
— 8 —
Deru angin menyambut Chrysant yang berdiri di dermaga Alexandria. Di depan mataku, hamparan awan hitam telah bergulung-gulung seperti topan, menanti untuk melahap tubuhku. Tiada satu pun penyihir berdiri di dermaga itu selain diriku dan perlengkapan sihirku.
Dengan teliti, aku mengetatkan google dan masker, memastikan keduanya ketat udara agar Salju Superadikal tidak masuk ke dalamnya.
“Activate Shield,” gumaku.
Sirkuit sihir pun menyala dan mengikuti zirah sihir Black Company yang melingkupi setiap jengkal tubuhku. Seragam bionik itu adalah penemuan terbaru Black Company yang memberikan perlindungan maksimal bagi para pemburu sekaligus kecepatan yang sangat dibutuhkan saat perburuan. Karena teknologi ini, pekerjaanku jadi lebih mudah.
Tetapi, sebelum aku melompat terjun, kurasakan kehadiran seseorang di belakangku.
“U-umm, kamu butuh apalagi dariku, Liam?” tanya Chrysant bingung.
Liam tertawa sambil terus mengetatkan mantel tebalnya, “Haruskah aku membutuhkan sesuatu darimu, ketika ingin melepasmu pergi?” tanya balik sang Pangeran.
Hmm, William aneh. Meski sudah berteman dengan Liam sejak di Akademi Sihir, aku masih belum mengerti jalan pikiran sang Pangeran. Layaknya kabut asap, laki-laki itu selalu menyembunyikan niatan di balik senyum dan tutur katanya yang lembut. Tapi disisi lain ia menunjukan kejutan dengan kemanisan yang meluluhkan hati.
“Hah, aku merasa terhormat sekali diantar pergi sang Pangeran,” cibir Chrysant sembari meregangkan tubuhku dan memulai pemanasan.
“Aku hanya ingin memastikan mainanku pergi dengan selamat,” ejek Liam.
U-Ugh… jadi, Chrysant hanyalah mainan bagi Pangeran ini? B-Berani-beraninya! Mentang-mentang darah suci mengalir di nadinya, bisa seenak jidat Pangeran itu.
“Ini hanya peringatan dari seorang teman. Bila kebetulan kamu bertemu lagi dengan Penyihir Berjubah Merah dalam laporanmu, segera lari,” peringat Liam yang kemudian berbalik pergi.
“Kenapa?” tanyaku.
Liam mendengus, “Penyihir itu adalah mimpi buruk,” jawabnya yang kemudian melambaikan tangan dan berpisah dengan aku.
Ingin diriku menyusul Liam dan mencegahnya pergi sebab rasa penasaran yang sangat menyiksa hatinya. Tetapi, bersamaan dengan hilangnya deru angin, waktu pun memburu Chrysant. Nagi telah tiba, momen dimana salju superadikal tiba-tiba tenang dan tidak beriak. Momen yang sempurna bagi para pemburu untuk terjun ke Underworld.
“Iih, Pangeran satu itu. Selalu aja bikin pusing,” gerutuku berkacak pinggang.
Namun, bila Pangeran Liam sampai memperingatiku secara langsung artinya pesannya itu serius. Penyihir Berjubah merah itu, Khanza… Sesungguhnya siapakah dirinya?
“Oke. Langit sudah tenang sempurna,” gumamku yang berlutut dan mengambil ancang-ancang, “Enhance Endurance. Enhance Speed. Extreme Enhance Speed. True Speed. Lighting Strike,” kidungku memanggil sihir yang menguatkan tubuh.
Dalam satu tarikan nafas yang panjang, Chrysant pun segera berlari dengan sangat kencang ke ujung Dermaga. Melompat meninggalkan gemuruh debu yang tebal, aku terjun bagaikan peluru yang menembus kegelapan. Saking cepatnya melesat, angin telah menjadi belati yang menggores perisai sihirku.
__ADS_1
“Black Company, berikanlah sayap anginmu padaku. Ijinkan manusia fana ini menguasai langit. Seraphim Grace!” teriakku sesaat setelah menembus lapisan awan terakhir.
