Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Kekuatan untuk Melindungi (4)


__ADS_3

— 19 —


Tiang Bunga lentera menjadi penerangan utama di kamar kayu itu. Di sebuah kursi kayu yang rekok, seorang gadis terikat disana. Helai rambut keemasannya terurai, berapdu dengan beberapa helai rambutnya yang merah. Dua tanduk merah mencuak di kening gadis itu senada dengan telinganya yang runcing. Gadis itu tertidur dengan pulas bahkan mengigau dengan ekspresi wajah yang bodoh


Hmm, seekor Daemon Dragonkin. Ras yang sudah punah bersama dengan La Puella Dragonica yang terakhir. Misterius.


“Oh steak gratis? Boleh banget… hehehe, more juicy pretty please?”


Astaga, bisa-bisanya dia mengigau pas banget saat aku menaruh satu piring steak yang dibuat Master Desmond untukku. Ribut suara di lantai atas menunjukan keramaian Guild Petualang yang tak kenal waktu. Benar, ruangan ini seringkali Desmond pinjamkan untukku “menginterogasi” musuhku.


Kusentil jidat gadis itu, “Oi, bangun. Sampai kapan kamu mau tidur?” kataku.


Terbuka mata ungu gadis itu yang setengah sadar melihatku, “Eh? Eresh-Senpai? Hahaha… Tidak mungkinkan kamu datang kemari. Quina sudah menutupi jejaknya dengan sempurna,” katanya yang kembali tidur, “Quina… masih mo bobo. Urusan… menyelamatkan dunia, nanti ajalah yaa Senpai… hehehe.”


H-Ha? Bicara apa gadis ini? Eresh? Senpai? Sebutan apa itu? Haah… Sudah kukira, dia berasal dari dunia lain. Pantas saja aku tidak mengerti perkataannya. Tapi menyelamatkan dunia?… Igauannya itu membuatku tertarik.


Lantas kucibit hidung mancungnya hingga akhirnya gadis itu pun terbelalak dan melonjak kaget.


“K-K-Kamuu, penyihir jahat yang punya tulang-tulangku?!” katanya dengan suara cempreng. Lantas melihat sekelilingnya dan panik, “Ruangan gelap, dengan gadis tak berdaya terikat begini. A-A-Aaaccckh! A-Apaa yang kamu mau lakukan padaku? M-Masih banyak makanan yang ingin kucicipi sebelum mati!!”


“W-What?” kataku dalam bahasa kuno. Kugelengkan kepalaku dan melepas cubitanku. Lantas kuambil kursi kayu di hadapan gadis itu dan menatapnya.


“Banyak hal yang kita harus bicarakan, Lady Quina Megistus,” kataku yang memotong steak yang lezat itu, lantas memasukkannya dalam saus spesial yang kubuat. Tengik bau saus itu hampir membuatku pingsan, apalagi warnanya yang keunguan dan gelembung meluap-luap pasti menghilangkan selera makan.


“Siapa kamu? Apa tujuanmu? Mengapa kamu menghadang jalanku?” tanyaku.


“Kenapa aku harus menjawab—?”


Sebelum Quina menyelesaikan perkataannya, tanganku menyergap rahangnya. Kuambil satu sendok penuh saus spesialku lantas bersiap menyuapi gadis itu. Tersenyum diriku melihat ketakutan di amta Quina,


“Kamu tahu, ada alasan mengapa pelayanku tak pernah mengijinkanku menyentuh dapur. Dahulu, dengan masakanku, aku pernah membuat satu keluarga tertidur selamanya,” kataku yang mendekatkan saus spesial itu di mulut Quina,


“Mungkin, kamu ingin mencobanya, Quina Megistus?”


Berkaca-kaca mata gadis itu dan segera berkata, “Baiklah! Aku akan memberitahukan smeuanya padamu!!”


E-Eh? M-Mudah sekali membujuknya bicara. Yah, padahal aku menantikan tiap detik tangis dan penderitaan gadis itu. Salah satu hobi yang sepertinya harus kulepas saat ini… Menghela nafas panjang, aku pun duduk di depan Quina dan berkata,


“Terus, katakan, siapa kamu?”

__ADS_1


Tanpa ragu sekalipun, Quina menjawab, “Aku adalah Quina Megistus.”


Kupicingkan mataku, “Iya, aku udah tahu. Maksud pertanyaanku bukan itu tahu.”


