
Seekor Kucing hitam bermata satu membukakan peti sihir di hadapanku. Mataku pun terbuka lebar, menikmati kemilau banjir koin emas dan berbagai permata indah dari dalamnya. Kemungkinan jumlahnya senilai seratus ribu keping emas! Ilerku pun hampir megeces, saat tanganku ingin menggapai koin emas itu, tetapi seperti biasa si kucing Hitam menutup peti sihir itu.
“Tunggu dulu, apakah Daemon Bulan menganggap Danius ini bodoh? Ahli sihir ilusi sepertimu dengan mudah mencuri semua uang ini,” kata Danius yang pun melompat duduk di atas peti itu dan menebarkan serbuk putih di sekitar kami. Setelah itu dia mengulurkan tangannya dan bertanya,
“Mana produk minggu ini?”
Araaa, dasar pedagang pasar gelap yang terlalu berhati-hati. Padahal kami sudah bekerja sama selama setahun ini, tetapi sampai detik ini, kucing itu masih saja tak mempercayaiku. Yah, aku pun demikian. Sebab untuk apa percaya pada seseorang atau seekor di jaman paceklik seperti ini?
Aku pun menyerahkan sebuah tas berisi botol-botol kaca berwarna merah berkilauan dan berkata, “Ini suplai obat untuk minggu ini. Tolong sebarkan ke pembeli yang.. ehem, berpotensi.”
Danius dengan senang hati menerima tas itu dan melompat turun dari peti sihirnya. Dengan hati-hati dia mengecek obat yang baru saja kuberikan dan setelah memastikan bahwa obat itu asli, dia pun tertawa terkekeh,
“Tak kusangka seekor Daemon yang melukai mata kiriku, kini justru menjadi partner bisnisku yang paling menguntungkan,” kata Danius menunjuk mata kirinya.
Aku pun menelan peti sihir itu dalam cincin spasial di tanganku. Sebuah artefak dari peradaban lalu yang sangat langka, bahkan aku sendiri merasa beruntung menemukannya dalam petualanganku. Tapi bagiku, momen paling beruntung dalam hidupku adalah pertemuanku dengan danius satu tahun yang lalu.
Genap setahun aku mengelana dataran Kinje dan menyembuhkan berbagai orang dengan obat Mutterbeweisen. Keajaiban obat itu pun tersebar, memekarkan identitas Daemon Bulan yang kugunakan sebagai alias selama perjalananku. Nama itu mempertemukanku dengan berbagai individu. Mulai dari rakyat jelata yang ingin membebaskan desanya dari wabah penyakit hingga Raja-Raja vassal Kinje yang ingin mendapatkan keabadian. Tetapi, dia juga mengundang sebuah komplotan unik yang mengincar nyawaku.
Mereka menyebut diri mereka sendiri dengan nama “Black Company”. Dan salah satu pemimpin dari organisasi gelap itu adalah Danius. Sang penjaga Padang bunga Olivia yang tergoda oleh hasrat duniawi dan jatuh menjadi pedagang pasar gelap paling ulung… demi mendapatkan uang yang banyak.
“Hey, Daemon Bulan. Danius ini ingin bertanya, bila kita sudah bekerjasama seperti ini, mengapa kamu tidak ingin bergabung dengan Black Company?” tanya Danius iseng.
“Hahahaha, apakah kamu lupa? Saat kita pertama kali bertemu, resep obatku dan juga nyawaku hampir kalian curi? Entah apa yang akan kalian lakukan padaku, jika aku bergabung dengan kalian,” kataku yang kemudian memegang gagang pedangku dan tersenyum sinis pada Danius,
“Lagipula, aku pun tak tertarik dengan tujuan organisasi kalian. Aku tak butuh mitos bodoh tentang Ideal White untuk menyelamatkan dunia. Aku punya jalanku sendiri. Mungkin.. kamu ingin mencicipi caraku mewujudkannya?”
