Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Ilusi Bermata Dua (End)


__ADS_3

—15—


Obsidian Theater,  31 Desember 1627


Dahulu legenda mengatakan sang Pahlawan melesatkan tombak cahaya yang menembus jantung seorang Dewa jahat  dan menghempaskannya jauh ke dalam perut dunia. Katanya, mereka yang berhasil menemukan tombak cahaya itu akan memiliki kekuatan yang mampu menaklukan takdir dan dapat mewujudkan magnum opus seluruh penyihir di dunia.


Ideal White, sihir sempurna yang dapat mengabulkan segala permintaan sang Penyihir.


Kekuatan besar itu telah mengundang banyak sekali penyihir menuju pencaharian yang berakhir sia-sia. Puluhan ribu tahun berusaha memecahkan misteri, tak ada satu pun penyihir yang mampu menentukan lokasi tombak cahaya itu.


Tapi… legenda itu secara tidak sengaja dipecahkan oleh sepasang kembar yang ingin membuktikan diri mereka.


“Bulan!” teriak Mentari mendirikan perisai cahaya yang melindungiku dari hantaman tombak bermata dua dari seekor ksatria kegelapan. Dengan lincah ksatria itu memutar tombaknya dan menebaskan mata hitam tombak itu, menghancurkan perisai Mentari.


“Kai, Integration!” teriakku yang menghisap Kai sang serigala dalam bayanganku lantas mengubah jemariku menjadi belati berlian yang menahan serangan maut itu.


Terlempar diriku pada sebuah tiang yang hancur. Di depanku, dihad Ksatria kegelapan itu memainkan tombaknya dengan lihai dan menghunuskannya padaku, melindungi pohon kegelapan dengan puluhan mata iblis merah tumbuh di sekujur gua itu. Disekitarnya, pedang dan berbagai senjata lainnya tertancap di tanah, menjadi medali kemenangan Sang Anima yang telah membantai para pemburunya.


Olivia Nightmare, sang penjaga rahasia Noctis.


“Jahat, mereka mengirim kita berdua untuk mengalahkan Anima ini? Hahahaha! Keluarga Noctis menginginkan kita berdua mati,” gumamku sembari disembuhkan oleh sihir cahaya Mentari disisiku.


“… Tak ada pilihan lain, Bulan. Jika kita ingin diterima sebagai seorang Noctis, kita harus mengalahkan Olivia dan menyelesaikan ritual inisiasi,” kata Mentari yang memanggil pedang cahaya di kedua tangannya,


“Ini satu-satunya cara agar anak jalanan seperti kita dapat menyandang nama Noctis.”


“Tidak masuk akal. Hanya karena wanita itu melahirkan sang penerus keluarga Noctis, anak yang tak berdarah Noctis harus melalui ritual berbahaya seperti ini?” kataku yang mengepalkan tanganku geram.


“… Wanita itu adalah Mama kita sekarang, Bulan,” kata Mentari yang seolah berusaha ingin meyakinkan dirinya sendiri.


Tapi sama sepertiku, pasti Mentari pun sadar. Seorang yang pernah kami panggil Mama… kini sudah tiada. Hanya dalam tiga minggu kemudian, Tuan Noctis menikahi seorang pelakor dan menjadikannya Duchess Noctis yang baru. Dan pelakor itu… kini melahirkan sang matahari baru Noctis dan berusaha menendang kami dari Kediaman Noctis.


“Aarrggghhh! Aku sudah muak,” kataku yang berdiri dan menyempurnakan integrasi tubuhku dengan Kai.


Rambut keemasanku memanjang dan perlahan menjadi perak. Mata giok yang kumiliki pun ternodai oleh merah darah. Tulang-tulang tumbuh di kedua tangan dan kakiku menjadi perisai sekaligus senjata yang sangat kuat. Bersamanya, kekuatan dahsyat mengalir dalam tubuhku. Meskipun tak memiliki sihir sehebat Mentari, ini adalah bakat terpendam yang kumiliki.


Rahasia yang bahkan Tuan Noctis pun tidak tahu.


“Bulan, jangan gegabah—!”


Tak mempedulikan peringatan Kakakku, aku melompat dan menerkam Ksatria itu. Api kemarahan membakar jiwaku. Dengan ganas aku melancarkan satu cakaran demi cakaran lain. Kewalahan ksatria kegelapan itu saat mencoba mengikuti kecepatan tubuhku yang menyerangnya dari segala sisi. Hingga satu titik aku dapat menyudutkan ksatria itu dan melompat tinggi, melepaskan tendangan kuat yang ditahannya dengan tombaknya.


“Sudah cukup aku menerima omong kosong emreka! Mereka kira hanya karena memiliki darah bangsawan, mereka lebih baik darimu, Kak? Sialan, selamanya… aku takkan menerimanya!” teriakku yang mengerahkan seluruh kekuatanku dalam tendangan itu.


