Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Meaningless Ambition


__ADS_3

— 22 —


Aneh, aku tak pernah mengira akan melihat langit malam di Underworld. Bintang-bintang yang bertebaran mengingatkanku akan kupu-kupu yang muncul saat Khanza mengalahkan seekor Malice. Pikiranku saat ini masih terperangkap oleh keindahan momen itu… Tapi menyisakan rasa pahit di hatiku.


Sebenarnya apasih kupu-kupu itu?


“Oh, ramen Khanza udah jadi?” tanya Khanza sembari menghanduki rambutnya yang panjang dengan kasar. Dengan senyum jenaka dia mendekati panci masakku dan menikmati aromanya,


“W-Whoa, Chrysant, kamu memang ya, diam-diam memiliki bakat masak yang hebat,” puji Khanza yang duduk di bangku plastik yang kami temukan di hangar.


“Lebay, ini cuma ramen instan yang kubeli di supermarket. Kalo mau muji, puji pabriknya dong, bukan Chrysant,” balasku sembari mengaduk mie.


Disaat semua tim ekspedisi lelah dan tertidur, aku dan Khanza memutuskan untuk berjaga malam, sembari menunggu tim helikopter yang menjemput kami. Lagipula, aku masih punya banyak sekali pertanyaan untuk sang Penyihir mengambil sumpit dan mencomot ramen itu.


“Hey! Masih panas tau, nanti kalau lidahmu kebakar gimana? Lagipula mienya belum masak, mana enak di makan begitu,” tegurku.


Menyelurup mie dengan nikmat, Khanza pun tertawa geli, “Justru saat masih panas dan agak keras, mie instant itu paling enak tahu,” katanya yang terus mencomot ramen instant itu, “Uuuhhhh, udah lama sekali Khanza nggak merasakan micin. Ah, rasanya seperti hidup kembali, hihihi,” lanjutnya.


Haaah… Aku benar-benar tak mengerti penyihir satu ini.


Dalam satu hari kami bertarung hidup dan mati, dalam semalam kami saling mencurigai satu sama lain, tapi saat ini, anehnya, kami duduk bersama dan saling berbagi makanan dari panci yang sama. Takdir memang sulit ditebak. Tapi… semenjak melihat ingatan penyihir itu, ada nostalgia yang asing kurasakan di hatiku.


“Hey, Khanza… Aku penasaran. Apakah kita pernah ketemu dahulu?” tanyaku.


Dengan wajah bego, Khanza menjawab, “Whut? Tentu saja. Kita kan sudah bertemu, saat kamu pasrah di hadapan Judgement.”


“Tidaaaakk, maksudku, eh… di masa lalu… uhhh,” kataku menggaruk-garuk rambutku canggung, “Mungkin, saat Chrysant masih kecil?”


“Hahahaha, kalau iya, emangnya kenapa?” tanya Khanza yang menuangkan kopi dalam termosnya ke cangkir, “Tak ada yang berubah. Waktu yang telah bergulir dan tidak akan kembali. Kaca yang telah pecah dan takkan bisa sempurna lagi. Percuma tenggelam dalam masa lalu yang sia-sia.


Lagipula, mengingat komposisi tubuh kita, mungkin saja itu bukan ingatanmu tapi Homunculus lainnya.”


… Khanza mengelak pertanyaanku. Dan dari senyumannya itu, dia tahu aku menyadarinya. Sepertinya penyihir itu menyembunyikan sesuatu dariku… tapi juga, memancingku untuk mencari tahu kebenarannya.


“Kalau begitu… Dari semua ingatan yang merasuk di kepalaku, ada satu nama yang selalu konsisten muncul. Khanza, siapa sebenarnya Lady Luciel?” tanyaku serius.


Khanza menyisip kopinya, “Penyihir yang benar-benar sungguh betulan amat teramat busuk.”


W-Wow, sepertinya Khanza sangat membenci penyihir itu.

