarkasmenya pedas banget.
"Hahahaha, waduh, siapa ya yang Lady maksud? Yang kutahu cuma ada seekor hamster iseng yang masuk ke Menara Biru. Untungnya hamster itu cukup berguna untuk mengulur waktu, sehingga aku dapat menangkap musuh Black Company dengan sempurna.
Ah sayang sekali, hamster itu ternyata cukup bandel juga ya."
"Dasar ular putih licik!"
"Kalau aku ular, berarti kamu mau ku 'lep' sekalian disini?"
Bu Amanda berdehem dan menyadarkan kami masih di rumah sakit.
Putri Nuwa pun menghela nafasnya dan membuka rekam medisku, "Kontrol post ranap kan ya... Hmm, kita liat dulu... Haa?" gumamnya terbelalak kaget.
"Leukosit 1 juta, eritrosit 5 juta, trombosit 1 milyar? I-ini sih bukan polisitemia vera lagi, tapi darahmu udh kentel kayak lumpur," lanjutnya yang pun membaca hasil pemeriksaanku yang lainnya.
"M-M-Magical output rank SSS? Tunggu, parameter ini… Tidak, tidak mungkin. Kamu beneran Pathfinder paling junior kan? Kenapa Parameter sihirmu setara dengan Lady Nadja?” kata Nuwa.
__ADS_1
Aku nggak ngerti apa yang si Nuwa omongkan, tapi intinya aku hebat kan? Heh, rasanya puas banget melihat ular itu terkejut melihat potensiku yang luar biasa.
“Lepas pakaianmu,” kata Nuwa tiba-tiba.
“He?”
Lepas…? Ha?! Segera aku merangkak lari dan memeluk diriku sendiri, ketakutan melihat Putri mesum yang ingin menelanjangiku itu.
“Tidak mau!” teriakku.
Nuwa memijit keningnya, “Kenapa kamu membuatku seperti orang mesum sih. Maksudku, baring di bed biar aku dapat memeriksamu. Kamu mau cepat pulang kan?” tanya Nuwa.
Ragu, aku pun mengikuti perintah dokter aneh itu. Kubuka satu persatu kancing bajuku dan berbaring di tempat tidur. Nuwa pun dengan lembuk memeriksa dada dan peruku, lantas menempelkan stetoskopnya di jantungku. Terkejut dirinya hingga menempelkan stetoskopnya berbagai sudut dadaku.
“Tidak ada…”
“Uuuhh… Kalau Putri mencari denyut jantungku, memang nggak ada,” kataku canggung.
“Ha, apa maksudmu? Semua manusia mana bisa hidup tanpa jantung?” tanya Putri Nuwa bingung.
Aku menggaruk pipiku canggung, “… Karena, Chrysant bukan seorang manusia,” kataku yang kemudian bangun dan menatap mata Nuwa yang kaget itu.
“... Chrysant adalah salah satu korban penelitian Emillia Fairchild. E-Ehem, Battle-type Homunculus, CH003. Reporting to duty,” kataku sembari mengancingi bajuku lagi, “Yah, aku baru tahu setelah ekspedisi yang lalu sih. Bukannya, aku sudah jelas menuliskannya di laporanku ya?”
“Laporan…? Tunggu… Homunculus Emillia, parameter sihir ini.... Tidak mungkin, kamu adalah anak yang sepuluh tahun lalu—” kata Nuwa yang mundur sembari memegang wajahnya menarik kata-katanya, dia pun berdehem canggung dan melanjutkan,
“Sebenarnya, seluruh laporanmu masuk dalam kategori sangat rahasia. Hanya Pangeran dan beberapa Pathfinder yang dapat mengaksesnya. Aku pun tidak bisa mengaksesnya sama sekali.”
“Sungguh? O-oh, apa karena tulisan Chrysant yang terlalu amburadul? Duh... malu banget,” kataku memegang pipiku yang memerah.
Tiba-tiba Nuwa menggenggam pundakku dengan erat, “Ini bukan saatnya malu! Kamu tak tahu apa yang sedang terjadi pada dirimu?”
E-eh, kenapa dia jadi agresif gini? Canggung, aku pun menggelengkan kepalaku.
“Kamu sekarat!”
“Masa? Chrysant sehat begini kok,” sahutku segera.
Tiba-tiba tasku pun terjatuh dan gulungan emas dari Liam pun terlihat di sela-selanya. Seperti melihat hantu, Nuwa tampak pucat pasi saat mengambil gulungan emas itu.
__ADS_1
“Hey, Hamster tengik.... Jangan bilang, kamu akan pergi dalam misi ini?”
Aku pun mengangkat alisku heran, "Jika aku pergi, memang kenapa?"