Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Noctis Labirynthus (3)


__ADS_3

“Kamu siap untuk Kompetisi Apel Pertama Kinje yang kesembilan?!" teriak seorang penyihir yang memandu acara penutupan festival itu. Melayang di udara ia menari-nari dengan lincahnya di atas sapu sihirnya, di depan pohon pencakar langit yang menjadi pusat Junon.


Sorakan penuh semangat refleks membuatku menutup telinga. Tubuhku yang masih kecil pun terombang-ambing di antara gelombang semangat para peserta yang rata-rata berusia dua kali lipat denganku. Hingga akhirnya aku pun menabrak seorang gadis berambut hitam panjang. Melihat jingga matanya yang bagaikan mata terbenam itu aku pun segera mengenalinya.


“P-P-putri Noc-“ kata Lumina yang segera kubekap. Kutaruh telunjukku di bibir dan tersenyum. Gadis itu pun mengangguk mengerti, tetapi sesaat setelah kulepas tanganku, dia segera mengguncang-guncang pundakku.


“Kamu bukan hantu kan?!” teriak Lumina yang membuatku memijit kening. Astaga… Bukankah seharusnya Lumina adalah murid paling pintar di akademi? Kenapa dia justru bertingkah bodoh dan menarik perhatian banyak orang.


“Iya, iya, aku ini hantu,” kataku mengikuti pembicaraannya agar orang-orang di sekitar kami, menganggap ini hanya percakapan dua orang teman saja. Phew.. untung tak banyak orang mengenal wajahku sebelum ‘dibunuh’.


“B-Bagaimana bisa Putri disini?”


Mataku pun melihat sebuah tato melingkari leher Lumina. Seperti bunga mawar hitam yang mekar penuh berduri melingkari huruf N yang anggun, begitu pula takdir buruk yang memerangkap Lumina. Gadis ini telah dikutuk menjadi babu Keluarga Noctis, membuat Lumina dan keturunannya tak kuasa melawan keinginan mereka yang berdarah Noctis.


Sepertinya… Mutter dan Eclair menyelamatkan hidup gadis ini dengan harga yang sangat mahal.


“Bisalah. Omong-omong, panggil aku…uhh, Clair saja. Aku agak risih dipanggil Putri, nanti dikira hantu beneran lagi,” candaku yang pun memangku dagu memperhatikan gadis itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Berbeda dengan bajunya yang lusuh saat pertama kali kami bertemu, Lumina kini berdandan seperti seorang gadis bangsawan. Gaun hitamnya yang penuh detail dijahit khusus oleh desainer terkenal, anting-antingnya terbuat dari permata rubi yang indah. Tak lagi kurus dan mengenaskan, kini Lumina tampak seperti bunga Olivia yang mekar cantik di padangnya.


Tak ada yang akan mempercayai bahwa dua tahun yang lalu, gadis ini hampir mati karena infeksi dan kelaparan.


“Sepertinya Eclair memperlakukanmu dengan sangat baik ya,” kataku tersenyum lega.


Tersipu-sipu gadis itu pun mengangguk, “Put-Ehem, Clair sendiri bagaimana? Setelah malam itu… apa yang sebenarnya terjadi padamu? Apakah hidup bebas seperti burung di langit… membawa kebahagiaan bagimu?”


“Pertanyaan aneh yang ditujukan pada monster yang hampir membunuhmu,” jawabku heran, lantas mengelus daguku dan berpikir, “Kebahagiaan… hmm. Aku tak mengerti perasaan apa itu. Tapi, melihatmu tampak sehat dan baik seperti ini, jujur aku merasa lelga. Sepertinya tangan mengerikan ini tidak selalu membawa keberuntungan buruk bagi mereka yang dia sentuh,” lanjutku.


“Kamu bukanlah orang yang jahat, Putr-Ehem! Clair.”


Aku hanya mendengus sinis dan melihat kembang api dengan meriah bermekaran di langit. Sajian atraksi tarian di langit malam menjadi pemanis mata, ditemani oleh kelap-kelip sihir yang penuh warna melukiskan kemeriahan malam itu. Dan setelah pembukaan yang megah, sebuah sihir cahaya pun muncul menunjukan hitungan waktu lomba dimulai.


Kulihat Lumina segera mengeluarkan dua buah tabung dari buku sihirnya. Dengan lincah gadis itu merakit tabung itu dan mengenakannya di punggung. Api pun muncul dari ujung bawah roket itu mendorong gadis itu terbang sesaat. Dengan percaya diri, Lumina mengenakan google dan mengacungkan jempol padaku.


Terheran-heran aku, “Semangat amat.”


“Bersemangat? Aku ketakutan! Kalau aku tak mendapatkan Apel Pertama itu untuk Putri Eclair, bisa-bisa… Lumina diplasah Ratu, sebab tak mampu melindungi Putri dari Pangeran Buaya Darat itu!”


“Ara, aku tak mengerti kamu ngomong apa.”


