Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Si Ular Putih Gremory (1)


__ADS_3

— 29 —


Gelombang api membara, melahap kota dengan ganas. Tak memandang bulu, api itu seperti palu dari surga yang menghukum manusia yang arogan. Seorang malaikat menjadi hakin dengan tiga sayap apinya yang membentang menutupi langit. Dan dihadapan sang hakim, berdiri seratus Pathfinder  dan Penyihir yang menatap kematiannya, tapi tak gentar.


Salah satu dari mereka adalah Khanza yang berdiri di samping Pathfinder berambut merah panjang. Saat itu Khanza mengenakan battlesuit moderen yang sama dengan Adrammelech, bersama jubah merah yang berkobar. Tangannya menggenggam, sebuah tongkat sihir dari berlian… yang berbentuk sepertu kuncup sebuah Bunga Chrysanthemum.


“… Ialah keajaiban yang mempertemukan kita kembali… Tapi siapa yang menyangka, keajaiban itu menuntun tanganku untuk mengakhir hidupmu,” kata Khanza menghela nafas dalam.


Sang Pathfinder berambut merah menancapkan pedangnya dan berteriak, “Pasukan, pertempuran terakhir ini mempertaruhkan nasib dunia. Demi keselamatan orang yang kita cintai, kita harus membukakan jalan untuk Lector-sama. Meskipun harus mengorbankan nyawa kita.”


Keseratus Pathfinder dan Penyihir itu memberikan salut pada sang Pathfinder merah. Keteguhan niat mereka tampak begitu gemilang di mataku. Mereka kemudian memegang kristal Ignition mereka dan mengaktifkan sihir di dalamnya.


“Ignition Berserker!” teriak mereka yang membiarkan sinar merah dan aura gelap melahap tubuh mereka. Sayap berlian pun mekar di punggung mereka, bersama dengan berlian tumbuh melingkupi tangan dan kaki mereka, menjalar dengan cepat menginccar jantung.


Khanza memegang matanya dan bergumam, ”Ignition… Berserker!”


Gelombang kejut memadamkan api di kota, meruntuhkan gedung-gedung yang sudah keropos. Dari tanah, tumbuh pepohonan berlian yang menjalar dengan cepat menuju sang malaikat api. Bersamaan itu, berlian melingkupi seluruh tubuh Khanza, tanduk lancip mencuat dari dahinya bersama dengan taring-taringnya semakin meruncing. Ekor berlian pun tumbuh, bersama duri-duri yang mencuat dari tubuh Khanza. Mata keempat dan ketiganya pun terbuka, putih matanya menghitam dan terang merah irisnya menusuk mata.


“Aarrgghhhh!!” teriak Khanza yang bersama dengan melesatnya para Pathfinder ke langit, pun berlari mengikuti tumbuhnya pohon kristal itu, menuju The Reaper.


Tetapi The Reaper mengangkat tangannya, memanggil ratusan portal yang melesatkan meteor dalam kecepatan tinggi. Dahan pohon berlian itu hancur oleh kuasa sang Meteor, tapi dengan perlindungan para Pathfinder dan Penyihir, Khanza dapat fokus melesat menuju musuhnya itu. Dalam sekejap, belasan dari mereka runtuh tak kuat menahan kekuatan The Reaper, sebagian lainnya termakan oleh kekuatannya dan berubah menjadi monster kegelapan… tetapi mereka tetap memegang teguh keyakinannya dan melindungi Khanza.


Tetapi dengan mudah, The Reaper memanggil hujan meteor itu lagi. Namun kini sang Pathfinder merah mengumpulkan seluruh kekuatan pada pedang raksasanya. Dia menghirup nafasnya dalam dan sekejap mengaung saat kekuatannya sudah penuh, “Raven Style Finale: Dimension Crusher!!” teriaknya. yang melontarkan tebasan yang begitu dahsyat hingga membelah dimensi itu sendiri.


Terhisap dalam pusaran dimensi yang terkoyak-koyak, meteor itu pun menghilang, memberikan kesempatan abgi pohon raksasa itu untuk menggapai The Reaper. Dahannya dengan ganas mencengkram tangan The Reaper, membekukannya dalam berlian. dan tanpa menunggu lama, Khanza pun melompat dan menghujam tongkat sihirnya pada jantung The Reaper.

__ADS_1


“This is… our good bye. I’m sorry, Chrysant… At least, this time, we’re gonna die together,” gumam Khanza yang tersenyum pahit dan menahan air matanya, sebelum pohon berliannya terlingkupi oleh kegelapan yang menggerogoti tubuhnya dan The Reaper.


“Oh Black Company, dewi penipu dan pengkhianatan, berikanlah kekuatan padaku untuk mencurangi takdirku dengan  nista kebohongan. Aku, The Sixth Lector, Khanza… memanggilmu!


Absolute Darkness!”


Pusaran hitam muncul dari tongkat sihir Khanza, mematahkannya menjadi dua. Pusaran itu terus menerus menghisap segala disekitarnya, termasuk The Reaper dan Khanza. Namun tiba-tiba, The Reaper menghancurkan segel berlian di tangannya dan menggapai Khanza. Api yang melahap wajahnya pun perlahan menghilang dan sesaat, terlihat  sebagian wajah dari gadis kecil itu tersenyum pada Khanza.


