Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Celestial Finale (2)


__ADS_3

—60—


Sebuah retakan muncul dari langit yang gelap, hingga kemudain pecah ketika akar kegelapan tumbuh menyeruak darinya. Dia melesat menembus badai superadikal dan menancap di kerak dunia menghubungkan antara langit dan tanah. Putih dan mengeras akar pohon itu membentangkan cabang-cabang yang besar, bersinar menjadi pohon cahaya yang tumbuh terbalik dan menjadi singgasanaku melihat seluruh dunia.


Setelah berdehem membersihkan tenggorokanku, aku pun memanggil bunga mawar hitam di lenganku dan membentangkan suara yang terpancar ke semua bunga mawar di pohonku. Suara yang menjadi titah pertamaku sebagai Dewi yang menguasai dunia ini.


“Nyghtingale sudah mati,” kataku pada tujuh kota terbesar peradaban, “Kami, Black Company, telah merebut sihir dari dunia dan menguasai dunia. Sekarang, kuperingatkan pada kalian semua, delapan jam lagi akar-akar kegelapanku akan mendorong ketujuh kota utama menembus langit superadikal,” lanjutku yang menengadahkan tanganku.


Akar-akar kegelapanku pun tumbuh dengan ganas, mengangkat tujuh kota utama peradaban semakin mendekati langit. Ingin diriku mengangkat lebih banyak bagian dari kerak dunia ke langit, tetapi kekuatanku tetap ada batasnya. Mengangkat tujuh kota yang berisi seratus juta jiwa itu saja sudah mukjizat bagiku.


“Wahai bangsa manusia dan Daemon, tunjukan kepadaku kebijaksanaan yang pantas untuk hidup di duniaku,” kataku menutup titah pertama itu.


Hmm?


Dari kejauhan aku dapat melihat para manusia dan Daemon itu membangun beberapa menara raksasa di tengah tujuh kota.  Apakah mereka berencana menembaki kemelut salju superadikal di langit? Tanpa sihir? Penasaran, aku pun turun dan mendatangi kota Pei Jin.


Panik mewarnai kota itu. Ada beberapa yang bersungkur dan bersujud, berdoa meminta pertolongan dari sang Dewi yang telah mati. Ada yang melompat dan memilih untuk tinggal di dasar dunia, karena takut menghantam langit. Tetapi, lebih banyak dari mereka, bahu-membahu, manusia maupun Daemon membangun meriam itu.


“Cepat! Kalian gak denger kata monster gila itu? Jangan sia-siakan sedetik pun,” teriak Arthur yang sepertinya menjadi figur pemimpin disana.


Monster gila? hoho, aku cukup tersinggung.


“Araraa, ini apa ya?” gumamku melipat tangan, mengagumi mekanisme di hadapanku. Kukira itu menara, tetapi aku salah.


Sebuah roket raksasa dibangun dengan tergesa-gesa, menggunakan batang Yggdrasil sebagai fondasinya. Mesin pompa besar memenuhi tubuhnya, bersama dengan pipa meliuk yang rumit. Dan di tengah mekanisme kompleks itu, sebuah ruang menjadi jantung tenaganya… Kosong hingga membuatku mengira-ngira, dengan apa mereka akan membangunkan mesin raksasa ini?


“Artie, kalian berencana membuat bom dan meledakkan langit?” tanyaku pada sang arsitek, yang sedang sibuk memandu orang-orangnya disana.


Tentu saja Arthur segera melompat kaget dan mencabut pedangnya, tapi ketakutan jelas terlihat di wajahnya. Untuk pertama kali, si Noctis itu membentakku,


“S-Setelah semua kekacauan yang kamu buat, berani-beraninya kamu datang kemari?!”


Aku pun merasakan niatan membunuh yang pekat mengelilingi, ketika para Matrovska dan Hwarang mengepungku dengan senjata mereka. Tapi sayang sekali, senapan sihir yang mereka banggakan itu, kini hanyalh seonggok besi tak berguna.


“Kan sudah kubilang, dunia ini sudah menjadi milikku. Tentu, aku boleh dong sekedar melihat-lihat penasaran?” keluhku yang kemudian mengangkat pundakku, “Lagipula, bukankah di Keluarga Noctis, kamu diajarkan bahwa musuhmu adalah asset terbesar yang kamu miliki, Artie?” tanyaku.