“—Penyihir pertama sekaligus Dewi Primordial yang melahirkan konsep sihir di dunia. Aku datang ke dunia ini dengan misi untuk mencicipi seluruh masakan enak yang ada di dunia,” sambung Quina yang membuatku mengerutkan alis mataku.


“Araraa, Lady, kalau bercanda, ayolah lebih lucu sedikit. Kita tahu Dewi Primordial mengorbankan dirinya demi melindungi peradaban dari ******* perang antariksa sepuluh ribu tahun yang lalu,” kataku yang menyilangkan kakiku dan membekap mataku tak tahan, “Jangan-jangan semua cerita itu cuma karangan belaka. Kebenarannya adalah kamu kabur dari tugasmu dan pergi melintasi dunia demi tujuanmu itu… Uuuh, mencicipi semua makanan di dunia?”


“Bisa dibilang iya, tapi juga tidak, hehehe. Ceritanya lebih kompleks dari itu,” kata gadis itu dengan tertawa polos.


… Demi Dewiku, santai sekali gadis itu. Ingin rasanya aku menyuapkan ramuan mautku padanya segera, tapi aku tidak seceroboh Lumina. Aku harus menggali informasi sebanyak-banyaknya dari penjelajah dunia ini.


Aku pun berdehem, “Yah, anggap saja perkataanmu benar. Mengapa, seorang Dewi Bijaksana sepertimu, menyerangku beberapa hari yang lalu?” tanyaku.


“Soalnya kamu punya tualng belulangku di topi sihirmu itu kan? Meski kemampuanku sebagian besar hilang, tapi aku bisa masih bisa merasakan anggota tubuhku memanggilku,” katanya yang matanya salah fokus melihat steak disamping saus mautku,


“Tapi tak kusangka akan berhadapan dengan seekor Daemon, makhluk antara yang menghubungkan Homo sapiens dan Homo deus. Dewi yang kehilangan kekuatannya sepertiku, bukan apa-apa dibandingkan dirimu, Clairysviel Adeola Noctis.”


“Ara, kamu mabuk ya? Bila para Penyihir Tinggi dan Raja-Raja mendengar teori konspirasimu, kamu bisa dieksekusi loh,” kataku melipat tanganku.


“Ah, kalian itu, senang sekali merepotkan diri dengan miskonsepsi. Di mataku, baik Kaum Daemon maupun Kaum Manusia, kalian semua adalah Homo sapiens atau manusia yang bijaksana,” kata Dewi gadung itu yang tampak menikmati omong santai ini, “Tapi kamu berbeda, di dalam jiwamu telah tertanam bibit yang membuatmu mampu berevolusi menjadi Homo deus, atau para Dewa-Dewi dalam bahasa kalian.”


Dia bilang tulang belulangnya ada di aku hmm? Aku… tidak hobi mengoleksi tulang-tulang. Selain menuh-menuhin tempat, tulang bukanlah preparat sihir yang baik. Tapi, belakangan ini… ada sih tulang langka yang kudapatkan. Lantas kuambil tulang belulang itu dan menunjukannya pada Quina.


“Tulang-belulangmu, maksudmu ini? Tulang La Puella Dragonica yang mati sepuluh ribu tahun yang lalu?” tanyaku.


Quina mengangguk dengan antusias, lantas menunjukkan tanduknya padaku, “Kalau Clairysviel masih tak percaya, coba cocokkan tulang tanduk cantik itu dengan punyaku!”


“U-Uh.. oke…” kataku menurutinya.



Cocok. Bahkan posisi goresan di tanduk Quina dan fosil di tanganku sama persis! Tunggu dulu, apa mataku yang menipuku ya? Jangan-jangan gadis ini menjebakku dalam sihir ilusi?


“Gimana? Sekarang kamu percaya padaku?”


Tertawa diriku membekap keningku, menertawakan seluruh omong kosong ini. Setelah jutaan dunia kuhancurkan, aku kira takkan ada algi hal yang dapat membuatku terkejut. Tapi… bertemu dengan Dewi Primordial? Ini seperti dongeng saja.


“Ara, anggap saja kamu benar Dewi Primordial—“

__ADS_1


“Memang benar kok.”