Tiba-tiba aku pun tersadar bahwa sebagian besar orang yang mengikuti lomba itu adalah kaum adam di usia dua puluhan. Disisi mereka adalah pasangannya yang memberikan semangat bagi ksatrianya itu. Kupijit keningku dan bertanya,


“U-Uhh, bukankah Apel Pertama adalah artefak sihir yang dapat mengabulkan permintaan mereka yang memakannya?”

__ADS_1


Dengan semangat Lumina memegang tanganku, “Iiih, Clair, kamu kudet banget. Itu kepercayaan tiga abad yang lalu tahu! Sekarang, adalah kehormatan tertinggi bagi seorang perempuan bila mendapatkan apel itu dari seorang Ksatria. Mereka bilang, jika kamu menyatakan cinta dengan apel itu, maka cintamu seratus persen!”


Segera kubekap mulutku dan menahan tawa, “Siapa yang menyebar rumor bodoh itu?”


“Iiih, ini bukan lelucon. Kan semua artefak sihir itu punya kekuatan misterius yang tak bisa diremehkan! Sudah banyak pasangan yang disatukan oleh Apel itu, disitu foto-fotonya dipajang semua,” kata Lumina menunjuk pada papan besar yang kukira tempat ajang pamer kemesraan… ternyata, halaah, halah.


“Ara, aku tak ingin menghabiskan waktuku mengejar omong kosong,” katkau yang pergi meninggalkan Lumina.


Tiba-tiba Lumina berkata, “Kata Papa, kalau dijual di pasar gelap, Apel Pertama harganya sampai sepuluh ribu keping emas loh, Clair.”


“Oke, aku ikut,” kataku yang kemudian meregangkan tubuhku. Kulepas sepatuku untuk menumbuhkan tulang yang melingkupi kakiku… menambah kekuatannya secara drastis. Aku pun tersenyum penuh percaya diri,


“Antara aku dan alat anehmu itu, siapa yang akan menang, Lumi?” tantangku.


Lumina menekuk alisnya dan tersenyum, “Tentu saja, Tsubasa Mk. IV-ku takkan kalah!”


“Yang kalah, harus mentraktir pemenang sushi” kataku yang melompat tinggi, bersama dengan letupan senapan yang memulai lomba itu.


Adrenalinku pun mengucur deras, kakiku dengan kliat melintasi ratussan pecundang yang berlari menuju pohon raksasa itu. Terang cahaya terlihat di atas dahan tertingginya, dengan mataku, aku dapat melihat apel emas itu menggodaku dengan kilaunya. Uuhh… mulutku ngeces membayangkan kantongku berat oleh keping emas.


Tapi sepertinya, perjuangan menuju puncak pohon raksasa itu bukanlah hal yang mudah. Sebab pohon itu, mungkin tingginya sampai lima kali menara jam Istana Ishtarin!


“Bukan masalah untuk Daemon sepertiku,” cibirku yang menaiki dahan pertamaku dan melihat para pecundang yang kaget, melihatku sudah jauh di depan mereka.


Tetapi sosok gelap melompat dari bayangan ke bayangan lainnya, dan dalam satu tebasan dia memotong dahan tempatku berpijak. Kehilangan keseimbanganku, mataku pun menangkap mata biru samudra dari pelaku yang menyabotase jalan kemenanganku. Dengan senyum sombongnya, dia memberiku jempol bawah… sebelum melompat dalam bayangan lagi, mendaki pohon itu dengan kecepatan yang fantastis.


Sebal dan tak ingin kalah, aku pun membelih nadi lenganku dan membentuk tangga melingkar ke atas dari darahku. Sembari berlari dengan kecepatan tinggi, aku pun berteriak,


“Sialan, jangan curi sepuluh ribu keping emasku!”


Tiba-tiba sebuah tebasan pun muncul dari balik bayangan. Nyaris aku menghindari tebasan itu dan segera mencabut pedangku, menangkis tebasan lainnya yang muncul beruntun dari laki-laki berambut pirang itu. Dengan lincah, ia melompat dari bayangan lain dan membuatku kewalahan menangkal serangannya.


Ugh, seberapa besar dia ingin membuktikan cintanya hingga menghadang jalanku seperti ini?


Sebal, aku pun mengetuk cincinku dan mengambil ampul penuh cahaya. Kulempar ampul itu di langit dan menebasnya. Kututup mata dan telingaku, ketika terang cahaya pun muncul dari dalamnya, meniadakan bayangan disekitarku. Sang laki-laki itu pun berhenti di salah satu anak tangga darahku, memegangi telinganya yang pedih.


“Hahaha, gimana rasanya? Ini adalah satu dari barang daganganku yang paling laku. Judgelight! Semua orang yang terkena sinarnya secara langsung tak dapat mendengar ataupun melihat dalam sepuluh menit,” kataku yang kemudian menendang laki-laki itu jatuh dan membalas acungan jempol bawahnya.


“D-Dasar curang!” teriak laki-laki itu.


“Bodo amaaat! Selamat tinggal, ksatria nyebelin!” teriakku yang tertawa puas sekali.


Tawa itu segera sirna ketika melihat Lumina kini melesat ke arahku dengan cepat. Namun bukan wajah penuh percaya diri yang dia tunjukan padaku, melainkan pucat pasi dalam kepanikan. Segera aku pun paham, mesin penemuan di punggungnya itu hilang kendali!

