Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Asmodeus Cyana


__ADS_3

— 42 —


Di bawah batang pohon raksasa yang mati, duduk Asmodeus yang sedang melamun dengan lugunya. Matanya mengikuti gerak gerik kupu-kupu oranye yang menari di depannya, hingga dengan polosnya, Asmodeus pun berusaha menangkapnya. Namun gerakannya yang kikuk justru membuatnya terjatuh.


Dan di atas dahan pohon yang tinggi, aku yang memperhatikan gerak-gerik Asmodeus itu, mengeryitkan kening. Robot ceroboh itu beneran Asmodeus yang kukenal? K-Kok dia… beda banget ya?


“Kamu liat apa?” kata Nuwa sambil merebut binokuler yang kupinjam darinya, “… Ooh, Asmodeus, ya. Hmm, nyebelin juga kalau gadis itu yang melindungi pintu masuk ke markas White Order,” lanjutnya tenang.


“Kok Putri kalem banget sih? D-Di depan kita kan seorang Lector, musuh utama Black Company?” tanyaku mengacak pinggang.


“Iya, aku paham kok. Ini kan memang wilayahnya dia,” kata Nuwa yang pun duduk dan mengobrak-abrik isi tasnya. Heran aku, di jaman gini masih ada pemburu yang tidak menggunakan cincin spasial ya?


Sang Putri kemudian mengambil sebuah kotak yang dikemas cantik. Dengan senyum seringai dan mengedipkan mata, Nuwa berkata, “Karena itu, aku udah nyiapin hadiah spesial untuknya. Serahkan padaku!”


Hadiah spesial? Sekejap bulu kudukku merinding. Setelah dikerjai satu kali oleh Putri Nuwa, aku trauma dengan senyuman penuh maknanya itu. Apalagi yang Putri licik ini rencanakan? Apa mungkin dalam hadiah itu ada bom waktu yang meledak saat dibuka? Klasik, tidak mungkin sesimpel itu. Atau mungkin… Nuwa menyimpan sebuah senjata rahasia yang dapat mengalahkan seorang Lector secara instan?


Whoa, pantas aja Nuwa dikatakan sebagai Pathfinder terkuat kedua! Uuuwh, aku sudah tak sabar melihat rencananya berjalan. Mungkin ada trik yang bisa kupelajari darinya.


Aku pun mengangguk pada Saber dan memberinya isyarat untuk mengamankan perimeter. Sedang diriku mengikuti Nuwa dari belakang, melesat dari dahan ke dahan menuju tempat Asmodeus berada.


“Tunggu disini, jangan macam-macam. Mengerti, Ruin Hunter?” perintah Nuwa sebelum melesat mendekati Asmodeus.


Aku tak bisa mempercayai mataku sendiri. Kukira Nuwa akan mengendap-endap dan menaruh kotak hadiah itu sebagai perangkap. Namun yang kulihat justru gadis itu dengan polosnya mendekati Asmodeus, seperti temannya sendiri. Astaga, apa yang dia pikirkan?


“Putri bodoh itu!” gumamku yang membubuhi kakiku dengan sihir penguat lantas melesat menyelamatkan Nuwa.


Tapi, saat aku hampir sampai disana, terkejutlah diriku. Asmodeus membuka hadiah dari Nuwa dan menemukan banyak sekali coklat disana. Wajahnya yang datar tiba-tiba menjadi ceria, saat ia menatap Nuwa dengan mata berseri-seri.


BUM!!


“Aarghh, ukh!” gagal mendarat, aku terpental ke batang pohon. Sekejap Asmodeus segera membidikkan lasernya padaku tetapi dicegah oleh Nuwa.


“Cyana, si bodoh itu bukan musuhmu,” kata Nuwa.


Mata biru Asmodeus pun perlahan meredup disaat dia menurunkan tangannya, “… Database update confirmed… Onee-chan has been registered as an ally,” gumam robot itu yang kemudian mengambil sebatang coklat dan melahapnya.

__ADS_1


Bangkit sembari menepuk-nepuk debu di bajuku, aku pun bertanya dengan heran, “… Kamu kok akrab sekali dengan monster itu, Putri Nuwa?”


TAK!


O-Ouch, Putri Nuwa menjitak kepalaku dengan keras! Ih, kenapa harus main kekerasan sih? Jawab aja kenapa. Aku kan bingung.


“Hah, Ruin Hunter, kamu ini taunya cuma bertarung dan bertarung, cobalah sekali-kali kamu menyelesaikan amsalahmu dengan damai. Tak semua musuhmu harus dikalahkan dengan darah,” omel Nuwa yang kemudian menunjuk pada Asmodeus yang sedang menikmati coklatnya,


“Liat, mana ada sesuatu yang menyeramkan dari makhluk paling imut di dunia ini!”


“I-Imut? Dia itu—“


Sekejap ingatan menyergap kepalaku. Horror saat melihat Putri menyebalkan itu… terkoyak-koyak dan bersimbah darah oleh arena Asmodeus, membuatku ingin muntah. Kugelengkan kepalaku, tidak, Chrysant, masa depan dan masa lalu berbeda. Kamu tidak ingin mengulang ingatan itu lagi bukan?


Lagipula, aku teringat kata-kata Nuwa bahwa Asmodeus tidak akan menyerang kalau tidak dipicu. Kutarik nafasku dalam lalu melipat tanganku,


“Kenapa seorang Putri Black Company sepertimu dekat dengan musuh kita, terlebih seorang Lector? Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Putri,” pintaku.


Putri Nuwa menghela nafasnya. Tangannya kemudian dengan lembut membelai rambut Asmodeus, tak peduli keningku berkerut melihatnya.