__ADS_1


“Tanpa penyihir itu, kamu dan aku tidak akan melihat langit malam penuh bintang seperti ini,” kata Khanza memperhatikan langit malam, “Luciel Diamandia, dia adalah Homunculus yang diciptakan oleh Sang Dewi langsung untuk menjaga dunia yang diselamatkannya. Tapi sama seperti segala sesuatu di dunia, boneka itu pun terkikis oleh waktu. Ingatannya tercemar oleh kenyataan pahit yang harus ditelannya… hingga akhirnya, dia mengambil kesimpulan yang sama sekali salah.


Lady Luciel ingin meraih Ideal White.”


“Ideal White? Kalau tak salah.. Bukankah dia adalah sihir sempurna yang dicari White Order untuk mengabulkan segala permintaan? Untuk apa dia mencari sihir sekuat itu?” tanyaku.


Khanza mengelus dagunya, “Yah, karena Lady Luciel adalah pemimpin White Order! Tapi kalau tujuan pastinya… Hmm. Khanza pun tidak mengerti. Tapi mungkin, keinginannya berkaitan dengan Time Displasia yang kita rasakan di Junon,” kata penyihir itu yang mengambil sebuah bunga dari sakunya.


Dari mimpiku, aku pun segera mengenalinya. Itu… Bunga Chrysanthemum. Tapi dari daun dan warnanya yang segar, bunga itu bukanlah manipulasi sihir. Dia adalah tanaman yang asli.


“Khanza menemukannya di sebuah bangku di Junon. Ini… seperti mukjizat. Membawa sesuatu yang telah punah kemari adalah sihir yang luar biasa. Seolah-olah sentuhan dari sang Dewi sendiri….


Bila hanya dengan Quartz Bulan, Lady Luciel mampu mendistorsi waktu dan membawa bunga ini kembali ke dunia. Apa yang dapat ingin dia bawa ke dunia dengan kekuatan absolut Ideal White?”” kata Khanza yang membekukan bunga itu di tangannya,


“… The answer is, I don’t know.”


Jadi bukan The Reaper yang menyebabkan Time Displasia, tetapi sihir Lady Luciel yang di amplifikasi oleh Quartz Bulan. Memperhatikan keindahan bunga itu, ironi menguasai hatiku. Bukankah… motivasi Lady Luciel senada dengan Putri Emilia, yang tega menjadikan anak-anak ciptaannya, menjadi Malice demi membawa anak kandungnya kembali di dunia ini?


… Bukankah motivasi itu senada dengan kata-kata Khanza, “Kamu takkan menyesal bila mengikuti kata hatimu,” gumamku.


“… Tapi saat di persimpangan antara memilih orang yang kamu kasihi dan hal yang benar. Kmau takkan menyesal jika memilih kasih,” lanjut Khanza menyeruput kopinya dan memejamkan mata,


“… Sekarang, kalimat itu lebih terdengar sebagai kutukan,” kataku yang ikut menuangkan kopi di gelasku, “… Ego seseorang yang tak memikirkan apa yang dipikirkan orang yang dia kasihi, ketika dirinya memilih untuk menyakiti orang lain demi orang itu,” lanjutku.


Khanza tersenyum tipis tetapi tidak menjawab. Dia hanya menikmati hembusan angin segar yang menemani kami di malam itu… dengant angan yang memegang bunga beku itu dengan erat dan tak ingin merelakannya pergi bersama angin.


— + —


PSSTT!


Tirai air menghujam tubuhku dengan dinginnya yang menusuk sampai ke kulit. Sehabis itu, dengan kejamnya, para dokter dibalik koridor itu menghembuskan angin kering dari berbagai sisi, mengeringkan tubuhku dengan instant. Tapi, penderitaanku belum selesai, setelah ini… mereka akan melakukan kejahatan terberat bagi kemanusiaan.


Mereka akan mengukur tinggi badanku!


“Uughh… aku paling benci pemeriksaan kesehatan sehabis ekspedisi,” gerutuku yang menutup mataku saat Seraphina menarik stadiometer tepat di kepalaku.


“Ya ampun, pulang-pulang udah menggerutu. Kan kamu tahu sendiri, Underworld punya banyak sekali bakteri-bakteri atau virus jahat. Kalau tak ada pemeriksaan kesehatan ini, mereka bisa menyerang tujuh benteng angkasa,” jelas Seraphina yang memicingkan matanya,


“Hmm, 148.2? Gak mungkin ah, masa Chrysant-ku bisa tumbuh hanya dalam tiga hari sih?” canda Seraphina yang ingin mengulang kembali penguruannya.