KREK! TRING!!


Berhasil diriku mematahkan tombak ksatria kegelapan itu. Namun jauh dari terkejut, ksatria itu segera mengambil gagang kedua amta tombaknya dan melancarkan serangan mendadak padaku yang sedang lengah.


Tiba-tiba Mentari mendorongku, dengan gegabah dia memanggil perisai sihir. Tetapi ksatria itu menebaskan bilah pedang hitamnya, menghancurkan perisai sihir itu dengan mudah.

__ADS_1


“Tidak, jangan!” teriakku yang melompat mencoba menghentikan Olivia.


Tapi, Darah telah terciprat di wajahku, kala ksatria kegelapan itu menghujamkan pedang merahnya di perut Mentari.


—+—


Pei Jin, Agustus 1647


“Duduk tegak!” tegur Lumina menepuk punggungku.


A-Awww, tepukan Lumina menghapus lamunanku. Dengan sedikit kesal, aku pun bertanya, “Araraa,  boleh aku bertanya, siapa yang asisten sekarang?”


“Hmm, apa kata Putri? Bicara lebih lantang Putri! Kamu adalah penguasa distrik ini, tunjukan wibawamu,” tegur Lumina lagi.


Aduh, sekarang aku paham megnapa Arthur ingin menginap di rumahku. Kalau punya teman serumah segalak Lumina, tentu saja aku akan kabur.


Tapi tidak kusangka-sangka. Aku kira butuh satu atau dua minggu sebelum ada seorang yang menyerahkan suspek Matrovska padaku. Tetapi baru tiga hari, di hadapanku telah berkumpul aroma keringat yang menyengat dari kerumunan manusia yang berbondong-bondong menyerahkan “Suspek Matrovska” di depan klinik Lumina.


Dengan sigap para pemuda distrik pun menyiapkan tenda dan kursi bagiku dan Lumina untuk menginterogasi para suspek itu.


“Duuuhh, tidak-tidak-tidak! Aku ini sejenis introvert yang lebih suka bekerja dengan tenang di lab, daripada harus ketemu banyak orang seperti ini,” keluhku memberontak di depan seorang anak kecil yang melihatku tak percaya.


Lumina menjentik keningku dengan sangat keras dan berkata, “Hayo, mengeluh bukan kebiasaan baik. Kan, ini perintah Putri sendiri. Laksanakan dengan sungguh-sungguh agar aku tidak malu menjadi asistenmu.”


“A-Araraa, kok aku seperti masuk dalam jebakan ya?”


Tiba-tiba terdengar suara bocah di depan kami.


Mengusap hidungnya bangga, Lumina pun tersenyum lebar, “Tentu dong. Kan aku seorang Magistrat Sihir yang berhasil mengalahkan Dewi Nyghtingale sekali,” katanya menyombongkan diri.


Aku kehabisan kata-kata untuk dokter satu itu. Menyerah pada takdirku, aku pun memutar pena buluku dan memulai interogasi ini.


“Verrel Lebenshaft, 7 tahun datang untuk melaporkan kedua orang tuanya sebagai para Matrovska,” gumamku yang menyipitkan mataku melihat kedua orang tua Verrel yang sudah cengengesan sendiri di belakang.


Aku pun menepuk dahiku lelah, “Dan baru saja, Tuan dan Nyonya Lebenshaft melaporkan pasangannya sebagai Matrovska. Entah mengapa… aku seperti dimainkan disini.”


Dengan senyum polos menunjukan gigi ompongnya, Verrel menjawab, “Entahlah. Yang penting, dapat satu keping emas!”


Kubekap wajahku tak percaya. Oh Dewi Nyghtingale, bolehkah kamu menjemputku sekarang ke dalam naunganmu?


Lumina tertawa kecil melihat kekesalanku, “Kan sudah kuperingati Putri. Ini bukan cara efisien untuk menciduk Matrovska. Tentu saja semua orang akan datang menyerahkan sanak saudaranya demi sekeping emas. Harusnya Putri lebih spesifik dong memberikan perintah.”


Tersenyum masam diriku, “Aku terlalu menyepelekan kecerdasan dan kreatifitas manusia,” kataku yang pun memangku pipi dan bertanya pada Verrel,


“Terus, kenapa Verrel kecil menuduh kedua orang tuamu sendiri sebagai Matrovska, hmm?”


“Soalnya Papa dan Mama suka pagi-pagi menghilang dari rumah,” jawab Verrel.


“Emang kerjaan Mama Papa apa?” tanyaku menulis sekedarnya dalam laporanku.

__ADS_1


“Petani!”


Krek, kupatahkan pena buluku. Ya iyalah pagi udah ngilang! Petani kan bangun pagi-pagi untuk mengurus sawah dan kebunnya. Astaga dewiku yang maha penyayang.