Tiga pasang sayap sihir merangkai diri di punggungku. Mer eka adalah kendaraanku mengarungi langit kegelapan.Berbeda dengan Alexandria, kegelapan menguasai daratan. Tak satu titik cahaya pun terbit di hamparan hitam itu. Kilat-kilat langit menjadi pencahayaanku menghindari gunung tinggi. Tak ada bintang bersinar dan kompas tak bekerja sama sekali, hanyalah peta sihir dalam *M**icrochip*yang tertanam di otakku menjadi pemanduku.
“Teknologi membuat hidup lebih mudah… tapi kadang serem juga ya,” gumamku yang mengingat prosedur pemasangan microchip ini yang… uh, cukup membuat bulu kudukku merinding.
Dibalik lautan kegelapan ini ada barisan deret mata merah yang menatap para penyihir yang terjun dari Benteng Angkasanya. Mata-mata itu berasal dari Malice yang sudah tak sabar melahap mereka.
Setelah setengah hari mengkoyak langit dengan kecepatan tinggi, Chrysant pun berhenti dan membuka peta dengan menyentuh telinga kananku.
“Tujuh kilometer dari danau Koyanska, enam kilometer dari mons Olympus. Masih tujuh hari berjalan kaki sih ke Junon, tapi bandara ini cukup layak untuk pendaratan,” kataku mencoret-coret peta sihirnya dan menentukan tempatnya mendarat.
Bandara Starfall.
Tempat pendaratanku adalah reruntuhan bandara yang konon digunakan peradaban sebelumnya untuk melintasi angkasa. Secara kebetulan tempat itu juga digunakan tim ekspedisi Nadja untuk pulang pergi ke Alexandria. Karena lokasinya yang strategis seharusnya banyak pemburu dan ksatria yang berjaga disana.
Tetapi, tak satu pun lampu sihir menyala di bandara itu. Firasat buruk pun langsung menyergapku. Chrysant memegang kalung pemberian Kakak dengan erat. Mungkin saja, bandara itu kini sudah menjadi sarang Malice.
Beberapa saat kemudian, sudah tiga kali aku mengitari bandara itu. Tetapi anehnya, tak satu pun Malice kurasakan.
“Mencurigakan,” gumam Chrysant.
Dengan waspada, Aku pun mendarat dan segera mencabut kedua belatiku. Mataku segera memandang sekitar dengan curiga dan telingaku siap menangkap sekecil apapun suara.
Bertolak badanku ke arah suara gaduh itu. Tetapi tak ada Malice disana. Jika tak salah, suara itu berasal dari hangar kosong itu. Apakah cuma angin? Atau mungkin… seekor Malice yang mengintai dirinya? Perlahan aku pun melangkah mendekati hangar itu.
Semakin dekat, semakin jelas kegaduhan itu terdengar di telingaku. Dan di tengah-tengah simponi kekacauan itu, suara serak yang sedang mengobrak-abrik barang di dalam Hangar itu.
“Tidak ada, tidak ada, tidak ada!” katanya.
Mengintip dibalik gerbang, Chrysant mendapati sang Penyihir Berjubah Merah sedang membongkar bagasi pesawat dengan panik. Loh, kok bisa Penyihir itu ada disini? Pas lagi setelah Liam memperingatiku.
Ugh, apakah mending aku kabur saja? Tapi… Penyihir itu tak tampak seperti mimpi buruk seperti yang dikatakan Liam. Duh aku jadi pusing, baiknya gimana ya?
Tiba-tiba, Penyihir Berjubah Merah bertekuk lutut dan hampir pingsan.
“Makanan… makanan… dimana aku bisa mendapatkannya? Kalau begini caranya..” tanya sang Penyihir dengan suara serak.
Dari garis mata topeng itu, mata merah sang Penyihir bertemu denganku. Tersentak kaget dirinya hingga menyenggol tumpukan bagasi yang langsung jatuh beruntun mengenai kepalanya. Tetapi, sesaat kemudian, kepalanya nongol diantara lautan bagasi.
__ADS_1
“Dududuhh, kepalaku,” katanya yang mengelus sayang kepalanya, “Kamu… Chrysant kalau tak salah kan ya?” lanjutnya sang Penyihir.