Danius mengangkat pundaknya, “Satu mata Danius ini sudah cukup untuk jadi ganjaran mencari gara-gara dengan Sang Daemon Bulan. Danius pun sungguh tak peduli dengan tujuan organisasi itu, tapi mereka punya jaringan bawah tanah yang hebat, yang Danius manfaatkan untuk tujuannya sendiri,” katanya yang kemudian perlahan menghilang dalam bayangan kelam,
“Tapi biar Danius ini memperingatimu, Hai Daemon Bulan. Ingatlah bahwa bayangan dapat mendengar dan melihat,” katanya seperti biasa, meninggalkan pesan kriptik nyebelin sebelum menghilang sepenuhnya.
Aku pun melihat bayangan di kamar itu, lalu menjulurkan lidahku padanya. “Dasar bayangan mesum, sukanya ngintip privasi orang,” ejekku yang pun mellihat dari balik jendela megahnya istana Ishtarin yang mengalahkan indahnya mentari yang baru tenggelam.
__ADS_1
“Sudah waktunya semua orang tahu apa yang terjadi semalam,” gumamku menggenggam istana itu di tanganku, “Waktunya untuk fase kedua rencanaku, hihihi!”
Keluar dari persembunyianku, hiruk pikuk Junon segera menyambutku. Baik langit dan tanah, berlalulalang dengan sibuknya para manusia dengan pakaian rapih. Kereta-kereta kuda melintasi jalanan dengan kencang, tidak mempedulikan siapa yang baru menyebrang jalan. Senada dengan tapak kaki para pejalan kaki yang cepat dan penuh amarah, lukisan wajah mereka yang penuh tekanan membuat suram palet warna kota. Ditekan oleh tuntutan yang berat, tak ada satu pun manusia di kota itu yang dapat tersenyum.
Sungguh ‘sambutan hangat’ dari Ibukota negara paling berkuasa di dunia.
Namun di tempat pencetus depresi itu, masih tersisa sebuah lentera harapan.
Beberapa menit berjalan ke pusat kota, aku menemukan corak warna malam yang kontras dengan jalanan yang monoton. Lampion berbagai warna tergantung di tiap deretan pohon di sepanjang jalan, beriringan dengan berbagai stan makanan dan permaian yang ramai. Aroma daging yang sedang membuatku menari-nari di antara keramaian, mataku terbuka lebar menangkap keindahan berbagai wahana sihir yang melingkar pada sebuah pohon besar nan tinggi di pusat kota.
Bagkan, ada roller coaster terbang yang menggodaku untuk menaikinya, setiap kali dia terbang menebarkan serbuk sihir di atas kepalaku. Ara, aku jadi ingin menaikinya!
“Ini pertama kalinya aku melihat Festival Salju Pertama,” gumamku yang menengadahkan tangan ke langit.
Festival Salju Pertama adalah perayaan tahun baru di negeri Kinje. Junon terkenal kemeriahan festival itu, yang dapat terlihat hingga berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Saat kecil dahulu, dibalik jendela istana Noctis, aku selalu bermimpi untuk mendatangi festival ini. Aku selalu bermimpi untuk mencicipi tiap masakannya, menaiki tiap wahananya, dan melihat pesta kembang api yang hanya bisa kulihat dari kejauhan.
“Hey, hey, kamu dengar kabar berita pagi ini? Raja George akhirnya memperlihatkan diri di istana setelah enam bulan liburan,” kata seorang laki-laki pada teman kerjanya.
“Yup, kemungkinan besar. Tapi, aku tuh dengar kabar yang juicy banget. Katanya ya, di malam debudante Putri Pertama, seekor Daemon menyusup ke istana Ishtarin. Katanya dengan obat sihirnya, Daemon itu menyembuhkan penyakit Baginda dan membangunkannya,”
“Alah, terlalu banyak baca novel fiksi kamu nih.”
“Hahaha, mungkin saja. Tapi agak romantis kalau hal itu terjadi bukan? Tak salah aku dengar ya, yang dirumorkan itu adalah Sang Daemon Bulan. penyihir yang telah meredakan berbagai wabah di penjuru negeri ini!”
Aku tersenyum lalu berbaur dengan keramaian kota, meleburkan kerumunan kota itu dalam sihir ilusi Noise Echo. Sebuah sisipan kecil di lubuk hati mereka, “Apakah Daemon bulan dan Mutterbeweisen itu nyata?” Pertanyaan yang sederhana tetapi cukup untuk memercikan rumor tentang diriku dalam imajinasi manusia. emakin ambigu jawabannya, semakin liar imajinasi mereka. Kumparan penuh manusia ini adalah ladang subur bagi rumorku untuk tumbuh berkembang.