__ADS_1


“J-jangan, pake angka itu aja. 0.2 senti itu begitu berti bagiku,” kataku yang segera merebut papan Seraphina dan menuliskan angka itu di rekam medisku, “Uwaaaah, 0,2 sentii! Chrysant masih tumbuh ternyata, yey!” gumamku melompat-lompat senang.


Tiba-tiba Seraphina memelukku dengan erat, “Welcome home, Chrysant,” bisiknya.


Memegang tangan Seraphina, aku pun tersneyum dan membalas, “Um, I’m Home.”


Tapi, tiba-tiba, wanita berambut emrah itu mengendus tubuhku dan segera melompat kaget, “Bau ini… Astaga, penyihir busuk itu. Berani-beraninya dia menyentuhmu! Kamu tidak apa-apa kan? Khanza tidak ngelakuin yang aneh-aneh ke Chrysant kan?” kata Seraphina yang menpeuk-nepuk tubuhku dan memeriksanya.


“I-Iiih, apaan sih. Nggaklah, Khanza cuma… uhh, menghajarku sedikit?”


“Apa?! K-K-Kurang ajar, biar Kakak kasih pelajaran ke dia. Mau Pathfinder kek, penyihir primordial kek, tak ada seseorang pun yang boleh menyentuh adikku!” teriak Serpahina menyingsingkan lengannya, siap menghajar Khanza untukku.


Aku pun tertawa terpingkal-pingkal, “Boleh banget! AKu juga sebeeeeelll banget sama orang itu.”


TSSSS, tiba-tiba terdengar suara pintu mesin terbuka. Kaget, aku pun segera bersembunyi di balik Seraphina, berharap seseorang tidak melihatku tanpa busana disana. Ugh, siapa sih yang kurang ajar banget, sampai-sampai nyelonong masuk gitu aja ke ruang pemeriksaan seorang Pathfinder?


Uh… Ternyata orang itu si Pangeran!


“E-Ehem, sepertinya aku masuk di saat yang kurang tepat. Aku akan pergi, kalian silahkan melanjutkan pemeriksaannya,“ kata Pangeran yang tersipu-sipu.


“N-N-Nonono, uhh, aahh… Cepet bilang aja urusanmu apa, Liam,” kataku menenun one piece sederhana dari sihir dan menutupi tubuhku.


Pangeran Liam menekuk alisnya dan memberi isyarat padaku, kamu serius? Di depan Seraphina? katanya.


Aku mengangguk.


Pangeran Liam pun menghela nafasnya dan membuka sebuah kotak disana. Terkejut Seraphina melihatnya, apalagi setelah Pangeran Liam kemudian berkata,


“Sebagai penghargaan atas prestasi luar biasa yang ditujunkan oleh Ruin Hunter, kami, Keluarga Noctis akan mengabulkan permintaannya. Mulai hari ini, Seraphina, kami menominasikanmu kembali menjadi seorang Pathfinder.”


Tersenyum diriku melihat ignition Kakak yang begitu indah. Berbeda denganku yang berwarna putih, Igniton Seraphina seperti berlian yang mengurung api keemasan di dalamnya. Pas sekali dengan sebutannya, The Morning Star.


“Jadi… ini alasanmu pergi ke ekspedisi itu,” kata Seraphina yang pun mengambil Ignition itu dan mendekatkannya ke jantungnya.


“Pangeran Liam dan Chrysant… Mohon maaf, tapi aku harus menolaknya,” katanya yang menaruh kembali Igniton itu di kotaknya.


“H-Ha? K-Kenapa? De-dengan Igniton, kamu bisa make sihir lagi loh, Kak. Kan hidup Kakak jadi lebih nyaman!”


Seraphina pun tertawa geli dan mengacak-acak rambutku dengan gemas, “Karena Sera sudah menemukan hal-hal yang lebih berharga daripada sihir!”

__ADS_1


E-eeeehhhh, sia-sia dong perjuanganku selama ini?!


__ADS_2