Frustasi menyadari perbedaan kekuatan di antara kami, Arthur menyarungkan kembali pedangnya dan memerintahkan para Matrovska untuk mundur. Sementara itu, aku pun mendekati meja kerja Arthur dan melihat blueprint roket itu.

__ADS_1


“Hmm, jadi roket itu adalah alat untuk melepas seluruh energi dalam Quartz Megistus? Hmm, memang benar, energi dalam kristal sihir itu cukup untuk menghempaskan angkasa di langit. Tapi, itu tak cukup untuk menghancurkan Obsidian Theater,” lanjutku.


“O-Obsidian Theater?” tanya Arthur bingung.


Aku menganggukkan kepalaku, “Seluruh langit ini diselimuti oleh Anima yang sangat besar, bernama Obsidian Theater. Iblis yang lahir dari keinginan dunia akan kehancuran,” kataku yang kemudian menunjukan akar pohon yang menghujam daratan, “Bahkan dengan akar terkuatku pun, aku cukup kewalahan untuk menjaga iblis itu untuk memotongnya.”


“… Maksudmu, usaha kami ini sia-sia?” tanya Arthur.


“Tidak juga, tapi salah sasaran. Bila kamu ingin menghancurkan Obsidian Theater, kamu harus melenyapkan semua orang yang memanggilnya ke dunia ini,” kataku.


“Tidak akan,” jawab Arthur dengan kesal.


Aku pun tertawa, padahal, itu kan solusi termudah. Tapi anak keras kepala itu selalu mencoba jalan untuk menyelamatkan sebanyak orang, meskipun itu hal yang sangat sulit. Agak naif sih, tapi, sifatnya itu cukup manis.


“Kamu pernah bilang bahwa Anima memiliki jantung, sumber kekuatan mereka. Jika, kami semua mengarahkan roket ini ke jantung Obsidian Theater, apakah kami mampu menghancurkannya?” tanya Arthur yang kemudian mengelus dagunya,


“Tapi, meskipun mungkin, pertama-tama, dimana aku bisa menemukan titik lokasi jantung monster itu? Astaga, apakah delapan jam adalah waktu yang cukup untu menemukannya?” lanjut anak itu.


“Tujuh jam tiga puluh menit,” kataku tersenyum.


“Kamu… tahu dimana lokasi jantung monster itu bukan?”


Aku pun melepaskan kalungku dan memberikannya di tangan Arthur, “Liontin ini… adalah jantung Obsidian Theater,” kataku yang pun mendekati roket itu dan mengaguminya,


“Ibumu, Mentari, menggunakan seluruh hidupnya untuk meneliti cara mewujudkan langit biru. Pada akhirnya, dia berhasil menyegel jantung Obsidian Theater di dalam lontin ini… Meskipun itu membuatnya mendapatkan kutukan yang sangat kuat.”


Dan akhirnya.. kami berdua terjebak dalam plot Amelia. Kugelengkan kepalaku menepis ingatan itu dan melanjutkan,


“Bila kamu menggunakan kalung itu dalam roket ini, lalu menghantamnya dengan 6 bom Quartz Megistus, setidaknya, liontin itu akan retak sedikit.”


Arthur tertegun melihat liontin itu dan menggenggamnya dengan erat, “Kenapa kamu memberitahu kami? Aku kira tujuanmu membuat kekacauan ini untuk membalaskan dendam. Tapi… Aku tidak mengerti lagi.”


Aku mendengus, “Aku hanya seorang gadis yang ingin melihat langit biru. Sebab setelah melihatnya, mungkin, aku bisa mewujudkan dunia penuh cinta seperti yang Kakakku inginkan,” kataku yang pun melihat jemari-jemari belatiku yang mengerikan,


“Tapi, sesungguhnya, aku hanya ingin tak seorang pun dikorbankan lagi demi kepentingan bersama,” lanjutku yang menggunakan akar-akar kegelapan mencuri Quartz Megistus milik Lumina dari saku Arthur.