__ADS_1


“Lumina! Lepaskan benda di punggungmu itu! Cepetan!” teriakku sembari berlari mengejar Lumina yang terbang tak terkendali di langit.


Gadis itu menggelengkan kepalanya, “N-N-Nanti aku bisa jatuh!” teriaknya.


“Percaya padaku!!” teriakku yang kemudian mengoleskan darah pada kedua kakiku, menggambar diagram sihir penyokong padanya.


Lumina akhirnya melepaskan kedua tabung itu dan terjun bebas. Aku pun segera melompat, kencangnya lompatanku menghancurkan tangga darahku. Kugapai tanganku, mencoba menangkap tangan Lumina. Untung saja aku dapat menangkapnya dan membawanya dalam dekapanku.


Segera kucabut pedangku, lantas melingkarkan tali darah pada gagangnya dan melesatkannya ke batang pohon raksasa. Kugenggam tali itu sekuat mungkin, dan mencegahku dan Lumina jatuh. Di saat yang sama para panitia pun mendekati kami dengan sapu sihirnya dan menyelamatkan kami berdua.


DUARR!!!


Ledakan besar pun muncul di atasku. Sepertinya kedua tabung itu menubruk dahan terbesar pohon dan membakarnya. Tak mampu menahan beratnya, dahan itu pun terjatuh. Dengan cepat dahan itu akan menubruk bangku penonton yang berada tepat di bawahnya.


“A-Astaga, bagaimana ini?!” teriak seorang panita pada temannya, “Dahan itu beratnya bisa berton-ton. Kalau dia jatuh dari ketinggian … Ugghh—! Apa yang terjadi pada orang-orang dibawah?”


“S-Serius?” kataku tak percaya. Satu masalah berbuah masalah lainnya, duh, kok aku gak hoki banget hari ini sih?


“Duh, kita gak punya penyihir penghancur yang cukup kuat untuk membakar dahan itu lagi!” kata panitia lain yang panik.


Segera aku menyerahkan Lumina pada panitia, lalu melepaskan jubah hitamku. Tulang putih pun menyelimuti tubuhku. Mata ketiga dan keempatku pun terbuka, bersama dengan tulang menutupi wajahku seperti seekor naga.


“Haah, bawa Lumina ke tempat yang aman. Aku akan membereskan kekacauan ini,” kataku yang memutar-mutar tubuhku bertumpu pada pedangku, lantas menembakkan diri bagai peluru ke dahan yang jatuh itu.


“Sanguis Pandaemonium!” teriakku.


Kukucurkan darahku lantas melingkari dahan itu seperti tali baja yang sangat kuat. Lantas aku pun menembakan darahku ke dahan besar lainnya, tapi sepertinya tidak cukup. “Haaarrghh!” teriakku yang mengucurkan hampir seluruh darahku hingga dapat mencapai  dahan itu dan mengikatkan diri padanya.


Aku pun berhasil menahan dahan raksasa  itu, tetapi seluruh otot lenganku hampir putus rasanya. Dengan kecepatan tinggi, tubuhku berusaha memperbaiki diri tetapi, tetap saja dahan itu terlalu berat. Perlahan, kukucurkan darahku memanjangkan benang baja pada dahan lainnya dan perlahan menurunkan dahan yang jatuh dengan aman. Tulang punggungnku terasa sakit sekali, sebab mereka dengan cepat harus menghasilkan darah bagiku. Tertawa masam diriku, kita lihat… apakah tubuhku dulu yang akan hancur ataukah aku bisa menyelamatkan orang banyak di bawah?


Dipandu oleh para panitia, aku pun berhasil menaruh dahan itu dengan selamat. Kulepaskan tanganku dari tali baja dari darahku itu, hanya untuk bertekuk lutut kehilangan keseimbangan. Sial, berapa liter darah yang kuhabiskan untuk mengamankan dahan ini?


Orang-orang banyak mengerumuni dahan itu, tetapi mata mereka pun tertuju padaku yang bersujud di atas dahan raksasa itu. Jauh dari rasa berterima kasih, mereka menatapku dengan ngeri. Wujudku yang seperti iblis itu, sepertinya telah menakuti mereka.


Aku pun bertanya-tanya... mengapa aku membahyakan hidupku untuk menyelamatkan mereka?


“Benar juga… Monster sepertiku tak seharusnya--“ kataku yang kemudian muntah. Kepalaku rasanya ringan sekali dan mataku begitu buram rasanya… Tanpa sadar aku pun kehilangan kekuatanku dan terjatuh dari dahan besar itu.


"Dasar bodoh," kata suara yang begitu familiar bagiku.


Disaat itu, seseorang pun menangkapku. Air mukanya tampak begitu marah sekaligus khawatir. Dengan mata berkaca-kaca, dia menahan senyuman bahagia di bibirnya.


“… Kenapa kamu tak bisa pulang dengan cara biasa sih, adikku yang nakal?” kata Eclair dengan pakaian rakyat biasa dan wig pirang, menyelamatkanku sebelum terjatuh.

__ADS_1


__ADS_2