Pusaran angin dahsyat melontarkan tubuh Khanza menjauh dari pusaran kegelapan itu…. Sebelum sang lubang hitam menelan The Reaper seutuhnya dan menghilang bersama dengan runtuhnya Benteng Angkasa di bawahnya.


Seperti ilusi, abu api yang melingkupi langit kini menghilang. Sang Pathfinder merah pun menangkap tubuh khanza yang telah runtuh dan menatap langit biru yang cerah, melingkupi kehancuran kota di bawahnya. Pada akhirnya, sang Pathfinder pun berkata,


“The Hunt Ended.”


Yaahh, aku punya pilihan apalagi? Di dunia sihir, tidak mampu sihir membuatmu kerepotan luar biasa. Tidak bisa masak,  tidak bisa menyalakan listrik, dan banyak lagi. Untungnya, Seraphina masih tinggal di apartemen khusus yang mengakomodir seseorang tanpa sihir. Jadi, setelah pulang dari ekspedisi, aku menginap di apartemennya beberapa hari ini. Kecuali kemaren saat aku dirawat di RS setelah tepar melawan Adrammelech.


Setelah bersusah payah melepaskan diri dari Seraphina, aku pun masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahku. Segar air membasuh penat di wajahku. Kutengadahkan tangan mengambil beberapa air itu, ingin meminumnya… Tapi—


“Tapi kekhawatiran Chrysant tidak berdasar. Sebab, dari awalkan kita semua sudah terkontaminasi sel Warden.”


U-ugh, cerita Khanza semalam membuatku jadi parno. Bodo amat, aku pun meminum air itu dan melegakan dahagaku. Satu detik, dua detik… oke, tidak ada efek samping. Haah, kuhela nafasku lega.


Kulihat sirkuit sihirku yang pulih, setelah konslet saat aku mengerahkan seluruh kekuatanku untuk memanggil The Great Gamble.


“Light Sphere,” gumamku memanggil prisma cahaya di tanganku.

__ADS_1


Cepat banget… tiga hari aku sudah bisa menggunakan sihirku lagi. Padahal dulu, bisa sebulan aku tak dapat menggunakan sihirku. Apa ini mungkin, seperti kata Khanza, efek dari malisifikasi yang muncul sejak aku menggunakan kekuatan misterius itu?


Apakah aku… semakin menjadi seekor Malice?


Aku pun teringat akan mimpiku barusan. Bagaimana para Pathfinder itu hancur dan menjadi Malice setelah berlian The Warden menggerogoti tubuhnya. Sama seperti… Saber dari lini waktu yang lain. Apa yang dikatakan Khanza sepertinya benar… Sel Warden memang sudah mencemari tubuh kami sejak dulu. Itulah mungkin alasan mengapa manusia kini dapat menggunakan sihir.


… Mimpi itu, apakah dia ingatan Khanza yang terkirim padaku, sama seperti ignatan Predator Telos? Jadi… Itukah yang terjadi sepuluh tahun yang lalu, saat umat manusia berhadapan dengan The Reaper. It was far too heroic than I ‘d ever imagined. Malah bisa jadi bahan bikin novel tuh. Tapi, Pathfinder Merah yang gemilang itu… kini telah berubah menjadi siput malas yang masih mendengkur di kamarnya sekarang. Haaah…


“Realita seringkali mengecewakan,” gumamku mtersenyum sambil mengintip Seraphina masih meringkuk dalam selimut tebalnya.


Tapi aneh, biasanya aku akan merasakan nyeri kepala hebat saat melihat mimpi itu. Sekarang, aku malah merasa sangat segar. mungkin, efek dari infus rumah sakit semalam kali ya? Ah bisa jadi penyembuhan sihirku lebih cepat karena obat. Ya, ya, ini bukan efek malisifikasi omong kosong Khanza itu!


“Omong-omong Rumah Sakit… Kalau tak salah, hari ini jadwal check up-ku dengan dokter Rizal,” gumamku setelah menyiapkan sarapan untukku dan Kakak.


Setelah sarapan dan mandi, aku pun memilih baju di lemari. Setelah… les singkat dari Khanza, entah kenapa aku sekarang merasa risih menggunakan baju santaiku seperti biasanya. Kupicingkan mataku mencari pakaianku yang bagus. Tapi, nihil. Semua adalah kaos oblong yang gak lucu sama sekali.


“Kak, pinjem baju ya,” gumamku pada seraphina yang membalas hanya dengan dengkurannya. Astaga.


Untungnya, ukuran bajuku dan Seraphina tidak jauh berbeda. Yah, agak longgar sih terutama di bagian dada, tapi… Ah, sudahlah. Pulang dari check up, aku akan belanja baju! Liat saja Khanza, aku pasti akan membuatmu terkagum-kagum dengan fashion sense-ku sekarang, hmph!


Kubuka pintu dengan sneyum cerah, menyambut hari yang baru… Tapi sayang sekali, hari yang cerah itu dihancurkan oleh seorang laki-laki berambut coklat dengan senyuman yang membuatku mual.


“Y-Yo, selamat pagi,” sapa si tukang selingkuh sialan itu, yang segera kutendang tepat di selangkangannya.


Aku pun melipat tanganku dan tersenyum melihat pangeran itu menderita, “Setelah bertunangan dengan seorang Putri, berani juga ya kamu datang ke depanku, Liam?”

__ADS_1


__ADS_2