“Kamu berencana menggunakan Lumina untuk menjadi inti roket itu bukan?” tanyaku. Tiadanya jawaban dari bocah itu membenarkan asumsiku.

__ADS_1


“Hingga detik terakhir, hatimu masih ternodai oleh kutukan Keluarga Noctis. Segala hal bagimu… hanyalah alat untuk mencapai tujuanmu,” kataku menatap pedih Arthur,


“Sekali kamu mengorbankan hal penting dalam hidupmu, yang kedua akan jadi lebih mudah, dan yang ketiga… kamu takkan merasakan apapun lagi. Itu adalah kutukan Noctis yang sesungguhnya,” lanjutku.


Arthur menunduk dengan pundak yang gemetar, “… Aku pun tak ingin kehilangan Lumina… Tapi, apalagi pilihanku?” tanya Arthur.


Sama seperti Mama mengorbankan Mentari untuk menyelamatkanku, persis seperti Axel yang mengorbankan harga diri dan keluarga demi prestige yang fana… kutukan Noctis mengakar di hati kami. Bayaran dari segala dosa yang dilakukan oleh para leluhur kami, yang menakdirkan kami hidup dalam kesia-siaan meski memiliki segalanya.


Tapi akhirnya, Arthur menghela nafasnya panjang, “Namun… dengan kalung ini, sepertinya, aku masih dapat melihat senyum dokter bodoh itu,” katanya tersenyum tipis,


 “Untuk itu… Aku berterima kasih.”


Aku tak dapat menahan mataku berkaca-kaca,”Ih, tadi kamu melihatku kayak musuh, tapi sekarang bersikap manis gini. Dasar cowok plin-plan,” keluhku yang mengusap mataku dan menghela nafas panjang.


Aku pun menepuk pipiku dan membalikkan badan, menatap bocah itu dengan senyum lebar, “Tinggal tujuh jam lagi sebelum kiamat, ayo kita segera kalahkan si Obsidian Theater!” kataku yang pun mendekati bocah itu.


“L-L-Loh, kamu sendiri kan yang bilang, bahkan dengan enam Quartz Megistus pun, kami cuma bisa membuat retakan kecil di liontin ini. Dan kamu sendiri yang minta kami menunjukan kebijaksaan kami untuk hidup di duniamu, dan kamu juga yang bikin deadline mencekik seperti ini,” kata bocah itu yang melangkah mundur kesal,


“Sekarang malah kamu nge-gasin kami cepet-cepet. Astaga, sebenarnya maunya kamu apa sih? Emangnya apalagi yang bisa kami perbuat di jalan buntu ini?”


Aku tertawa terbahak-bahak hingga memegang perutku yang sakit, “Astaga, kata-katamu itu seolah aku ini wanita yang merepotkan saja.”


“Baru nyadar?” celetuk Arthur.


Dasar bocah kurang ajar, pikirku. Tpai bairlah, dunia udah diujung tanduk karena perbuatanku. Setidaknya kurang ajar satu dua kali bisa kumaafkan.


Aku pun berdehem, “… Salah satu hal terbijak bagiku adalah mengakui bahwa dirimu sendiri tak mampu melakukan segalanya. Meskipun sudah menjadi Dewi, aku kan tetap bagian keluargamu. Mana seorang Bibi menolak permintaan dari keponakannya yang ngegemesin bukan?”


“Keluarga…” gumam Arthur yang kemudian menekuk alisnya dan bertanya, “U-Uh, kamu takan meminta hal yang aneh-aneh bukan? Soalnya kamu orangnya picik. Tak pernah ringan tangan dan selalu menuntu balas. Udah gitu, pelit lagi.”


Kuketuk kepala bocah itu, “Astaga, iya-iya, sekali ini, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku akan menolong dunia ini cuma-cuma deh,” kataku yang kemudian megnacak-acak rambut Arthur dengan gemas. Setelah puas merundung Arthur, aku pun memegang tangannya dan menatapnya dengan dalam,


“Apakah Auntie boleh menolongmu, Artie?”


Tersipu-sipu malu, Artie melepaskan tangannya dan menjawab,


“… Mohon bimbingannya, Auntie.”

__ADS_1


__ADS_2