“AKU sudah pernah melawan seorang Dewi berkali-kali dalam hidupku, TAPI, aku tak pernah bertemu seorang Dewi selemah dan selugu dirimu. Apalagi SANG Dewi Primordial,” kataku yang menatap mata ungu naga itu dengan dalam, “Tak sampai di logikaku, mengapa kamu dalam kondisi… uhhh, menyedihkan seperti ini?”


Quina tertawa renyah, “Oh, jadi kamu pernah melawan Nyghtingale Ereshkigal? Woaah, pasti kamu dihajar habis-habisan kan? Hihihi. Eresh-Senpai memang galak dan menyeramkan, tapi hatinya baik kok… kali?” katanya santai yang kemudian menutup matanya dan memanggil kegelapan di dadanya. Disana ada ruang kosong yang seharusnya berisi sesautu.


“Tujuh tahun lalu, saat pertama kali meninjakkan kaki di dunia ini, seorang anak kecil yang cerdik mengelabuiku. Dia mengambil jantungku sekaligus seluruh kekuatanku, Quartz Megistus. Pada akhirnya aku pun berakhir dalam kondisi mengenaskan seperti ini, lemah dan tak berdaya di dunia yang asing dan berbahaya,” cerita Quina.


Astaga…. Jangan bilang anak kecil itu adalah Arthur?


“Kebetulan, enam bulan yang lalu, di kota ini, aku bertemu dengan bocah itu lagi. Tapi… ternyata dia sudah menggunakan jantungku untuk membangkitkan teman masa kecilnya yang mati akibat Wabah Nyght. Iba, aku pun merelakan Quartz itu untuknya,” lanjut Quina.


Aku mengangkat alisku, semudah itu? Dia… terlalu santai sampai-sampai membuatku skeptis.


“Yah, hidup menjadi manusia lagi bukanlah hal yang buruk. Dalam pengembaraanku, aku berhasil melindungi seorang Saudagar kaya dari seekor Anima. Saudagar itu pun membayarku sebagai Bodyguard-nya hingga hari ini. Kamu pasti mengenalnya.. Dia adalah Towa Lionheart, sang penyihir Merah,” katanya lagi.


Kuambil air panas dari topi sihirku dan menyeduh teh jasmine sembari menyusun pikiranku. Cerita Quina… terlalu meyakinkan sebagai omong kosong. Memang dalam cerita, Dewi primordial adalah La Puella Dragonica terakhir di dunia. Tak heran bahwa fosil itu akan cocok dengannya.


Namun tinggal satu picis informasi yang tak kumengerti, “Bila benar kamu sudah merelakan Quartz-mu, mengapa kamu menggerakkan Matrovskamu untuk menyerang Arthur dan Lumina lagi?” kataku yang mencicipi teh nikmat itu.


Quina menekuk alisnya, “He? Aku baru pertama kali ini mendengarnya,” katanya yang menekuk bibirnya berpikir, “Hmmm, zombie-zombie ini… uh, Matrovska ya? Mereka adalah hadiah ulang tahun dari Eresh-Senpai untukku beberapa hari yang lalu. Dan pun sebagian besar sudah kamu hancurkan beberapa hari yang lalu.”


Sudah kuduga, Sang Dewi Kematian itu… terlibat dalam insiden ini.


“Hmmm, aneh ya. Kenapa Eresh-Senpai menyerang Lumina? Apakah Quartz Megistus yang dia miliku benar-benar hilang, sampai-sampai dia harus merebutnya dari Lumina?” gumam Quina.


“Ha? Tunggu, ada dua Quartz Megistus di dunia ini?”


“Tentu saja. Milik tulang belulang di tanganmu, dan milikku.”


… Ini lebih rumit dari yang kukira. Kepalaku rasanya soak berusaha memikirkannya. Bahkan teh jasmine ini pun tak mampu meredeakan nyeri kepalaku.


“Sekarang giliranku! Dari hari pertama kita bertarung, aku sudah penasaran banget dengan Clairysviel. Kamu sangat kuat, mungkin, tinggal selangkah lagi menjadi seorang Homo deus. Tapi aku dapat melihatnya dengan jelas. Kamu bukanlah makhluk yang sempurna. Sebagian jiwamu hilang terkurung dalam langit kegelapan yang melingkupi dunia ini.


Apa ceritamu yang sesungguhnya, Clairysviel Adeola Noctis?”


Character Design


__ADS_1


__ADS_2