“Tapi-tapi, Verrel punya informasi penting untuk Putri Noctis,” katanya yang berjingkrak penuh semangat di kursinya yang rapuh. Sekilas mataku melihat retakan di kursi itu dan segera kutangkap anak itu tepat di saat kursinya patah.


“W-Wow, Kakak cepat banget. Baru kali ini Verrel ketemu penyihir yang cepat dan keren seperti Kakak!” kata Verrel kagum.


“Uhh… Aku pun kaget,” gumamku menggaruk-garuk leherku canggung. Kebiasaanku menjaga Arthur saat kecil pencicilan sepertinya muncul ke permukaan saat melihat anak-anak.


Dengan ramah Lumina mengambil sebuah kursi untuk Verrel, “Lain kali hati-hati ya. Kalau terlalu semangat, kamu tu suka sekali melukai diri sendiri. Bukankah dokter sudah mengingatkanmu?” katanya yang mengelus lembut kepala Verrel.


“Hehehe, tapi kalau Verrel jatuh lagi kan, dokter Oe akan menyembuhkanku!” balas Verrel manis, sebelum duduk kembali.


Gila ya, sihir apa itu? Bagaimana bisa Lumina membuat Verrel nyaman dan aman? Apakah itu bakat seorang dokter?


“Terus, informasi apa itu? Aku harap dia seharga satu keping emas,” kataku yang pun duduk dan menyilangkan kaki.


Verrel pun bercerita bahwa sebulan sebelum kematian temannya Gideon, ia teringat bahwa di suatu malam tiba-tiba Gideon mengetuk pintu jendela kamarnya. Bocah itu bilang bahwa dia baru saja melihat sosok hitam berdiri di tepi sungai dan menuangkan sesuatu disana. Merinding ngeri, takut bahwa sosok gelap itu adalah monster atau hantu, Gideon pun merengek untuk menginap di rumah Verrel. Kebetulan kedua ortunya sedang pergi bekerja sampe malam.


“Menuangkan sesuatu? Dia ada bilang seperti apa benda yang sosok itu buang ke sungai?” tanyaku melipat tangan, penasaran.


Verrel melihat ke langit-langit dan berusaha mengingat, “Heeemm, seingatku. Dia bilang sosok itu membuang suatu hal yang bercahaya merah. Lalu-lalu, seluruh sungai penuh dengan kunang-kunang berwarna merah yang mengerikan.”


“Kamu yakin dia tidak berhalusinasi?” tanyaku skeptis.


“Uuhh, halusinasi itu apa ya Putri?” tanya Verrel bingung.


Lumina tertawa cekikikan dan memberikan sekeping koin emas kepada Verrel, “Halusinasi itu artinya pikiran seseorang berada diluar kendalinya, hingga membayangkan yang aneh-aneh. Terima kasih ya, Verrel udah berani bercerita pada kami. Uang ini, tolong pesan sama Papamu, jangan dijudikan. Belilah baju atau perbaikilah rumah kalian hingga layak, oke?”


Verrel pun tersenyum meringis memamerkan gigi serinya yang ompong, “Siap, dokter!”


Setelah melihat Verrel pergi dengan riang, Lumina pun mengacak pinggangnya, “Ah, untung Tuan Putriku kaya raya. Sekeping emas mah, nggak ada harganya di mata Putri.”


Kuhela nafasku, “Yah cepat atau lambat pun aku akan mengguyur duit untuk pembangunan distrik ini,” kataku yang bersandar di kursi.


Tapi perkataan Verrel membuatku penasaran. Kunang-kunang merah ya…


“Lumi, bagaimana pendapatmu tentang informasi Verrel?” tanyaku.


Lumina sempat terkejut sebelum mengangguk dan bertanya balik, “… Gestur tubuh anak-anak belum pandai berbohong. Aku rasa dia mengatakan yang sesungguhnya, Putri. Tapi, kunang-kunang merah? Bakteri yang menyebabkan Wabah Nyght tidak berwarna merah.”


“Mungkin, kunang-kunang itu adalah Aether. Senyawa sihir yang mampu mendisrupsi manifestasi energi sihir,” kataku.


“Tunggu dulu Putri… Bila Aether mampu mendisrupsi energi sihir, bukankah itu artinya dia bisa mencegah penyebaran wabah Nyght?” tanya Lumina.


“… Ide yang menarik, Lumi. Ide yang sangat menarik,” jawabku yang mengetuk-ketuk mejaku.


Pintar juga. Pantas saja wabah Nyght tidak merebak parah di dunia ini, seseorang mengganggu multiplikasi partikel Yggdrasil dengan senyawa sihir itu. Dan hanya satu toko yang menghasilkan kimia sihir itu. Toko Bunga Lentera.

__ADS_1


... Bagaimana bisa?


__ADS_2