Dan semakin besar api rumor itu, maka Mutter tidak dapat menghiraukan kehadiranku di kota ini dan menutupinya dengan kebohongan belaka.
“Dan semakin banyak yang menginginkan Mutterbeweisen, harga obat itu akan semakin meningkat pula. Para bangsawan itu pasti akan membayar harga fantastis untuk mendapatkan obat yang dirumorkan itu. Kucing tua jangan kecewakan aku ya,” kataku tersenyum serakah, membayangkan banjir uang yang akan membuat kantongku gendut.
Namun entah mengapa, kekosongan menghujam hatiku. Di tengah keramaian ini, di tengah bising dan kemilauan cahaya yang membuatku mual ini, aku merasa asing. Padahal kota ini… adalah tempat kelahiranku, namun mengapa kini aku merasa seperti merantau di negeri orang?
__ADS_1
Setelah sekian tahun, mimpi itu pun kini berada dalam gapaianku. Aku dapat megnikuti festival Salju Pertama, tapi tak dapat menikmatinya. Ada sesuatu yang hilang. Aapa yang hilang? Diriku? Aku tidak mengerti perasaan menyiksa ini. Mengapa aku tak bisa menikmati malam ini seperti orang-orang disekitarku?
"Maaf membuatmu menunggu, Kak Axel!"
Hanya dengan sebuah suara, jawaban pertanyaan itu pun kini terjawab dengan jelas. Kulihat ke berbagai arah, mencoba melacak suara itu. kuberlari menepis para manusia yang menghadang jalanku, untuk mendengar lagi suaranya. Namun di lautan penuh bising ini.. aku tak dapat menemukan dirinya.
Kakakku… Eclair.
Setelah mencari selama satu jam, akhirnya aku pun menyerah. Duduk di bangku kosong, aku pun melihat ke arah lampion penuh cahaya yang menerangi senyuman para pengunjung festival. Tetapi jauh dari menghangatkan hatiku… senyuman itu seolah menelanjangi perasaan yang selam ini menghantui diriku..
Kesendirian.
Tertawa hampalah aku, “Apa yang kulakukan? Tentu saja seorang Putri Mahkota seperti Kakak, tidak mungkin datang ke festival ini,” gumamku konyol.
Lagipula… untuk apa lagi aku berharap? Sebab bagi dunia, Putri Bulan sudah mati dua tahun yang lalu. Aku hanyalah hantu bagi mereka. Ada namun tak untuk dilihat, hadir namun tak untuk dirasakan. Eksistensi menyedihkan yang terus menerus mencoba menarik perhatian orang lain, tetapi hanya untuk kecewa.
“Mama, Papa, aku mau ikut lomba Apel Pertama!” rengek seorang anak perempuan, yang digendong manja oleh ayahnya.
Tertawa hangat kedua orang tua anak itu, lalu sang Ibu pun menjelaskan, “Claudya, nanti kalau kamu sudah besar, baru boleh ya.”
“Tapi, Audya mau permintaannya dikabulkan apel pertama!”
Sang ayah yang botak mengelus lembut kepala anak itu dan bertanya, “Permintaan apa sih, putriku yang manis?”
“Audya mau sekolah selama-lamanya libur!”
Tertawa kecil aku mendengarnya. Astaga bocah-bocah. Pikirannya sederhana sekali, tapi menggemaskan. Tapi keinginan bodoh seperti itu tidak mungkin dikabulkan, bahkan oleh barang mitologi sekalipun.
Aku pun kemudian berdiri dan menatap pohon raksasa yang menjulang di tengah kota Junon. Kepolosan anak gadis itu membangkikat sbeuah perasaan di dalam diriku. Sebuah keinginan untuk menjadi anak polos yang penuh harapan lagi.
“Agak melenceng dari rencanaku. Tetapi sepertinya malam ini, aku akan menjadi pemenang lomba itu,” kataku yang kemudian melangkah dan mendaftarkan diri dalam lomba Apel Pertama.
__ADS_1