Hmm, itu menjelaskan mengapa Asmodeus memanggilku dengan Onee-chan, panggilan seorang kakak dari peradaban yang lalu. Tapi bila hal itu benar, mengapa Asmodeus menyerang Nuwa?


“Kalau kamu nggak kaget, artinya kamu benar-benar mengerti kebenaran tentang identitasmu ya, Chrysant. Tapi, Cyana berbeda darimu. dia adalah Homunculus terakhir yang diciptakan Emillia, tapi belum sempat menjalani proses pemanusiaan,” lanjut Nuwa.


“Pemanusiaan…?”


“Yup, tahap kedua dari perakitan Homunculus. Professor Emilia dan Lady Luciel akan menginstal sistem operasi di otaknya, yang akan menyimulasikan sifat dan karakter manusia,” kata Nuwa yang kemudian mengangkat bahunya, “Detilnya, aku sih, gak tau ya. Hanya yang kudengar langkah itu penting untuk proses berikutnya.”


… Malifikasi. Aku pun menyadari satu hal yang mencolok dari Asmodeus. Dia sama sekali tidak mirip denganku, berbeda dengan Homunculus lainnya. Hmm, sudah kuduga, tubuh ini, wajah ini… adalah mimik dari pemilik sel yang di-implantasikan ke tubuhku. The Warden... atau tepatnya, Chrysanthemum yang asli.


Tiba-tiba, Asmodeus mendekatiku dan menawarkan coklatnya. Datar wajahnya seperti boneka porselain. Matanya redup tanpa jiwa dan suaranya dingin seperti mesin saat berkata padaku,


“Requesting Onee-chan to take Unit CY40A’s chocolate.”


… Benar-benar seperti sebuah mesin. Apakah mungkin, seperti sebuah komputer, virus dapat membajak pikiran Asmodeus dan mengendalikannya? Mengingat Kakak—tidak, Lady Luciel, mengendalikan ratusan malaikat robotnya, tidak mustahil jika Lady Luciel mampu mengendalikan Asmodeus. Tapi mengapa saat ini, dia jinak?

__ADS_1


“Pain. Onee-chan did not take the Chocolate. Simulating sadness. Pain, sob, sob. T.T.”


Nuwa tertawa kecil, “Hey, daripada ngelamun terus, mending kamu ladenin dong adikmu. Meski datar gitu, Cyana juga punya hati tau. Omong-omong Cyana, kamu masih manggil diirimu dengan nama robot gitu? Kan aku dah ngasih nama yang bagus!”


Terkejut diriku, u-uh, Asmodeus si mesin pembunuh itu… menangis? Ah, semua ini sangat sureal bagiku. Dalah, daripada dipikir panjang lebar terima terima saja. Tersipu-sipu, aku pun mengambil coklat Asmodeus,


“Terima kasih… Cyana,” kataku lalu menggigit coklat nikmat itu.


“Yay. Onee-chan accepted Valentine Choco. Cyana very happy!” kata Cyana dengan nada datar, yang membuatku bertanya-tanya beneran nih robot sepertinya ngerasain sesuatu? Tapi… rambut birunya yang halus… ugh, aku tak bisa menahan diriku untuk mengelusnya.


Aaah… lembut banget sih! Padahal kami dibuat dengan bahan yang sama, tapi kok Cyana lebih lembut dari rambutku yang kusut dan acak-acakan?


“Oh ya? Lalu kenapa Cyana sekarang ada di tangan White Order?” tanyaku sembari mengacak-acak rambut Cyana dengan gemas.


Nuwa tersenyum masam, “Hah, inilah. Siapa suruh kamu bolos tiap kali pertemuan para Pathfinder?” katanya yang menjentik keningku, “Cyana adalah mata-mata yang Black Company tanam di White Order. Selama tujuh tahun, kita dapat mengetahui gerak gerik White Order karena laporannya.”


E-Eh? S-Serius? A-Ahahaha, apa-apaan ini? Setelah kupikir-pikir lagi, kayaknya tragedi yang kulihat di masa depan… adalah ulahku ya? Astaga, kalau saja aku nggak sok-sok an menyerang Cyana, semua ini takkan pernah terjadi. Aduh, malu banget. Oke deh, mulai saat ini aku akan rajin rapat. Semangat, Chrysant!


Tunggu dulu… Kalau begitu, kenapa Cyana menyerang Khanza? Apa mungkin seseorang membajak OS Cyana? Tidak, kalau benar begitu, Cyana pasti sudah menyerang kami dari tadi. Tiba-tiba aku pun teringat kata-akta yang Cyana ucapkan saat memburuku di masa lain.


“Malice detected. Initiating…”


Cyana menyerangku karena salah menilaiku sebagai seekor Malice. Mungkin saja, hal yang serupa terjadi pada Khanza. Tapi, aku tak bisa menyembunyikan perasaan curiga di hatiku. Apa mungkin Khanza tidak berbohong saat ia menyebut dirinya seekor Malice tipe S?


BOOM!!


Tiba-tiba terdengar ledakan dari langit. Dengan gesit, Saber mengayunkan palu raksasanya pada malaikat robot yang terbang di langit. Tanah pun retak saat dia menghantam malaikat itu ke tanah, hingga tubuh malaikat itu hancur dan tak bersisa. Tapi, jauh dari lega, Saber menatap ke langit dengan garang dan berteriak,


“Musuh datang!”


Saat mendongak ke langit, terkejutlah diriku melihat sinar-sinar terang yang mengepung kami. Bagaikan bintang malam, sinar-sinar itu menarik panah api mereka siap menghancurkan kami. Mereka adalah The Immortal, boneka setia Kakak.


Character Design:


__ADS_1


__ADS_2