“U-uuhh, tidak. Sepertinya kamu salah orang,” gumam Chrysant gugup. Keringat dingin mengucur di keningku, bagasi yang mengubur tubuh penyihir itu tampak berat sekali tapi sang Penyihir Berjubah Merah tampak baik-baik saja!
Dan lagi… bagaimana bisa penyihir berjubah merah itu mengenaliku?
Seperti laba-laba, sang Penyihir Berjubah Merah pun merayap dengan kecepatan kilat ke dekatku.
“Hiiii!!” pekikku takut. Demi dewa-dewi, a-apa-apaan sih penyihir satu ini? Ngeri banget!
“Kamu tak bisa membohongiku! Khanza ingat persis mata cantik itu. Kamu, kamu, kamu si Chrysant. Hahahah, kok bisa kita ketemu lagi?” kata sang Penyihir yang menggapai tanganku,
“Aaahh, memang takdir selalu berpihak padaku. A-Aku sudah lupa caranya makan heheh bahkan amkanan pun aku lupa! C-Chrysant, kamu punya makanan kan? Kan, kan,kan?!”
“H-Hey, lepaskan aku,” pinta Chrysant menolak tangan itu, tapi astaga demi dewa-dewi, kuat sekali cengkraman sang penyihir itu!
Sang Penyihir mengguncang-guncang tangan Chrysant, “B-bukankah ada pepatah manusia yang bilang, mata dibayar mata. Kebaikan dibayar kebaikan? Aku kan sudah menyelamatkanmu. Sekarang giliranmu! Mana makananmu, berikan semuanya kepadakuuuuu!” paksa sang Penyihir.
BUK!
Kesal dan panik, aku pun menjitak kepala penyihir berjubah merah itu. Tetapi siapa yang menyangka, jitakannya itu terlalu kuat hingga membuat sang Penyihir terkapar tak berdaya.
“O-Oi, kamu gak papa?” tanyaku namun tak ada jawaban ia terima.
Rasa bersalah pun muncul di dadanya. Benar kata penyihir itu, Chrysant kan berhutang budi padanya. Kok dia malah membalasnya seperti ini? Tapi, caranya meminta itu loh! Bikin aku merinding saja. Rasanya seperti ditarik zombie dalam film layar tancap yang Chrysant tonton bersama Sera.
Groooooowll!
Terdengar bunyi perut sang Penyihir bergema di hangar itu. Chrysant pun menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengacak pinggang.
“Duh, ternyata lapar to. Bilang dong dari tadi, Chrysant kira kamu tu bandit tahu,” gerutu Chrysant.
Melihat sang Penyihir terkapar tak berdaya di hadapanku, sebuah ide pun terlintas di pikiran Chrysant. Siapakah yang dibalik topeng tengkorak itu? Penasaran, aku pun berlutut dan dengan perlahan tangannya membuka topeng itu. Denyut jantung Chrysant berdegup kencang, sampai menutupi suara di telinganya. Saat jemarinya itu menyentuh topeng tengkorak sang Penyihir, aku pun menelan ludah.
T-tidak, tidak, tidak, tidak! K-Kalau begini caranya, Chrysant tampak seperti pemburu mesum yang memanfaatkan orang pingsan dihadapannya. Ogah banget! Bisa-bisanya aku menguak rahasia penyihir itu saat dia tak berdaya seperti ini.
Kutepuk pipiku keras menyesali tindakanku.
Kuhela nafasku panjang lantas mencabut cincin perak di jari telunjukku dan melemparnya ke udara, “Black Company, sang penguasa ruang dan waktu. Berikanlah kami kunci akan ruang tak terbatas di dunia. Item Box,” kidungku.
__ADS_1
Dari cincin itu munculah pusaran kegelapan tanpa batas. Chrysant pun memasukan tangan ke dalamnya dan mengambil peralatan camping dan berbagai bahan makanan. Tak lupa dua selimut untukku dan penyihir itu.
Aku pun tertawa hampa, “Maaf Liam, padahal kamu sudah memperingatiku… Chrysant malah menolong penyihir itu,” gumamku.